Sekarang sudah waktunya pulang sekolah, dan ini adalah kesempatan Nana untuk mengatakan suatu hal pada Ren.
Nana dengan cepat menarik tangan Ren yang masih memasukkan buku pelajarannya kedalam tas.
"Apaan sih?"
Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Nana justru berlari kecil sambil menarik tangan Ren.
Ren yang kebingungan hanya bisa pasrah dan mengikuti alurnya saja. Mereka berdua tidak mempedulikan tatapan murid lain yang bingung melihat hal itu.
Tentu saja bagi Ren ia harus menahan malu akibat dilihat banyak pasang mata, sementara Nana seperti tidak memiliki hal itu.
**
Ren dan Nana sudah tiba di halte tempat mereka berdua biasa menunggu bus. Mereka berdua juga datang lebih cepat dari biasanya.
Nana melepaskan pegangannya pada tangan Ren, dan menatap Ren yang masih heran dengan sikap Nana hari ini dengan serius.
Ren merasa yakin ada yang berbeda dengan Nana, karena hari ini dia benar-benar serius ingin mengatakan sesuatu.
Ren berkata dalam hatinya "Aku harus menyiapkan hati dan pikiran sepertinya."
Nana membuka mulutnya dan bersiap mengatakan sesuatu tersebut.
Dengan lantang Nana berkata "Aku menyukaimu."
Ren hanya sedikit terkejut dengan perkataan Nana tersebut, karena dia sudah dua kali mengalami hal yang sama seperti ini.
Namun bukan itu yang ia pikirkan, karena Ren pikir seharusnya laki-laki lah yang mengatakan hal itu. Dan Nana tepat mengatakannya saat halte masih hanya ada mereka berdua.
Ren menjawab "Aku ju-." Namun Nana masih ingin melanjutkan perkataannya. Ren menunda untuk menjawab dan menunggu apa yang akan dikatakan Nana selanjutnya.
"Ca...."
"Ca...?"
Perkataan Nana kembali terjeda, dan Ren tidak mengetahui apa kata yang nana jeda tersebut.
"Canda deh."
"Hah?"
"Dikira serius nih...?. Pasti kaget ya?"
Ren hanya bereaksi seperti orang yang menahan malu dan marah. Sementara Nana masih tersenyum dan bersikap menjahili teman main sejak SD nya tersebut.
Nana tersenyum dan tertawa kecil, dan Ren memalingkan wajahnya.
"Nana, kamu ini."
"Hehehehe."
Ren kemudian duduk di bangku halte yang masih kosong karena memang baru ada mereka berdua disini.
Nana ikut duduk di samping Ren, namun kali ini dengan wajah yang sedikit merasa bersalah. Tetapi Nana terlihat masih ingin menjahili Ren yang hanya memandang jalanan.
"Eh?"
Nana terkejut dengan yang dilakukan Ren, tangannya digenggam erat oleh Ren.
Wajah Ren menjadi serius, kemudian dia mendekatkan wajahnya ke wajah Nana yang merona.
Wajah Nana saat mengatakan candaan tadi memang sudah merona. Tapi saat wajah Ren dan wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter seketika memerah hingga ke telinga.
"Ren, kita belum pantas melakukan itu."
Sambil tersenyum Ren kemudian menjauhkan wajahnya dari Nana.
"Aku juga bercanda."
Sambil tertawa kecil Ren merasa sudah membalas perbuatan Nana padanya.
"Dasar kau ini...."
Nana memukul lembut lengan Ren yabg yang hanya membuat Ren semakin keras tertawanya.
"Lalu kenapa kau mengatakan hal itu walau hanya candaan?"
"Sebenarnya itu latihan, gitu deh."
Ren hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tidak paham dengan yang dikatakan Nana.
"Hah, latihan?"
"Tadi aku manis kan, kau deg-degan kan?"
Ren sedikit menjauh dari Nana yang mendekat padanya. Sementara Nana justru tersenyum jahil dan merasa candaannya berefek pada Ren.
Namun meski sudah membalas perbuatan Nana padanya, wajah Ren berubah menjadi tanpa senyum.
"Hei, jangan tatap aku seperti itu dong."
"Mungkin aku akan serius."
Wajah Ren kembali mendekat pada wajah Nana, karena Ren mengatakan akan serius mungkin akan benar-benar serius.
"Aduh."
Justru satu pukulan jahil yang mendarat di kepala Nana.
Nana memegangi bagian kepalanya yang dipukul Ren.
Setelah itu tak ada percakapan antara mereka berdua hingga halte mulai ramai dengan calon penumpang bus.
Sekitar 15 menit jika dihitung dari kedatangan Ren dan Nana di halte ini, bus yang akan mereka berdua tumpangi terlihat.
Ren dan Nana berdiri bersamaan saat bus berhenti tepat di depan halte.
Didalam bus orang-orang berebut tempat duduk, sementara Nana dan Ren lebih memilih tempat duduk paling belakang.
Meski mereka duduk bersebelahan, namun masih tak ada percakapan yang terjadi.
Ren memberanikan diri bertanya terlebih dahulu "Lalu siapa yang akan kamu tembak?"
Nana terkejut dan menunduk, seakan tak ingin Ren tahu untuk siapa perasaannya.
Sambil memukul punggung Ren hingga merintih Nana menjawab "Mana mungkin aku bilang padamu."
"Hei, bantu aku latihan dong." Ren memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela bus kemudian berkata "Apa boleh buat."
"Asyik...."
"Tapi traktir bakso dulu."
"Lah...."
**
Hari ini Ren dan Nana tidak berangkat sekolah bersama karena Ren sudah berangkat lebih dulu untuk memenuhi jadwal piketnya.
Nana menunggu bus bersama calon penumpang lain tanpa adanya Ren yang biasa berangkat bersamanya.
Bus yang akan Nana tumpangi sudah tiba, ia dengan cepat masuk kedalam bus sebelum tempat duduk penuh.
Ia melihat ketempat duduk bus untuk mencari tempat yang cocok dengannya.
"Nana, kemari!"
"Laras."
Teman sekelas Nana menyuruhnya untuk duduk disampingnya.
Sangat jarang Laras dan Nana berangkat sekolah bersama, karena Nana lebih sering atau memilih berangkat bersama Ren.
Laras merupakan teman sebangku dan pertama Nana sejak kelas 10, Laras juga mengetahui Nana yang menyukai Ren.
"Terus, kemarin gimana." Dengan wajah lesu Nana menjawab "Aku malah bilang padanya kalau itu cuma latihan."
Dengan wajah terkejut Laras dengan keras berkata "Hah, apa apaan tuh?"
Seluruh penumpang bus memusatkan perhatian pada tempat duduk Nana dan Laras yang berisik tersebut.
"Seharusnya bukan seperti itu."
Wajah lesu Nana menjadi bertambah lesu. Sementara Nana tidak mengerti apa yang temannya kemarin lakukan.
"Padahal serangan sudah dilancarkan, tapi setelah itu mundur ya?" Dengan panik Nana menjawab "Bu-bukan, cuma mundur sementara!"
Keduanya lalu tertawa kecil bersamaan yang membuat mereka berdua kembali menjadi pusat perhatian penumpang bus.
**
"Hari ini aku ngerjain PR di rumahmu ya?"
"Baiklah."
Saat pulang sekolah Nana dan Ren dapat pulang bersama.
Mereka berdua berjalan dari pemberhentian bus ke rumah Ren.
Saat dirumah Ren, Nana mengerjakan PR miliknya dan Ren sibuk dengan tugasnya.
"Hei yang ini gimana?"
Nana menanyakan soal yang tidak ia pahami pada Ren.
Ren menghentikan menulisnya dan mendekat pada Nana.
"Ini Matematika, jangan tanya aku lah!"
"Oh, aku lupa kalau kamu lemah di pelajaran ini."
Sambil tersenyum tipis Nana kembali melanjutkan PR nya dan Ren mengeluarkan smartphonenya dan menyalakan musik.
Suasana kamar Ren kembali tanpa percakapan dan hanya ada suara dari musik yang diputar Ren dengan volume penuh.
Sementara itu, Nana memandangi Ren yang terlihat serius mengerjakan tugas sejarah sambil menggumamkan nada musik yang ia putar.
"Hei."
"Apa?"
"Kalau aku punya pacar, apa yang bakal kamu lakukan?"
Mata Ren melebar dan menghentikan menulisnya karena pertanyaan Nana tersebut.
Ren tidak langsung menjawab pertanyaan Nana, ia mengambil smartphonenya dan mematikan musik.
Dengan nada malas Ren menjawab "Yang bakal aku lakukan?, yah. Sebagai rekan latihanmu, aku bakal mendukungmu."
"Begitu ya?. Terimakasih."
"Semangat ya?"
**
Nana sudah pulang setelah tidak menyelesaikan PR nya karena Ren yang yang kurang pandai di pelajaran matematika.
Saat sedang bermain game di smartphonenya, Ren masih terbayang tentang latihan mengatakan perasaan Nana.
"Siapa yang bakal ia tembak ya?"
Ren mengehentikan sejenak permainannya dan merebahkan tubuhnya di kasur sambil menghela nafas.
"Aku memang pengecut ya?"
Sementara itu, Nana yang masih menyiapkan makan malam juga berpikir bagaimana menyatakan perasaannya pada Ren setelah sudah mengatakan hal itu hanya candaan.
'Semangat ya?', kata dari Ren itu yang selalu terbayang di pikiran Nana yang membuatnya menjadi sedikit ragu.
"Apa Ren akan tetap mendukung ku, tidak peduli siapa cowok yang aku suka?"
**
"Aku menyukaimu!!!"
Ren dikejutkan dengan kemunculan Nana dari balik gerbang sekolah, untungnya sore ini sekolah sudah sepi sehingga mereka berdua tidak merasa malu.
Itu hanya salah satu cara Nana yang ia pikirkan untuk menyatakan perasaannya.
Seminggu ini sudah berbagai cara nana gunakan untuk latihan menyatakan perasaannya.
Mulai mengejutkan Ren seperti yang yang ia lakukan saat ini, cara yang biasa hingga meniru cara tokoh perempuan di drama saat menyatakan perasaannya.
Namun, suatu hari Nana menggunakan cara yang bisa dibilang cukup bernyali.
Ia menyelinap kekamar Ren setelah mendapatkan ijin dari orangtu Ren.
Terlihat Ren yang masih tertidur pulas sambil memeluk gulingnya yang entah kenapa bisa membuat Nana cemburu.
Dengan senyum jahil, Nana memencet hidung Ren berkali kali dengan keras.
"Apaan sih?"
Ren perlahan membuka matanya dan melihat pemandangan pagi yang langka.
"Kenapa kau bisa masuk ke kamarku hah?!"
"Aku menyukaimu."
Ren terkejut dengan yang dikatakan oleh Nana, namun ia teringat masih membantu nana untuk menyatakan perasaannya.
**
Hari ini sekolah pulang lebih awal, namun Nana dan Ren tidak pulang bersama.
Meski ini bukan pertama kalinya mereka tidak pulang bersama, namun kesemlatan Nana menjadi berkurang untuk bersama Ren.
Nana dan Laras memilih taman daripada pulang langsung kerumah.
Sambil menikmati keramaian taman ini, Nana dan Laras meminum es yang mereka beli.
"Hei Nana, kenapa kamu ingin menyatakan perasaanmu?"
"Eh?" Jawaban Nana terjeda dan ia melanjutkan meminum es nya kemudian berkata "Gara-gara aku melihatnya."
Ingatan Nana kembali saat dia tidak sengaja membaca percakapan Ren dan salah satu adik kelas saat ia meminjam smartphone milik Ren.
"Aku melihat di pesan singkat Ren, ada adik kelas yang menembak Ren."
"Eh..., aku tidak percaya kalau dia sepopuler itu."
Sayangnya itu kenyataan, Ren sudah dua kali mengalami hal semacam ditembak.
Namun itu hanya membuat Ren seperti pengecut yang membuat seorang perempuan menyatakan perasaannya pada laki-laki.
Kedua pernyataan perasaan itu tidak pernah Ren balas, yang artinya secara tak langsung perempuan yang menembak Ren sudah tertolak.
"Setelah itu, aku merasa harus menyatakan perasaanku."
"Begitu ya, kamu nggak takut?"
"Eh?"
"Kalau lancar sih, bagus. Tapi, kalau sampai dia menolak mu...."
Nana tertunduk dengan melihat es nya yang tinggal setengah dari isinya dan merenungi perkataan temannya itu.
**
"Eh?"
"Kenapa?"
Hari ini Ren dan Nana dapat pulang bersama lagi meski dengan sedikit masalah.
Nana mencari uang di saku dan dalam tasnya, namun satu recehan pun tidak ia temukan.
Dan penagih ongkos bus masih menunggu Nana untuk membayar.
"Biar aku saja."
Karena Nana, Ren harus membayar ongkos untuk dua orang.
Nana tertunduk dengan wajah bersalah sekaligus malu karena hampir diturunkan di tengah jalan akibat tidak membayar ongkos.
Nana di luar memang terlihat seperti orang yang bersalah dan memiliki hutang 5.000 rupiah untuk ongkos bus dari Ren, namun Nana berkata lain di dalam hatinya.
"Aku memang menyukainya."
**
Dirumah, Nana hanya memegang smartphonenya dengan maksud tertentu.
Sesekali ia membuka pesan yang masuk, namun itu bukan pesan yang penting.
Ia bermaksud ingin mengirim pesan ke Ren, namun keberanian Nana belum terkumpul penuh.
"Aku benar-benar egois."
Nana teringat masa-masa awal ia mengenal Ren saat SD.
Sejak orang tuanya pindah ke lingkungan ini, Ren dan Nana menjadi tetangga dan sering bermain bersama karena memang lingkungan ini jarang ada anak seusia mereka berdua.
Nana menyebut dirinya egois karena saat kecil sering merepotkan Ren.
Mulai sering menangis saat tidak diajak bermain, yang menenangkan Nana adalah Ren dan memilih bermain bersamanya.
Hingga saat jajanan Nana terjatuh ke tanah, Ren memberikan jajanannya kepada Nana yang hampir menangis.
"Aku ingin memeluknya, sekali saja."
"Padahal Ren sudah memberiku banyak hal, tapi aku masih ingin lebih."
Dengan keberanian yang belum terkumpul sepenuhnya, Nana membuka aplikasi pesan singkatnya dan mencari kontak Ren.
Ia mulai memikirkan apa pesan yang akan ia kirimkan untuk Ren.
Ren bagi Nana adalah orang yang spesial, karena itu dia juga ingin menjadi sosok yang spesial bagi Ren.
Sementara itu, Ren yang masih sibuk dengan game nya teringat Nana dari pemain dengan nickname yang sama dengan Nana.
Ia mengehentikan permainannya karena sudah menang dan menghela nafas.
"Apa aku bakal bisa terus memberinya dukungan, ya?"
"Bukan soal bisa, tapi harus."
smartphone Ren yang ia lemparkan ke sampingnya berdering yang menandakan ada pesan masuk dari aplikasi pesan singkatnya.
Itu pesan singkat dari Nana.
Yang berisi ingin bertemu dengan Ren sepulang sekolah.
"Bukannya itu sudah sering?"
Ren tidak membalas pesan dari Nana tersebut, namun ada satu pesan lagi dari Nana.
Yang berisi jika besok adalah latihan yang terakhir.
"Akhirnya...."
**
Di toilet perempuan, sepulang sekolah dan hampir semua siswa sudah meninggalkan sekolah Nana mengumpulkan keberanian untuk menghadap Ren.
Dia memperbaiki penampilan dan riasan sederhana sambil mengumpulkan keberanian yang masih terkumpul sedikit dalam diri Nana.
Didalam kelas Ren masih bermain game online bersama temannya, tak lama kemudian temannya di datangi pacarnya yang kemudian meninggalkan Ren sendiri di kelas.
Ren masih harus menemui Nana sesuai pesan yang dikirimkan kemarin.
Ia memeriksa pesang yang masuk dan ada pesan dari Nana yang berisi ia sudah menunggu Ren di kelasnya.
Dengan santai Ren melangkah menuju kelas Nana karena ia sebentar lagi akan terbebas dari latihan tidak jelas Nana ini.
Dengan sedikit menghela nafas, Ren tiba di kelas Nana yang berada di lantai dua.
Nana yang melihat Ren berjalan dan sebentar lagi memasuki ruang kelasnya, mulai merasa tidak tenang dam gugup menguasainya.
"Tidak usah khawatir, aku kan sudah sering berlatih!"
Nana berteriak dalam hati meyakinkan diri jika ia akan mendapatkan jawaban positif dari Ren.
Ren memasuki ruang kelas dan melihat Nana duduk di tempatnya.
Sementara Nana melihat Ren yang berekspresi tenang dan tidak sepertinya yang tidak bisa tenang.
"Kau kelihatan siap banget."
"Iya, soalnya ini bakal jadi yang terakhir."
"Yang terakhir...?"
Ren mengehentikan sejenak katanya karena tidak ingin melihat Nana yang kecewa karena berpikir Ren tidak membaca dengan teliti pesan yang dikirimkan.
Kemudian ia tersenyum yang dibalas wajah gugup dari Nana.
Nana mengambil nafas dan memejamkan mata untuk mengeluarkan keberanian yang sudah ia kumpulkan.
"Sudah sejak lama.... Sudah sejak lama aku menyukaimu. Kumohon jadikan aku pacarmu."
Dengan wajah yang tertunduk untuk menyembunyikan ekspresi gugupnya, Nana menggenggam erat tangannya untuk bersiap menerima jawaban dari Ren.
"Menurutku sudah bagus."
"Eh?"
Dengan wajah yang tidak lagi gugup melainkan terkejut karena jawaban Ren, Nana merasa Ren benar-benar berpikir jika ini masih latihan.
"Kalau begitu ayo pulang. Berarti sudah selesai kan?, latihan pernyataan perasaanmu yang terkhir?"
Ren membalikkan badannya dan berjalan keluar kelas, sementara Nana masih berdiri melihat Ren dengan jawaban yang tidak ia inginkan.
Dalam hati Nana berkata "Ko-kok begini?, ini bukan latihan, lo." "Ini betulan." "Tapi..., perasaanku tidak tersampaikan."
Sebelum keluar kelas, Ren mengehentikan langkahnya.
"Buat yang betulan nanti, semangat, ya."
Nana tidak bereaksi apapun, namun hampir mengeluarkan air mata yang masih ia tahan.
Ren melanjutkan langkahnya dengan perlahan dan perasaan yang tidak karuan.
Dalam hati Nana memerintahkan Ren untuk mengehentikan langkahnya "Tunggu... Tunggu... Tunggu!"
"Ren, Tunggu!"
Nana berlari untuk menyusul Ren yang belum jauh dari pintu masuk kelasnya.
Ren terkejut dengan panggilan Nana dan tangannya yang langsung dipegang erat oleh Nana.
"Aku menyukaimu!. Semua hal soal latihan kemarin itu cuma bohongan!. Aku amat sangat menyukai mu, sampai-sampai tidak kuat menahannya."
Nana mengatakan hal yang sama berulang kali hingga ia mengeluarkan air mata yang ia tahan.
Ren yang melihat Nana menangis tetap diam tanpa mengatakan apapun.
Ren hampir tertawa dan membuat Nana terkejut. Nana mengusap air matanya dan melihat wajah Ren yang tersenyum lebar.
"Dirimu, cuma aku yang bisa menerimanya, 'kan?"
Nana terkejut melihat wajah Ren yang tersenyum, sementara air matanya tidak berhenti keluar.
Ren mendekati Nana, mengusap rambutnya dan melakukan hal yang Nana inginkan darinya.
Ren menarik Nana kembali masuk ke dalam kelasnya, memeluk erat Nana dan berkata "Dengan senang hati, aku terima perasaanmu."
Air mata yang Nana keluarkan semakin deras yang menandakan semakin bahagia dirinya.
Didalam hati Nana berkata "Peluk aku lebih lama lagi."