Terjadi kasus pembunuhan di wilayah Busan, Korea Selatan. Pembunuhan ini terjadi setiap pukul 11:11 malam, dan tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, hal itu yang mempersulit pihak kepolisian wilayah Busan untuk meringkus sang pelaku pembunuhan.
Awalnya, pembunuhan ini hanya berlangsung sekitar 1 bulan sekali, tetapi sekarang pembunuhan dilakukan seminggu sekali. Apa motif dibalik pembunuhan ini semua? Sampai kapan pembunuhan ini terus berlanjut? Kapan pihak kepolisian berhasil menangkap sang pelaku pembunuhan berantai?
Seorang wanita bernama Im Hye Ji, baru saja pulang dari kantor, ia merupakan seorang pegawai magang yang sedang lembur kala itu. Ia sedang dalam perjalanan menuju kediamannya.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 11:00 malam, dan ia sedang berada dalam gerbong kereta api bawah tanah. Kereta sudah hampir tiba di tujuannya. 10 menit kemudian, tepatnya pukul 11:10 malam, ia baru saja keluar dari kereta dan menuju ke eskalator stasiun.
Tak ada yang aneh saat itu, tetapi tepat 1 menit kemudian Hye Ji mulai merasakan keanehan di sekitarnya. Semua tampak abu-abu, di sekitarnya kehilangan warnanya dan tidak ada yang bergerak satu pun.
Hye Ji mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah waktunya terhenti? Kenapa hanya dia yang bergerak? Seketika, Hye Ji mulai berlari sekuat tenaga menyusuri keramaian yang terhenti itu.
Sesampainya di trotoar pejalan kaki, ia terus berlari menuju apartemennya, dan berharap agar semuanya kembali normal.
Tapi di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan seorang pria yang menggunakan hoodie berwarna hitam dan di tangannya terdapat palu yang ia bawa. Tatapan pria tersebut sangatlah menyeramkan, wajahnya pucat pasi seperti mayat, dan matanya melotot. Pria itu berjalan melewatinya perlahan.
Hye Ji mulai merasa tidak nyaman dengan pria tersebut, seketika bulu romanya berdiri tegak, dan sekujur tubuhnya merinding dan mengeluarkan keringat dingin.
Kemudian, ia tersadar akan apa yang baru saja ia lihat. Pria itu bergerak, berjalan melewatinya tadi. Ia mencoba untuk menoleh ke belakang, dan ternyata pria itu sedang terpaku memelototinya di ujung jalan. Sontak, Hye Ji terkejut, dan langsung berlari sekencang-kencangnya.
Ternyata pria itu berlari mengejarnya, dan Hye Ji pun berteriak kencang,
"Kyaaaa!!!! Berhenti mengejarku!!!".
Tetapi naas, pria tersebut mendorongnya hingga terjungkal.
"Akh! A, apa... yang ka, kamu... inginkan dariku?!".
Pria itu tertawa terbahak-bahak sembari menatap tajam ke arah Hye Ji.
"Hahahahaahaaaaa!!!!".
Pria tersebut mulai berkata-kata,
"...Aku ingin membawamu bersamaku ke tempatku, kau akan menjadi targetku selanjutnya!! Wuahaahahahahaa!!!".
Hye Ji menjawab, "Hiks... Hiks... To, tolong... jangan sakiti aku..., biarkan aku pergi!" Hye Ji mulai menangis keras, karena ketakutan yang rasakan.
"Tidak bisa! Kau harus ikut denganku!!" kata pria tersebut sambil mencengkram tangan Hye Ji.
"Ti, tidak mauuu!!! Aku tidak mau ikut bersamamu! Berhenti menggangguku! Ughh...! Lepas!!" Hye Ji meronta, berusaha melepaskan cengkeraman pria itu.
"Ikut denganku!!" Teriak pria itu.
"Tidak!", tiba-tiba Hye Ji menendang perut pria itu, dan lari sekencangnya meninggalkan pria aneh tersebut.
Sesampainya di rumah, adik Hye Ji, Im Eun Ji, bertanya padanya,
"Eh? Kakak, sudah pulang, aku baru saja selesai menonton dra..., lho? Kok... Kakak... Kakak, baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu? Kenapa Kakak menangis?" tanya Eun Ji.
"Ak-aku... Aku baik-baik saja. Kenapa kamu belum tidur? Besok kamu harus berangkat ke kampus, kan? Ayo, pergi ke kamarmu dan tidurlah." jawab Hye Ji.
"Tapi... Kakak bagaimana? Oh! Aku akan membuat segelas cokelat hangat untuk Kakak, dengan begitu Kakak akan merasa lebih baik. Jadi, tunggu sebentar, aku akan segera kemba-" ucapan Eun Ji terhenti.
"Tidak perlu, jangan pedulikan aku, karena aku baik-baik saja. Tidurlah." kata Hye Ji.
"Sungguh? Baiklah... Jika ada sesuatu, katakan saja, ya? Selamat malam, Kak...!" sahut Eun Ji.
"Ya... Selamat malam... Eun Ji."
Keesokan harinya...
Hye Ji mengajak bertemu sahabat perempuannya yang kebetulan seorang Polisi bernama Han Yoo Ra.
Hye Ji menceritakan semua kronologi kejadian semalam. Tetapi Yoo Ra tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sahabatnya itu, dan mengatakan bahwa Hye Ji hanya bermimpi karena kelelahan, atau mungkin Hye Ji mengkhayal.
Kemudian, Hye Ji meminta pada Yoo Ra untuk menyelidiki tempat kejadian semalam.
Akhirnya Yoo Ra bersama tim kepolisian setempat menyelidiki TKP, dan juga mengecek CCTV di tempat tersebut dan di sekitar stasiun.
Tetapi terdapat suatu keanehan di rekaman CCTV, seakan rekaman tersebut terhapus.
Beberapa hari setelah penyelidikan, Yoo Ra mengajak Hye Ji bertemu di suatu kafe, dan mereka memperbincangkan tentang kejadian yang pernah dialami oleh Hye Ji.
"Sejak kejadian hari itu, apa pria misterius tersebut masih mencarimu?" Tanya Yoo Ra.
"Tidak. Itu karena aku sudah tidak lembur, dan aku selalu pulang sebelum pukul delapan malam. Aku tidak berani pulang tengah malam lagi, bagaimana jika aku bertemu dengan pria itu lagi?! Aku tidak mauuu!!!" Jelas Hye Ji.
Yoo Ra mulai mengerti situasinya, dan ia teringat dengan ucapan Hye Ji yang mengatakan bahwa seakan waktunya terhenti, ia mulai memiliki pemikiran yang sama dengan Hye Ji.
"Syuut! Tenanglah... Aku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut, setelahnya aku akan segera memberimu kabar. Mengerti?" Ujar Yoo Ra. "...Karena aku mulai memiliki pemikiran yang sama denganmu..."
5 hari kemudian...
Hye Ji berjalan di tengah gelapnya malam, sendirian...,
"Huuhh... Kenapa aku harus pulang di tengah malam begini sih?!" saat itu waktu menunjukkan pukul 11:02.
"Hiiihh...!! Bagaimana jika aku bertemu dengannya lagi? A, aku harus segera pulang!"
Apartemen tempat tinggal Hye Ji mulai terlihat dari kejauhan, ia mempercepat langkahnya. Tetapi, ia merasa bahwa ada seseorang yang mengikutinya, Hye Ji pun lantas menoleh ke belakang tetapi tidak ada siapa pun.
Malam terasa mencekam, terdengar suara langkah kaki pelan di belakangnya. Hye Ji mempercepat langkahnya, tetapi suara langkah kaki tersebut juga ikut mempercepat langkahnya, seolah sedang berlari mengejar Hye Ji.
Hye Ji tidak dapat memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, ia memilih untuk segera berlari pulang.
Tiba-tiba...
"Kita bertemu lagi!!! Hahahaha!!!"
Pria misterius tersebut muncul dan mencengkram pundak Hye Ji.
Hye Ji pun berteriak, meminta tolong, "Kyaa!!! Kau... Ah, to, tolooong!!! Tolong!!!"
"Bodoh! Tidak akan ada orang yang mendengar teriakanmu itu! Karena... Waktunya... Terhenti...! Hahahaha!!" ucap pria tersebut.
"Ap, apa... Apa maksudmu?" tanya Hye Ji terbata-bata.
"Hm? Yang ku maksud adalah waktunya akan terhenti setiap harinya pada jam yang sama, yaitu pada pukul 11:11 malam. Sekarang kau mengerti...?"
Mendengar penjelasan pria tersebut, Hye Ji semakin tidak percaya, bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi?
Hye Ji berusaha melawan pria itu dengan sekuat tenaga, dan ia berhasil lolos dan masuk ke dalam rumahnya. Pria tersebut masih mengejarnya, dan mengetuk pintu rumah Hye Ji dengan keras.
"Buka pintunya!!! Aku tahu kau ada di dalam! Tunjukkan dirimu, dan bermainlah bersamaku!!!" teriak pria tersebut.
"Kakak...! Siapa di luar sana? Kenapa Kakak terlihat begitu ketakutan? Apa ada masalah? Cerita padaku, Kak!" tanya Eun Ji penasaran.
"Syuuutt!!! Diam! Aku tidak mau keluar! Orang itu sedang menerorku! Jadi tenanglah!" bisik Hye Ji.
"Te... Te, teror?! Baik... Aku akan diam... Hiii~! Entah kenapa malam ini menyeramkan..." ucap Eun Ji.
Waktu menunjukkan pukul 11:50. Sudah 10 menit pria itu mengetuk pintu rumah Hye Ji dan mengatakan hal yang sama.
Akhirnya pria tersebut berhenti mengetuk pintu, dan berkata...
"Haah...! Sial! Karena mu aku jadi kehilangan kesenanganku. Hei! Ingatlah, aku akan menemui besok, jadi tunggu saja, ya?!! Hihihi...!! Ini akan menjadi permainan yang seru!!"
Sejenak Hye Ji sedikit tenang, tetapi... Ia masih takut untuk keluar rumah, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil cuti kerja selama 1 minggu.
Keesokkan Paginya, Hye Ji memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Han Yoo Ra. Baru saja ia ingin menghubunginya, sahabatnya sudah meneleponnya. Saat berbicara di telepon, Hye Ji meminta agar sahabatnya itu datang ke rumahnya, karena ia tidak berani keluar rumah.
Akhirnya Yoo Ra pun tiba di Apartemen tempat tinggal Hye Ji, ia pun mengetuk pintu.
Tok... Tok... Tok...
"Si, siapa...?" sahut Hye Ji.
"Ini aku! Bukakan pintunya Hye Ji!"
Setelah mendengar bahwa itu suara Yoo Ra, Hye Ji langsung bergegas membukakan pintu.
Lalu ia menceritakan semuanya yang telah terjadi pada Yoo Ra.
Yoo Ra tidak tinggal diam. Saat itu juga ia langsung menghubungi salah seorang detektif yang merupakan teman lamanya saat SMP dulu, dan meminta agar temannya itu mencari tahu tentang asal-usul dari pria itu.
Karena Hye Ji dan Yoo Ra, berpikir bahwa kemungkinan pria tersebut ada kaitannya dengan kejadian pembunuhan berantai yang terjadi di wilayah mereka.
Dalam waktu kurang dari 48 jam, hasil penyelidikan dari detektif telah keluar. Ternyata identitas dari pria tersebut adalah Lee Min Seok, Putra dari pasangan Lee Il Joon, dan Jeon Ji Yeong. Usianya 23 tahun. Pekerjaannya adalah seorang komikus andal.
Mereka bingung, bagaimana bisa seorang komikus bisa menjadi seorang pembunuh berantai? Sang detektif pun tidak percaya, tetapi mereka menyatakan bahwa yang mereka selidiki itu benar adanya.
Lee Min Seok, melakukan semua itu karena ia merupakan seorang Psikopat, dan ia mencari inspirasi untuk menggambar komik, dari hasil membunuh orang.
Sejak ia duduk di bangku SMA, pekerjaan Ayahnya hanya mabuk-mabukkan dan berjudi, menghabiskan uang keluarga. Ayahnya kehilangan pekerjaan sejak 1 tahun lalu, dan sejak saat itu Lee Min Seok menjadi seorang tulang punggung keluarga.
Setiap pulang ke rumah, pemandangan yang ia saksikan hanyalah, sang ayah memukuli Ibunya, dan bertingkah seperti seorang pemalak.
Sebenarnya hari itu, ia agak takut pulang ke rumah. Tetapi tidak ada pilihan lain, Min Seok tidak mau Ayahnya mencari keributan di cafe tempat ia bekerja, karena Ayahnya mengancam bahwa akan membuat keributan jika ia tidak pulang ke rumah.
Karena sudah bosan dengan hari-hari yang ia jalani, ia berencana untuk kabur dari rumah, saat tengah malam.
Malam itu saat hendak merencanakan aksinya, suasana malam begitu tenang.
Tumben, mereka tidak bertengkar...? pikir Min Seok.
Tetapi, betapa terkejutnya ketika ia hendak keluar. Tepat di hadapannya, Ibunya terbaring di atas sofa, dengan luka tusuk di perutnya, dan juga ditemukan sebuah pisau yang tergeletak di lantai.
Ia yakin bahwa semua ini adalah ulah sang Ayah. Sebelum pergi dari rumah tersebut, ia mencari Ayahnya sampai ke belakang rumah, ternyata Ayahnya ada di sana. Min Seok datang dengan membawa pisau yang digunakan Ayahnya untuk membunuh Ibunya.
Lalu, tanpa banyak bicara, ia langsung menusukkan pisau tersebut berkali-kali pada tubuh Ayahnya. Kemudian ia kembali ke tempat di mana Ibunya terbaring, dan ia meletakkan pisau itu di tangan Ibunya.
Ia sedang berusaha memanipulasi hal yang telah terjadi, ia tidak mau menjadi tersangka pembunuhan.
Jadi, ia meletakkan pisau itu di tangan Ibunya seolah, Ibunya-lah yang membunuh Ayahnya dan menusuk kan senjata tajam berkali-kali ke tubuh Ayahnya, lalu sang Ibu membunuh dirinya setelah membunuh Ayahnya.
Begitulah kenyataan yang di dapat pihak detektif, dari hasil penyelidikan.
4 hari kemudian...
Sudah pukul 7 malam, namun Im Eun Ji tak kunjung pulang dari kampus, hal tersebut membuat Hye Ji sangat khawatir, apalagi ponsel Eun Ji tidak aktif.
Akhirnya Hye Ji memutuskan untuk mencari Eun Ji ke kampusnya, namun hasilnya nihil. Tiba-tiba ponsel Hye Ji berdering...
Kriiiing! Kriiiing! Kriiiing!
Ketika melihat layar ponsel, Hye Ji terkejut karena di sana bertuliskan 'Eun Ji-Adikku', ia langsung menjawab telepon tersebut, namun bukan suara adiknya yang ia dengar melainkan suara Pria pembunuh itu, Lee Min Seok.
"Kenapa kamu yang menjawab telepon ku?! Dimana adikku?! Jawab aku?!" pekik Hye Ji.
"Wow~ wow~ tenang dulu, aku tidak akan menyakitinya, asalkan..., kamu mau mengorbankan dirimu sebagai gantinya untuk inspirasiku. Hihihihi...!" kata Min Seok.
"Apa maksudmu?! Ku mohon kembalikan adikku!!" tegas Hye Ji.
"Maksudku, aku adalah seorang komikus, jadi aku juga butuh inspirasi. Dan aku mau kamulah yang menjadi inspirasiku. Jika kamu menuruti kemauanku, maka adikmu akan selamat, tetapi jika tidak... Kau pasti sudah tahu... Apa jawabannya...! Hihihihi~!" jelas Min Seok.
Hye Ji bingung harus melakukan apa, di satu sisi ia harus menyelamatkan adiknya, tapi di satu sisi lain, ia tak mau berurusan dengan lelaki itu, apalagi sampai terluka atau lebih-lebih dibunuh?!
Maka terpaksa ia menjawab...
"Baik. Akan ku turuti kemauanmu, kirimkan aku lokasimu, dan aku akan segera ke sana. Tolong pastikan adikku aman, kumohon."
"Sendirian...?" tanya Min Seok.
"Jika itu yang kau inginkan, maka... Akan kuturuti." jawab Hye Ji sambil menahan tangis.
"Hihihi! Bagus...! Pastikan kau datang sendiri, atau ucapkan selamat tinggal pada adik manismu!! Hahahahah!!!" sahut Min Seok.
Tut... Tut... Tut... Tut...
Hye Ji tersungkur lemas. Apa yang baru saja ia katakan?! Datang ke sana? Merelakan diri? Sendirian?!
"Haaah...! Apa aku... Sudah gila?" ujar Hye Ji kecewa.
Ia menangis sejadi-jadinya, tak peduli dengan apa yang orang pikirkan tentangnya.
Kebetulan Yoo Ra sedang mengendarai mobil dan ia melihat Hye Ji yang sedang menangis di pinggi jalan seperti anak kecil, ia langsung menghampiri Hye Ji.
Hye Ji telah menceritakan tentang hal yang baru saja menimpanya dan adiknya.
Yoo Ra geram, ia tidak bisa menahannya lagi. Mana mungkin tidak? Sebagai seorang polisi, bagaimana bisa ia hanya berdiam diri begini?
Ia memilih untuk bertindak, dan bersama dengan Hye Ji dan anggota kepolisian lainnya, bergegas ke lokasi di mana Eun Ji di sandera. Mereka merencanakan untuk mengepung area sekitar secara diam-diam.
Sesampainya di lokasi, Hye Ji masuk ke dalam sebuah gedung tua yang merupakan tempat di mana Eun Ji di sandera. Ia masuk ke sana untuk memancing si Min Seok agar keluar dari gedung tersebut, dengan beralasan ingin mengantar Eun Ji masuk ke dalam taksi.
Min Seok pun terpancing untuk keluar dari tempat persembunyiannya, untuk mengawasi setiap gerak-gerik Hye Ji, agar tidak tertipu. Dan benar setelah Hye Ji mengantar Eun Ji masuk ke dalam taksi, dan taksi pun pergi, ia kembali pada Min Seok.
Saat hendak masuk ke dalam, para kawanan polisi menunggu di depan pintu, kemudian di susul oleh rekan kepolisian yang lainnya, untuk mengepung. Hye Ji berlari, berlindung pada Yoo Ra.
"Sial! Kau...! Kau menipuku?! Beraninya...!!!" teriak Min Seok.
Min Seok mencoba meraih tangan Hye Ji, tetapi tidak berhasil. Salah seorang polisi menembak kakinya. Kemudian mereka membawa Lee Min Seok ke kantor polisi.
Sesampainya di kantor polisi, Lee Min Seok di adili, kemudian di jatuhi pasal berlapis, dan di hukum mati.
Sejak hari itu, semua sudah kembali normal, dan teror tersebut sudah berakhir.
Bagaimana dengan waktu yang terhenti?
Itu...
Masih menjadi misteri...
- Tamat -