Namaku adalah Mala Anggia Putri. Seorang mahasiswi di salah satu Universitas Swasta di Bogor. Aku punya seorang sahabat laki-laki bernama Ray Aditama. Kami berdua sudah bersahabat dari kelas dua SMA. Hingga kini kami satu kampus bahkan satu jurusan yang sama.
Sejak SMA aku sudah menyimpan rasa suka terhadapnya. Namun berbeda dengan Ray, ia sepertinya tak memiliki perasaan apapun terhadapku. Terbukti dengan ia yang selalu berganti-ganti pasangan selama ini. Namun sedikitpun aku tak keberatan, bahkan aku cukup senang masih bisa berteman baik dengannya.
Menurutku ada beberapa hal aneh yang menjadi kebiasaannya. Setiap Ray memiliki pacar baru, ia selalu mengajakku untuk berkenalan dengan perempuan itu. Alasannya adalah untuk mengetahui karakter perempuan yang akan ia kencani.
Menurutnya, sesama perempuan biasanya lebih bisa menilai dibandingkan laki-laki. Jika aku mengatakan iya, maka Ray pun tidak akan segan menjadikan perempuan itu sebagai pacarnya.
Seperti saat ini, aku sedang duduk di kursi taman di belakang kursi yang diduduki oleh Ray dan calon pacar barunya. Dan sudah menjadi kebiasaanku juga, aku selalu menggambar sambil menunggu mereka selesai.
Aku tidak pernah melewatkan satu kali pun menggambar sosok Ray dengan perempuan yang akan menjadi pacarnya. Semua momen itu akan selalu aku gambar dengan jelas.
“Gimana cewek barusan menurut lo? Mantep gak?” tanya Ray membuatku seketika tergesa menutup buku yang sedang aku gambar.
“Biasa aja. Menurut gue lebih bagus cewek lo yang sebelumnya.” Jawabku sekenanya. Berusaha sewajar mungkin menutupi kegugupanku yang hampir saja ketahuan sedang menggambar dirinya.
Ray mengerutkan keningnya tampak berpikir. Namun akhirnya raut wajahnya kembali ceria dan seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Kayaknya bener sih pendapat lo. Kalau gitu cewek barusan gue eliminasi deh jadi kandidat pacar cowok popular dan tampan ini.” Ucapnya dengan gaya yang menyebalkan.
“Iya deh terserah lo.” Jawabku sambil mengambil tas dan berdiri hendak pergi.
“Mau kemana lo? Temenin gue makan dulu. Laper nih,” pinta Ray. Bukannya aku tak mau, aku masih takut karena dia telah memergokiku menggambar dirinya.
Bisa bahaya kalau ketahuan, apalagi kalau dia sampai bertanya-tanya. Bagaimana kalau dia tahu tentang perasaanku? Aku masih belum sanggup untuk mendengar penolakannya. Dan aku tak mau hal itu sampai menghancurkan hubungan pertemananku dengannya.
Pada akhirnya Ray mengikutiku pulang ke rumah.
“Assalamu’alaikum.” Ucapku sesampainya di rumah.
“Wa’alaikumsalam. Eh ada Ray. Kemana aja baru kesini lagi?” ucap ibu melihat Ray yang datang bersamaku.
“Ada aja kok, Tante. Sekarang memang lagi sibuk kuliah jadi jarang mampir kesini.” Balas Rey.
“Ya sudah duduk dulu, kalian pasti lapar. Tante ke dapur dulu mau beresin masaknya. Tunggu ya,”
“Siap, Tante.” Jawab Ray seperti sedang beruntung karena dirinya memang sedang kelaparan.
Aku permisi untuk ke kamarku dulu dan langsung mengeluarkan buku itu. Lembar demi lembar aku lihat kembali. Dan saat melihat gambar yang terakhir, aku menyadari satu hal. Bahwa setiap perempuan yang menjadi pacarnya Ray selalu memiliki kesamaan.
Aku kembali membolak-balikannya lagi untuk memastikan. Dan ternyata hampir semua perempuan itu berambut panjang, berpakaian feminim, memiliki porsi wajah kecil dan tubuh yang pendek. Hampir sama denganku. Apa ini sebuah kebetulan?
“Lagi ngeliatin apa sih?” suara tersebut mengagetkanku. Aku pun berbalik.
“Ray? Kok lo ada disini?” Jantungku langsung berdebar tak karuan. Apa dia melihatnya? Aku sama sekali tak tahu dia ada di belakangku.
“Gue disuruh manggil lo buat makan bareng.” ucap Ray kemudian pergi.
Ya ampun, bagaimana ini? Apa dia marah karena aku menggambar dirinya tanpa seijin Ray? Tarik nafas, Mala. Aku harus bisa menghadapinya. Dan benar saja saat kami berdua sedang makan, Ray sama sekali tak buka suara. Ia bungkam dan hanya memakan makanannya. Membuat suasana menjadi tegang.
Keesokan harinya, aku siap-siap berangkat ke kampus pagi sekali karena ada mata kuliah yang mendadak dipindahkan jadwalnya. Aku langsung buru-buru mengirim pesan pada Ray memberitahukan hal tersebut namun nomornya tak aktif. Tak mau tinggal diam, aku langsung bergegas berpamitan pada ibu dan menjalankan motorku menuju kos-an Ray.
Sesampainya di kos-an, aku langsung masuk setelah ijin pada pemilik kos. Namun sudah beberapa kali aku mengetuk pintu kamarnya, tak ada jawaban dan ternyata Ray tak ada di dalam. Aku bertanya pada beberapa teman kosnya namun hasilnya nihil.
Jam kuliah sudah hampir dimulai namun aku masih sibuk mencari keberadaan Ray. Dia seolah menghilang dalam semalam. Hatiku gelisah. Apa ini ada sangkut pautnya dengan kejadian kemarin?
*
(POV Ray)
Ada satu hal yang harus aku pastikan. Walau bermodal nekat, aku sangat penasaran dengan apa yang kulihat kemarin.
“Ray cari Mala? Dia barusan sudah berangkat kuliah.” Ucap ibunya Mala melihatku sudah ada di depan rumahnya. Aku harus berpikir sesuatu agar bisa melihat buku itu. Dan sebuah ide brilian pun muncul.
“Iya, saya sudah tahu, Tante. Saya disuruh Mala buat ambilkan buku yang ketinggalan.” Nice sekali Ray. Untung saja aku bisa membuat alasan yang bagus.
“Oh gitu. Ya sudah ambil langsung ke kamarnya saja ya. Tante mau ke supermarket dulu.”
“Oh iya, Tante.” Dan setelah kepergian ibunya Mala, aku langsung bergegas ke kamar milik Mala. Buku yang kemarin aku lihat pun masih berada tepat di atas meja belajarnya.
*
Sudah beberapa tempat aku mencari Ray namun masih belum menemukannya. Sudah hampir satu jam pula aku mengabaikan pesan dari teman-teman kelas yang mengatakan bahwa dosen sudah datang dan mata kuliah pun sedang dimulai.
Namun nyatanya aku masih terdiam di sini, di kursi taman. Menatap kosong ke depan sambil memikirkan banyak hal tentang Ray.
Suasana taman di kampus masih sepi. Sehingga aku bisa mendengar dengan jelas tapak kaki seseorang yang sedang mendekatiku. Aku pun mendongak melihat siapa orang yang berjalan perlahan ke arahku. Dan ternyata itu Ray.
“Ray? Elo kemana aja sih? Dari tadi gue cariin, tau gak?” ucapku refleks dengan nada yang cukup tinggi. Aku langsung berdiri mensejajarkan tubuhku dengannya walau tinggi ku hanya sebahu dia. Perasaanku sudah bercampur aduk saat ini. Antara kesal, senang, khawatir dan malu.
“Gue udah baca buku itu.” Ucap Ray tiba-tiba. Degh! Jantungku mulai tak karuan.
“Maksud lo apa?” tanyaku, semoga tidak seperti yang aku pikirkan.
Tiba-tiba Ray mengeluarkan sebuah buku. Buku milikku yang berisi gambar-gambar dirinya. Dan bukan hanya itu juga, buku itu pun menuliskan tentang perasaanku terhadapnya selama ini. Oh Tuhan hancur sudah pertemanan ini. Dia sekarang sudah tahu dan pasti marah besar padaku.
“Jujur sama gue sekarang juga.” Ucapnya dengan nada serius. Mau tak mau akhirnya aku harus mengungkapkannya.
“Maaf, Rey. Sebenarnya a.. aku.. suka.. sama kamu,”
“Aku juga suka sama kamu.”
Aku terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Benarkah apa yang diucapkannya? Aku menatapnya dan tak melihat kebohongan di bola matanya yang tajam itu. Tiba-tiba Ray mengeluarkan sebuah buku dan memberikannya padaku.
“Bukalah.” Titahnya.
Dengan ragu, aku pun langsung membuka buku itu dan benar-benar tercengang. Di lembar pertama buku itu tertulis tentang kesukaanku, bahkan foto-fotoku yang memang sengaja diambilnya secara diam-diam.
Aku benar-benar tak percaya dengan apa yang sedang kulihat ini. Ray lalu tersenyum menatapku.
“Ya, benar. Aku pun sudah memendam rasa ini padamu, Mala.” Speechlesh.