Di sebuah kota peternakan yang tersembunyi oleh 5 pegunungan kuno, konon ditemukan sisa - sisa peninggalan kehidupan para Viking. Kota itu terkenal akan penghasilan keju dan susu yang mendominasi persediaan pakan seluruh daratan Eropa.
Bukanlah kota yang cukup indah untuk diamati. Karena setiap sudut kota dapat dipastikan penuh dengan sampah - sampah yang dibuang oleh penduduk yang tidak bertanggung jawab. Meski telah beberapa kali diperingatkan oleh penduduk yang masih peduli, namun Wali Kota enggan untuk mengeluarkam biaya dalam tujuan membersihkan lingkungan kota itu. Akhirnya beberapa penduduk kota memisahkan diri dari wilayah kota yang dulunya tempat tinggal mereka itu. Mereka kembali membangun kota baru dengan hanya terdapat beberapa orang saja. Eleanor salah satunya.
Ia adalah seorang gadis desa yang hidup sebatang kara di rumah kecilnya. Kegiatan hariannya hanya ditemani oleh seekor hamster peliharaannya yang senantiasa berada di pundaknya, menantikan petualangan - petualangan baru bersama majikannya .
Hamster itu ia beri nama Bosca. Setiap hari, Eleanor selalu mengajak Bosca berjalan - jalan mengitari lingkungan kota yang baru. Tidak seperti kota lamanya yang penuh dengan sampah dan limbah - limbah rumah tangga, kota baru mereka memiliki pemandangan alam yang menyegarkan mata. Di sana - sini terdapat bukit dan ladang rumput hijau. Ada pula sebuah hutan dengan ratusan pohon berdaun jingga yang dikenal akan mitos tempat tinggal Peri. Hutan itu dinamai Autumn Forest karena warna jingganya yang senada dengan daun - daun musim gugur. Bosca, Si hamster, sangat menyukai hutan itu ketika Eleanor mengajaknya melihat - lihat pemandangan tempat tinggal baru mereka. Dan hutan itu selalu menjadi tempat favorit bagi kedua sahabat itu.
Suatu hari, ada sebuah masalah yang menyebabkan peternakan di kota lama Eleanor menurun pesat. Penyakit hewan mulai menjangkit di seluruh peternakan yang ada dan mengakibatkan seluruh hewan ternak milik penduduk mati tanpa tersisa satupun. Kejadian itu menimbulkan kegemparan di seluruh pelosok negri. Ekspor keju dan susu dihentikan pula dari sana, sebab beberapa kota lain menduga adanya sisa virus di dalam susu dan keju yang dihasilkan.
Berita ini sampai pula di kota baru tempat Eleanor dan penduduk lainnya tinggal. Mereka merasa khawatir dan mulai memperhatikan setiap kebutuhan hewan ternak agar tidak bernasib sama malangnya dengan kota kerabat mereka itu.
Semakin hari, kota tempat tinggal Eleanor itu mulai berkembang dan menjadi kota dengan penghasilan susu serta keju terbaik. Mereka mulai melakukan ekspor ke kota - kota lainnya yang rupanya sedang kehabisan persediaan susu dan keju akibat memberhentikan impor dari kota lama Eleanor.
Dengan pendapatan dari hasil ekspor, kota tempat tinggal Eleanor tumbuh menjadi kota yang besar dan dikagumi oleh penduduk dari kota - kota kecil lainnya. Sedikit mulai sedikit, bangunan besar dan kokoh menjulang di beberapa wilayah kota dan penduduk kota lain mulai berdatangan untuk memulai kehidupan serta karir mereka di sana. Perusahaan - perusahaan dan perbisnisan juga mulai dibentuk seiring dengan perkembangan pembangunan modern di sana. Semakin lama, kota yang dahulunya kecil dan terkenal dengan penghasil keju serta susu itu berubah menjadi kota metropolitan yang megah. Namun, para penduduk asli dan Eleanor yang dulu membangun kota itu terpinggirkan oleh status sosial mereka. Kini mereka hanya tinggal di pinggiran kota yang tidak jauh dari Autumn Forest dan sungai Elm. Sedangkan, para pendatang dan pelanconglah yang sekarang menjadi penduduk dan penguasa di kota itu.
Beberapa minggu berselang. Penduduk mulai resah karena kurangnya lahan untuk pembangunan tambahan. Sayang, rupanya untuk mencapai wilayah yang lebih luas penduduk kota itu mulai menebang pepohonan di hutan sekitar hingga akhirnya tersisa Autumn Forest, sang hutan musim gugur.
Dengan penggalakkan penebangan hutan yang terus berlangsung, penduduk lainnya berpendapat untuk menggundulkan Autumn Forest, sehingga wilayah kota bisa bertambah luas dan semakin maju peradabannya. Wali Kota setuju akan hal itu, sebab penduduk kota itu mulai memprotes kurangnya lahan untuk membangun rumah dan gedung - gedung raksasa. Dengan petsetujuan dua pihak tersebut, mulai disusunlah rencana penggundulan hutan berikutnya. Kabar tersebut disiarkan melalui koran - koran dan pemberitaan radio.
Sementara itu di pinggiran kota, Eleanor serta para penduduk - penduduk asli telah mendengar kabar itu dari koran - koran yang dibagikan oleh kurir pos. Mereka kini mulai geram dengan tindakan pemerintah yang semena - mena menggundulkan hutan - hutan di sekitaran bukit di sana. Dengan sisa keberanian yang ada, para penduduk asli yang terpinggirkan itu memutuskan untuk mengadakan protes terhadap Wali Kota. Sedangkan, Eleanor yang lemah hanya bisa menangis sejadi - jadinya dengan ditemani oleh hamster kesayangannya.
"Bosca, jika mereka memprotes kepada Wali Kota, maka kita semua akan diusir dari wilayah ini. Tapi, aku tetap ingin berjuang, demi Autumn Forest yang selalu menjadi tempat terindah kita semua. Aku harap Wali Kota akan mendengarkan kita", Eleanor menangis sambil memeluk Bosca, Si hamster. Matanya yang berwarna biru langit menatap semburat jingga di kejauhan yang ia kenali sebagai Autumn Forest itu. Damai kembali menyelimutinya setelah memandang beludru jingga yang indah itu. Kini ia tertidur dalam kedamaiannya.
….
"Bangunlah, Elen yang malang"
Sebuah suara lembut mengalir di telinganya. Eleanor yang tertidur akhirnya membuka kedua matanya.
"Kau..siapa?", ucapnya dengan lemah.
"Tidak usah takut, aku hanya seorang Gadis Ajaib yang tinggal di Autumn Forest", gadis yang membangunkannya itu tersenyum manis. Ada angin hangat yang tiba - tiba menghembus dan membawa daun - daun oranye terbang di sekitar mereka. Saat itulah Eleanor sadar bahwa ia tidak lagi di rumahnya. Sekarang ia tengah duduk di atas tumpukan daun musim gugur yang hangat.
"Apakah ini Autumn Forest?", tanya Eleanor. Ia menatap keseluruhan tubuh semampai Si Gadis Ajaib itu.
"Ya, kau benar. Secara ajaib, aku membawamu yang tertidur ke sini. Hamstermu akan aman di sana. Tenang saja". Gadis Ajaib itu berbalik dan melangkah anggun.
"Kau mau ke mana? Dan, kenapa kau membawaku ke sini?", Eleanor bangun dan ikut berjalan di belakang.
"Kemarilah, akan kutunjukkan sesuatu padamu..", Gadis Ajaib itu menarik tangan Eleanor dengan lembut. Kejadian selanjutnya yang Eleanor rasakan adalah ringan. Sepertinya mereka sedang melayang di udara. Sebab rasanya begitu mudah ketika ia melangkahkan kakinya dari satu pijakan ke pijakan berikutnya.
"Apa kita sedang terbang?", Eleanor memutuskan untuk bertanya pada Gadis Ajaib itu.
"Ya, Elen. Kita memasuki Pohon Ajaib dan akan dibawa ke tengah kota oleh Angin Magis. Angin Magis akan membawa kita melayang ke pusat kota yang dulunya adalah kota kecilmu. Di sana kau akan melihat apa yang berbeda dari pandanganmu selama ini. Dan apa yang harus kau ubah", tangan Gadis Ajaib itu membelai pipi Eleanor.
"Yang harus aku ubah..??", ia mengulang perkataan Gadis Ajaib itu dengan terkejut.
"Ssstt...kita sudah sampai di balai kota. Lihatlah"
Eleanor memandang pelosok wilayah itu. Seperti dugaannya, ada banyak bangunan megah berdiri di beberapa bagian kota. Mengingat kota ini dahulu adalah sebuah kota peternakan kecil membuatnya merasa asing.
"Ini bukan kota kami yang dulu", gumamnya pada Gadis Ajaib.
"Secara fisik, itu benar. Tapi itu tidak benar, Elen. Tanah ini adalah tempat kota kecilmu berawal. Mungkin kau tidak tahu, tapi kalian telah mendirikan kota di atas Tanah Magis. Dan Tanah Magis memikiki kekuatan yang kita sebut sebagai Memori. Setiap kota yang berdiri di atas Tanah Magis pada akhirnya hanya akan kembali ke bentuk awal wilayah ini. Bangunan - bangunan manusia akan hilang dari sini. Dan pohon - pohon yang telah mati akan dihidupkan kembali dan tumbuh di tempat pohon itu berawal. Itulah cara kerja Tanah Magis. Ia mengulang memori yang tersimpan. Jadi, aku ingin meminta sesuatu padamu, Elen. Ketika matahari terbenam nanti, tanamlah tunas ini di wilayah Tanah Magis. Ini akan berguna nantinya…", penjelasan dari Gadis Ajaib itu berakhir, lalu ia memberi Eleanor sebuah tunas hijau mungil.
"Bagaimana tunas ini nantinya akan berguna?", tanyanya. Namun, sebelum ia bisa mendapat jawaban dari Gadis Ajaib, Sang Gadis Ajaib itu telah menghilang bersama tiupan angin sore. Eleanor pula menyadari bahwa ia sudah berada di kamarnya lagi, di rumah kecilnya.
Saat mengingat pesan Gadis Ajaib, ia kemudian melirik matahari yang masih bergantung, membenamkan langit dalam cahaya jingga sore itu.
"Waktunya tinggal sedikit lagi", ujar Eleanor. Ia lalu teringat Bosca, Si hamster, yang sejak tadi ia tinggalkan sendirian. Ia memutuskan untuk membawa serta Bosca bersamanya agar jika terjadi sesuatu, mereka tetap bisa bersama.
Kini matahari telah mencapai ujung bumi, masih memancarkan cahaya keemasan nan silau. Saat inilah yang dimaksud Gadis Ajaib bagi Eleanor untuk segera menjalankan pesannya. Dengan Bosca yang menemaninya, Eleanor pergi ke pinggiran kota yang berada di atas Tanah Magis dengan berbekal sebuah tunas yang diberikan Gadis Ajaib padanya.
Sesampainya di sana, ia menggali sebuah lubang kecil. Lalu meletakkan tunas kecil itu dan mengubur akarnya. Selesai sudah tugasnya. Kini ia hanya perlu menunggu sesuatu terjadi.
Mendadak tanah tiba - tiba bergetar. Tunas kecil yang Eleanor tanam juga ikut bergetar hebat dan ada beberapa akar raksasa menembus dari tanah ke langit. Eleanor yang kagum akan kejadian itu tampak berseri. Ia mendekap Bosca di dadanya.
Dari kejauhan, kota metropolitan itu tampak semakin kecil dan bunyi gemuruh besar menyertai perubahan ukuran kota itu. Bangunan raksasa yang tadinya berukuran bak gunung - gunung, sekarang menjadi lebih kecil. Hingga pada akhirnya, kota yang mengecil itu menghilang dari pandangan. Sisanya hanya ada akar - akar raksasa yang semakin lama berubah menjadi sebuah pohon utuh. Pemandangan akhirnya kembali pada asalnya. Kini, pemandangan berbukit itu mengingatkan Eleanor pada kali pertama ia dan penduduk lainnya membangun kota mereka.
Di kejauhan dari tempat kota hilang itu, rumah Eleanor dan beberapa penduduk asli masih berdiri kokoh, sebab mereka tidak membangun di atas Tanah Magis. Dan mereka kemudian melanjutkan hidup mereka di sana.
Namun, malam berikutnya sejak kejadian kota hilang itu, Gadis Magis kembali mendatangi Eleanor.
"Sebagai hadiah atas bantuanmu, bangunlah sebuah desa di dalam Autumn Forest. Para peri akan menyediakan apapun yang kalian butuhkan di sana. Tidak perlu bagi kalian untuk keluar dari hutan dan mencari makan, karena di sana semua hal selalu ada…"
Setelah pesan itu tersampaikan pada semua penduduk asli, mereka akhirnya membangun desa yang baru di dalam Autumn Forest. Persediaan makanan dan kebahagiaan rakyat terpenuhi. Dan sejak saat itu, mereka hidup berdampingan dengan para peri dan Gadis Magis hingga tahun berganti tahun, dan abad berganti dengan abad.
THE END