Hari ini begitu terlihat cerah dengan warna langit biru bersih tanpa coretan awan sedikitpun. Anak-anak berhamburan keluar kelas menuju kantin, begitu juga denganku. Aku berjalan sendirian ke kantin, barangkali teman-temanku sudah di sana lebih awal mengincar tempat duduk. Ini adalah hari Rabu, di mana semua jadwal mata pelajaranku didominasi oleh IPA. Seperti biasa tidak pernah jamkos. Dan waktu pulang juga sore.
“Lakuna...,” panggil salah seorang temanku yang sudah mendapatkan tempat duduk untuk kami. Aku menghampiri mereka, dan tidak lupa aku memesan makan sebelum bergegas bergabung dengan mereka yang telah menghadap makanan masing-masing.
“Udah lama?” sapaku sekadar basa-basi kepada mereka.
“Baru datang?” ucap salah seorang temanku berbalik bertanya aku hanya tersenyum menanggapinya dan begitu pula dengan mereka yang menjawab basa-basiku dengan hal yang serupa. Kami adalah teman yang di pertemukan di lingkungan baru sekolah ini. Aku mengenal mereka ketika kami berada di satu gugus yang sama. Aku merasa cocok saja dengan mereka waktu itu. Mereka baik dan juga ramah. Dan sampai sekarang mereka masih berada dalam lingkupku menjadi teman-temanku. Kami yang berjumlah lima orang adalah siswa-siswi dengan kelas yang berbeda. Setelah masa pengenalan lingkungan sekolah selesai, kelas dan jurusan peminatan kami mulai dibagi. Ternyata mereka memiliki pilihannya sendiri. Dua di antaranya memilih IPS, dua di antaranya lagi memilih Bahasa, dan satu memilih MIPA, iya itu aku. Aku merupakan satu-satunya anak MIPA dari keempat temanku. Awalnya mereka menyarankan untuk masuk IPS ataupun Bahasa, namun entah apa yang membuatku memilih menjadi anak MIPA. Aku merasa tertarik saja dengan jurusan itu. Mereka akhirnya juga membiarkan itu, meski mereka tahu MIPA itu seperti apa. Mereka tetap mendukung semua keputusanku karena selama apapun pertemanan kami tetap akan terpisah dengan keinginan dan cita-cita masing-masing juga. Tugas kami saat ini hanya saling mendukung setiap pilihan masing-masing dan melewati masa ini bersama sebelum pada akhirnya lost kontak.
“Makan apa tadi?” ucap salah seorang temanku membuka percakapan kembali. Aku hanya tersenyum menggeleng menjawabnya. Ia memutar bola matanya sembari berkata, “Sudah kutebak.”
“Jika sudah bisa menebak mengapa masih dipertanyakan?” ucapku saat ini menimpalinya.
“Dia memang gitukan namanya juga kurang gawe.” tungkas yang lain ikut menyindirnya.
“Namanya juga memastikan.” ucapnya membela diri.
“Heleh.” ucap serempak kami berempat menyerbunya. Kemudian terdengar suara tawa kami yang mengisi seluruh ruang kantin. Ini bukan kali pertamanya kami mengucapkan kata yang sama secara serempak. Kami sering kali spontan menyebutkan ucapan yang serupa meski tidak direncanakan sebelumnya. Mungkin ini yang dinamakan pertemanan. Apabila pertemanan itu bertahan lama maka akan banyak hal yang serupa dengan mereka. Dan pikiran masing-masing terhubung satu dengan yang lainnya.
“Lakuna nanti kamu ikut kita, ya?” ucapnya seketika. Aku mengernyitkan dahiku.
“Pulang sekolah main sebentar. Hehe.” Ucapnya membalas kernyitan dahiku. Aku menggeleng merespons ajakan mereka, “Aku ada tugas pulang sekolah, jadi maaf nggak bisa dulu.”
“Yahhh....” ucap mereka serempak kembali kali ini tanpa aku.
“Ma, Lakuna pulang...” ucapku membuka pintu rumah dan terdengar suara mama dari dapur. Aku menghampiri mama yang ada di dapur. Aku mencium tangan mama dan kedua pipinya.
“Lagi masak, Ma?” tanyaku melihat wortel yang selesai dipotong. Mama mengangguk mengiyakannya.
“Lakuna bantu, ya?” ucapku menawarkan bantuan.
“Mama bisa sendiri. Lakuna ganti baju aja istirahat terus makan.” Aku mengangguk menuruti ucapan mama.
Aku lekas masuk kamar ganti baju dan istirahat sebentar kemudian makan. Setelah makan aku kembali ke kamar menyelesaikan tugas sekolah tadi. Dan hingga malam tiba aku baru keluar kamar. Aku sempat tertidur di meja belajar karena kelelahan. Sendi-sendiku berbunyi setelah aku beberapa kali meregangkan ototku. Ini sudah menunjukkan pukul 22.12 malam. Sepertinya mama juga sudah tidur sedari tadi bahkan aku tidak sempat membantunya mengerjakan tugas rumah karena ketiduran tadi.
Aku pergi ke dapur mengambil segelas air putih yang ku minum di meja makan sembari bersender di kursi kayu yang memiliki ukiran. Rasanya nyaman sekali ketika ukiran-ukiran kursi itu mengenai punggungku. Selang beberapa lama di sana aku kembali melirik jam dinding di sudut meja dekat vas dan bingkai foto mama, aku, dan almarhum papa. Jam ternyata telah menunjukkan pukul 23.10 sudah begitu larut. Aku kembali masuk kamar membereskan tempat belajar yang belum sempatku tata tadi. Setelah membereskannya dan menata jadwal untuk esok, aku kembali tidur melanjutkan berpetualang ke alam ilusi hingga pagi bertandang kemari.
Suara ayam berkokok membuatku terbangun dari mimpi. Aku melirik jam weker yang terletak tak jauh dari tempat tidurku. Sudah pukul 5.15. Aku mengerjap-mengerjapkan mata memperjelas pandangan setelah nyawa terkumpul aku bangkit pergi mandi bersiap untuk berangkat sekolah. Kali ini aku ingin masak untuk sarapan. Aku membuat nasi goreng dengan telur yang kubuat mata sapi dan juga segelas susu serta teh tubruk untuk mama. Masih pukul 6.20 masih ada sisa waktu untuk sarapan. Mama keluar dari kamar menatapku tersenyum, “Mama minta maaf bangunnya kesiangan.”
“Iya, Ma nggak papa lagian mama juga capek. Maafin Lakuna juga kemarin nggak sempat bantuin mama, Lakuna ketiduran di meja belajar soalnya.”
“Iya. Mama maklum kok.”
“Udah mau berangkat?” tanya mama melihatku merapikan seragam dan tasku yang berada persis di sampingku. Aku mengangguk meresponsnya. Aku mencium tangan mama dan mencium kedua pipinya.
“Lakuna berangkat, Ma.”
“Hati-hati!” aku mengangguk setelah kembali menoleh ke belakang sebelum mulai melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Pembelajaran berlangsung seperti biasanya. Hingga sampai pada waktu jam istirahat pertama tiba. Kali ini aku terburu-buru berjalan ke kantin. Sebelum memasuki waktu istirahat salah seorang temanku Zevaneta mengirim pesan singkat untuk datang ke kantin lebih awal dari biasanya. Aku mendahului anak-anak di depanku yang berjalan santai. Setiap jalan yang sedikit longgar aku berjalan setengah berlari mempercepat langkahku menuju kantin.
“Hah. Kenapa?” tanyaku setelah sampai di kantin dengan napas yang ngos-ngosan.
“Nih minum dulu.” ucap Gata menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Aku menerimanya dan meminum beberapa kali tegukan hingga botol itu kosong.
“Busett...habis dong sebotol.” ucap Zevalin tercengang menatapku menghabiskan sebotol air mineral dalam waktu sekejap. Gata yang juga menatapku mengacungkan kedua jempolnya. Sedangkan Raka hanya tersenyum menatapku.
Selang beberapa saat kami, lebih tepatnya aku mulai mengulang pertanyaan yang aku lontarkan sebelumnya, “Jadi kenapa?” Mereka terdiam beberapa saat sebelum Zevalin memulai percakapan.
“Kemarinkan kita main sehabis pulang sekolah, terus...” ucapnya terhenti mengkode Zevaneta untuk melanjutkannya.
“Terus nggak sengaja kita ketemu dengan anak sekolah lain. Dan kita nggak sengaja denger mereka nyebut nama kamu. Ya kami pikir itu bukan kamu, mungkin nama Lakuna tidak hanya kamu. Terus tiba-tiba mereka nyamperin kita. Kemarin berapa anak yang nyamperin kita?” lirik Zevaneta pada Gata.
“Sekitar enam orang laki-laki.” Ucap Gata mantap.
“Mereka tanya kita karena katanya seragam kami sama dengan yang mereka maksud. Mereka tanya ada yang kenal nama Lakuna di sekolah nggak? Kita kaget pas itu karena satu sekolah hanya satu yang namanya Lakuna. Dan kita takut ada apa-apa jadi untuk jaga-jaga kita jawab kurang tahu.”
“Mereka terus memastikan gini, bener kalian nggak kenal nama Lakuna dan kalau nggak salah dia anak MIPA. Saat mereka bilang gitu kita langsung was-was dan ngejawab kalau kita nggak tahu karena kita tidak terlalu dekat dengan anak MIPA kita dari anak IPS, Bahasa.” ucap Zevaneta masih kusimak.
“Dari bet seragam yang mereka pakai tertulis kelas XII, kemungkinan mereka satu tingkat dari kita. Tapi yang jadi ganjalan itu, kok bisa mereka kenal Lakuna sedangkan dia main aja jarang dari mana mereka tahu Lakuna?” ucap Zevaneta kembali kali ini dengan posisi dagunya yang ia topang dengan tangan. Mereka mengangguk menyetujuinya dan beralih menatap ke arahku. Aku mengedikan bahu tanda jika aku sama halnya dengan mereka yang sama-sama tidak tahu.
“Ma, Lakuna pulang...” ucapku membuka pintu mendapati mama yang duduk menonton acara televisi di ruang depan. Mama menoleh dan tersenyum menyambutku. Aku mencium tangan dan kedua pipinya.
“Mama udah makan?” ucapku yang ikut duduk di sebelahnya. Mama mengangguk meresponsku, “Sudah. Kamu ganti baju gih terus makan.”
“Iya, Ma.” Aku bangkit dari sofa menenteng tas yang tidak lagi kugendong. Aku masuk kamar berganti baju dan kemudian makan.
Malam kembali dan aku seperti biasa sudah berada di dalam kamar. Selesai belajar aku mengambil ponsel yang diletakkan di laci. Aku membuka layar ponselku melihat beberapa pesan yang masuk dari Gata dan juga Zevaneta menanyakan materi yang tidak mereka pahami. Aku menjelaskan beberapa materi yang aku paham dan sedikit tahu aku mengirim penjelasan yang sudah aku ringkas. Tak lama kemudian pesan masuk dengan nomor tidak dikenal. Profilnya juga hanya bergambar siluet seorang laki-laki.
♂️‘P’
♂️‘P’
♀️’?’
♂️‘Lakuna?’
♀️‘Siapa?’
♂️‘Kenalin aku Dewangga'
♀️‘ya, kenapa?’
♂️‘sv kontakku, ya? Makasih’ read.
Aku merasa heran dan asing dengan seseorang bernama Dewangga. Dari mana mendapatkan kontakku. Dewangga. Aku berpikir sesaat mengingat-ingat nama Dewangga di sekolah, sepertinya memang tidak kutemukan namanya di daftar sekolah. Aku beralih menatap ponselku kembali mencari kontak teman-temanku untuk menanyakan perihal nama siswa tersebut. Hasilnya nihil mereka sama sekali tidak mengenal siswa bernama Dewangga. Alih-alih mendapatkan jawaban justru mereka menanyakan balik siapa Dewangga bahkan mereka terus menduga-duganya. Aku memilih mengabaikan dugaan dan pertanyaan-pertanyaan yang justru tidak masuk akal menurutku. Aku mengenal baik teman-temanku. Jadi aku sadar apa yang selanjutnya akan terjadi di sekolah besok. Setelah tidak kutemukan jawaban aku mematikan ponselku dan mengecasnya karena sudah hampir mencapai 25%.
Dua minggu berlangsung singkat. Aku lebih sering berbalas pesan dengan Dewangga, meski kami belum pernah bertemu. Disela-sela obrolan kami, sesekali aku juga sempat menanyakan dari mana dia mendapatkan kontakku terlebih ternyata Dewangga lebih mengenal bagaimana aku. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bersifat semu bahkan seperti angin lalu. Dewangga lebih memilih mengalihkan topik pembicaraan. Terlihat menghindar. Awalnya aku sedikit kesal, namun lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan sikapnya yang menghindar ketika aku tanya mengenai bagaimana dia mengenalku. Dan satu lagi, Dewangga merupakan siswa sekolah lain. Pantas saja namanya tidak ada dalam daftar sekolahku. Pernyataannya sempat membuatku berpikir berulang kali. Bagaimana tidak, Dewangga mengenalku layaknya teman kelasku sedangkan aku sendiri malah tidak mengenalnya sebaik dia mengenalku. Obrolanku dan Dewangga setiap hari selalu memberikan kesan disetiap akhirnya. Dewangga selalu mempunyai segudang topik ketika topik sebelumnya telah berakhir. Coba saja bukan dia yang aku kenal pasti akan sangat berbeda. Aku adalah salah seorang yang mudah mematikan topik dengan hanya beberapa kata saja. Aku tidak terlalu suka dengan basa-basi, tapi entah kenapa dengan Dewangga aku berbeda. Aku merasa cocok dengannya meski melalui ketikan saja aku merasa nyaman.
“Ma, Lakuna pulang...” ucapku setelah pulang dari rumah Gata. Seperti biasa mama menyambutku dengan anggukan kepala dan senyum teduhnya. Hari ini Gata mengajakku ke rumahnya, bukan cuman aku tetapi juga ada yang lainnya. Kami awalnya sekadar bermain biasa, kemudian berdiskusi bersama lebih tepatnya sih menghibah hal-hal random, dan sampai pada akhirnya kami membicarakan seseorang yang aku kenal, Dewangga. Bermula dengan topik ringan bagaimana aku mengenal Dewangga hingga Raka menanyakan kedekataku dengan Dewangga yang hanya melalui chat WhatsApp. Aku sedikit terkejut dengan ucapan Raka awalnya, dia tahu kedekatanku dengan Dewangga. Raka juga mengaku bahwa ia dengan tidak sengaja melihat chatanku dengan Dewangga meski hanya sebagian tidak semuanya ia baca akunya kepadaku saat itu.
“Hati-hati dengannya!” peringat Raka setelah aku menceritakan semuanya. Memang dari semua teman-temanku, Rakalah yang terlihat berbeda dengan yang lain. Ia terus saja mewanti-wantiku setiap kali aku mulai senang membicarakan tentang Dewangga kepada Zevalin, Zevaneta, Gata, dan juga Raka sendiri.
Hari itu aku dan Dewangga sepakat untuk bertemu sepulang sekolah. Dewangga menentukan titik temu kami. Singkat cerita Dewangga dan aku memang benar bertemu. Awal yang canggung untuk sekadar bercakap. Di sini Dewangga terlihat begitu kaku dari biasanya. Mungkin karena dia grogi pikirku. Kami terus berjalan lurus entah ke mana Dewangga akan membawaku. Dewangga menghentikan langkahnya di pinggir jalan raya. Ia menoleh ke arahku dengan tatapan yang takku mengerti, “Bisa tolong belikan sesuatu di ujung sana?” pinta Dewangga yang tiba-tiba.
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Aku akan menunggumu di sini, di kursi ini.” Ucap Dewangga menunjuk kursi di belakangnya. Aku mengiyakan permintaan itu. Aku menyeberang di tengah-tengah keramaian, sedikit sulit dan untungnya aku bisa. Aku membeli sesuatu di sana sesuai permintaan Dewangga. Sekembalinya aku, aku masih melihat Dewangga duduk menunduk dengan earphone di telinganya. Aku tersenyum. Aku kembali melihat kiri kanan bersiap untuk menyeberang. Aku sudah sampai di tengah jalan, saat ingin melangkah suara klakson truk kontainer mengagetkanku. Aku terlempar hingga menghantam mobil lain.
Brakk...
Pandanganku buram. Semua terlihat samar-samar di mataku. Sesaat kemudian semua terlihat gelap. Aku tak sadarkan diri dan yah itu aku untuk terakhir kalinya. Aku dinyatakan meninggal di tempat. Untuk Dewangga, entah aku tak melihat sosoknya setelah itu. Aku di makamkan di samping papa. Aku melihat tangis mama berduka. Aku tidak menduga akhir dari semuanya.
Teman-temanku juga datang bertandang melihat jasadku terbujur kaku dengan beberapa luka yang masih terlihat jelas. Satu per satu dari mereka menatapku sendu. Aku tak melihat Raka di sini.
Hari semakin larut. Orang-orang mulai meninggalkan mama sendirian termasuk teman-temanku. Aku ingat saat ini adalah tanggal ulang tahunku. Hari ini aku ulang tahun. Pukul 23.59 aku pulang ke rumah berharap mama mengingat hari ulang tahunku.
Tok...tok...tok...
Mendengar ketukan pintu mama terbangun dari tempat tidur bergegas membuka pintu. Namun ia heran tak kala tidak ada siapapun di luar. Mama menutup kembali pintu dan mulai melangkah bersiap untuk kembali tidur. Aku tidak membiarkan mama meninggalkanku. Saat mama hendak meraih gagang pintu, “Ma, Lakuna pulang!!” mama segera menoleh ke kiri kanan tampak sepi, namun aku kembali memanggilnya. “Ma, Lakuna pulang!!!” mama membuka pintu dan bergegas masuk kamar. Sejak saat itu aku tidak pernah melihat mama keluar kamar lagi.