My Mom is Crazy Rich
Gelas kaca yang berembun itu berisi wine tinggal dua tegukan lagi. Seorang wanita bersetelan jas kantor dan celana panjang menuang wine botol ke gelasnya, walaupun dia sudah mabuk. Matanya tidak dapat fokus lagi, seperti bumi tengah gempa. Dia duduk di sofa lingkar sendirian. Sebuah dering telepon dibiarkan begitu saja
Wanita berusia 35 tahun ini mengambil gelasnya, lekas meneguknya hingga tandas. Sedangkan, di luar sedang hujan lebat disertai sambaran kilat. Seorang pria yang memakai kaos putih polos kini menggendong anaknya sambil berkali-kali menelepon istrinya yang sekarang entah di mana itu.
"Di mana sih perempuan itu? Malam-malam begini bukannya diam saja di rumah malah keluyuran! Nanti kalau di luar ada seseorang pria berengsek yang macam-macam dengannya bagaimana?! Dasar, dari SMA dia tidak pernah berubah! Pasti sekarang lagi sibuk mengurusi bisnisnya ... Di telpon pun tidak di angkat," ucap Leon mengerutkan alisnya.
Anaknya pun akhirnya tertidur pulas setelah menangis seharian. Rumah yang semula tertata rapi dan bersih, sekarang bak kapal pecah. Terlebih buah hatinya sedang aktif-aktifnya. Pria mantan ketua geng motor dan preman sekolah itu lantas membereskan kekacauan yang disebabkan putrinya. Beberapa menit berlalu, pria ini duduk di sofa sambil menunggu istrinya.
Selang beberapa jam, sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumah. Seorang wanita berjalan dengan langkah sempoyongan, dia menekan bel rumah secara brutal. Leon yang mendengarnya pun segera keluar rumah, matanya menyipit guna mengenali siapa wanita berbau minum keras ini. Ternyata dia ...
"Sayang? Astaga, sudah kubilang jangan minum-minum! Itu haram, sayang! Mengapa kau melanggar itu terus sih?" ujarnya setelah membuka gerbang dan membopong tubuh istrinya.
Pria ini membawa istrinya menuju kamar istrinya, ya, mereka pisah kamar karena kemauan wanita ini sendiri. Leon beranjak ke dapur dan mengambilkan air putih hangat untuk istrinya. Perlahan, dia meminumkannya ke Aprilia dan dia mulai menelannya. Gelas mug pun diletakkan di nakas.
Kala hendak beranjak pergi, tangannya di cekal Aprilia. Wanita tersebut mengambil posisi duduk di pangkuan Leon. Tangannya meraba perut six pack Leon, kemudian turun ke bawah. Tindakan cabul istrinya dicegah Leon, dia menghentikan tangan kanan Aprilia. Memegangi kedua tangan Aprilia lalu membuatnya rebahan di ranjang.
"Dasar Leon bajingan!"
Leon tersentak saat mau berdiri, dia pun menoleh ke arah Aprilia.
"Gara-gara kamu, aku jadi diusir dari keluarga dan melahirkan anak! Dasar duda sialan, merebut keperawananku dan membuat setres selalu digosipin kerabat! Aku pengen bisa jalani hidupku sebagai gadis perawan dan nikah sama pria yang aku suka! Bukan duda bekas wanita lain! Leon berengsek! Kenapa yang diperkosa kamu itu aku?! Bukannya wanita yang jual diri di luar sana?" ujar Aprilia meremas sepreinya seperti orang kerasukan.
Perkataan dari Aprilia menamparnya dengan kasar. Dia menelan ludahnya sendiri. Ya, ini salahnya. Seharusnya wanita itu sekarang dapat menikahi pria yang dia suka, dapat pulang dan menikmati kebersamaan dengan keluarganya. Bukan seperi ini ...
"Aprilia ... Maafkan aku sudah menodaimu. Andai dulu aku tidak dijebak ibuku, pasti kamu dapat menjalani kehidupan yang kamu sukai tanpa aku dan Alesya."
.
.
.
.
"Tolong! Tolong aku! Siapa pun tolong aku! Ada om-om gila yang mencoba memperkosaku! Tolong ... Siapa pun tolong aku!" teriak seorang gadis memberontak.
Namun, tidak ada siapa pun yang bisa mendengarnya karena ruangan ini kedap suara. Pria bertubuh raksasa dan bermata biru itu pun mengunci kedua tangan Aprilia. Dia menciumi lehernya, dada kemudian membuka paksa pakaian kemeja putih Aprilia. Kejadian yang membuatnya setres dan mendorongnya untuk bunuh diri itu pun selalu membayangi April selama bertahun-tahun.
Dulu, dia adalah mahasiswa yang aktif berorganisasi. Namun, semenjak hamil jadi menyumbat segala kegiatannya. Meskipun Leon tidak pernah merepotkan atau menuntut April untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau pun mengurus Alesya, hal ini tetap membuatnya terbebani. Apalagi setiap melihat wajah pelaku memperkosanya. Rasanya, dia ingin memutar waktu dan tidak ingin pergi ke tempat seperti itu. Namun, itu sesuatu yang mustahil.
April terbangun dengan kepala pusing sekali, bahkan layaknya dipukuli martil. Wanita itu keluar dari kamar, tetapi suasana sepi. Tidak seperti biasanya, di mana Leon akan membangunkannya dan aroma harum masakannya menyeruak. April pun berjalan menuju kulkas dua pintu, sebuah kertas notes menarik perhatiannya.
'Selamat Pagi, Aprilia Ningrum. Sarapan sudah saya siapkan. Saya dan Alesya Putri akan terbang ke Singapore. Untuk kedepannya, kamu akan tinggal sendirian dan surat perceraian akan saya urusi. Hiduplah sesukamu dan tolong kurangi minum-minum! Ada cek 70 juta, kuharap cukup untuk dua bulan. Trims'
"Apa-apaan ini?!" ucap April meremas kertas notes itu.
***
Bertahun-tahun berlalu tanpa jeda. Perusahaan furnitur milik April berkembang pesat, bahkan mulai membuka ekspor-impor. Wajahnya sering muncul di beranda YT dan artikel, dia pun serinh mengisi seminar di kampus-kampus seluruh Indonesia. Namun, sejujurnya setelah banyak aktivitas di luar. April akan merasa kesepian saat di rumah. Dia lebih sering memandangi foto pernikahannya dengan pria bertindik itu. Ya, sekarang dia resmi bercerai dengannya dan hak asuh anak jatuh ke tangan Leon.
Wanita dengan aset kekayaan mencapai 1.7 Triliun, menghabiskan hari-harinya dengan membosankan. Dia tidak tertarik pada apa pun lagi sekarang. Pria tampan dan seksi? Minum-minum di bar? Berfoya-foya di mall? Entahlah, dia tidak berminat lagi pada hal seperti itu.
Kini April sedang duduk di balkon kamar lantai dua, di meja tersaji teh tarik, brownies cokelat dan komik berbahasa Jerman. Dia menatap langit yang berserakan warna. Cita rasa dari teh tarik membuat moodnya sedikit lebih baik. Mendadak rasa rindu kepada Alesya menguap. Dia pun menelpon Leon, tetapi suara perempuan masuk ke indera pendengarannya.
"Hallo, ini siapa, ya?"
"Hallo, saya April. Boleh berbicara dengan Alesya Putri? Saya ibu kandungnya,"
Tiba-tiba ada sebuah suara yang terdengar marah, suara seorang pria.
"Mei! Jangan tidak sopan menggunakan HP-ku! Cepat berikan lagi padaku dan enyahlah!"
"Leon!"
HP Samsung zlip itu beralih ke tangan kekar Leon. Dia pun menempelkan ke daun telinga sambil berjalan menuju kamar Alesya. Gadis berusia 8 tahun itu sedang bermain piano.
"Alesya sayang, mamah menelponmu, kemarilah ..."
"Mamah? Emangnya aku masih punya mamah, ya, Pah? Jangan mengatakan wanita yang bahkan tidak pernah mengurusi itu Mamah! Aku benci Mamah! Kenapa Papah tidak menikah saja dengan Tante Mei?"
"Alesya! Tidak sopan, ya, kamu! Papah kan sudah bilang, ingin merawatmu saja daripada menikah! Dan siapa yang mengajarimu seperti itu?"
"Tante Mei bilang, Mamah punya pengen uangnya Papah! Dia pasti cuman wanita yang menjual diri kepada Papah dan menjebak Papah saat Papah lengah!"
Mendadak suara teriakan keras menghentikan ucapan Alesya. Panggilan pun beralih ke video call, lantas Leon mengangkatnya.
"Hei, anak sialan! Yang memperkosa Papah hingga hamil itu Papah berengsekmu itu, ya! Apa Mamah cuman pengen uangnya Papah kau? Maaf, kamy coba cek saja di google aset kekayaan perusahaan APrum dan Aprilia Ningrum! Jika bukan karena Papah kau, saya, masih gadis dan nikah dengan orang yang saya sukai di SMA!"
"Kau tengok itu? Helikopter itu baru beli kemaren! Kau tengok ini mobil Lamborghini? Itu beli Minggu lalu, lalu ini ... Itu ... Ini ..."
"Sia-sia mamak mau transfer kamu 1 milyar, kau saja sikapnya macam ini. Sudahlah, jadikan saja Tante Mei yang cuman sekretaris cabul itu jadi mamak kau!"
"Wah, Pah, dia bahkan lebih kaya dari Papah! Pah, gimana ini?!"
.
.
.
Akhirnya, Tante Mei kena mental dan tidak mau lagi menceritakan hal-hal buruk mengenai April. Keluarga Leon, April dan Alesya utuh kembali dan menjadi keluarga hebat di masa depan.