Roh Pelindung
Karya : Daliyah Zaheer
Hari mulai gelap ketika Luna kembali dari sekolah, Ia baru saja mengikuti kelas tambahan. Karena malas menunggu, Ia lebih memilih untuk menaiki angkutan umum berwarna putih hijau tujuan komplek perumahan di mana Ia tinggal, dari pada harus menunggu mang Jajang supir pribadinya menjemput.
Karena lelah dan belum makan siang, membuat Luna merasa ngantuk dan sedikit menutup matanya. Luna tidak langsung terlelap karena masih sesekali membuka mata dan melirik sekitar.
Luna merasakan mobil yang Ia tumpangi mulai melaju karena suara mesin dan getaran pada kendaraan, Luna membuka sedikit matanya dan melihat beberapa penumpang yang hampir memenuhi kursi untuk ukuran empat dan enam penumpang.
Beberapa kali mobil angkutan menurunkan penumpang yang sudah sampai ke tujuan. Luna menyegarkan matanya karena tujuannya hampir tiba, Luna menyentil atap mobil seraya berkata.“Kiri ya, Bang!” Ketika sudah melewati gang rumahnya. Mobil segera mengurangi kecepatan dan berhenti.
“Turun di sini, Neng?” Supir melirik ke arah Luna melalui kaca spion tengah.
“Iya ,Bang.” Luna segera turun dan memberikan upahnya. Luna melihat wajah supir yang terlihat bingung seraya menggaruk kepalanya, kemudian supir mengambil uang milik Luna dan memberikan kembaliannya.
Luna terdiam sesaat di ambang gapura yang terbuat dari batang bambu, Luna berdiri di jalan setapak yang menuju rumahnya, gang itu tampak sepi dan redup. Entah kenapa ada rasa nyeri di dada dan napasnya menjadi sedikit sesak.
Luna menoleh ke arah angkutan tadi yang berjalan mundur mendekatinya, Luna dan supir tadi saling menatap, bahkan Luna mengerutkan alis karena heran.
“Rumahnya di mana, Neng?” tanya supir itu padanya. Luna tidak menjawab karena khawatir supir itu akan berniat buruk kepadanya apa lagi suasana di sekelilingnya tampak sepi tidak ada satu pun orang yang lewat hanya beberapa kendaraan yang lalu lalang di jalan beraspal.
Supir itu membuka pintu mobilnya dan mulai keluar, Luna yang takut segera masuk ke dalam gang dan melewati gapura, sekilas Luna mendengar supir tadi berteriak cukup keras. “Jangan!”
Sepertinya Luna terjatuh dan pingsan karena saat ini Ia merasa sedang berada di dunia mimpi. Luna berdiri di atas tanah dengan pohon yang menjulang tinggi, pohon yang tumbuh subur saling berdempetan di sekitarnya, sepertinya sinar matahari pun tidak bisa masuk karena pohon terlalu lebat.
“Apa ini mimpi?” ucap Luna pelan. “E-eyang.” Suaranya bergetar dan bergumam. Ia tidak bisa berteriak karena suaranya seperti terkunci, Ia hanya bisa mengeluarkan suara berbisik. Tubuhnya mulai gemetar kakinya tak bisa melangkah mundur atau berbalik.
Luna menoleh ke kanan dan kiri karena sepertinya ada yang sedang mengawasi dirinya, bahkan mulai muncul suara aneh di antara pepohonan, kakinya mulai melangkah maju karena Luna hanya bisa melangkah ke depan. Luna mulai berjalan cepat dengan medan yang sulit, tak sekali Ia terpeleset karena menginjak jalan berlumut dan kerikil, saat itu Ia merasa dirinya sedang tidak bermimpi.
Luna terus melanjutkan perjalanan demi menemukan jalan keluar, akhirnya Luna dapat menemukan jalan setapak dan sebuah papan berwarna coklat berdiri di sisi kiri. Papan dengan tulisan yang tidak bisa Ia baca, tapi tulisan itu jelas tulisan kanji Jepang karena Luna pernah menemukan beberapa huruf tersebut di sebuah komik yang dibacanya.
“Apa aku sedang berada di hutan bekas jajahan Jepang?” Pikirnya.
Luna cukup lama berdiri di depan papan itu, tapi perasaannya mulai tidak karuan karena merasa pohon di sekitar sedang menatapnya, karena takut Luna melanjutkan langkahnya. Tapi sepertinya Luna justru mulai masuk semakin dalam ke dalam hutan.
Udara mulai terasa aneh karena tercium aroma busuk yang membuatnya mual dan ingin muntah, sampah mulai terlihat, ada baju, celana, sepatu dan ada juga topi. Mungkin saja bau busuk berasa dari sampah tersebut.
Luna sudah tidak kuat lagi dengan aroma busuk tersebut dan akhirnya Ia mulai memuntahkan isi perutnya di balik pohon. Tangannya terasa menyentuh lendir yang sangat lengket pada batang pohon, Luna sedikit demi sedikit mendongak karena mengikuti cairan yang mengalir dari atas pohon.
Mata Luna terbuka lebar dan menjerit hingga terjatuh duduk, karena Ia melihat ada benda yang tergantung di atas pohon, anehnya itu hanya sebuah boneka. Rasa takutnya mulai sedikit berkurang setelah memastikan kalau benda itu hanyalah sebuah boneka.
Luna mulai berdiri dan melangkah menjauh, sungguh aneh untuk orang yang sengaja menaruh boneka itu di sana. Rasa ngeri semakin menjadi ketika melihat ada banyak boneka bergantung di beberapa pohon, wajah Luna mendadak pucat karena tidak hanya boneka tapi ada manusia yang terjerat lehernya di salah satu pohon. Jelas itu tubuh manusia.
Luna berlari menjauh dengan rasa takut hingga Luna sampai menangis, Luna terus berlari tanpa sekalipun menoleh.
“Eyang, tolong Luna.”
Kaki Luna mulai terasa lelah, meski melambat Ia terus melangkah mencari jalan keluar dari hutan. Sekelebat berlari di dekat Luna membuat dirinya panik dan mencari-cari apa yang baru saja berjalan cepat di sekitarnya, bahkan dahan pohon ikut bergoyang seperti baru saja ada yang hinggap di sana. Luna mulai mencari sesuatu di tanah, batu atau ranting, apa saja untuk di jadikan senjata. Luna memilih batang pohon yang lebih kokoh dan ujungnya yang runcing.
“Siapa itu!” ucap Luna tegas. Memberi kesan Ia tidak takut seraya menggenggam batang pohon dengan kedua tangannya.
Muncul bayangan di kejauhan, Luna terkejut bayangan itu serupa manusia dengan sayap di punggungnya, bahkan terlihat paruh di wajahnya, bayangan pada jari-jari tangannya juga terlihat panjang. Bayangan itu berdiri di antara pohon di mana Luna harus berjalan maju karena Luna masih tidak bisa berjalan di jalan yang sudah dia lewati.
Dengan kuat Luna menghunuskan batang pohon layaknya pedang dan mencoba maju selangkah demi selangkah.
“Luna.” Muncul suara berbisik menyebut namanya. Jantung Luna berdegup sangat kencang karena takut.
“Luna.” Suara itu muncul lagi.
“Siapa kamu!” ucap Luna dan berhenti melangkah.
Bayangan itu mendekati Luna dengan langkah pelan, semakin dekat semakin terlihat wujudnya, paruh yang Luna lihat tadi bukanlah paruh melainkan hidungnya yang panjang menyerupai Petruk yang ada di kisah pewayangan, bentuk wajah yang menyeramkan dengan kulitnya yang berwarna merah.
“Pergi kamu!” Dengan masih menghunuskan batang pohon yang mengarah kepada makhluk aneh di hadapannya.
“Jangan takut, aku ingin mengajak kamu keluar dari sini,” ucapnya pelan.
“Bohong! Aku sudah berjalan sejak tadi. Tetapi tidak menemukan jalan keluar.”
“Mendekatlah, aku janji akan membawamu kembali ke rumah.”
Mendengar kata rumah Luna mulai menangis, Ia merindukan Eyangnya yang mengurusnya sejak kecil setelah kedua orang tuanya meninggal.
“Ayo Luna, kemarilah,” ucapnya lagi.
Entah apa yang merasuki dirinya, Luna mulai melonggarkan genggamannya dan melangkah maju mendekati makhluk itu seperti terhipnotis. Jari panjang dan kuku hitamnya menyentuh kening Luna.
Terlihat di benak Luna kalau makhluk di hadapannya pernah di tolong seorang pemuda dan berjanji akan menjaga dan melindungi setiap anak pertama dalam keturunan pemuda tersebut.
“Jadi, Anda ini Dewa Tengu?” ucap Luna yang kini mulai sedikit tersenyum. Makhluk itu mengangguk meski terlihat seram tapi jelas makhluk itu juga tersenyum.
Makhluk itu mengambil kipas serupa daun dengan lima ruas, mirip daun singkong atau daun pepaya, sekali gerakan menggunakan kipas tersebut maka muncul sebuah lingkaran cahaya seperti gelembung besar.
Makhluk itu masuk pertama kali dan menunggu Luna ikut masuk ke dalamnya. Sudah pasti Luna ikut masuk, karena Ia memiliki sejarah dalam keluarganya yang berhubungan dengan Dewa Tengu yang dianggap keluarganya sebagai dewa pelindung.
Bola itu mulai melayang ke udara melewati ribuan pepohonan, Luna sampai terduduk karena terlalu takut akan ketinggian, awalnya mata Luna terpejam kemudian Ia membuka sedikit demi sedikit karena rasa penasaran.
“Itu hutan Aokigahara, kamu tersesat di sana karena memasuki pintu keluar masuknya Jin,” ucap Dewa Tengu.
“Aokigahara Jepang?” ucap Luna Heran. Dewa Tengu mengangguk.
“Kamu telah masuk ke dimensi dimana Kakek buyutmu pernah tersesat juga di tempat itu,” ucapnya lagi.
Gelembung cahaya yang membawa Luna dan Tengu terbang tinggi hingga menembus awan kemudian melesat cepat membuat Luna seperti menaiki roller coaster dengan kecepatan tinggi, Luna hingga menjerit.
Tanpa di duga Luna sudah berdiri di ambang gapura yang terbuat dari batang bambu. Luna membuka mata dan melihat puluhan orang sudah berdiri tidak jauh darinya dengan suara-suara sedang membicarakan orang lain, entah siapa orang yang mereka bicarakan.
Luna tampak bingung melihat Eyang Harumi sedang menangis terisak di pelukan Uli pengasuhnya seraya memegang tas sekolah miliknya.
“Eyang!” Teriak Luna.
Suara Luna mengejutkan orang-orang yang berdiri di sana. Harumi dan Uli melihat ke arah datangnya suara.
“Luna!” Teriak Harumi dan berlari memeluk cucu kesayangannya. Suara riuh semakin kencang terdengar.
“Kamu dari mana, Luna?” tanya Harumi sambil mengusap lembut bagian belakang kepala Luna.
Luna juga melihat Banyu, Dodit dan Fitri sahabatnya. Yang berlari mendekat ke arahnya. Sebelum menjawab pertanyaan Harumi, supir angkot yang mobilnya Luna tumpangi mendekat dengan napas tersengal-sengal.
“Ya Allah, Neng. Kamu dari mana baru pulang sekarang.”
Luna tidak bisa menjawab karena masih bingung dengan orang yang berkumpul di dekatnya. Luna juga melihat beberapa polisi yang mulai mendekatinya.
“Ada apa ini, Eyang?” tanya Luna.
“Kalau Neng kaga balik, mungkin Abang bakal di tangkap polisi karena Abang orang terakhir yang bersama Neng,” ucap si supir.
“Kamu kemana saja, Luna. Eyang khawatir.”
“Eyang, tadi Luna tersesat di hutan Aokigahara Jepang,” ucap Luna tanpa ragu. Tapi semua orang yang mendengar justru terlihat aneh.
“Luna juga ketemu Dewa Tengu, dongeng yang sering Ibu ceritakan saat aku masih kecil,” ucap Luna lagi.
“Luna, kamu sudah dua hari menghilang,” ucap Harumi pelan kepada Luna.
“Dua hari? Luna baru beberapa jam tersesat di hutan, Eyang.”
“Tapi, kamu baik-baik saja, Kan?” Sekarang polisi itu yang bertanya.
“Iya, Pak. Saya baik-baik saja.”
“Apa anda tidak dalam tekanan?”
Luna menggeleng menjawab pertanyaan dari bapak polisi di dekatnya.
“Apa kepergian anda tidak ada hubungannya dengan bapak Anto?”
“Siapa Anto?” tanya Luna heran.
“Saya Anto, Neng,” ucap pak supir angkot.
“Saya hendak kembali pulang tadi, Pak. Tapi saat saya memasuki jalan ini, saya justru sampai ke hutan di Jepang,” ucap Luna menjelaskan kejadian yang menimpanya.
“Alhamdulillah, Ya Allah,” ucap si supir berkali-kali mengusap dadanya. “Ya Allah Neng, sepertinya kamu salah turun, makanya kemarin saya heran melihat Neng turun di sini, ini jalan menuju kuburan.”
Luna terbelalak mendengar pernyataan Pak Anto barusan dan mulai melihat di mana dia saat ini. Ya, gapura itu adalah jalan masuk menuju pemakaman umum. Padahal kemarin Luna jelas berhenti tepat di depan gang rumahnya.
“Kenapa kamu turun di sini, sayang. Ini masih jauh dari rumah kita,” ucap Harumi.
Luna akhirnya kembali ke rumah setelah dua hari menghilang. Yang Luna ingat dirinya baru beberapa jam masuk ke hutan. Kata orang di sana Luna masuk ke dalam dunia lain atau di sebut alam Jin, seperti apa yang Dewa Tengu katakan.
“Aku jadi yakin dengan perbedaan waktu di dunia dan alam sana,” ucap Luna. Ia mulai merebahkan dirinya di atas ranjang mengistirahatkan rasa lelah yang baru saja terjadi padanya.
“Dewa Tengu, terima kasih untuk hari ini.”
Keesokan harinya Luna mulai mempelajari tentang sosok Dewa Tengu melalui internet. Tengu adalah makhluk dalam legenda Jepang. Salah satu Kami penunggu gunung, atau yōkai yang erat hubungannya dengan burung elang atau gagak. Pakaiannya mirip dengan pakaian pendeta yamabushi yang menempa diri di hutan dan gunung. Tengu bisa terbang bebas di angkasa sambil membawa tongkat yang disebut kongōzue, pedang besar (tachi), dan kipas berbentuk daun (hauchiwa).
Pekerjaannya menghalangi orang yang ingin mendalami agama Buddha. Dalam agama Shinto, makhluk ini dipandang sebagai dewa. Secara bahasa, nama Tengu terdiri dari dua kata, yaitu tian dan gou. Jika diterjemahkan maka artinya adalah anjing surga. Nama lainnya adalah Gehō-sama atau tuan sihir.
Bagi keluarga Luna, Tengu merupakan dewa pelindung, dan sudah terbukti nyata bagi kakeknya, Akira ibunya dan Luna sendiri sebagai anak pertama dan satu-satunya dalam satu garis keturunan kakeknya. Dan kelak anak pertama Luna yang akan mewarisinya. Tengu akan berpindah tugas ketika orang yang di lindunginya memiliki keturunan.
Luna juga mencari informasi tentang hutan Aokigahara, hutan yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa. Aokigahara disebut juga hutan lautan pohon. Hutan tersebut juga mendapat julukan hutan bunuh diri atau harakiri.
“Pantas saja kemarin ada mayat yang tergantung, bisa saja barang-barang yang berbau busuk di sana adalah barang peninggalan mereka yang bunuh diri.” Luna bergidik.
Satu Minggu setelah pertemuan pertamanya dengan Dewa Tengu, Luna mulai bermimpi aneh setiap kali tertidur. Mobil yang terbalik, murid memakai seragam yang sama dengannya berteriak di dalam bis dengan wajah penuh darah akibat luka benturan.
Mimpi itu bagai nyata karena Luna dapat merasakan bagaimana mobil itu terbalik akibat rem blong. Luna terus beranggapan bahwa itu hanyalah sebuah mimpi.
Sebuah mobil bis baru saja melewatinya, saat itu Luna sedang duduk di kursi belakang mobilnya menuju sekolah, jantung Luna mulai berdegup sangat kencang sampai Luna harus mengatur napasnya.
“Kenapa, Non?” tanya Jajang.
“Jangan terlalu dekat dengan bis di depan itu,” ucap Luna terbata. Jajang mengangguk. Dengan hitungan detik, suara dentuman cukup keras di hadapan Luna, mobil bis itu terbalik. Suara klakson dan jeritan terdengar nyaring di telinga.
“Tidak, ini tidak benar,” ucap Luna perlahan keluar dari mobil.
“Non, jangan. Ayo masuk kita putar balik.” Ajak Jajang yang ikut keluar dari mobil.
Satu persatu orang keluar dari mobil dan mencoba membantu mengeluarkan penumpang di dalam bis. Luna mulai ingat bahwa akan ada ledakan, Luna berlari cepat mendekati mobil bis seraya berteriak. “Cepat! Bus akan meledak!”
Semua jadi panik dan dengan cepat mereka bekerja sama mencoba mengevakuasi semua penumpang. Benar saja ada gemercik api, orang-orang mulai berteriak.
"Api!"
Semua orang sudah menjauh menyelamatkan diri, seisi penumpang juga sudah berhasil di selamatkan. Tapi Luna masih tidak yakin karena masih ada satu orang lagi di mimpinya. Seorang siswi dari sekolahnya yang masih terjebak.
“Hey! Cepat pergi dari sana!” Teriak orang-orang di kejauhan.
“Non, bus akan meledak!” Teriak Jajang dari jauh seraya memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Mimpi Luna benar-benar nyata, Luna melihat seorang siswi yang terjebak diantara kursi ketika Luna memutari bis tersebut. Siswi itu sedang menangis dengan darah di wajahnya persis dengan yang ada di mimpi Luna. Api sudah menjalar di tubuh mobil yang terbalik, suara jeritan di luar membuat suasana bertambah menegangkan. Luna menarik tirai yang terdapat di bis dan melilitkan di tangannya kemudian memukul kaca-kaca yang masih menghalangi jalur untuk masuk ke dalam bis. Luna berhasil masuk ke dalam dan berusaha menarik paksa tubuh siswi tersebut.
Tanpa di duga Jajang ikut masuk ke dalam mobil dan membantu menarik tubuh siswi, entah kekuatan itu muncul dari mana, Luna dan Jajang berhasil menarik keluar siswi dan terus menjauhi bis yang pada akhirnya meledak cukup keras.
Setelah beberapa menit kemudian suara sirene mulai terdengar di kejauhan, mobil polisi, ambulans dan pemadam kebakaran datang ke tempat kejadian.
Luna melihat wajah Dewa Tengu menyatu dengan api dan asap hitam di atas mobil yang terbakar. Luna merasa lagi-lagi Dewa Tengu yang membantunya.
“Terima kasih,” ucap Luna pelan.
Berita beredar melalui televisi dan radio karena aksi heroik Luna, membuat banyak orang mulai mencari-cari identitas Luna, sayangnya tidak hanya cerita Luna yang menyelamatkan seorang siswi tetapi cerita Luna yang menjelajahi dunia lain juga ikut terseret, membuat sebagian orang ingin bertemu Luna secara langsung. Tidak sedikit orang yang mencari Luna hanya untuk sekedar berkenalan tetapi ada saja yang meminta jimat atau menerawang sesuatu. Karena sebagian dari mereka percaya Luna dapat melihat masa depan.
Selesai