Judul : sahabatku, penghianatku
"Lepaskan tangan busuk mu itu dari ku mas!!"
"Aku tidak akan melepaskan mu lagi Laskar!!! "
"Mas Angga, kita sudah tidak ada hubungan lagi. Lebih baik kau urus saja istrimu yang sedang hamil itu."
Lelaki bernama Angga itu tetap saja tidak ingin melepaskan pegangannya terhadap Laskar.
Tak lama datanglah seorang wanita yang sedang hamil tua. Terlihat dari perutnya yang sudah membuncit.
"Mas Angga, biarkanlah Laskar pergi. Kau sudah ada aku mas, kau tidak lihat jika aku sedang mengandung anak mu? " ucap Melur sambil terisak.
"Diam kau ja*ang!! " bentak Angga kepada Melur.
"Kau tidak perlu membentak istrimu, benar kata dia. Kau sudah punya dirinya, untuk apa kau masih mengejarku. " ucap Laskar seraya menatap sinis ke arah Melur.
"Aku tidak pernah mencintai Melur. harus kau tau Laskar, Aku hanya mencintai dirimu seorang. " ucap Angga sambil memohon kepada Laskar.
Suasana di tempat itu sempat hening sejenak.
"Bukankah kau yang meninggalkan aku demi melur? " tanya Laskar sembari menyeringai.
"Aku, aku merasa seperti itu bukan diriku. Aku melakukan itu semua seperti aku dalam kendali seseorang. " jelas Angga.
"Jadi kau menuduh ku mas? " kali ini melur kembali angkat bicara.
"Ya, memangnya kenapa? Akhir-akhir ini aku juga sudah mulai menyadari gerak gerik mu yang mencurigakan. "
Angga sudah melepaskan pegangan nya dari Laskar. Sekarang Angga sudah berada di depan melur.
"Kau tau apa ini? Kau pasti mengenalinya dengan jelas. "
Angga menunjukkan sesuatu yang ada di genggaman tangannya, benda itu adalah sebuah kalung dengan mustika bewarna jingga sebagai bandul nya.
"Da-dari mana kau mendapatkan benda itu mas? "
Tampak raut wajah panik dan cemas di muka melur, raut yang tadinya penuh kesedihan sudah berganti 180°.
Hal itu menambahkan rasa curiga Angga terhadap melur.
"Kau kenapa terlihat panik melur, bukankah itu hanya lah sebuah kalung? " kali ini Laskar ikut menanyai melur.
Karena rasa penasaran nya terhadap mantan Sahabat nya itu, Laskar pun mendatangi Angga dan melur.
"Kau jujur saja pada kami melur, jangan coba coba untuk membohongiku. Karena, aku sudah mengetahui segalanya. Aku hanya ingin mendengarkan penjelasan langsung dari mu. " jelas Angga.
Melur hanya menundukkan wajahnya sambil kembali terisak.
"Baiklah, sepertinya aku tak punya pilihan lain selain menceritakan segalanya kepada kalian."
Flasback on....
(Melur pov)
Waktu itu aku dan Laskar adalah sahabat baik, Laskar selalu menceritakan betapa romantisnya pacarnya.
Pacar Laskar kala itu bernama Brian.
"Melur, lekaslah kau cari pacar. Apakah kau tidak bosan sendiri terus?" tanya Laskar kepadaku.
"Sebenarnya aku menyukai seseorang, tapi aku tidak tau apakah dia juga menyukai ku atau tidak."
"Siapakah lelaki itu melur, ayo katakan padaku agar aku bisa membantumu."
Sebelum aku sempat mengatakan siapa nama pria itu, Brian datang menghampiri kami.
"Apa yang kalian bicarakan, sepertinya sangat penting. Apakah aku mengganggu pembicaraan kalian?" Tanya Brian.
"Kau tidak mengganggu kami sama sekali, hanya obrolan biasa saja yang tidak begitu penting," kataku.
Laskar hanya menatap bingung ke arahku.
"Oh baiklah, aku dan Laskar pergi dulu."
"Melur, kita lanjutkan pembicaraan kita tadi besok saja. Aku pergi dulu. "
Tinggalah aku sendiri disitu. Orang yang kala itu aku sukai adalah Brian. Tapi Brian sudah menjadi pacar Laskar.
Aku mencoba untuk melupakan Brian, secara perlahan aku mulai menyukai Angga.
Keesokan harinya aku mmenceritakan kepada Laskar jika aku menyukai Angga.
"Sepertinya kau tidak akan bisa bersama Angga melur. " ucap Laskar menundukkan pandangannya.
"Kenapa begitu Laskar, bukannya kau sudah mengatakan akan membantuku? "
Terasa seperti tersambar petir, ucapan yang selanjutnya dilontarkan oleh Laskar benar-benar membuatku syok.
"Kemarin saat aku bersama Brian, itu merupakan oertemua terakhir kami. Karena aku sudah dijodohkan oleh orang tuaku."
"Kau tau kan bagaimana watak kedua orang tuaku, mereka tidak bisa dibantah sama sekali."
Aku hanya bisa memandang Laskar dengan tatapan sendu menunggu kelanjutan dari ucapan Laskar. Seakan tau jika yang ku dengar nantinya adalah berita buruk, tanpa sadar buliran air bening lolos begitu saja menuruni pipiku.
"Dan, laki-laki yang dijodohkan untukku adalah Angga. "
Ternyata yang menjadi dugaanku benar. Sakit hatiku mengetahui itu.
Aku sudah merelakan Brian untuk Laskar, memang waktu itu Laskar tidak tau jika aku juga menyukai Brian. Tapi kenapa sekarang malah Angga dijodohkan dengan sahabatku sendiri.
"Maaf melur, bukannya aku tidak mau membantumu ataupun mau melanggar ucapanku kemarin. Tapi ini sudah menjadi keputusan orang tuaku. " ucap Laskar tertundyk lesu.
Entah aku harus percaya atau tidak dengan ucapan Laskar tadi. Aku merasakan seakan hariku hancur berkeping-keping.
Sampai dimana hari pernikahan kalian dilangsungkan, dengan langkah yang berat aku tetap menghadiri acara pernikahan itu.
Aku melakukannya karena masih menghargai Laskar sebagai sahabatku, lagipula aku merasa tidak enak kepada orang tua Laskar yang sudah seperti orang tua kandungku sendiri.
Sampai dimana aku mengucapkan doa ku kepada orang tua laskar.
"Om, tante, semoga saja pernikahan Laskar dan Angga samawa ya. Apalagi pernikahan mereka didasarkan perjodohan bukan atas dasar cinta," ucapku sembari menahan air mata.
"Perjodohan? Om dan tante tidak pernah menjodohkan Laskar dengan lelaki mana pun." ucap om Wisnu, ayah dari Laskar.
"Laskar adalah anak satu-satunya om dan tante, mana mungkin om dan tante tega menjodohkan Laskar dan membiarkan nya menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai." sambung tante Kartika.
"Jadi, semua ini memang atas dasar keinginan Laskar? "
Tante Kartika dan om Wisnu hanya menggangguk mengiyakan pertanyaan yang ku tanyakan.
Aku tidak menyangka jika Laskar tega membohongiku sampai begini.
Aku memutuskan untuk kembali ke rumah dan merenungkan kejadian hari ini.
Ada yang tidak beres disini, kenapa tiba-tiba Angga yang tidak mengenal Laskar sama sekali bisa menikah dengan Laskar.
Apa aku yang memang tidak tau akan hal itu?
Mulai hari itu aku mencari tau tentang kebenarannya.
Kalung mustika itu merupakan kalung pelindung untuk melindungiku dan orang-orang terdekat ku.
Karena akhirnya aku tau kalau Laskar menerapkan ilmu pelet untuk mendapatkan hati Angga.
Resiko yang ditanggung nya adalah setiap Laskar hamil, maka calon anaknya akan langsung menjadi tumbal untuk makhluk gaib peliharaannya.
Flasback off...
"A-aku tidak pernah melakukan hal itu mas." sangkal Laskar.
"Tch sudahlah, aku sudah tau segalanya." ucap Angga.
"Lalu untuk apa kau menahan Laskar dan mengatakan kata-kata itu mas? " tanya melur karena penasaran.
"Aku mengatakan kata-kata itu agar Laskar tidak curiga denganku jika aku ingin menahannya disini sampai kau tiba melur." jelas Angga.
"Aku ingin kau juga mendengarkan kebenaran yang diucapkan oleh melur." lanjut Angga.
"Sudah terlambat jika kalian mengetahuinya sekarang" ucap melur sembari menyeringai.
Laskar mendorong melur yang berada tepat di depannya, untungnya Angga memiliki reflek yang bagus sehingga melur tidak jatuh.
Laskar pergi meninggalkan Angga dan melur sesaat setelah mendorong melur.
Perdebatan mereka terjadi didepan rumah Laskar yang terletak dipinggiran jalan.
Dari arah samping ada mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi, Laskar yang tidak melihat kearah kanan dan kiri pun harus tertabrak oleh truk tersebut.
Padahal truk itu sudah membunyikan klaksonnya, mungkin karena sudah dilanda kepanikan Laskar tidak menghiraukan suara klakson tersebut.
Hayo siapa yg awalnya ngira kalau penghianat nya itu melur? ><