“Tekanan darahnya menurun!”
“Sedot!”
Drama zaman sekarang sudah sering sekali menampilkan prosedur operasi sampai menunjukkan organ dalam pasiennya. Sering sekali aku menghabiskan waktu yang luang untuk memperhatikannya.
Namun sial yang aku dapat di ujung cerita. Aku sedang menonton prosedur operasi dari tubuhku sendiri.
“Tekanannya semakin turun.”
Ini jadi tanda akan tamatnya sudah riwayatku.
Aku keluar dari ruang operasi itu. Pintu yang tertutup rapat dan dinding beton bertulang yang kukuh tidak menghalangiku.
Suara tangisan menyambutku di luar. Kedua orang tua itu masih saja menahan khawatirnya.
Kuulurkan tanganku melambai-lambai ke depan wajah mereka. Mereka sungguh sedang menatap ke arah tanganku, tapi mereka tidak melihatnya. Ingin pun tidak mampu aku gapai untuk menenangkan diri mereka.
Aku sungguh tinggal arwah saja dan berubah tembus pandang.
Buruk keadaan tak menentu ini membuat memaksakan diri kami untuk menerima keadaan.
“Lalu aku harus bagaimana?” tidak mungkin aku menunggu kematian yang memang akan datang.
Tidak ada hal yang ingin aku lakukan. Maupun tempat yang ingin aku kunjungi.
Hmm…, apa yang ingin aku lakukan di keadaan hantu yang tidak terlihat ini?
Satu hal sih yang ingin aku lakukan. Namun aku kan hanya sekedar teman yang satu sekolah yang tidak pernah saling kenal. Bagaimana caranya aku menemuinya kalau kami tidak sedekat itu. Aku menatapnya saja bisa salah tingkah.
Mataku tertutup. Sudah berapa lama aku tidak melihatnya? Hatiku sungguh merindukannya.
“Wa!!”
“Putri!”
“Guys~”
“Beli satu gratis satu!!”
“Yang ini ada yang kedua gak om?”
“Bagus~”
Loh? Loh?! Aku sudah ada di tengah kerumunan! Bagaimana bisa?! Padahal sedetik yang lalu aku ada di rumah sakit.
Ramai sekali. Ini membuatku pusing. Siapa yang tidak pusing kalau tiba-tiba berteleportasi ke tempat yang penuh orang begini? Tambah buruk lagi aku tidak kenal tempat ini.
Sebentar dulu. Ini bukan tempat yang asing.
Kapan terakhir kali aku ke luar rumah sakit? Dua tahun yang lalu? Berarti benar tempat ini tidak ada yang berubah. Ini lapangan yang sering diadakan bazar buku.
Namun kenapa aku tiba-tiba ke tempat ini?
“Arga!”
Hmm? Suara itu dan nama itu! Langsung aku menyembunyikan diriku dari balik salah satu sisi tenda yang tertutup.
Tidak mungkin! Kenapa bisa dia ada di sini?
“Kita beli minuman yuk. Haus~” perempuan itu mendekat ke laki-laki yang aku kenal baik itu.
“Duluan saja, aku masih mau cari-cari,” Arga masih mengangkat dan memperhatikan buku-buku yang dijajahkan.
Perempuan yang semua orang tahu ini selalu saja semakin dekat dengan laki-laki itu. Lama sekali aku tidak melihat mereka. Jangan-jangan mereka sudah pacaran.
Enaknya bisa percaya diri seperti itu. Kalau aku, sudah pasti tutup muka dan kabur. Bagaimana caranya perempuan seperti aku bisa mendekati laki-laki mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ini? Semua orang tahu dia dan kagum dengannya.
Meski aku punya keuntungan mengenalnya sejak sekolah dasar. Namun aku tidak pernah satu kelas dengannya dan aku pun yakin dia tidak kenal denganku yang selalu penyendiri sejak dulu.
“Hah, aku harus puas,” khususnya setelah aku bisa melihat wajahnya sebelum aku pergi.
Ah, benar juga. Tubuhku kan sekarang tembus pandang. Sepertinya tidak masalah kalau aku berjalan lebih dekat ke pria yang tinggal sendiri itu.
Hatiku tidak yakin aku bisa, tapi aku juga mau melakukannya.
“Oke!” aku harus semangat. Supaya nanti tidak ada penyesalan!
Perlahan aku berusaha menenangkan diri sambil berjalan normal mendekatinya. Dia masih saja memasang wajah seriusnya memilah beberapa buku. Wajah seriusnya itu selalu sukses mengeluarkan pesona seperti cahaya corot bagi setiap yang melihatnya.
Layaknya pejalan kaki biasa, aku berhenti di sampingnya dan menatap ke arah keranjang besar penuh tumpukan buku.
Sudah lama sekali aku tidak sedekat ini. Di satu fakultas bukan berarti kami bisa dekat. Rekor paling dekatku hanya kelas kami yang bersebelahan saat SMP. Rasanya aku semakin jauh dan semakin tidak berani menghadapinya.
Mau bagaimana? Kharismanya saja terasa walaupun mataku sedang tidak melihatnya.
“Hah,” di keadaan seperti ini aku malah dibuat semakin penasaran.
Aku tidak pernah melihat wajahnya dari jarak yang sangat dekat. Bahkan aku tidak pernah melihatnya menatapku secara langsung.
Sepertinya aku jadi jauh lebih percaya diri dengan mengetahui bila aku tidak bisa dilihat oleh orang-orang ini termasuk Arga. Keinginanku meluap ingin lebih dekat ke arahnya. Tanpa ragu aku mencondongkan wajahku untuk melihat wajahnya lebih dekat.
Ah. Dia melihat ke arahku!
Aaa... Sepertinya dia menemukan buku lain di balik kepalaku. Rasanya aku dipuaskan dengan tingkah ekstrim ini.
“Hihihi,” benar-benar puas.
Tegak kembali tubuhku sambil terus tersenyum lebar. Bagaimana kalau aku ikuti dia untuk sementara?
Jalan santai keliling lapangan bazar, makan minum di beberapa stan dengan teman-temannya.
Lalu sekarang dia sedang menyendiri di sebuah cafe terdekat di depan laptopnya. Sekilas melihat saja aku tahu dia sedang sibuk.
Untung saja Arga memilih spot dengan dua kursi saling berhadapan. Walau di depannya ada laptop, aku masih bisa melihat wajah seriusnya.
Sudah dua jam sejak aku iseng mengikuti kesehariannya. Namun….
Kutahan pipiku dengan kedua tangan yang menyiku di meja, “Aku seperti stalker saja. Mudah-mudahan tidak ada indigo di sekitar sini.”
“Ini pesanannya mas,” seorang pelayan perempuan membawa ramuan minuman dan makanan kecil untuk Arga.
Arga tersenyum manis, “Terima kasih.”
“Em, anu…,”
“Kenapa ya, mbak?” Arga memandang dia.
Pelayan itu, tersipu?! “Boleh tidak kalau kita tukar sosmed?”
“Kenapa?”
Hah? “Yah, pel**! Aduh, mbak~ Kerja bukan untuk cari pasangan! Dasar, anj**!!” aku paling tidak suka perempuan seperti dia.
Tanpa sadar aku mengumpat tidak jelas.
“Uhuk!” Loh? Arga? “Terima kasih sudah tertarik denganku, tapi maaf aku harus tolak. Aku takut aku terlalu sibuk ini itu,” Arga tersenyum sambil menunjuk laptopnya.
Wow, saking lembutnya penolakan Arga tidak bisa ditolak balik.
“I⏤iya. Maaf mengganggu.”
Akhirnya dia pergi.
“Dadah~” aku melambai kepadanya yang tentu tidak bisa dilihat.
Kembali aku ke posisi tatapanku ke arah Arga. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang lucu di layar laptopnya. Aku jadi penasaran itu ap⏤
“Aaaa!”
Tadi. Ini... Sakit apa ini?
“Aaaaa! Auw....”
Terkejut. Kesakitan. Dadaku rasanya mau meledak.
Sampai sesaat tadi, aku bisa merasakan sesuatu.
Entah bagaimana aku bisa tahu keadaan tubuhku. Jauh di rumah sakit sana, tubuhku sedang....
Tersisa beberapa menit.
Waktuku... Habis.
Hah, aku sudah terlalu lama disini. Bagaimanapun nantinya, aku harus siap untuk pergi.
Namun sebelum itu…,
Aku berdiri dari dudukku. Masih memandang pria luar biasa di depanku.
“Waktu aku pertama kali bertemu Arga, aku selalu pikir kamu orang yang baik. Semakin lama aku kenal, aku makin suka,” kupandang lurus sosok itu. Menyentuh dadaku yang terasa hangat, “Giana ini mencintai Arga. Terima kasih sudah temani aku~”
Hatiku seharusnya bisa lebih lega sekarang. Tidak ada yang perlu aku takut untuk lepaskan lagi.
Namun senyumku rasanya perih, “Selamat tinggal.”
Air mataku mengalir. Rasa sakitku di dadaku semakin membuatku takut. Gemetaran tanganku yang menyatu di depan dadaku seakan menarik keraguanku.
Kematian.
Tubuhku yang dingin.
Sendiri.
Waktu yang terhenti ini...
Rasa takut ini....
Benarkah aku berani menghadapi ini?
Loh? Bagaimana bisa?
Aku bisa melihat ekspresi Arga yang sedih. Pandangannya, matanya yang tampak bening bersinar lebih dari biasanya, tepat ke arahku. Yang lebih mengejutkan tangannya itu sedang menggenggam tanganku, menumpuk di tanganku yang menyatu.
“Terima kasih ya, sudah jujur. Sampai jumpa lagi, Giana.” dia tersenyum manis.
Hah, tidak aku sangka kalimat itu membuat sakit di dadaku tidak terasa. Walau aku yakin hanya tinggal beberapa detik sebelum ikatanku dengan tubuhku habis. Rasanya aku lega.
Akhirnya aku tersenyum lebar, “Sampai jumpa lagi.”
Tetes air mata ini sangat aku syukuri.
.
.
.
Arga menjejaki ubin-ubin putih yang khas rumah sakit. Dia sudah menemukan apa yang dia cari. Keluarga Giana yang sedang menangis.
Kata ‘koma’ sekilas terdengar di telinganya.
Ia menarik ujung kalung yang ia sembunyikan dibalik bajunya. Kristal bening yang murni dan cantik itu sangat indah kapanpun dipandang. Tangan Arga menggenggamnya sambil terus berharap.
“Tunggu sebentar saja, aku akan menjemputmu.”
Bersamanya Walau Aku Transparan ⏤ The End?
RozieyEmma