Genre: Horor, school
Namaku adalah Fina Adelia. Disaat aku naik kelas 11, aku diharuskan pindah sekolah karena pekerjaan Ayahku. Aku sebenarnya merasa sedikit sedih karena harus berpisah dengan teman teman yang kukenal setahun ini. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun.
Akhirnya aku pindah ke SMK Pejuang. Di sinilah hari pertamaku. Aku harus berkenalan di depan kelas. Rasanya jantungku berdegup dengan kencang. Tidak ada siapapun yang kukenal di sini. Namun aku berusaha memperkenalkan diri sebaik mungkin, "Namaku adalah Fina Adelia. A-aku pindahan dari sekolah yang ada di kota lain."
Astaga, aku begitu gugup. Aku mengacaukannya! Aku menatap satu persatu siswa yang akan menjadi teman sekelasku. Tidak ada satu pun diantara mereka yang bergeming. Mereka hanya saling berbisik sesekali memandangiku. Aku menelan ludah, ini membuatku semakin gugup.
Namun aku melihat seorang siswi yang melambaikan tangan ke arahku dengan senyuman yang lebar. Ekspresinya terlihat begitu menyambutku. Rasa gugupku sedikit hilang ketika melihatnya.
"Nah, Fina, kamu boleh duduk di tempat yang kosong."
Ucapan Ibu Guru membuatku tersadar dan segera mengangguk ke arahnya. Aku berjalan menuju pojok tempat duduk, dimana siswi itu duduk sendirian. Walaupun ada kursi kosong lain, tapi aku ingin duduk bersamanya saja.
Aku merasa seerti diperhatikan oleh semua murid di sana. Namun aku mencoba tidak mempedulikannya hingga akhirnya aku sampai di samping meja itu. Aku mulai buka suara, "A-apa aku boleh duduk di sini?"
"Tentu, aku akan sangat senang jika ada orang yang mau duduk denganku," ucap siswi itu.
Aku tersenyum sejenak dan mengangguk, lalu duduk di sampingnya.
"Dia duduk di sana."
"Iya, aku juga liat itu."
Bisikan bisikan itu bisa kudengar dengan baik. Memang apa salahnya jika aku duduk di sini? Mereka tidak suka?
"Kenalkan, namaku adalah Calista Cyntia. Kenapa kamu pindah ke sekolah ini–A.. Maksudku apa alasan kamu pindah sekolah? Bukannya aku ga suka, tapi aku cuma penasaran aja."
Aku menoleh ke samping dan fokusku kini teralihkan padanya. Dia terlihat gugup ketika mengatakan itu. Namun aku mengangguk dan berkata, "Ga apa. Aku pindah sekolah karna pekerjaan Ayah. Jadi aku harus ikut."
Dia terlihat tersenyum cerah, "Kayanya kita bakal jadi temen yang deket! Kamu serasi sama aku. Nanti aku bakal ngenalin semua tempat di sekolah ini ke kamu. Bakal kuajak kamu berkeliling."
Aku pun dengan senang hati menerima ajakannya.
Ketika bel istirahat berbunyi, aku segera berdiri mengikuti Calista untuk berkeliling. Namun saat aku hendak keluar, beberapa siswi mendekatiku. Mereka nampak tersenyum dan menyapa, "Hai. Namamu.. Fira 'kan? Kenalin, nama aku Fara."
"Nama aku Fina, bukan Fira," balasku dengan singkat.
Dia tertegun karena ucapanku, lalu berucap sambil tertawa ringan, "Maaf.. Aku tadi ga begitu merhatiin karena ngantuk. Iya, namamu Fina. Jadi.. Gimana kalo kita ajak keliling sekolah sekarang? Karena kamu murid baru, kamu belum tau tempat tempat di sekolah ini."
Aku berpikir sejenak. Rasanya tidak enak jika menolak ajakan baik dari Fara. Tapi aku juga sudah ada rencana dengan Calista, "Maaf.. Aku udah sama temen. Aku bakal keliling sekolah sama dia."
Fara mengerutkan kening dengan sangat, "Temen? Siapa emangnya? Kamu udah kenalan sama yang lain?"
Aku mengangguk. Baru saja akan menjawab ucapannya, Calista memanggil namaku di lorong sekolah, "Maaf.. Aku harus pergi."
Setelah mengatakan permintaan maaf, aku segera pergi untuk menyusul Calista. Sedangkan Fara, dia saling menatap dengan temannya tanpa ucapan.
"Jangan diem diem ilang gitu lah, Fin. Aku kan jadi pusing nanti. Gimana kalo kamu malah nyasar?" ucap Calista sambil menggelembungkan pipinya.
Aku menggeleng, "Ga mungkin aku tersesat, padahal belum keluar kelas."
"Ya.. kan jaga jaga. Kamu itu murid baru, jadi harus aku perhatiin terus."
Dia nampak sedikit kesal. Namun aku tahu, dia peduli padaku, "Yaudah, aku ga akan gitu lagi."
Tiba tiba sebuah pertanyaan terlintas di benakku, "Tapi, sebenernya murid yang lain pada kenapa? Kayanya mereka ga peduliin kamu? Kamu ga ada temen di kelas? Kamu dikucilin di sana?"
Dia terdiam sejenak dengan raut sedih. Aku merasa bersalah ketika menanyakan itu, "Maaf.. Aku ga bermaksud–"
"Hahahaha..."
Aku terkejut ketika dia tiba tiba tertawa. Aku memandangi gadis berambut panjang sesikut dengan wajah cantik itu, "K-kenapa ketawa? Aku 'kan lagi serius."
"Haha.. Maaf.. Maaf.. Aku ga bermaksud buat ngetawain kamu. Tapi ekspresimu itu lho.. Serius banget sampe aku pengen ketawa," dia masih menahan tawanya.
"Ya kan aku emang serius," balasku sambil mendengus. Padahal awalnya kupikir dia itu sedih, karenanya aku merasa bersalah. Tapi melihat ekspresinya itu, aku jadi merasa kesal.
"Iya deh.. Buat pertanyaan kamu, yah.. Aku ga punya temen di kelas itu. Aku juga kurang bisa berbaur sama yang lain."
Dia terlihat tersenyum, walau kulihat senyuman itu mengandung kesedihan. Aku tahu bagaimana perasaan itu. Ketika tidak memiliki satu pun teman di kelas, lalu seperti tidak dianggap oleh mereka. Rasanya sangat kesepian dan sedih.
"Kalo gitu, mau jadi temen aku? Aku juga gaada temen di sini," ucapku dengan spontan.
Kulihat matanya berbinar cerah. Namun sedetik berikutnya, tatapan itu menghilang dan berubah menjadi keraguan, "Apa.. Kamu beneran mau jadi temen aku? Kamu ga akan ninggalin aku? Kamu bener bener mau jadi temen aku? Kamu ga akan nyesel?"
"Iya, ga akan. Lagian, waktu pertama masuk, kamu yang langsung nyapa aku. Sedangkan, yang lain malah natep aku kaya gitu. Aku kurang nyaman," balasku.
Bibirnya menarik senyum. Terlihat sangat cantik. Jika saja aku adalah laki laki, mungkin aku akan berdebar melihatnya.
"Yaudah, ayo. Kita keliling sekolah dulu," ajak Calista sambil menarik lenganku. Dia terlihat lebih ceria sekarang, aku pun ikut senang melihatnya.
Saking senangnya bersama dengan Calista, aku sangat jarang berbicara dengan teman sekelasku yang lain. Bahkan aku tidak ingat nama mereka semua walau kini sudah 3 bulan berlalu.
Rasanya lebih menyenangkan bersama Calista. Karena dari yang kulihat, murid lain selalu menatapku dengan berbagai ekspresi. Heran, bingung, takut, waspada, ekspresi ekspresi seperti itu yang kulihat dari mereka. Mereka perlahan menjauh dariku entah karena apa. Namun aku tidak begitu peduli. Asalkan ada satu saja orang yang selalu bersamaku, aku tidak masalah.
Karena di sekolahku yang sebelumnya, aku memang memiliki banyak teman. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang benar benar kupercaya untuk kubagikan ceritaku.
Berbeda dengan Calista, aku bisa langsung merasa cocok dengannya. Aku selalu berbagi cerita dengannya dan dia selalu menjadi pendengar yang baik.
Pada suatu hari, semua murid murid di sekolah sudah pulang ke rumahnya masing masing. Kini hanya tersisa aku dengan Calista di kelas. Kami masih ingin mengobrol, dan akhirnya seperti ini.
Ketika lampu lampu di lorong menyala, aku baru menyadari jika kini hari telah malam, "Ah.. Mending kita pulang. Terlalu asik sampe aku ga tahu waktu, aish.."
Calista nampak menatapku dengan raut sedikit berbeda, "Aku pengen nunjukin satu tempat yang belum tunjukin di sekolah ini."
Aku memiringkan kepala dengan heran, "Apa itu? Kayanya kamu udah nunjukin semua tempat deh.. Lagian, aku kan udah 3 bulan di sini. Aku pasti tau semua tempat di sekolah."
"Ga, ada satu tempat yang belum kamu liat. Ayok, ikut aku dulu," ucap Calista sambil menarik tanganku.
Aku sedikit terkejut, namun tidak menolak. Aku pun berujar, "Tapi.. Sekarang udah malem. Aku harus cepet pulang. Jauh ga dari sekolah?"
"Ga jauh kok, ikut aja."
Aku tidak mencurigai apapun dari tindakan Calista ini dan aku hanya mengikut hingga kini tiba di belakang sekolah. Ada beberapa pohon tumbuh tinggi menjulang di sekitar. Bahkan rerumputan nampak cukup tinggi, seolah tidak terurus. Namun aku memang tidak pernah pergi kemari. Bahkan aku tidak tahu ada tempat seperti ini di sekolah.
Kulihat sebuah bangunan cukup tua di depan. Pintu itu cukup besar dengan kedua pasang gagang pintu di sana, terbuat dari kayu.
Aku mengerutkan kening ketika Calista menarikku masuk ke dalam. Bahkan dia membuka pintu cukup besar itu tanpa ragu dan menarikku masuk hingga berada di tengah ruangan.
Tempat ini sangat gelap karena tidak ada lampu yang menerangi di dalam. Hanya ada lampu di depan bangunan ini saja, itu pun redup.
Saat aku menatap sekitar yang tidak terlihat jelas, Calista tiba tiba melepaskan tanganku. Aku meraba raba tangannya karena merasa takut di kegelapan ini. Aku tidak bisa melihat dan Calista justru malah melepaskanku, "Cal..?! Cal..? Kamu ga pergi kan? Kamu dimana? Jangan lepasin tangan aku.. Cal.. Serius.. Jangan bercanda.. Aku takut.."
Aku merasa ingin menangis ketika tidak mendapat jawaban darinya. Aku berputar putar mencoba mencarinya, tapi tak kutemukan.
Aku melihat ke arah luar dimana cahaya lampu yang redup terlihat. Di pintu yang terbuka, aku melihat Calista berdiri. Namun aku membeku dan tanpa sadar menahan napas ketika melihat penampilannya, "C-Cal..," aku sampai tak bisa berkata kata ketika melihatnya. Aku begitu takut.
Penampilan Calista tidak seperti biasa. Wajahnya kini rusak dan bersimbah darah. Rambutnya sedikit berantakan dan tak luput dari darah. Matanya melotot seolah akan keluar.
Aku membeku di tempat dan tak bisa menggerakkan kakiku. Aku begitu syok dan takut ketika melihat penampilannya.
"Kamu bilang, kamu mau jadi temen aku," Calista menyeringai lebar ketika mengatakannya. Bibirnya tertarik ke atas hingga merobek pipi.
Pintu cukup besar itu tertutup dengan kuat dan dalam sekejap mata, aku tak bisa melihat apapun. Tak ada cahaya sekecil apapun yang terpancar dari luar. Aku takut, apalagi ketika mendengar tawa cekikikan dari Calista yang begitu mengerikan, tidak seperti biasanya. Bahkan karena itu, aku langsung menutup telinga dan memejamkan mata kuat kuat.
Seminggu berlalu...,
"Iya, katanya jasadnya udah sejak seminggu lalu. Tau sendiri kan itu gudang jarang banget dikunjungin."
"Ihh, jangankan ngunjungin. Aku bahkan gamau deket deket tempat itu. Aku masih inget sama kejadian yang nimpa kakak kelas 12 waktu aku masih kelas 10. Kejadiannya udah 3 tahun lalu dan kakak kelas yang satu angkatan sama dia udah lulus 1 tahun lalu. Katanya kan dia meninggal di gudang itu dan kematiannya gara gara dibunuh sama temen temennya yang iri sama kecantikannya."
"Kejadian kaya sekarang juga kan pernah sampe 2 kali? Terus yang nimpa Fani.., jadi 3. Aku jadi takut."
"Gerak gerik dia sama kaya 2 siswi lain yang pernah meninggal. Mereka awalnya juga kan ngobrol sendiri. Tapi aku ga nyangka kejadian gitu bakal terjadi lagi. Kirain itu cuman rumor doang."
"Apa mungkin.. Yang ngelakuin semua kejadian itu.. Hantunya murid itu lagi? Dia ga tenang gara gara mati dibunuh sama temennya sendiri."
"Bisa jadi, aku juga punya pemikiran sama kaya gitu. Lagian di 3 kejadian ini ga pernah ditemuin siapa yang bunuhnya. Ga ada sidik jari atau bukti alat buat bunuh."
Hari itu sudah sore dan tinggal mereka bertiga yang ada di kelas. Lampu yang dinyalakan tiba tiba mati hingga membuat mereka berteriak kaget. Namun itu hanya sesaat sebelum lampu kembali menyala.
Tapi sesuatu muncul di dekat mereka. Dia tersenyum lebar hingga senyumannya merobek pipi. Kepalanya bersimbah darah dan wajahnya rusak hingga hampir tidak berbentuk. Dia melihat ketiga siswi yang menatap takut dirinya.