Can You Love Me? (Theresa)
Pernikahan adalah sesuatu yang sakral namun apa artinya sebuah pernikahan tanpa di dasari oleh cinta? Bukan tidak di dasari oleh cinta tapi hanya satu sisi yang mencintai sedangkan sisi yang lain tidak memiliki perasaan itu.
Entah apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menjalani pernikahan tersebut. Dalam pernikahan tersebut hanya ada dua pilihan, bertahan atau berhenti.
"Dihadapan Tuhan Allah dan jemaatNya, saya menyatakan menerima Theresa menjadi istri saya, Karunia Tuhan. Sebagai seorang suami yang setia dan takut akan Tuhan, saya berjanji akan senantiasa mengasihi dan menolongnya, baik pada waktu suka maupun duka, sehat maupun sakit, berkelimpahan maupun kekurangan, mencintai dan menghormatinya sampai kematian memisahkan kami. Saya dan istri saya akan senantiasa berbakti kepada Tuhan Allah dan hidup suci dengan mematuhi firman Nya".
Theresa mendengarkan janji yang di ucapkan oleh laki-laki yang sekarang berada di hadapannya dan entah mengapa mendengar hal itu membuat hati Theresa seperti dihantam oleh sebuah batu yang begitu besar.
"Tuhan maafkan aku," batin Theresa meminta maaf kepada kepada sang maha pencipta.
Hingga ucapan pendeta membuat Theresa kembali tersadar
"Kalian resmi menjadi suami istri, mempelai pria silahkan mencium mempelai wanita".
Alexander mencondongkan tubuhnya mencium kening Theresa. Theresa memejamkan matanya kala merasakan keningnya dicium oleh Alexander, suaminya.
Tepukan riang dari para tamu undangan menyadarkan mereka berdua dan membuat Alexander segera menegakkan kembali tubuhnya dan tersenyum dihadapan tamu undangan.
Theresa yang melihat senyuman yang tercetak di wajah Alexander, suaminya. Dan itu membuat dadanya merasa begitu sesak, bagaimana tidak senyuman itu bukanlah sebuah senyuman ketulusan melainkan senyuman yang dibuat karena paksaan.
Alexander yang merasa diperhatikan kemudian melihat kearah Theresa yang sedang menatap nya, senyum itu pudar dan di ganti raut wajah datarnya, "berhenti menatap ku, lihat kedepan dan tersenyum" ucap Alexander yang membuat Theresa mengalihkan pandangannya ke arah tamu undangan.
"Dengar!, bersikap lah seperti ini jika kita sedang berada di tempat umum, kau mengerti?," Ucap Alexander yang di jawab oleh anggukan kepala Theresa tanpa mengalihkan pandangannya.
Dihadapan nya saat ini Theresa bisa melihat kedua orangtuanya yang tersenyum bahagia namun Theresa tau senyuman itu memiliki sebuah arti tersendiri. Dan lagi-lagi hal itu membuat dada nya terasa begitu sesak.
------------
Pernikahan telah usai tidak ada pesta atau perayaan pernikahan karena Alexander tidak ingin melakukan hal semacam itu walaupun keluarga Alexander adalah keluarga terpandang menurut nya pesta hanya membuang-buang waktu saja.
Saat ini Alexander dan Theresa berada di depan kakek Alexander, Zegaf kakek Alexander pria paruh baya yang di segani di dunia bisnis, siapa yang tidak mengenalnya.
Alexander dan Theresa menampilkan raut wajah bahagia mereka, Zegaf yang melihat itu merasa bahagia cucu mendiang Putri kesayangan nya telah menikah dan memiliki seorang pendamping hidup, Zegaf merasa beban di pundaknya sedikit demi sedikit mulai menghilang, tanpa sadar Zegaf meneteskan air matanya pria paruh baya itu untuk ketiga kalinya dalam hidup ia meneteskan air matanya.
"Alex kakek percaya kau bisa menjadi suami serta ayah untuk istri dan anak-anak mu kelak," ucap sang kakek sembari menepuk pundak Alexander, Alexander hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya,
Dan kemudian Zegaf menatap sang cucu menantu dan tersenyum kecil, "dan untuk mu Theresa kakek yakin kau bisa menjadi istri dan ibu untuk anak-anak mu kelak," lanjut nya yang membuat mata Theresa berkaca-kaca,
"kakek berharap pernikahan kalian akan selalu diberikan kebahagian oleh Tuhan dan kakek akan berusaha untuk tetap bernafas agar dapat menggendong cicit kakek nanti nya," lanjut Zegaf dengan penuh percaya diri dan tersenyum, Alexander dan Theresa yang mendengar ucapan zegaf diam mematung dan senyum mereka tiba-tiba hilang.