Bush in between us
Always in my way to reach you
But because the bush
I know, that me and you will not converge. - Aleyna Apriyana
The bush taught me the meaning of love regardless of any so far. - Geri Hardyansyah
***
Jum'at, 02 Febuari 2002
Pukul 23.23
Aku kembali menulis di buku diari -yang entah keberapa- pada malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Rasanya jika suasana selalu sepi seperti ini aku merasa damai dan nyaman. Seolah-olah inilah duniaku seharusnya. Memilih untuk memejamkan mata dan menghembuskan nafas berat, aku kembali menatap jam dinding yang berada di hadapanku. Beberapa saat kemudian ku tutup buku diari setelah selesai menulis dan kembali tenggelam dalam kesendirianku.
Tidak banyak yang istimewa dariku, aku hanyalah perempuan pemalu dan jarang berbicara dengan orang-orang berada di sekitarku, entah itu tua maupun muda. Aku tetap saja menjaga jarak dan waspada agar mereka tidak menyakitiku begitupun sebaliknya. Orangtuaku saja bingung dengan sikapku yang seperti ini. Namun, aku hanya menjawab 'Aku selalu berdebar jika berbicara dengan orang lain selain Ayah dan Ibu.' Lalu setelah mendengar jawabanku, Orangtuaku hanya tersenyum dan memahami. Setidaknya rasa sayang dan pemahaman mereka berdua akan diriku bertahan hingga saat ini.
Tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Aku menjadi pemalu karena sedari dulu aku mencintai Sepupuku, Geri Hardyansyah. Lelaki berwajah tampan, memiliki rambut hitam lurus, alis yang sangat tebal, rahang kotak dan keras, kulit yang berwarna cokelat keemasan, tubuh yang menjulang tinggi. Meskipun saat pertama kali aku bertemu dengannya saat aku baru berusia 6 tahun, akan tetapi aku tidak bisa menyanggah bahwa aku sangat terpesona kepadanya hingga saat ini. Meskipun aku saat ini aku berusia 18 tahun. Akan tetapi rasa itu semakin membesar dari hari ke hari.
"Aleyna? Kamu belum tidur Nak?" Mama berjalan menghampiriku dan mengelus rambutku dengan penuh sayang.
Sebagai jawaban aku hanya menggeleng dan tersenyum kearah Mama.
"Sekali-sekali kamu ini bicara panjang lebar dong sayang, Mama rindu kamu yang bawel dan menggemaskan dulu. Sekarang kamu pendiam dan pemalu seperti ini membuat Mama kesepian. Mama tidak punya teman berbincang di tengah waktu senggang."
"Mama selalu sibuk sama pasien Mama."
Mama tersenyum, "maafkan Mama ya sayang. Itu adalah suatu resiko yang harus Mama terima karena pekerjaan Mama sebagai seorang dokter."
"Baiklah."
"Apa kamu cuma bisa merespon seperti itu?" tanya Mama gemas sambil mengacak-ngacak rambutku dan mencubit pipiku.
"Sudah tengah malam. Sesegeralah untuk beristirahat. Tubuhmu membutuhkan waktu untuk memperbaiki metabolisme yang rusak di dalamnya. Lagipula, besok adalah waktu dimana kita akan bertemu dengan keluarga besar. Sudah 5 tahun kan tidak pernah bertemu, lagipula saudara dan saudarimu sangat merindukan kamu Nak. Jangan sampai lupa ya."
"Ya, aku tidak akan lupa." Aku memberikan respon sambil tersenyum.
Mama beranjak keluar dari kamarku dan menutup pintu dengan perlahan. Aku kembali termenung dan memeluk bantalku dengan erat.
"Akhirnya aku akan bertemu denganmu lagi, Geri."
Ku pejamkan mataku dan membayangkan bahwa Geri yang aku peluk. Aku bahkan bisa membayangkan wangi tubuhnya yang unik, wangi cokelat yang sudah matang. Siapa yang tidak akan lapar saat menghirup aromanya jika semanis itu. Aku bahkan bisa membayangkan bahwa Geri mengusap punggungku dengan perlahan dan mengecup puncak kepalaku. Rasanya aku seperti dicintai olehnya dengan sangat.
Aku menutup mataku rapat-rapat berusaha memanggil namanya untuk hadir di dalam mimpiku seperti hari-hari sebelumnya.
***
"Kau tahu Aleyna, aku bahkan sangat mencintaimu tatkala kau masih bayi. Padahal waktu itu aku baru berusia 6 tahun. Sama sepertimu yang mencintaiku yang sudah berusia 12 tahun dan kau tengah berusia 6 tahun." Geri menggelitiku perutku sehingga membuat aku tertawa renyah.
Aku menepis tangannya yang berada di perutku lalu menatap Geri dengan tatapan sebal. Aku bahkan ingin mematahkan lengannya jika aku tidak memperdulikannya.
"Benarkah itu? Kau bilang sebelumnya kau bahkan tidak pernah menyukaiku. Makanya kau menjahiliku. Lagipula kau bahkan tahu, bahwa aku sangat mencintaimu. Tentunya itu tidak akan pernah berubah sampai kapanmu."
"Aku tahu itu." Geri mengusap rambutku dengan penuh sayang.
"Aku bahkan tahu ini adalah mimpi. Tapi, aku selalu tidak ingin bangun dan menghadapi kenyataan yang ada bahwa aku dan kau tidak akan pernah bersatu di dunia nyata. Semaklah yang telah menghalangi kita berdua."
Cairan bening keluar begitu saja dari mataku. Lagi-lagi aku kembali menangis kepadanya dan karenanya. Aku tidak bisa berterus terang kepada siapapun itu di dunia nyata termasuk kepadanya. Akan tetapi jika di dunia mimpi aku sangat bisa berbicara panjang lebar dan berkeluh kesah kepadanya.
Geri mendesah tidak suka. "Semak itu pengacau! Aku pun inginnya begitu. Akan tetapi jikalau kita terus-terusan disini dan bertemu. Maka kau tidak akan pernah berani menghadapi dunia nyata. Sampai kapan kau akan terus berlari? Sampai kapan kau akan terus menghindariku? Apa kau tidak tahu bahwa aku selalu memikirkanmu. Sikapmu yang seperti itu membuatku takut untuk mengatakan perasaanku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu Aleyna Apriyana. Selalu."
"Seandainya saja aku bisa mendengarnya di dunia nyata. Maka aku akan bahagia sekali." jawabku sambil tersenyum ke arahnya.
***
Sebuah guncangan di bahuku membuatku terbangun ke dunia nyata. Aku mengumpat dan menyumpahi siapapun itu yang berani membangunkan mimpi indahku. Benar-benar mengesalkan!
"Setelah 5 tahun tidak bertemu, kau bisa secerewet ini?" Suara cekikikan dari suara yang menurutku adalah Yuni membuat kedua mataku melebar tidak percaya.
"Yuni!" Pekikku sambil mengerjap-ngerjapkan kedua mataku.
Di sampingnya Yuna cemberut dan menaikkan dagunya, seolah merajuk bahwa dirinya tidak di kenali. Aku hanya tersenyum sambil merasakan kedua pipiku memanas. Aku berdeham pelan lalu menatapnya dan membuang wajah ke samping.
"Hai, Yuna." Rasanya malu sekali, sehingga kau memutuskan untuk menundukkan wajahku.
Yuni menyikut rusuk Yuna dengan sangat keras, sehingga membuat Yuna berteriak dengan lengkingan tajam. Aku hanya menutup kedua mataku tatkala mendengar Yuna yang mulai menyumpahi Yuni karena tidak sopan terhadapnya, karena Yuna merasa bahwa dirinya lebih tua padahal mereka berdua lahir kedunia beda 3 menit. Yuna mengejar Yuni dan akhirnya mereka berlarian di kamarku, seolah bermain kucing-lari.
Dan kedatangan anak kembar ini membuatku langsung teringat sesuatu, bahwa hari ini adalah hari yang aku tunggu. Dengan lekas aku berlari ke arah kamar mandi dan bersiap-siap untuk mandi dan mempersiapkan diriku untuk bertemu dengan Geri.
"Aleyna, kamu ini adalah kerbau tercantik yang pernah aku lihat. Sekarang bahkan sudah tengah hari, lebih tepatnya jam 12 siang. Kamu bahkan tidak pernah menyadarinya bukan? Baiklah kalau begitu, aku tunggu di bawah. Biar Yuna yang menunggumu."
"Heh! Aku ini yang tua, seharusnya aku yang mengaturmu bukannya kamu! Kamu ini benar-benar Adik yang kurang ajar. Lama-lama aku santet juga kamu!" Sembur Yuna dengan galaknya sehingga membuat aku terkekeh di dalam kamar mandi.
***
Setelah selesai mandi dan berpakaian. Aku langsung menggunakan ikat rambutku dan mengikatnya dengan kuat, menjadi kuncir kuda. Dengan dress warna oren selutut dan flatshoes, aku telah siap untuk menghadapi kenyataan. Selama 5 tahun ini aku tidak pernah bertemu dengannya. Kira-kira seperti apa wajahnya saat ini?
"Cantiknya... aku rasa pada saudaramu di bawah sana akan menganga bahkan sampai meneteskan air liurnya saat melihatmu secantik ini. Kau tahu Aleyna? Pipi bulatmu, mata bulatmu, mata cokelat gelapmu, rambut cokelat gelapmu, badan idealmu. Membuatku iri sekali." Yuna menggelang-gelengkan wajahnya dan meraih lenganku lalu mengapitnya dengan erat.
"A-aku tidak perlu..."
Yuna berdecak di tempatnya, "tidak perlu seperti ini?" tanyanya sambil menunjukkan apitannya, "tidak! Aku tidak ingin melihatmu pergi jauh-jauh. Cukup seperti ini, aku akan menjagamu. Tenang, aku tidak akan memborgolmu seperti di film-film kok." Candaannya membuatku tertawa perlahan sambil menuruni tangga.
Aku rasa Yuna adalah sosok hangat di balik sifat sensitif dan galaknya. Sedangkan aku? Jangan pernah berharap aku bisa sepertinya. Rasanya aku sudah menyukai sifatku yang seperti ini. Menuruni tangga, aku langsung berhadapan dengan keluarga besarku yang tengah menatapku dengan tatapan bercampur aduk.
"Aleyna!" Panggil Nenek sambil berlari menghampiriku dan memelukku dengan erat.
"Selamat pagi Nek." Sapaku dengan canggung sambil melepaskan pelukkannya.
Nenek mengernyitkan dahinya, namun ia memilih untuk mengabaikannya dan bertanya padaku ini dan itu serta membawaku ke ruang tamu dan menyuruhku untuk duduk di samping kirinya. Sehingga mau tidak mau aku menjawab pertanyaannya satu persatu dengan wajah merah padam. Rasanya aku sangat malu jika ditanya hal yang menyangkut perasaanku.
"Siapa pacarnya sekarang?" tanya Nenek kemudian sambil menggenggam erat tangan kananku.
Aku menggeleng dan tersenyum kearahnya.
"Sudahlah Nek, jangan ditanya seperti itu. Mau dia punya pacar banyak atau sedikit bahkan dia tidak mau bicara jangan dipaksa, yang ada Nenek hanya berbicara dengan batu." Suara yang sangat ku hapal ini membuatku mendadak kaku, bahkan dadaku berdentum kencang.
Aku memberanikan diri untuk menatapnya. Sampai dimana aku bisa melihat tatapan hitam penuh kebencian dari matanya, hal tersebut membuatku terluka. Hatiku, rasanya hancur seketika sehingga tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
"Aku tidak pernah punya pacar dan aku tidak suka dekat dengan orang yang tidak dekat denganku. Mau itu keluarga, teman, bahkan orang lain. Aku tidak perduli. Aku hanya malu, terlebih aku tipe orang yang penutup alias pasif. Sekiranya kau pun tahu apa yang aku maksudkan, Geri Hardyansyah."
Suasana sunyi seketika, dengan wajah merah padam aku pamit ke taman belakang dan mencoba menenangkan perasaanku yang kacau. Siapa yang tidak sakit hati jika orang yang dicintai menatap dengan tatapan semenyeramkan itu. Bahkan jika Juliet saja ada di posisiku, maka Juliet akan memilih membunuh Romeo saat itu juga. Sayangnya aku tidak bisa membunuh Geri, karena aku mencintainya.
"Maafkan aku tadi."
Aku tidak tahu berapa lama aku terdiam disini, sampai pemilik suara itu menghampiriku. Aku memaksakan diriku untuk pergi menjauhinya, namun sepertinya tubuhku mengkhianatiku dan memilin untuk diam dan berada dekat dengannya. Aku menghela nafas kasar dan menatapnya dengan tajam.
"Pergilah." usirku sambil berdiri dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Geri menggelengkan kepalanya dengan perlahan, kedua mata hitamnya menatapku dengan tatapan kalut, bingung, kecewa, marah. Aku bahkan nyaris menghajarnya jika saja dia tidak membuka suaranya.
"Mengapa sedari dulu kau selalu menjauhiku? Apa ada salah yang sering ku buat? apa kau membenciku hah?" tanyanya sambil berdiri dengan wajah kesal dan menarik pergelangan tanganku sehingga tubuhku terhuyung dan menempel pada tubuh besarnya.
"Aku tidak membencimu, hanya saja aku tidak bisa berdekatan denganmu." Jawabku dengan ragu.
Terlebih jantungku bergegub kencang. Bahkan aku bisa merasakan aliran darahku tidak stabil. Terlebih wajahku bergetar karena bersorak senang tentang berhasilnya diriku menyentuh tubuhnya. Aroma cokelat menguar dari tubuhnya sehingga membuatku nyaris saja menangis.
Aku...aku berhasil menyentuhnya! Aku berteriak kencang di dalam hatiku.
"Bi-bisakah kau menjauhiku? Aku tidak bisa bersama denganmu rasanya aneh dan canggung." Jelasku sambil menundukkan wajahku ke bawah, menatap kakiku dan kakinya yang telanjang di atas rumput.
Geri menarik daguku sehingga membuat wajahku mendongkak ke arahnya.
"Aku bisa gila Aleyna! Aku bahkan merasa kewarasanku telah menghilang!"
Tiba-tiba tubuhku mengigil karena mendengar kata gila yang Geri ucapkan. Terlebih fakta yang mengejutkan selanjutnya adalah Geri memandangku dengan wajah merah padam dan dengan nafas yang terengah-engah.
"Jika aku bisa mengatakan keanehan yang muncul karenamu, maka aku akan melakukannya. Jika aku bisa mengatakan bahwa aku membutuhkanmu, maka kau harus tahu itu. Setiap malam, aku selalu bermimpi denganmu. Bercanda gurau dan memelukmu seperti ini. Tapi, saat aku terbangun ke dunia nyata. Ternyata...ternyata semuanya hanya mimpi yang membuatku semakin menginginkanmu. Kamu bahkan tidak akan pernah tahu, betapa bencinya aku dengan keadaan ini dan sikapmu yang selalu antisipasi terhadapku. Apakah kau tidak menyadari? Sikapmu itu membuat hatiku terluka. Aku sangat terluka Aleyna."
Aku hanya bisa menganga menatapnya. Rasanya dunia mimpiku telah bercampur dengan dunia nyata sehingga Geri bisa berkata seperti ini. Terakhir kali aku bertemu dengannya saat dia berusia 19 tahun dan saat aku berusia 13 tahun. Itupun dia selalu mendelik kesal saat kami beradu pandang dan aku membuang wajahku ke arah lain.
"... kau pernah bermimpi aneh sepertiku? Jawablah jangan diam seperti itu!"
Aku mengerjapkan kedua mataku selanjutnya, lalu menatapnya dalam kesunyian.
"Aku selalu memimpikanmu setiap malam Geri." jawabku sambil melepaskan pelukkannya dan beranjak menjauhinya.
Terlebih lagi, aku takut jika dia hanya memancingku untuk mengucapkan isi hatiku sebenarnya dan akhirnya ia akan menertawakanku dan menjadikanku bahan ejekan dengan saudara-saudariku yang lainnya.
"Kau tahu Aleyna, aku bahkan sangat mencintaimu tatkala kau masih bayi. Padahal waktu itu aku baru berusia 6 tahun. Sama sepertimu yang mencintaiku yang sudah berusia 12 tahun dan kau tengah berusia 6 tahun."
Jantungku nyaris saja merosot dari tempatnya dan membuat tubuhku limbung seketika. Bagaimana mungkin Geri bisa mengatakan perkataan yang sama persis seperti Geri di mimpiku? Bedanya aku hanya melihat Geri dengan blur dan itu tidak jelas. Sedangkan ini...
"Aku pun inginnya begitu. Akan tetapi jikalau kita terus-terusan disini dan bertemu. Maka kau tidak akan pernah berani menghadapi dunia nyata. Sampai kapan kau akan terus berlari? Sampai kapan kau akan terus menghindariku? Apa kau tidak tahu bahwa aku selalu memikirkanmu. Sikapmu yang seperti itu membuatku takut untuk mengatakan perasaanku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu Aleyna Apriyana. Selalu."
Aku menggeleng tidak percaya. Rasanya sangat sakit sekaligus senang saat mendengar Geri berbicara seperti ini. Geri yang nyata dan dengan dunia nyata juga. Aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Aku menangis dengan kencang sampai merasakan tubuh besar dan hangat memelukku dengan erat.
"Aku bahkan tahu ini adalah mimpi. Tapi, aku selalu tidak ingin bangun dan menghadapi kenyataan yang ada bahwa aku dan kau tidak akan pernah bersatu di dunia nyata. Semaklah yang telah menghalangi kita berdua." Kataku sesuai dengan apa yang telah aku ucapkan di dunia mimpi.
Geri mengecup puncak kepalaku dengan lembut.
"Jika saja semak itu bisa membuat kita bersatu di dunia nyata. Aku akan memperjuangkanmu Aleyna. Aku tidak bisa menyalahi takdir, karena aku tidak bisa menjangkaumu. Kau bagaikan sang rembulan untukku."
Aku tersenyum miris mendengarnya, akan tetapi faktanya memang seperti itu. Mau bagaimanapun, aku dan Geri tidak akan pernah bersatu. Cinta kami adalah cinta terlarang. Sehingga aku hanya bisa mengenang dan mencintainya di lubuk hatiku yang terdalam.
"Bush in between us. Always in my way to reach you. But because the bush. I know, that me and you will not converge." Aku tersenyum sambil menatap mata hitamnya yang berair saat menatapku.
"The bush taught me the meaning of love regardless of any so far."
Kami berdua tertawa kemudian dan saling menatap dengan pandangan penuh cinta. Sepertinya aku yang salah disini, karena aku sempat berpikir bahwa hanya aku yang mencintai Geri. Tapi lihatlah ini? Geri bahkan mencintaiku juga. Meskipun dengan irama yang tidak seimbang karena aku dan dia tahu bahwa kita berdua tidak akan pernah bersama. Memang aku masih bingung karena Geri mengatakan hal yang sama persis dengan Geri yang ebrada di dunia mimpi. Apakah kami berdua masuk dan terhubung ke dunia lain? Who knows.
Namun, saat mengetahui bahwa kami memiliki perasaan yang sama. Itu membuat kami merasa bahagia. Aku harap kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir.
The end
***
Semoga kalian menikmati cerita pendek yang aku buat. Aku harap ceritaku menginspirasi kalian agar bisa mengatakan apa yang seharusnya kalian katakan. Jangan menahannya, karena itu akan menjadi kendala untuk kalian kedepannya
Salam hangat.