#HororRoman
GALANG
Cinta itu seperti akar pohon yang merayap kedalam tanah,dan menghisap sari patinya agar bisa berdiri kokoh dengan ranting dan dedaunan yan tinggi menjulang.
Cinta itu seperti air,yang selalu mengikuti alur dan bentuk sebuah wadah,apabila wadah yang kau bawa kecil,air itu akan tumpah ruah berhamburan tanpa jejak,jika kau menampungnya dengan wadah yang besar,air itu akan memenuhi wadah,dan mampu melepas dahaga orang yang sedang kehausan.
Namun baginya,Cinta adalah elegi,yang telah menghancurkan semangatnya untuk tetap berjuang demi kehidupanya sendiri.dia adalah Rubi,gadis polos yang duduk dibangku kelas 2 SMA,hampir setiap pagi dia sengaja berangkat lebih awal hanya sekedar ingin duduk dibangku favoritnya,dibawah pohon tabebuya yang berwarna pink,dengan headset yang terpasang di telinga dan buku Novel yang best seller menjadi teman setianya untuk menemaninya menghabiskan waktu di taman sekolah.
Tiba tiba dari arah belakang sebuah suara mengagetkanya,
"Dorr!" Suara itu dari seorang laki laki yg belum pernh dia kenal sebelumnya,sontak Rubi mencopot headset dan menutup Novelnya sembari menoleh ke arah belakang.
"Kamu siapa?" Rubi terheran heran melihat laki laki tampan berwajah putih dan tampan lengap dengan atribut sekolah menghampirinya,tak seperti biasanya pukul 6 pagi masih tak ada orang sma sekli di sekolah,hanya tukang sapu dan tukang kebun yang selalu datang lebih awal disekolahan tersebut.
"Kenalin,namaku Galang" sembari menyodorkan tanganya hendak berjabat dengan Rubi.
"Aku Rubi" ucapnya sedikit gugup.
"Boleh aku duduk?"
"Ya,silahkan!" Rubi masih sedikit gugup,maklum saja sejauh ini Rubi tak pernah berinteraksi dengan teman laki laki disekolah nya,jarang jarang juga dia punya teman,dia hanya punya satu sahabat yang namanya Imel,tapi Imel jarang berangkat pagi seperti Rubi.
"Kamu anak 11 IPA 1 kan?" Galang mencoba mencairkan suasana dengan membuka percakapan
"Iya,kamu kog tau?"
"Ya ampun Rubi,sekolah ini memang punya banyak murid,tapi setidaknya kita juga harus kenal dong,dengan teman teman yang lain,lagian apa kamu lupa? Aku galang yang pernah menjabat sebagai OSIS,yang sering ngerjain kamu waktu masih masa orientasi!" Galang tertawa mengenang masa masa waktu berbuat usil ke Rubi di jurit malam
"Oh,,iya aku lupa,kamu OSIS yang paling jail itu ya? Yang udah bikin Aku pingsan ketakutan?" Rubi mulai mengingat semua itu,mereka berdua tertawa sampai tak terasa semua murid yang lain sudah datang dan berjubel untuk masuk ke kelas ketika Bel masuk sudah dibunyikan.
"Rubi,,!!" Teriak Imel dari pintu kelas.
"Kamu kmna aja sih? Aku cariin kamu dari tadi lho,gak biasanya kamu telat masuk kelas!" Ujar Imel kesal.
"Kebetulan tadi Aku sedang sama kak Galang,si OSIS yang nyebelin itu,ternyata orangnya asik ya?" Muka Rubi tersipu malu,
"Cie,,yang sedang jatuh cinta,BTW mana orangnya? Aku lupa sama skli dengan Galang" Imel mencoba mengingat ingat sosok Galang yg belum jg dia dapat di ingatanya.
"Tuh,dia orangnya,lagi bersandar di tiang" jari mungilnya menunjuk ke Arah Galang,namun lain lagi dengan Imel,yang sama sekali tak melihat seorang pun disana,dalam benaknya apakah memang Galang sudah pergi dari sana.
Waktu berganti Hari demi Hari,Rubi semakin dekat dengan Galang,yang ternyata keduanya mempunyai hobi yang sama,mereka sama sama suka membaca dan menonton film.Namun karena kedekatan Rubi dan Galang,Rubi perlahan lahan jauh dari Imel yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
Pagi ini seperti biasa,Rubi berangkat dari Rumah setengah 6,dan sampai di sekolah pukul 6 lewat 5 menit,tampak di bangku favoritnya sudah duduk Galang yang ternyata berangkat lebih awal demi untuk bertemu Rubi.
"Hai,!" Sapa Galang kepada Rubi.
"Hai,,!!" Rubi membalas sapaanya itu sembari membersihkan bangku itu dengan tisu,dia bersiap untuk duduk di sebelah Galang.
"Rubi,kamu suka membaca kan? Apa kamu pernah pergi ke toko buku yang ada di pusat kota bersamaku besok?" Tanya Galang
"Emmm,,kebetulan Aku gak pernah kemana mana sih,kalau itu yang kamu mau,jemput aku ya kerumah,sekalian main kerumahku besok,Aku bikinin kamu kue paling spesial buat kamu" Rubi tersenyum ke Arah Galang,yang hari ini wajahnya tampak pucat.
"Galang,,kenapa wajahmu pucat sekali? Kamu sakit?" Tanya Rubi,sambil memegang pipi Galang yang dingin,sedingin embun
"Emm,,tidak kog,Aku sehat Aku baik2 saja,lihat tuh masih berotot kan?" Galang melipat lengan bajunya dan menunjukan sebagian lenganya yang berotot.
"Iya,percaya... Kamu biasa manjat tebing!!" Mereka berdua tertawa dan seperti biasa menghabiskan waktu sebelum jam pelajaran pertama di mulai.
Selain OSIS,Galang adalah anggota PA,komunitas Pecinta Alam yang di adakan di sekolahan,dia sering sekali naik gunung.Sudah 6 gunung lebih yang dia taklukan,dia sangat pandai menguasai medan.
******
"Rubi,Aku mau ngomong sesuatu tentang Galang" Imel mencoba menyapa Rubi,yang sudah sepekan ini jarang bersama sama.
"Oh iya Mel,ngomongin tentang Galang,besok dia mengajak Aku ketoko Buku yang ada di pusat kota"
"Tapi,ada sesuatu yang ingin aku bicarakan Bi,tentang Galang" Imel sedikit panik,namun Rubi sama sekali tak menggubrisnya.
"Kenapa lagi sih Mel? Kamu cemburu?" Mendengar ucapan itu,seketika Imel langsung terdiam,dan tak melanjutkan pembicaraanya lagi.Dalam batinya dia sangat sedih,melihat sahabatnya yang sudah dibutakan Cinta.
********
Matahari pagi bersinar cerah,Hari ini adalah Hari yang dijanjikan Galang untuk menemani Rubi ke toko Buku langgananya.Dengan mengendarai motor Vespa Galang datang kerumah Rubi.
"Pagi tante,,!!" Ucap Galang pada ibu Rubi.
"Eh,temanya Rubi ya? Sebentar tante panggilkan Rubi dulu ke kamarnya" ibu Rubi sangat antusias untuk menyambut Galang,sebab Galang adalah laki laki pertama yang main kerumah Rubi.
"Rubi,ada temanmu nih,si Galang"
"Iya,bentar Mah!"hari ini dia ingin bersolek dan tampil cantik dihadapan Galang.Rubi pun turun ke ruang tamu untuk menemui Galang.
"Yuk kita berangkat!" Rubi begitu antusias,dan tak sabar untuk menghabiskan waktunya bersama Galang,yang perlahan lahan sudah mengisi relung hatinya yang kosong saat ini. Mereka pun bergegas untuk segera berangkat bersama sama,setelah berpamitan dengan kedua orang tua Rubi.
Disepanjang perjalanan Rubi memeluk Galang dari belakang pun dengan Galang yg sedikit menggoda Rubi dari spion motornya.
Hal itu semakin menambah romansa dua hati yang sedang dimabuk Cinta.
Sampailah mereka di toko buku yang paling besar dan lengkap yang ada di jantung kota,yang selama ini Rubi idam idamkan untuk pergi kesana dengan sang kekasih,Rubi sangat berterima kasih kepada Tuhan,yang telah mempertemukan dia dengan Galang.
"Rubi,buku apa yang paling kamu suka?" Tanya Galang sambil memilah milah buku yang cocok untuk Rubi.
"Aku sukanya Novel novel karya Buya Hamka,menarik sekali untuk dibaca"
"Kalau Aku,sukanya filsafat Cinta,karya Jalaludin Al Rumi,terutama tentang kisah Laila majnun yang melegenda itu" ucap Galang,sembari membuka buka buku contoh yang ada di Rak.
"Wah,,iya juga sih,Aku juga suka baca itu,sampek nangis tau,saking terharunya" sambil terus memilah2 buku yang cocok untuk mereka beli. Sesekali Galang mencuri pandang pada Rubi yang sedang asik membaca sinopsis novel.
"Rubi!" Tiba tiba Galang menggenggam tangan Rubi yang sedang Asik memilih buku
"I iya!" Rubi mulai gugup kali ini dia malu malu untuk memandang wajah Galang.
"Aku jatuh cinta kepadamu,sejak pertama kali kita bertemu saat masa Orientasi siswa dulu,apa kamu mau menjadi pacarku?" Galang begitu To the point untuk menyampaikan perasaanya kepada Rubi.
"Emmm,Anu..!!" Rubi melepaskan genggaman tangan Galang,sembari sesekali menggaruk kepalanya yang sebanarnya tak gatal.
"Apa kamu tak yakin dengan perasaanku Rubi?" Galang terus mendesak Rubi,yang sudah sangat gugup dibuatnya.
"I,iya... Aku mau kamu menjadi pacarku!!" Dengan senyum yang merekah,akhirnya tepat hari ini mereka resmi berpacaran dan saling mengikat janji.
Hati siapa yang tidak berbunga bunga? Saat perasaanya bersambut,sehari penuh mereka memadu kasih,sehari penuh juga mereka jalan jalan menyusuri sudut sudut kota,dengan bercerita tentang banyak hal yang selama ini tidak pernah mereka ceritakan kepada siapapun. Mereka tertawa,kadang bersedih saat mendengarkan kisah satu sma lain,hingga akhirnya senja sudah mulai menyapa,langit kota itu berubah memerah. Sudah waktunya mereka pulang untuk beristirahat dari rasa lelah.
Malam pun datang,dengan perasaan senang lagi bahagia Rubi tak mampu memejamkan matanya,dia selalu tersipu saat mengingat kenangan tentang hari ini bersama Galang.
Tiba tiba dari arah jendela kamar Rubi,terdengar suara ketukan halus,yang tak biasanya dia dengar sebelumnya. Lagi pula siapa? Ditengah malam begini yang datang untuk mengetuk jendela.
Dengan langkah kaki gontai,dia pun berjalan menuju jendela kamarnya yang sudah tertutup rapat,saat dia membuka jendelanya,dia sangat terkejut lantaran mendapati Galang yang menunggunya di balkon jendela kamarnya.
"Galang?" Rubi setengah berteriak,sontak Galang pun membungkam mulut Rubi,dan memeluk gadis tersebut
"Jangan teriak sayang,Aku merindukanmu" ucapnya yg masih memeluk Rubi.
"Kenapa kau datang malam malam?" Tanya Rubi,
"Semakin kau memikirkan Aku,semakin Aku ada di dekatmu" jawab Galang yang terlihat serius.
Rubi memeluk Galang semakin erat,sambil meneteskan airmata. Dia sangat terharu karena masih ada orang yang peduli kepadanya. Yang bisa membaca perasaanya dari semua orang yang egois terhadapnya.
"Temani Aku malam ini Galang,Aku sangat takut kehilangan kamu" perasaan Rubi seakan tak terkendali.
"Tenanglah,Aku akan selalu ada bersamamu setiap waktu" sambil terus mendekap Rubi,mereka pun tertidur saling berpelukan. Terbuai dalam malam yang panjang,ada rasa yang sangat nyaman yg di suguhkan Galang kepada Rubi selama ini.
Hari beranjak pagi,karena telalu lelah dengan hari kemarin,Rubi bangun kesiangan tapi tak di dapatinya Galang di sampingnya,sedang jendala dan kamarnya masih terkunci rapat,lantas dimana Galang? Apa hanya sekedar mimpi belaka? Atau hayalan dirinya sendiri yang terlalu merindukan Galang.
Dengan tergopoh gopoh dia berangkat sekolah diantarkan Ayahnya,tak biasanya dia minta diantar,sehari harinya dia hanya berjalan kaki untuk kesehtanya. Disekolahan dia mencari sosok Galang,namun sama sekali tak dia temukan. Apakah dia sakit? Apakah dia terlambat? Rubi sangat menghawatirkan keadaan Galang,
Tiba tiba,Galang datang di belakangnya dengan baju yg sama persis dengan yang dia gunakan saat berada di kamar Rubi.
"Galang kamu gak pakai seragam? Kamu telat?" Teriak Rubi,yang tak sengaja refleks berteriak, sehingga membuat yang lainya terkaget dan terheran heran melihat Rubi.
"Aku sudah bilang kan? Dmnapun kamu memikirkanku,Aku akan selalu ada Sayang" ucap Galang sembari menggandeng tangan Rubi,dan mengajaknya pergi dari kelas.
"Rubi,kamu mau kemana?" Tanya Imel yang setengah berlari mengejar Rubi yang keluar kelas bersma Galang
"Aku sedang sama Galang Mel,lihat dia sedang menggandeng tanganku,dia gak mau melepasin,dia sangat merindukan Aku" tuturnya sambil sedikit tertawa cekikikan dengan berurai airmata yang tak sengaja meleleh.
"Rubj,sadarlah Rubi,Galang itu gak ada,,dia itu sudah gak ada,dia sudah pergi untuk selama lamanya satu tahun yang lalu!" Imel mencoba menyakinkan Sahabatnya itu.
"Enggak Mel,Galang itu ada disini,lihat dia sedang menggandeng tanganku" sambil menunjukan tanganya yang memang tak ada siapa siapa di sampingnya.
"Rubi,ikhlaskan dia,Aku tau kamu sngat mencintainya,tapi Galang yang sekarang itu hanya bayanganmu,lihat... Kamu liaht foto foto ini,kamu sendirian ke toko Buku,kamu ngobrol sendirian,kamu tertawa sendirian,kamu memesan dua kopi untuk dirimu sendiri,Rubi... Aku mohon kepadamu,lupakan Galang" sembari menunjukan foto yang ternyata Rubi hanya berhalusinasi untuk dekat dengan Galang,kakak pembina OSIS yang pernah membuatnya jatuh cinta,namun karena sebuah kecelakaan saat dia sedang mendaki Gunung,membuatnya nyawanya tak tertolong.
Hati Rubi sangat terpukul dan kehilangan sosok itu,Sosok Galang yang begitu sempurna di matanya.
"Dari kemarin,Ibumu menelfonku,untuk memastikan kamu baik baik saja,dia memintaku untuk membuntutimu ke toko Buku,ke atas gedung,dan kami semua bergantian berjaga di depan kamarmu agar tak ad hal hal aneh yang kamu lakukan lagi,sudah sebulan lebih kamu tidak mengkonsumsi obat anti depresanmu Bi" sambil memeluk sahabatnya itu,Imel menangis sejadi jadinya melihat keadaan Rubi yang masih trauma menyaksikan sendiri saat Galang terjatuh dari tebing dan tubuhnya di evakuasi oleh Tim SAR.
Rubi,hanya tertegun,sesekali dia masih melihat Galang yang masih berdiri memaku di hadapanya.
"Galang,Aku takut sekali melihatmu terjatuh di tebing securam itu,kenapa kau harus menolongku waktu itu Galang?" Air matanya terus mengalir. Mengingat kembali kejadian tersebut,seandainya saja Galang tak menolongnya yang tergelincir di tepian tebing,mungkin Galang masih hidup sampai saat ini.
"Ketahuilah Bi,Galang itu orang yang baik,jangan lagi menghukumnya dengan penyesalanmu,dia tak akan membiarkan siapa saja terluka,semua itu sudah digariskan,sudah direncanakan oleh Tuhan.. biarkan Galang tenang Bi,biarkan dia tenang!" Imel terus memeluk sahabatnya itu,yang ternyata sudah 5 bulan lebih tak masuk sekolah untuk menyembuhkan trauma yang dia alami.