Keringat dingin terus mengucur di pelipis. Nafasku terengah sulit untuk menghirup udara ditambah denyut jantung berpacu dengan sangat kasar. Semua ini melelahkan karena dadaku ikut mengetarkan seluruh denyut kegelisahan ke seluruh tubuh.
"Nona Bianca!" Ucapnya lantang dan berhasil membuat seluruh gaduh dalam ruangan berhenti kemudian menatap sumber suara. "Kami menetapkan Anda bersalah atas segala tuntutan! Hukuman mati."
"Tapi Yang Mulia ini fitnah!! Saya tidak pernah melakukan semua pernyataan yang dituduhkan-"
"Cukup!!" Kalimatku dipotong. "Anda sudah tidak memiliki hak untuk membela diri. Sidang ini selesai!!"
Tok-Tok-Tok. Ketukan palu mengakhiri sidang dan semua orang bertepuk tangan dan bersorak gembira dengan penyelesaian ini. Tidak untukku maupun tuan Derran, ayah angkatku yang menjadi pengacara. Ia sangat kecewa.
Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, tubuhku runtuh dalam tiap detiknya. Apakah ini takdirku? Mati tanpa keadilan? Bulir-bulir kekecewaanku ikut berhambur lolos melewati mataku.
Wajah-wajah bahagia yang mereka ekspresikan diantara sorak-sorai ini lebih membuatku tidak berdaya. Pengawal pengamanan tahanan membawaku keluar dari ruang sidang. Tuan Derran menggenggam tanganku sampai kami harus berpisah, aku akan kembali masuk sel sampai waktu hukuman mati itu ditetapkan.
"Maaf. Ayah engga mampu. Maafin ayah engga rela kamu seperti ini." Suara parau dan berat khas tuan Derran kini berhasil meluruhkan kesedihan yang aku pendam.
"Aku takut Yah.. hiks." Sambil mempererat pelukanku yang tidak sanggup menahan berat tubuhku hingga terduduk. "Aku engga salah Yah!"
"Ayah tau itu." Pundakku basah karena Ayah sendiri tak kuasa menahan kekecewaan.
Dunia kami yang kecil atau hanya inilah yang kupunya. Ayah angkat yang sangat aku sayang, satu-satunya yang aku punya dan hal yang paling berharga di dunia ini harus menangis karenaku.
"Sudah! Waktu kalian habis, kita akan berangkat sekarang!" Ucap pengawal.
Mata sembab kami bertemu, mungkin yang terakhir kalinya. Harapanku sudah sirna sejak palu kayu itu di ketuk.
"Arghh!!!!" Seseorang berteriak ketika aku akan masuk ke dalam mobil tahanan. Aku tersentak hingga membentur badan mobil dan ada rasa sakit di perut kiri. Sesuatu asing mengganjal disana.
"Hahahaha!! Mampus!!!" Matanya membelalak dengan senyum bangga ia sunggingkan ketika aku melihatnya telah diringkus pengawal. "Balasan untuk anakku yang mati!!" Kembali berteriak lalu tertawa menggelegar dan suaranya menjauh.
Seeakan waktu duniaku terasa jadi melambat seiring rasa sakit ini menyebar ke seluruh tubuh. Darah juga merembes di baju yang kupakai. Orang-orang sekitarku semakin riuh, banyak yang ingin melihat apa yang terjadi namun para pengawal menghentikannya.
Sambil memegangi rasa sakit ini yang tak kunjung mereda dan terus berdarah, aku digiring masuk ke dalam mobil. Ketika aku melihat sekeliling semua jadi pudar dan badanku sulit bahkan hanya duduk tegap. Luka yang menganga di perut sudah terasa digigiti tikus-tikus yang ganas, lapar, dan rakus.
"Tetap ambil nafas!! Buka mata! Kami akan mengobati lukanya! Bertahan!!"
Suara riuh perlahan meredup, bahkan suara pengawal yang duduk di sebelahku yang sejak tadi berusaha melakukan pertolongan pertama dan mempertahankanku agar tetap sadar dengan berbicara dengan wajah panik juga ikut memudar di telingaku.
"Tetap bangun! Nona Bianca!!" Suara ini menjauh hingga Aku tidak bisa mendengar lagi sayup-sayup suara yang tersisa.
"Bia.."
"Bia.." Suara siapa ini?
"Bia.. Ayo bangun Bia!" Cahaya menodongku tanpa belas kasih dan memaksa untuk terbiasa dengan ruang yang terang benderang.
"Bia cepatlah bangun!" Jujur suaranya yang ceria dan lantang ini menggangguku di tengah melawan sakit kepala dan seluruh bagian badan yang terkesan baru saja diberikan kejut jantung. Semua bagian tubuh dipaksa untuk bangun.
"Kenapa sih, ngantuk tau!! Aku masih mau tidur lagi!!" Membalikan badan dan kembali rebahan.
"Sabia mengapa cara bicaramu aneh sekali?"
'Bahkan ia sendiri bicara super aneh dan malah pake bahasa terlalu formal!' Si penanya ini benar-benar tidak memberiku kesempatan. Aku melihat asal suara seketika. "Apakah kamu sedang tidak baik-baik saja? Mungkinkah demam?" Ia benar-benar membombardir dengan jutaan pertanyaan.
Rambut putih pendek, mata biru kelereng yang berkelip diberikan bulu mata yang lentik dan panjang putih. Alisnya tertata rapi dan membentuk tanda tanya jelas dipampang disana bersama kening yang berkerut.
"Kamu siapa?" Kalimat itu lolos dari mulutku sambil terpesona dengan rupanya.
Kedua tangannya melipat di depan dadanya kemudian menyentuh keningku.
"Wah. Sabia memang sedang demam rupanya.." Meski wajahnya terlalu dekat aku tidak boleh panik karena terlalu banyak yang harus diwaspadai. Aku hanya bingung harus mulai dari rasa sakitku yang tiba-tiba atau apa yang tengah terjadi. Sosok yang tidak aku kenal ini siapa? Aku juga harus mencari tau apa yang terjadi padaku dan dimana aku sekarang? Aku akan ikuti permainannya.
Kutepis tangannya. "Lalu apakah sopan memasuki kamar tidur seseorang tanpa seizinnya? Apakah kamu tidak belajar etika dan tata krama kesopanan?" Rasa kesal ini justru memburuk ketika ia menyeringai.
"Ah... Hahaha." Tawa canggung ini juga menaikan tingkat kewaspadaanku. "Baiklah, kembalilah tidur. Aku meminta pelayan membawa sarapan pagi dan obat." Ia berjalan menuju pintu. "Ah ya.. kumohon jangan memasang raut wajah mengerikan begitu. Itu membuatku sedih." Ia berjalan keluar kamar.
Seperti yang ia bilang, saat aku pegang, dahiku juga lumayan panas meski Aku hanya fokus untuk meredakan pusing yang perlahan mereda. "Haah.."
Kasur yang terlalu besar untuk ditempati untuk satu orang, terdapat perapian dalam kamar, dan jendela melengkung yang besar beserta tirai tebal yang setengah terbuka menjuntai disampingnya. Gaya interiornya seperti jaman kuno Eropa dan juga area seperti ruang tamu di kamar. "Aw... Ini dimana sih?"
Perut bagian kiriku terasa ngilu dan perih. 'Aku inget! Luka penusukan waktu Aku mau naik mobil setelah sidang.' "Ahhhh!! Ayah!!!" Ingatan yang mengalir perlahan, apa-apa yang telah Aku alami sebelumnya. Ada yang harus dipastikan lebih dulu, semua ini benar-benar ganjil. Menarik diri dari selimut namun Aku kesusahan ketika menggeserkan badan hingga ke sisi ranjang karena kakiku lebih kaku dari sebelumnya.
Terlepas dari itu semua, Aku ingin melihat ke luar jendela. Memastikan saja apa yang sedang dalam benak. Setelah bersusah payah menuju sisi ranjang dan bangkit untuk duduk Aku tak bisa menahan badanku hingga terjatuh ke lantai. Padahal aku tertahan oleh selimut yang ikut jatuh denganku bahkan lantai dan ranjang tidak terlalu tinggi namun perut bagian kiri justru membuatku meraung kesakitan.
Keringat dingin mengucur, dadaku tak henti memacu jantung lebih cepat. Perasaan gelisah akan deja Vu ini sudah mengambil alih kendali badanku.
"Aww!!!!" Terbayang wanita yang menusuk perutku. Aku masih berperang dalam nyeri dan gambaran wanita mengerikan itu menghantuiku ketika pria ini membopongku kembali ke ranjang. Kedua tangannya memangku kembali ketika Aku tak percaya dengan apa yang baru saja melintas di depan cermin. Mataku menangkap seorang perempuan belia yang memiliki rambut hitam panjang bersinar dan iris berwarna perak yang parasnya bak putri dongeng yang sedang digendong.
Panik mengerayangiku seketika. Tangis pecah karena tidak lagi mampu melawan fakta yang menurutku tidak lagi masuk akal, semua pikiranku tidak berarti lagi. Aku merinding mengingat tidak ada siapa-siapa lagi yang Aku punya.
"Bia." Ucapnya halus lebih dari sebelumnya. "Biar Aku merawat lukamu!"
"Katakan Aku ini siapa!!!?" Entah kenapa Aku kesal dengan pemilik suara ini sampai wajahnya terkejut, ketika sadar Aku telah membentaknya.
Perlahan Ia membaringkanku di ranjang. Keatasan putih yang ia kenakan kini bernoda basar berwarna merah begitupun dengan matanya. Duduk disampingku sambil mendekap tangan kiriku di kedua tangannya. Matanya terpejam dan terdengar ia membisikan sesuatu pada tanganku.
Mungkin ia sedang berdoa karena begitu khusyuk dengan ritualnya. Aku tak bisa melakukan apapun dengan keadaan seperti ini. Hingga tiba-tiba angin masuk dan rambut peraknya dibelai lembut menyapu keningnya lalu matanya terbuka menjadi ungu tanpa cemerlangnya.
Kali ini Aku yakin, ia bukan tengah berdoa namun merapalkan mantra. Ia menatapku dengan tatapan kosong, pupilnya seperti tertelan dalam kelam keunguan kemudian wajahnya mendekat hingga kening kami bertemu.
"Apa yang mau kamu lakukan!?" Mendorong sekuat tenaga yang tersisa seperti remah kue. Tanganku ditangkap ketika menjauhkan dirinya.
"Tahan sakitnya." Kurasakan nafasnya di wajahku.
Aku terhisap ke dalam mata kelam itu!!! Tekanan aneh menarikku ke dalam ruang gelap, kuatnya tarikan membuatku sulit bahkan untuk menarik nafas. Aku seperti melesat melaju lalu kemudian tarikan itu perlahan memudar tubuhku terasa melayang. Ruang bebas ini terlihat seperti alam semesta yang tak terbatas.
Lama-lama, Aku mendekat pada sebuah cahaya yang paling redup diantara lainnya dan Aku merasa harus meraihnya karena semakin dekat rasanya hangat ini menyelimutiku. Begitu kuraih, tubuhku memberat- tidak. Aku jatuh!!!!
Cahaya yang kugenggam hilang, Aku kembali sulit bernafas!
"Ia..." Suara yang kulewati saat jatuh.
"Bia.." Suara lain seperti memanggilku.
"Bianca!!"
"Sabia.."
"Sabia!!!" Terperanjat hingga terduduk dengan nafas terengah. Lelah menggigiti setiap bagian badanku tanpa terkecuali. Mataku menyebar kesegala arah berharap bisa berpijak pada realita yang sedang menyapaku.
Ruangan berjendela besar tidak lagi menyorotiku, hanya angin yang merangkak masuk melewati tirai. Dunia dibaliknya telah meredup, Aku bisa mendengar jelas jangkrik-jangkrik sedang berdendang ria bersama bintang-bintang.
Hanya ada separuh cahaya yang menemaniku seperti cahaya redup yang tadi kugenggam sebelumnya. Perasaanku gelisah tak menentu karena semua terlalu aneh mungkin seperti semua rasa bercampur aduk di dadaku.
Hal-hal aneh ini tidak akan pernah ada jika bukan karena Pero. Lelaki bersuara riang dan lantang yang menyebalkan di telinga, berambut perak pendek dan memiliki langit biru di matanya. Itulah yang aku ingat. Pero, nama lelaki itu. Kini aku mengingatnya.
Kurasakan tangan kiriku juga masih ia genggam seolah melarangku untuk pergi jauh darinya. Kugenggam balik erat jemarinya, Aku juga tak akan membuatnya menjauh dariku. Berkatnya Aku bisa kembali lagi ke masa ini.
"Terimakasih Pero! Aku sudah pulang.." Rinduku mengalir bersama tangis, semoga esok hari-hariku di masa ini akan seperti di masa-masa yang pernah kulewati. Hingga tutup usia.
"Ceritakan, kemana dirimu saat terakhir tidur." Pero ikut berlinang tangis haru.
"Aku memiliki seorang Ayah yang luar biasa meski ia bukan ayah kadungku." Aku mulai bercerita kembali seperti biasa Aku bangun dan menikmati hari kembali hidupku yang sesungguhnya.
#Cerita Fantasi