Kacela: Ron!! Kamu kenapa mengumpat di situ!? (Kesalnya sambil menjewer kuping Karon.)
Karone: U-uh! Sakit tau!! Tapi kan nggak ada peraturan ngumpet dimana! (Ucap dengan rintih.)
Kacela: (Melepaskan jeweranannya.) Ah sudahlah! Ibu sudah memanggil kita dari tadi, ayo masuk!
Karone: Aku... Mau main lagi...
Kacela: ... Besok lagi! Hari sudah gelap, apa kamu nggak tahu kalau kita tidak boleh bermain petak umpet saat malam hari!? (Kesal.)
Karone: Kenapa? Bukankah itu hanya lawakan jaman dulu?
Kacela: (Semakin kesal.) Sudahlah.
Kacela pergi meninggalkan Karone dengan kesalnya. Karone mengikuti Kacela dari belakang.
Sesampai rumah, mereka berdua segera dipanggil ibu untuk makan malam bersama, tetapi sebelum itu, mereka diwajibkan untuk mencuci muka dan tangan, kaki juga. Selesainya, mereka langsung mengambil alat makan mereka masing-masing dan meletakkannya di atas meja masing-masing, lalu duduk di tempat masing-masing.
Ibu mereka berdua bernama Karen, ibu muda berusia 26 tahun. Karen hamil muda karena kecerobohan nakalnya sendiri saat masih duduk di bangku sekolah dasar atas. Walau begitu, orang tua Karen tidak marah, malah mendukung Karen untuk merawat kedua anak kembarnya. Orang tua Karen menutupi hal ini dari masyarakat, ayah Kacela dan Karone tidak ingin bertanggungjawab dan memilih untuk pergi dari negaranya.
Karen (ibu): Hari ini ibu masak ayam bakar~ (Meletakkan ayam itu di atas meja.)
Kacela dan Karone: Woaaahh!! (Mata mereka berbinar-binar.)
Karone: Ini kelihatan enak sekali, Bu!!
Kacela: Apa aku boleh duluan!?
Karen (ibu): Sabar, masih ada lagi.
Dengan senyuman, segera Karen meletakkan beberapa hidangannya lagi di atas meja makan.
Karen (ibu): Nah~ Silahkan dinikmati~! (Senyum.)
Kacela: Baik!!
Karone: Ibu, apa ibu tidak makan?
Karen (ibu): Iya, ibu akan makan kok. (Tersenyum.)
Karone: (Mengangguk.) Okay!
Kacela dan Karone segera memakan hidangan malam itu dengan semangat dan lucu, pipi Karone banyak makanan yang menempel. Karen membersihkannya dengan senyuman.
Karone: Ibu, apa kita tidak boleh bermain petak umpet saat malam hari?
Karen (ibu): Oh tentu.
Karone: Kenapa? (Ujar bingungnya.)
Karen (ibu): Pamali, lebih gampangnya nanti kamu bakal diikutin setan loh! Dan parahnya bisa sampai diculik~
Karone: (Takut.) Bohong!
Karen (ibu): Betul kok... Ibu hampir saja mengalami kejadian itu saat kecil.
Kacela dan Karone: ?
Karen (ibu): Hm~ Apa kalian mau tahu? (Senyum nakal.)
Karone: Tentu saja!
Kacela: Tapi Bu, lebih baik bercerita sesudah makan saja.
Karone: Ih! Aku mau sekarang!
Kacela: Tidak baik berbicara saat makan.
Karone: Aku kan hanya ingin mendengar! Bukankah lebih enak jika makan sambil mendengarkan cerita!? (Teriak.)
Kacela: Kamu berisik! Jangan manja gitu kek! Nanti makanan mu nangis!! (Bentak.)
Karen (ibu): ... Kalian berdua! ;-;
Karone: Ibu... Huhu, kak Celanya tuh! (Memeluk Karen sambil menangis karena bentakan Kacela tadi.)
Kacela: Cih, dasar manja.
Karen (ibu): (Khawatir.) Jangan begitu Cela... (Nada halus.) Kamu harus baik-baik sama adik kembar mu sendiri... (Senyum.)
Kacela: (Memalingkan muka.) Hmp. (Kesal.)
Karen (ibu): Sudah-sudah, kalian berdua, habiskan makanannya dulu, nanti akan ibu ceritakan...
Karone: Huhu, aku ingin ibu ceritakan sekarang saat aku sedang makan... (Menangis.)
Karen (ibu): ... Karone... Dengarkan ibu, cerita ini sangat panjang... Nanti kamu ketiduran tidak jadi makan, gimana dong? (Menatap Karone.)
Karone: Tapi Bu...!
Karen (ibu): Ibu juga ingin makan (Senyum lembut saat menatap Karone.)
Karone: ... Ya... Yasudah deh...
Karen (ibu): Anak pintar yang ganteng... (Tersenyum dan mengelus kepala Karone dengan lembut.) Jadi sekarang, ayo kamu baikan sama kak Kacel lagi, ya...?
Karone: ... Emm... (Ragu.)
Karen (ibu): Kacela... Karone ingin meminta maaf padamu. (Menatap Kacela dengan lembut.) Sana Karone... Kamu minta maaf sama Kacela, dan juga Kacela juga harus minta maaf sama Karone...
Lalu mereka berdua pun saling berminta maaf dan melanjutkan makan malam bersama-sama.