Di sebuah pohon besar berdaun lebat, hiduplah seekor ulat hijau. Ulat tersebut terlihat tengah memakan daun yang sama warnanya dengan dirinya. Lubang demi lubang tercipta di bagian yang digerogot olehnya. Setelah selesai dengan makannya, ulat tersebut bergerak ke salah satu ranting. Dan di ranting tersebut, sang ulat mulai membuat sesuatu yang terlihat seperti sebuah serat berwarna putih. Sembari sang ulat membuat kepompong, para penghuni lain dari pohon melihat apa yang di buat oleh sang ulat. Salah satu—salah satu? Mungkin lebih tepat kalau disebut salah satu jenis, berjalan berbaris dengan jumlah yang sangat banyak. Mereka semua berwarna hitam agak ke merah-merah han. Dua pasang capit mini terletak di mulut mereka. Mereka adalah kawanan semut.
Para semut memandang sang ulat dengan tatapan memburuh, tetapi sang ulat tidak mengindahkannya dan tetap terus menenun sebuah kepompong. Cukup lama para semut menatap apa yang sedang diperbuat oleh sang ulat. Mungkin karena merasa tidak di indahkan. Akhirnya para semut yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan itu pergi meninggalkan sang ulat sendirian.
Kejadian itu terjadi pada siang hari yang redup. Cahaya matahari tampak tidak percaya diri dengan bersembunyi di balik awan yang gelap, sementara tetesan demi tetesan kecil terus meluncur dengan cepat mengenai apa pun di bawahnya. Titik-titik kecil air yang jatuh memberikan noda bintik-bintik pada tanah di bawah pohon, kejadian serupa juga terjadi pada dahan serta daun yang juga tak luput dari gempuran titik-titik air dari langit.
Sang ulat tetap saja menenun dan menenun tanpa terlihat adanya tanda-tanda ia akan menyudahi kegiatannya. Helai demi helai serat yang keluar dari mulutnya, dengan sabar ia rekatkan dan satukan menjadi satu kesatuan. Hujan yang sebelumnya hanya berupa rintik-rintik kecil dari awan, entah sejak kapan berubah menjadi lebat. Pohon serta tanah yang berada di bawahnya kini basah tanpa ada bagian yang masih kering, suara rintik hujan yang mengenai dedaunan terdengar begitu bising. Tetapi tetap saja, sang ulat tidak berniat meninggalkan pekerjaannya yang sudah ia mulai.
Kini bentuk dari kepompong yang di buat oleh sang ulat sudah mencapai setengahnya, namun sang ulat sedikit terkendala dengan tetesan hujan yang mengenainya. Sering kali sang ulat sedikit terpental tatkala tetesan hujan yang turun dari langit tepat mengenainya. Tetapi seberapa kali pun ia terpental, sang ulat tetap maju dan membuat kembali kepompongnya.
Hujan yang sejak tadi turun, masih belum menunjukkan tanda kalau ia akan berlalu. Tetapi justru sebaliknya, hujan semakin deras saja. Sehingga suara gemuruh yang timbul semakin keras dan semakin bising. Namun lagi dan lagi, sang ulat tidak berniat untuk beranjak dari kegiatan menenunnya. Kepompong yang di buat oleh sang ulat, kini sudah hampir selesai. Bentuk lonjong berwarna putih kini sudah mulai terlihat. Andaikan sang ulat dapat berbicara, mungkin ia akan bersorak riang akan hasil usahanya.
Hujan deras kini telah berakhir. Matahari yang sedari siang tadi selalu bersembunyi dibalik awan hitam, kini mulai percaya diri dengan bersinar cemerlang di bagian ufuk barat. Cahaya keemasan bercampur dengan warna oranye serta merah, memberikan kombinasi yang begitu menakjubkan. Sementara sang ulat—entah sejak kapan ia telah menyelesaikan pekerjaannya. Dengan kaki-kakinya yang banyak, sang ulat berjalan dengan menyeret tubuhnya menuju sarang yang telah dibuatnya dengan susah payah. Sang ulat masuk ke dalam kepompong kemudian menenun kembali lubang yang ia lalui untuk masuk dengan rapat.
Hari pertama dilalui oleh sang ulat dengan damai dalam kepompong. Di pagi harinya cuaca sama seperti sebelumnya. Awan gelap bermuatan air yang sewaktu-waktu dapat meluapkan isinya kapan saja.
Gerombolan semut hitam yang kemarin mengamati sang ulat terlihat sedang berjalan dengan berbaris rapi layaknya sebuah kereta, mereka sedang mengangkut bangkai serangga dengan bersama-sama. Semut yang berada di paling depan memberhentikan langkahnya, kemudian melihat ke arah kepompong putih yang bergantung di bawah ranting. Mungkin karena merasa heran atau semut tersebut punya alasan lain yang sulit untuk di jelaskan, membuat sang semut menatap kepompong milik ulat dengan begitu lama.
Tetapi, setelah semut yang berada di paling depan tadi berhenti dengan cukup lama. Semu-semut yang berada di belakangnya mulai mendesaknya agar kembali berjalan. Barangkali karena semut si pembawa bangkai serangga tadi sudah tak mampu untuk menanggung beban yang di bawahnya, jadi karena itulah dia mendesak agar kembali jalan—mungkin seperti itu.
Barisan semut hitam kembali bergerak menanjak meninggalkan sang ulat hijau beserta kepompongnya. Sementara itu, sang ulat sedang tertidur dengan pulasnya dalam kepompong. Bagian dalam dari tenunan sutra yang dibuat oleh ulat sanggatlah halus, berbeda jauh dengan bagian luarnya yang cenderung kasar dan berbulu. Mungkin saja sang ulat memiliki alasan tersendiri tentang mengapa dia membuat sarangnya seperti itu.
Hari-hari berlalu, panas serta hujan silih berganti. Begitu pun juga dengan kawanan semut yang selalu berhenti ketika melihat kepompong milik ulat sepulang mereka mencari makan. Hingga tiba di suatu siang di mana langit berawan biru tanpa adanya awan menutupi, bahkan pohon tempat sang ulat membuat sarangnya pun terlihat sedang bermandikan cahaya matahari.
Kawanan semut hitam yang biasanya melihat sarang sang ulat. Entah sejak kapan mereka semua sudah pulang dari kegiatan mencari makan yang selalu mereka lakukan. Salah seekor dari semut tersebut melihat ke arah kepompong sang ulat ketika barisan koloninya tepat melalui rute yang biasa mereka lalui. Semut tersebut terlihat langsung berhenti yang kemudian di ikuti oleh barisan semut yang berada di belakannya. Seolah bertanya ada apa, semut-semut yang berhenti saling menyentuhkan antena yang ada di kepala mereka satu sama lain.
Tidak lama setelah itu, kepompong sang ulat yang sebelumnya begitu tenang bergantung pada ranting. Kini mulai bergoyang yang di barengi dengan suara bising dari dalamnya. Melihat hal tersebut, membuat kawanan semut yang berhenti tadi kembali bergerak buru-buru untuk menyatukan diri dengan kawanannya yang sudah mulai meninggalkan mereka.
Kepompong milik ulat hijau semakin bergerak dengan buas, serta suara bising dari dalamnya semakin keras dan jelas terdengar. Sembari kepompong tersebut bergerak ke kanan dan ke kiri, retakan demi retakan muncul tepat di bawah sarang. Setelah itu, retakan-retakan tadi semakin lama semakin membesar. Kaki-kaki berwarna hitam mulai keluar dari retakan tersebut, tidak lama sesosok tubuh bersayap kirmizi dengan satu titik berwarna kuning di masing-masing kiri kana sayap keluar dari kepompong.
Kedua sayap yang indah itu terbuka dan tertutup beberapa kali, kemudian mulai mengepakkan sayap membelah udara dan meninggalkan kepompong serta pohon berdaun rimbun. Kini sang ulat sudah berubah menjadi kupu-kupu yang indah, dan terbang entah ke mana perginya.