Aku menyukai hujan tapi tidak dengan gunturnya.
Di petang yang mendung, tetes-tetes hujan bergerak menuju bumi dengan gemuruh guntur yang menderu di kejauhan. Aku berlari seperti biasa dan memeluk boneka si Teddy Bearku di dalam kamar yang penuh dengan keheningan.
Air mataku mengalir sebanyak butiran tetes hujan yang mengalir.
Hujan selalu memiliki cara untuk membangkitkan perasaan yang paling dalam. Di balik yang tersembunyi kenangan dan emosi yang terpendam. Setiap tetes hujan yang jatuh mengingatkanku pada masa lalu, saat-saat ketika hatiku masih dipenuhi dengan ceria dan harapan.
Mengapa selalu hanya ada aku saat hujan dan guntur menyapa bersamaan?
Ah, tidak! bukan hanya itu, memang akan selalu ada aku walau hanya hujan yang datang.
Saat Guntur yang bergemuruh mengguncang keheningan, aku memeluk erat kakiku yang kutekuk dan sesekali menutup dan telingaku yang bisa saja suara hujan dan guntur yang memekakan telinga itu datang bersamaan.
Tidak. Aku tidak takut! ku tekankan pada diriku untuk itu, tapi nyatanya nafasku tersenggal dan air mataku berjatuhan.
Aku merasa terhanyut dalam riak-riak kesedihan yang tak terungkapkan. Air mata mengalir bersamaan dengan setiap percikan hujan yang mengenai jendela.
Perasaan itu tak dapat ku pungkiri. Aku merasa terisolasi dalam dunia yang luas ini. Tapi apakah aku harus membenci Hujan? sedangkan Hujan memberiku kenyamanan dalam kesendirian, karena setiap tetes hujan adalah saksi diam akan perasaan yang tak terungkapkan.
Guntur? tidak. Walau kau bisa mendefiniskan Guntur sebagai kekuatan untuk menghadapi rintangan yang ada di depan mata.
Setiap itu terjadi dan terlewati, aku hanya berpikir dan menyadari bahwa setiap hujan akan berhenti dan guntur akan mereda suaranya. Begitu juga dengan perasaanku di dalam sana. Dia tahu bahwa suatu hari nanti, cahaya matahari akan kembali menerangi hidupku dan membawa kehangatan.
Dalam keheningan yang diiringi oleh gemuruh hujan dan guntur yang semakin jauh, aku mengambil nafas dalam-dalam. Aku memutuskan untuk membiarkan perasaan takut itu mengalir seperti hujan yang turun, melepaskan segala beban dan kesedihan yang ada di hatiku. Aku memilih untuk menerima dan menghadapi perasaan takut itu, karena aku tahu bahwa hanya dengan melalui hujan dan guntur itu, aku akan tumbuh dan menjadi lebih kuat.
Walau ada sedikit keluh kesah dan mengadu.