sudah setahun lamanya setelah kematian nenek. Ruangan yang dulunya merupakan kamar nenek kini sudah tidak dihuni. Meski demikian, ruangan ini tidak berdebu. Bukan karna mistis, hal itu terjadi karena aku, Ibu, Aya, serta kedua kakakku selalu membersihkan kamar ini. Bahkan kami sekeluarga memiliki jadwal khusus, untuk membersihkan ruangan ini. Kebetulan hari ini adalah jadwalku, karena alasan itulah aku berada dalam bekas kamar ini.
Jika dilihat tidak ada yang istimewa dari barang-barang peninggalan nenek. Hanya ada ranjang dengan kasur yang dibalut seprai putih, satu buah lemari berbahan jati yang dipernis dengan pelitur, serta meja bercermin tempat biasa nenek bercermin melihat bayang dirinya sendiri.
Ah... sepertinya aku terlewat satu hal, ada satu benda dalam kamar ini yang lumayan mencolok. Benda tersebut adalah kursi goyang yang terbuat dari rotan. Biasanya nenek menggunakan kursi tersebut untuk bersantai. Kini kursi tersebut tergeletak begitu saja di sudut ruangan, tanpa ada siapa pun yang mau mendudukinya.
Alasan kenapa aku serta keluargaku tidak menggunakan kursi goyang tersebut, karena tiap malam kursi itu selalu saja bergoyang tanpa ada yang menggunakannya. Awalnya kami sekeluarga ketakutan, namun seiring berjalannya waktu rasa takut kami mulai berkurang. Bahkan keluargaku percaya—kecuali aku, bahwa yang menduduki kursi tersebut setiap malamnya adalah arwah nenek.
Aku sangat yakin sekali kalau arwah nenek tenang di alam sana. Hal itu karena semasa hidup, nenek selalu berbuat kebaikan. Pernah aku menemani nenek pergi ke sebuah asrama yang di khususkan untuk anak-anak yatim piatu. Di sana, nenek membagi-bagikan hadiah yang diletakkan dalam sebuah kotak, yang entah apa isinya. Tetapi setelah menerima kotak tersebut, anak-anak yatim piatu tersebut terlihat sangat bahagia.
***
“Iqbal... apa beres-beres kamar nenek sudah selesai?” teriakan Ibuku terdengar dengan lantang dari arah luar, yang membuat aku kembali tersadar kalau saat ini aku sedang membersihkan kamar nenek. Mungkin aku kecapian setelah membersihkan, sehingga secara tidak sengaja aku tertidur di atas ranjang berbalut seprai putih.
Aku bangkit dari baringan kemudian mengambil sapu yang aku letakkan bersandar pada pintu keluar, kemudian berjalan keluar sambil berteriak mengatakan “iya sudah” dengan lantang.
Di ruang keluarga, aku, Ibuku, serta kedua kakakku, tengah berkumpul untuk menonton sebuah acara TV sambil sesekali memasukkan kacang kulit ke dalam mulut. Karena aku satu-satunya cowok di ruangan tersebut, tentu saja acara TV yang di tonton oleh Ibu serta kedua kakakku tidak akan cocok denganku. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kamar saja. Tetapi saat berjalan ke ara kamarku, secara tidak sengaja aku melihat kalau kunci kamar nenek masih menggantung dengan nyaman di lubang kuncinya.
Dengan mengendap-endap, kuputuskan untuk masuk ke dalam kamar nenek.
Tentu saja setelah masuk, aku langsung mengunci pintunya kembali. Aku membalikkan badan dan menjelajahi segala penjuru dari ruangan ini dengan pandanganku.
Tetapi kursi goyang nenek berhasil menarik sekaligus mempertahankan pandanganku hingga beberapa saat lamanya. Kutarik napasku dalam-dalam, kemudian mulai berjalan ke arah kursi goyang milik nenek. Begitu jarakku dengan kursi tersebut tinggal beberapa meter saja, aku menghentikan langkahku kemudian memilih untuk kembali merebahkan tubuh di atas kasur empuk nenek.
Kuarahkan pandanganku menghadap plafon rumah yang berwarna putih kemudian mengangkat tangan kanan setinggi yang aku, bisa sambil melihat kelima jari tanganku yang terbuka dengan lebar sembari bergumam, “Nenek, apakah nenek sudah berada di surga saat ini?” setelah bergumam, aku menurunkan tanganku sambil kembali mengenang masa-masa terakhirku bersama nenek.
Setahun yang lalu, atau lebih tepatnya saat usiaku baru 12 tahun. Aku boleh dikata cucuk yang paling dekat dengan nenek, bahkan aku lebih dekat dengan nenek ketimbang Ibuku sendiri. Setiap sore, aku selalu menemani nenek untuk pergi berjalan-jalan. Tidak jarang aku dan nenek pergi ke tempat orang-orang kurang beruntung untuk sekedar memberikan uang, maupun makanan pada orang-orang tersebut yang nenek dan aku temui.
Setelah bagi-bagi hadiah pada orang-orang yang ditemui, biasanya aku dan nenek singgah di sebuah taman dekat kompleks perumahan. Pulang dari taman, nenek pasti akan menyuruhku untuk mengambilkan kursi kesayangannya untuk diletakkan di teras rumah. Tentu saja setelah aku mengambil kursi goyang tersebut nenek berterima kasih dan buru-buru langsung duduk dan menggoyang-goyangkan badannya. Pemandangan itu selalu kusaksikan ketika menjelang malam. Nenek terlihat sangat menghayati ketika menggunakan kursi tersebut, bagaikan kursi goyang dari rotan tersebut memiliki nyawa dan patut untuk di manjanya.
Setiap kali nenek merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, kursi goyang itu langsung melaksanakan tugasnya dengan bergoyang sambil sesekali decitan yang mirip dengan decitan engsel pintu berbunyi dari kaki-kaki kursi yang melengkung.
Ketika azan magrib telah berkumandang, matahari mulai tenggelam, serta suara serangga malam mulai berkoar. Nenek berdiri dari kursi rotannya, sambil mengelus pegangan tangan pada kursi dan bergumam dengan nada rendah bercampur serak, “Bawah masuk kursi ini.” Tentu saja aku langsung menuruti permintaan nenek. Kuangkat kursi itu dengan perlahan, meski agak berat tetapi aku masih cukup kuat untuk memindahkan kursi tersebut ke tempat semula. Tempat semula? — tentu saja tempat semula dari kursi goyang tersebut adalah kamar nenek.
Biasanya setelah Salat isya, nenek akan bersantai di kursi kesayangannya sembari mengayun-ayunkan tubuhnya di atas kursi goyang. Dan ketika aku mengecek ke kamar nenek, benar saja, nenek tengah menyatai dengan bergoyang-goyang bak seorang nakoda kapal yang terombang-ambing di tengah lautan luas.
Aku masuk ke kamar nenek sambil mengetuk pintu yang dibarengi dengan ucapan salam. Nenek menoleh sambil tersenyum, namun tak tampak kalau nenek akan mengangkat bokongnya dari singgasana goyangnya.
“Apakah nenek tidak lapar?” tanyaku pada nenek sambil duduk di pinggiran tempat tidur.
Mendengar pertanyaanku, nenek langsung menengadah sambil menutup mata selama beberapa saat, kemudian kembali menyejajarkan pandangannya padaku sembari berkata, “Nenek lagi tidak nafsu makan.”
Mendengar jawaban nenek, aku tidak berusaha untuk memaksakannya makan. Sebaliknya, aku justru ikutan tidak makan dan lebih memilih untuk menemani nenek.
“Apakah nenek sangat menyukai kursi goyang ‘ini’?” tanyaku sembari menunjuk kursi goyang yang bersahutan dengan kata ‘ini’.
“Tentu saja nenek sangat menyukainya.”
“Kursinya kan sudah agak tua, apa tidak sebaiknya nenek meminta kepada ayah untuk dibelikan kursi goyang yang baru? Maksudku, mungkin yang lebih kuat.”
“Sudah, ini saja nenek sudah bersyukur, lagi pula kursi ini juga bekas peninggalan kakekmu dulu.”
Mendengar jawaban nenek yang di luar dugaanku, aku sedikit terperengah karena beru mengetahui sebuah fakta kalau kursi goyang rotan yang sudah mulai rapuh ini adalah bekas peninggalan mendiang kakekku. Sekitar lima sampai enam detik aku terperengah, akhirnya keluku berangsur menghilang.
Aku mencoba mengajukan satu pertanyaan lagi, berharap kali ini jawabannya akan kembali membuatku terkejut.
“Apakah ada alasan lain, selain kursi ini peninggalan kakek, yang membuat nenek begitu menyayangi kursi rotan yang tua ini?”
Nenek terlihat memejamkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan kencang. Nenek kembali membuka matanya sembari siap untuk mengeluarkan sebuah kata dari mulutnya.
“Alasan nenek begitu menyayangi kursi goyang ini karena dulu sewaktu kakekmu sudah mulai sakit-sakitan, dia sempat berpesan pada nenek untuk menjaga kursinya dengan baik. Itulah kenapa nenek begitu menjaga sekaligus menyayangi kursi ini dengan baik. Karena bagi nenek, dengan duduk di atas kursi ini, nenek bisa merasakan kembali kehadiran kekekmu.”
Sekali lagi aku terkelu. Namun kali ini ada sedikit air mata yang mengembung di pelupuk mataku. Aku mungkin belum mengerti soal cinta, tetapi aku bisa melihat apa arti dari kata ‘setia’ saat mendengar perkataan nenek.
Nenek memanggilku untuk mendekat kepadanya, entah Cuman perasaanku? Atau memang ada yang aneh dengan panggilan nenek. Aku merasa, bahwa panggilannya adalah pertanda buruk yang tidak aku inginkan.
Kulangkahkan kakiku untuk menghampiri nenek. Begitu aku sudah berjarak sangat dekat, nenek langsung menyuruhku untuk menyandarkan kepala di pangkuannya. Tanpa banyak tanya, langsung saja kuturuti kemauan nenek. Jari jemari dengan kulit kendur langsung mengelus-elus rambutku begitu kusandarkan kepala. Entah mengapa, aku tidak merasakan ketenangan dengan elusan tersebut. Justru sebaliknya, perasaan gelisah akan berpisah dengan orang yang disayangi langsung menusuk ke dalam hatiku dengan cepat.
Gerakan tangan nenek yang sementara mengelus puncak kelapaku tiba-tiba berhenti, bersamaan dengan itu, suara nenek langsung terdengar ditelingaku.
“Iqbal, kau harus baik-baik, ya. Baik degan keluargamu, maupun dengan orang asing.” Entah bagai mana ekspresi nenek ketika mengatakan hal itu, namun dalam imajinasiku nenek tengah berwajah sedih. Hal itu aku simpulkan dari nada suara nenek yang terdengar rapuh. Aku sama sekali tidak memberikan komentar atas perkataan nenek barusan. Namun kata-kata itu semakin membuat instingku semakin tidak enak. Aku pikir nenek akan menyudahi perkataannya, tapi ternyata dugaanku salah. Nenek masih saja melanjutkan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan berhenti.
Namun kata-kata terakhir yang keluar dari mulut nenek yang masih membekas di pikiranku adalah ‘jaga baik-baik kursi ini! Nenek mempercayakannya padamu. Jangan sampai kamu mengecewakan nenekmu ini.’ Setelah nenek mengatakan hal tersebut, tidak lama kemudian, nenek mulai sakit-sakitan. Dan di sisa-sisa embusan napas terakhirnya, nenek mengatakan sekali lagi wasiatnya, tentang aku harus menjaga kursi goyang peninggalan kakek. Setelah itu, entah mengapa, nenek menggeleng pelan kemudian pergi untuk selamanya.