Janji di Bulan April part 2
••°°••°°••
Di sekolah, kami kedatangan seorang siswa baru. Dia adalah cowok yang semalam kutemui. Akhirnya aku tau namanya. Namanya adalah Gilang, lengkapnya Gilang Mahendra. Seisi kelas heboh membicarakannya, dia adalah pindahan dari luar kota, asalnya dari sekolah elit bergengsi di kotanya. Gilang duduk tak jauh dari ku.
Saat istirahat, aku mendekati kursinya berniat untuk mengembalikan jaket yang ia pinjamkan semalam. Kuserahkan jaket itu padanya, aku yakin jaket itu tetap bersih meskipun tidak ku cuci.
“Ini jaketmu. Terimakasih untuk yang semalam,” ucapku.
“Tidak masalah, ngomong-ngomong kamu udah ngerasa baikan?” Gilang menyambut jaketnya.
“Lain kali, jangan dekati cewek sembarangan dong, apalagi sampai mau meluk gitu. Kan ga ada yang tau kalo cewek itu punya semacam trauma,” ucap Selena yang datang entah dari mana.
“Gue ucapin makasih karena udah nganterin Nia sampai sekolah, ya meskipun dengan kondisi gak baik.” Selena melemparkan sekotak susu strawberry pada Gilang.
“Gue bener-bener minta maaf, gue bakal bantu jagain Nia sebagai gantinya.”
“Gue pegang ucapan lu, kalo lu berani macam-macam sama Nia, lu harus berhadapan dengan gue dulu,” ucap Selena dengan gaya mengancam.
Selena adalah cewek tomboy dan satu-satunya temanku. Orang yang selalu menjagaku dan membuatku bertahan hingga saat ini adalah dia. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. sekarang temanku bertambah satu, yaitu Gilang. kami lebih sering memanggilnya dengan sebutan Gigi. Kami bertiga semakin dekat, kemana-mana selalu bertiga, baik di sekolah maupun di luar. Orang-orang sering menyebut kami Trio Maut. Kurasa itu sebutan yang pas untuk kami.
Selena, cewek tomboy yang suka sekali beradu jotos. Lawannya bukan sesamanya melainkan para cowok-cowok berbadan kekar yang dua kali lebih besar daripada dirinya sendiri. Sifat bar-barnya membuat orang lebih sering memanggilnya Marsel yang juga adalah penggalan dari namanya, yaitu Marselena Trinanda Putri. Gigi atau Gilang Mahendra, sejak kedatangannya di sekolah ini, ia memberikanku perasaan baru yang belum pernah kurasakan. Mungkin karena ia pernah menolongku saat itu. Ia sangat andal dalam menangkap apapun, siapapun atau apapun bisa ia tangkap dengan mudahnya. Ia menjadi kiper andalan dan termauk ke dalam tim kesebelasan SMAN Harapan Bangsa.
Rania Ayu Azhari atau kerap disapa Nia, itu adalah namaku. Salah seorang siswa berprestasi di SMAN Harapan Bangsa. Cewek lugu nan polos yang saking polosnya hampir dilecehkan dan memberikan trauma pada diriku ini. Mereka biasanya mendeskripsikanku sebagai cewek pintar yang polos, baik, penakut dan terkesan cuek. Debat adalah keahlianku, karena itulah tidak ada satu pun cewek yang mau berteman denganku. Mereka takut kalah debat denganku, hal apapun itu selama bisa diperdebatkan akan kudebatkan dengan siapa pun itu.
Kami bertiga terus berteman baik hingga naik ke kelas 12. Selalu membantu satu sama lain dalam hal belajar dan memberikan dukungan saat salah satu dari kami sedang berjuang. Saat pertandingan terakhir Gilang, sebuah kejadian tak terduga menimpaku. Dia menembakku.
“Nia, aku tau ini gak romatis. Tapi aku sungguh-sungguh mengatakan ini, maukah kamu menjadi pacarku?” ucapnya dengan sebuket bunga dan cokelat ditangannya.
“Hmm...Sel, aku harus jawab apa?” tanyaku pada Selena yang berada di sampingku.
“Kan yang ditembak kamu, kok malah nanya aku. Kalo kamu mau, tinggal bilang ya aja kok.”
“Aku... belum pernah pacaran, jadi aku ingin mencobanya. Ya, aku mau jadi pacarmu,” ucapku malu-malu. Pasti wajahku sangat merah saat mengatakannya.
Gilang memberikan bunga dan cokelat ditangannya padaku. Aku membagi rata cokelat itu menjadi tiga bagian. Memberikan 2 bagian lainnya pada mereka. Lucu ketika mengingat saat itu. Saat-saat seperti itu lah yang selalu kurindukan.
Kami sudah jarang kumpul bertiga, hanya aku dan Gilang. Selena bilang kalau ia tidak ingin menganggu kami pacaran, makanya setiap kuajak kumpul bertiga, ia jarang bisa hadir. Ya aku juga paham kalau dia harus belajar giat mempersiapkan materi untuk menghadapi UTBK nanti. Tapi ia bisa santai sedikit saja kan. Menikmati hari Minggu tanpa tugas apapun dengan secangkir kopi, menikmati ketenangan sementara ini sebelum kembali menyibukkan diri dengan materi yang membuat otak sakit.
Aku hanya duduk termenung sendiri di sini, Gilang tidak bisa ikut karena harus mengantar Ibunya ke rumah sakit untuk check up. Selena disibukkan dengan jadwal les beruntun hari ini. Hanya aku yang tidak ada kerjaan dan berakhir duduk termenung di kafe ini.
...***
...
Hari-hari berlalu dan tibalah hari pengumuman SNMPTN. Sebagai peringkat paralel pertama tentunya aku mengambil kuota SNMPTN-ku ini. Aku membuka pengumuman itu di kamar, hanya seorang diri. Aku sengaja melakukan video call dengan teman-temanku agar aku tidak kesepian, sekalian aku ingin tau hasil pengumuman teman-temanku.
“Satu...,” ucap Selena diseberang sana. Disampingnya ada kedua orang tuanya yang menemani.
“Dua....” Gilang pun menyambung perkataan Selena.
“Tiga!” Dengan penuh semangat aku membuka hasil pengumuman itu.
Seketika senyumku luntur saat melihat hasilnya. Aku ternyata tidak lolos. Dapat kudengar teriak bahagia dari hp-ku. Itu adalah suara Selena, ia ternyata lolos SNMPTN di universitas yang ia inginkan. Air mataku keluar begitu saja. Aku merasa ini semua tidak adil, aku sudah berjuang keras menaikkan nilaiku, lalu mengapa aku dinyatakan tidak lolos. Nilaiku jauh di atas Selena dan sertifikat yang kulampirkan juga 2 yang nasional dan 1 internasional. Apa yang kurang dari itu semua?
Kuputuskan sambungan video call itu secara sepihak. Aku menangis sejadi-jadinya, mengingat orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Meratapi hasil yang kurasa tidak adil. Aku tidak ingin belajar untuk utbk, aku ingin menyerah saja. Kamarku sangat berantakan, begitu juga dengan meja belajarku. Kuhempaskan segala yang ada di atas meja ke lantai, bahkan foto kami betiga pun ku lempar begitu saja.
Sejak saat itu, aku mulai menjauhi Selena. Aku juga sudah jarang bertemu dengan Gilang. Aku semakin menutup diri dari dunia luar. Kubeli segala buku persiapan utbk, aku ikut les dimana-mana, belajar mati-matian agar aku lolos di UTBK. Aku juga belajar untuk ujian kelulusan yang akan berlangsung minngu depan.
...***
...
Hari terakhir ujian. Hari ini mungkin aku bisa santai sebentar saja sebelum kembali menjadi robot yang sering lowbatt karena terlalu sering mengingat. Rencananya, sepulang sekolah Gilang ingin mengajakku jalan-jalan. Katanya sebagai self reward karena telah menyelesaikan ujian terakhir. Sebenarnya Selena juga mengajakku untuk jalan-jalan namun, aku menolaknya dengan alasan aku sudah ada janji dengan Gilang.
***
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah lapangan sepak bola yang dulu menjadi saksi bisu saat Gilang menembakku. Lalu kami singgah ke kafe tempat pertama kami nge-date. Setelahnya Gilang membawaku ke taman bunga sakura. Hanya replikanya saja, bukan bunga sakura sungguhan.
“Nia, kamu mau gak pergi ke Jepang?” tanya Gilang padaku.
“Mau dong, cita-citaku sejak kecil yaitu ingin melihat bunga sakura sungguhan yang ada di Jepang.” Aku memungut bunga sakura yang berguguran.
“Ayo berjanji, saat kita lulus kuliah nanti, kita akan kerja di Jepang dan menikmati bunga sakura bermekaran bersama.” Gilang mengangkat jari kelingkingnya. Kutautkan jari kelingkingku di sana. Kami tersenyum bersama melihat bunga sakura yang berguguran.
TBC...