Seorang remaja laki-laki saat ini telah siap dengan seragam putih abu-abu yang dia kenakan. Sebelum keluar kamar, terlebih dahulu dia menoleh ke satu arah dimana terdapat foto seorang prajurit TNI, terpajang tepat di dinding atas kasurnya.
Sejenak, remaja lelaki itu menghela napas dalam. Setengah tahun lagi sebelum dirinya benar-benar akan mewujudkan impiannya dari kecil. Ya, menjadi seorang anggota pasukan TNI sekaligus bagian dari pengabdi negara adalah mimpinya sejak masih SD. Hingga sekarang mimpi itu tidak berubah. Bahkan semakin dia besar semakin kuat pula keinginan untuk mencapainya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Bang Kevin, cepetan turun! Ibu udh nungguin dari tadi. Kenapa Abang sangat lama?!" Suara seorang anak lelaki terdengar dari balik pintu. Kevin mengenali suara itu sebagai suara adiknya.
"Iya, Dek. Abang udh selesai kok!" Menjawab, lantas dia bergegas membuka pintu. Mendapati adik laki-lakinya yang juga telah siap dengan seragam putih biru.
"Ayok!"
Kevin memimpin jalan menuju ruang makan. Sedangkan adiknya itu mengekori dari belakang.
Melihat kedatangan dua putranya, ibu Nima yang merupakan ibu Kevin dan Faizal segera menyambut mereka.
"Mari duduk. Ibu udah nyiapin makanan kesukaan kalian. Ada nasi goreng, tempe dan telur dadar."
"Waah, asik... Makasih, Bu!" Faizal langsung duduk dan menyendok makanan. Pun Kevin ikut duduk dan juga menyendok makanan.
Setelah itu, ketiga orang itu lantas sarapan.
"Nak, gimana sebentar? Jadi lomba kan?" tanya Nima pada Kevin, mencairkan suasana yang semula sempat hening karena aktivitas makan itu.
"Um, iya, Bu. Lomba mulai pukul 09.00," jawab Kevin
"Lalu, kamu udah siapin peralatan lukismu?"
"Iya, udah kok."
"Coba periksa lagi! Jangan sampe ada yang ketinggalan."
"Iya, Bu. Habis ini baru Kevin periksa."
"Umm!" Mengangguk kecil, menanggapi jawaban Kevin tadi.
Selang beberapa saat, Kevin dan Faizal pun berangkat ke sekolah. Tapi sebelum itu, kedua orang itu bersalaman terlebih dahulu pada Nima.
Kevin menyalakan motor dan Faizal gonceng di belakangnya. "Bu, kami berangkat ... Assalamualaikum!" ucap Faizal.
"Waalaikumsalam. Hati-hati! Jangan balap-balap ya, Vin!"
"Siap, Bu!"
Kevin pun melajukan motornya.
-
Kevin sampai di sekolahnya. Dia juga telah mengantar Faizal tadi sebelum menuju ke sekolahnya.
Berjalan ke kelas, tak jarang pula dia akan sapa dan disapa teman-teman yang dia temui selama perjalanan menuju kelas. Sekitar 1 menit, dia telah sampai. Tampak di kelas hanya ada setengah dari jumlah murid di kelas XII IPA 3. Sedangkan yang lain belum datang.
Lantas menuju bangku duduknya.
"Eh, Broo. Gimana lombanya bentar? Udh siap kah?" Seorang lelaki menghampirinya. Dia adalah Toni, seorang rekan olahraga sekaligus sahabat Kevin.
"Udah dong," balas Kevin.
"Oke. Eh, gimana bentar? Tetap jadi kan, kita joging sore?" tanya Toni lagi.
"Hmm, ntar aku kabarin. Tapi kayaknya sore ini aku ada acara sama Ibu."
"Owh, gitu. Yaudah. Kalau kamu gak jadi, aku joging sama Andre dan Dani aja!"
"Umm!" Kevin mengangguk kecil sebagai tanggapan.
Jam menunjukkan pukul 08.30. Tinggal 30 menit sebelum lomba melukis di mulai. Kevin bersama dengan Andre dan dua orang sahabatnya segera bergegas menuju alun-alun sekolah, dimana lomba akan berlangsung di sana.
Sebelumnya lomba melukis ini adalah lomba tingkat kecamatan. Kebetulan sekolahnya Kevin terpilih sebagai tuan rumah, dan Kevin menjadi perwakilan dari sekolahnya.
"Semangat, Vin! Kita mantau dari sini." Andre memberi semangat. Begitupun juga dengan dua temannya yang lain.
"Siap...," balas Kevin sembari mengacungkan jari jempol.
Sebelum menuju bangku peserta, Kevin terlebih dahulu berkonsultasi dengan guru kesenian, selaku guru pembimbing dalam acara lomba ini.
Lomba pun dimulai setelah tiga puluh menit berlalu. Kevin mulai menggoresi kanvas dengan cat. Lukisan yang akan dia buat kali ini bertemakan pemandangan alam.
Melukis dengan menggunakan perasaan serta penuh akan kehati-hatian, setiap detail Kevin goresi dengan penuh perasaan, hingga dia berhasil menyelesaikan lukisannya setelah dua jam memulai.
Sejenak sunggingan puas terukir di dua sudut bibir Kevin. Dia tampak puas dan menikmati hasil dari lukisannya itu.
"Semoga aja lukisan ini nggak mengecewakan!" gumamnya sesaat. Setelahnya Kevin mengalihkan pandangannya ke arah kiri dan kanannya. Terlihat beberapa orang juga telah selesai, tinggal sebagian kecil dari peserta yang masih sibuk menggoresi kanvas.
Lima menit kemudian, lomba telah berakhir. Kevin beranjak dari duduknya. Menuju ke arah teman-temannya.
"Bagus, lukisan kamu bagus banget, Broo," puji Andre sembari merangkul Kevin.
"Thanks...."
"Aku yakin, Broo kita ini akan juara! Yang lain mah pada out," ucap Toni.
"Setuju!" Dani juga ikut bersuara.
"Udah-udah! Belum juga pengumuman. Tapi pujiannya udah setinggi langit. Untung aku bisa ngendaliin diri. Kalau enggak, bisa terbang aku!"
"Hahaha... Bisa aja kamu, Broo. Mari ke kelas!"
-
Dua Minggu kemudian, pengumuman tentang lomba melukis tingkat kecamatan itu telah keluar. Lukisan Kevin dinyatakan sebagai lukisan terbaik diantara lukisan peserta yang lain. Sontak saja hal itu langsung menjadi berita hangat di sekolahnya Kevin.
Lukisan Kevin di pajang di depan ruang pameran sekolah, sehingga semua siswa bisa melihatnya. Begitupun juga dengan para guru serta staff pegawai sekolah.
Kevin sendiri saat ini tengah menghadap di ruang kepala sekolah.
"Selamat, Nak Kevin. Kamu menjadi juara dan membanggakan nama sekolah kita!" Kepala sekolah menjabat tangan Kevin.
"Terima kasih, Pak!"
"Lukisanmu sangat indah. Kamu menggabungkan berbagai unsur elemen yang ada pada alam, dalam sebuah lukisan cantik, sehingga mereka yang memandang akan langsung terbuai. Seolah-olah berada langsung di tempat lukisan mu!" Kepala sekolah membacakan ulasan juri. Kevin tersenyum senang mendengar itu.
Setelah itu, kepala sekolah lantas memberikan sertifikat, hadiah serta piala kepada Kevin atas prestasi yang dia peroleh.
"Terima kasih!" ucap Kevin dengan sopan.
Setelahnya Kevin keluar dari ruangan itu.
-
Pulang sekolah membawa serta berita bahagia. Nima tidak bisa untuk tidak bersyukur mendengar kemenangan Kevin dalam lomba melukis tingkat kecamatan.
"Bu, uang ini ibu simpen. Itung-itung buat tambah-tambah nanti pas tes Anggota TNI!" ucap Kevin.
Nima menerimanya. "Nak, selamat yah, ibu bangga sama kamu!" ucap Nima.
"Terima kasih, Bu."
"Selamat ya, Bang!" Faizal tidak ketinggalan memberi selamat.
-
Beberapa bulan telah berlalu. Kevin telah lulus sekolah SMA. Dan kini dia ada fokus berlatih untuk tes TNI.
Seperti hari-hari biasa, Kevin bersama dengan Andre, Toni dan Dani akan melakukan latihan sore. Ketiga temannya itu sendiri juga mempunyai keinginan yang sama dengannya. Yaitu menjadi bagian dari pasukan TNI.
"Udh siap broo?"
"Yo'i!" Kevin menjawab Toni. Lalu mereka beranjak, menggunakan motor masing-masing. Menuju taman kota, dimana mereka akan melakukan lari sore, sekaligus aktivitas latihan lain di sana.
Melakukan aktivitas yang sama setiap hari, hingga tibalah saatnya bagi empat sekawan itu untuk tes.
Kevin telah bersiap di teras. Saat ini sendiri dia tengah mengikat tali sepatunya. Tapi dalam keadaan tergesa.
"Bu, aku berangkat!" ucap Kevin setengah berteriak.
Nima segera berlari keluar dan mengejar Kevin. "Nak, sarapan dulu. Ibu udah siapin makanan kesukaan kamu, ada banyak loh!"
Kevin yang saat itu telah menaiki motornya lantas menjawab perkataan ibunya. "Nanti aja, Bu. Aku udah terlambat."
"Tapi—!" Perkataan Nima segera di potong oleh Kevin.
"Ibu, aku berangkat ya. Aku udah telat, Bu!" Menarik telapak tangan Nima, dan segera menciumnya. "Minta restunya, Bu!"
Tidak bisa menahan anak sulungnya itu, Nima hanya bisa menganggukkan kepala, melepaskan kepergian anaknya. "Semoga berhasil, Nak!" ucapnya dengan nada pelan.
"Siap, Bu!" Kevin lantas menjalankan motornya.
Sementara itu, Nima segera masuk kembali ke dalam rumah dengan penuh harap terhadap putra sulungnya itu. Berharap Kevin bisa membawa kabar gembira terhadapnya.
Kembali ke ruangan makan, tampak di sana Faizal telah bangkit dari duduknya. Makanan di meja masih tersisa sangat banyak. Memang sengaja dia memasak banyak sebab hari ini adalah awal mula perjuangan Kevin dalam mencapai cita-citanya. Niatnya mengantar Kevin baik-baik dengan makanan tersebut, tapi hal itu tidak kesampaian sebab ada sedikit masalah waktu.
"Bu, Aku berangkat sekolah ya!" ucap Faizal sembari bersalaman dengan Nima dan mencium tangan ibunya itu.
"Iya, Nak. Hati-hati," jawab Nima.
Setelah kepergian Faizal, Nima lantas duduk dan sarapan. Setelah itu, membereskan meja makan dan wanita itu lantas melakukan aktivitas hariannya, yaitu berberes-beres rumah.
Tringg...
Telponnya berbunyi. Nima segera bergegas menghentikan pekerjaannya sejenak. Lantas mengambil hp dan melihat nama yang tertera adalah Kevin.
Segera dia mengangkat telpon itu.
"Halo, assalamualaikum, Nak. Bagaimana?" ucap Nima yang tidak sabar.
Namun bukannya suara Kevin yang dia dengar, melainkan suara orang lain. Orang itu membawa kabar duka, dengan mengatakan bahwa Kevin tengah kecelakaan dan dilarikan ke rumah Sakit Anugerah Harapan.
Sontak saja Nima seperti kehilangan detak jantungnya untuk beberapa saat. Baru tadi dia melepaskan Kevin untuk tes anggota TNI, tapi kini dia harus dihadapkan dengan kabar duka.
Tak terasa air matanya menetes. HP di tangannya pun terjatuh begitu saja. Tulangnya terasa lemas, dia terlalu syok mendengar kabar tersebut.
Menguatkan diri, Nima lantas menuju ke rumah Sakit setelah mengambil barang-barang seperlunya..
Sampai dirumah sakit, dia melihat Kevin yang dalam keadaan perban di kepala. Anaknya itu masih tidak sadarkan diri. Lantas, Nima menemui dokter untuk mengetahui kejelasan terkait kondisi Kevin saat ini.
Dokter pun memberitahukan bahwa Kevin mengalami cedera ringan di bagian kepala, namun Kevin dinyatakan lumpuh. Mendengar itu, Nima kembali dibuat semakin hancur, tapi dia tetap bertahan dan menguatkan diri.
Kevin tersadar setelah beberapa jam.
"Ibu...," Panggil kevin dengan suara parau.
Nima segera merespons.
"Bu, kenapa kaki aku tidak bisa digerakkan? Apa yang terjadi padaku, Bu?" ucap Kevin kala merasakan bagian kakinya yang mati rasa.
Nima yang mendengar itu hanya bisa menahan air matanya agar tidak kembali jatuh. Meskipun kini matanya telah terasa hangat. Pada akhirnya Nima tidak bisa menahannya.
Dengan terpaksa, Nima tetap memberitahu Kevin akan kondisinya. Seketika Kevin terdiam mendengar itu. Harapan serta mimpinya yang telah lama dia tanam, kini harus berakhir begitu saja dengan tanpa usaha sedikitpun. Matanya terasa panas, tak lama setelahnya memuntahkan buliran air yang semakin lama semakin deras.
"Bu, maafkan aku... Aku gagal, Bu. Aku cacat... Sekarang aku tidak bisa lagi menjadi Anggota TNI, Bu... Maafkan aku!" ucap Kevin dengan intonasi penuh akan kekecewaan. Kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Enggak papa, Nak. Kondisi mu lebih penting dibanding itu semua!"
"Tapi, Bu... Aku sudah—!" Kevin tidak bisa untuk melanjutkan perkataannya. Kala mengingat kembali bagaimana usahanya dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi hari ini, itu membuat Kevin semakin sedih dan sangat hancur. Bagaimana dia yang begitu bermimpikan menjadi seorang prajurit TNI. Bagaimana dia yang telah mengumpulkan uang dari prestasi-prestasi yang telah dia raih. Tapi itu semua harus berakhir oleh sebuah kecelakaan yang dia alami hari ini.
Berakhir sudah mimpi itu. Uang yang dia kumpulkan untuk bantu-bantu tes–nya, harus berakhir dengan membayar biaya rumah sakit.
Setelah insiden itu, Kevin harus merelakan mimpinya. Meskipun dia masih tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Menjadi orang lumpuh, membuat kepercayaan dirinya menghilang untuk melakukan aktivitas.
Namun berkat dukungan dari orang-orang terdekatnya, Kevin akhirnya kembali bangkit. Terlepas dari mimpinya sebagai anggota TNI yang tekubur, kini Kevin memilih memfokuskan diri di bidang melukis.
Berkat usaha serta pantang menyerahnya, kini Kevin menjadi orang terkenal dengan segala karya lukisannya. Bahkan beberapa diantara lukisan Kevin di pajang di museum. Ada pula di beli dengan harga mahal oleh orang-orang kaya.
Tamat...
Pesan moral,
Jangan jadikan kondisi sebagai alasan untuk gagal. Percayalah bahwa, bukan karena mimpi yang tak tercapai, bukan berarti kita telah selesai. Pelangi sehabis badai itu pasti nyata. Dan itu hanya akan bisa di dapat dengan usaha dan tanpa menyerah.