Namaku, Ayudi Parwita. Aku lahir di Kota Sukabumi pada tanggal 26 Agustus 2001. Usiaku 19 tahun. Tentu saja aku masih remaja. Aku diterima di salah satu Universitas di Jakarta. Awalnya aku iseng-iseng saja mengikuti tes beasiswa untuk dua semester. Tapi, tidak sangka namaku keluar di urutan paling atas dengan nilai yang sempurna.
Untung saja, aku punya saudara sepupu di Jakarta. Jadi, aku tidak perlu repot-repot mencari tempat tinggal lagi. Yah, bisa dibilang aku sangat beruntung saat ini.
Pagi ini adalah hari pertamaku di kampus. Jujur, aku sedikit kaget dan minder melihat kehidupan orang-orang yang kuliah disana. Dari mulai style dan mobil mewah mereka yang berjejer diparkiran. Gila! Mereka semua begitu cantik-cantik dan terlihat sangat keren.
Sementara aku? Kucel, dekil, dan sangat kampungan. Tidak heran jika aku mendapat tatapan aneh dari mereka dihari pertamaku ini. Mereka pasti mengira aku ini gelandangan yang tersesat disana.
Sumpah! Tatapan mereka membuatku muak di hari pertamaku masuk ke kampus ini. Bahkan, ada beberapa yang tertawa cekikikan menghina penampilanku. Awalnya ku abaikan, tapi lama kelamaan telingaku serasa memanas bersamaan dengan percikan api yang mulai menyulut dan memabakar amarahku.
"Akh...!" Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar.
Aku hendak ingin melempar botol air minum yang ku genggam saat ini pada dua cowok yang melewatiku yang tengah berbisik cekikikan sambil menghinaku saat ini.
"Sejak kapan, kampus kita menerima gelandangan seperti dia?"
"Entahlah. Mungkin dia sedang mengemis disini."
"Hei!" teriakku sambil melempar kuat-kuat botol air minum yang ku genggam itu, berharap lemparanku tepat mengenai sasaran.
Namun, oh my god! Mampus dah gua! Botol air minum yang ku lempar bukannya mengenai dua cowok yang ku maksudkan. Tetapi, malah mengenai cowok yang tengah berjalan ke arahnya. Lemparannya begitu tepat mengenai hidung cowok tersebut, hingga mengucurkan darah dari dua lubang hidungnya. Cowok itu, jatuh pingsan saat itu juga.
Tentu saja aku terkejut setengah mati. "Ha! Astaga!" Aku berlari menghampirinya.
"Hei! Bangun! Hei!" Aku terus menampar kedua pipinya cukup keras, berharap ia bangun.
Beberapa mahasiswa berkumpul mengerumuni kami, bahkan terdengar bisikan-bisikan pedas dari mereka tentang diriku yang telah membuat cowok ini pingsan.
Aku bingung harus berbuat apa? Lantas, aku membuka kaos kaki yang ku pakai yang sudah lima hari belum aku cuci sejak datang ke Jakarta. Aku langsung sumpalkan saja kaos kakiku yang sangat bau itu ke hidungnya.
Kedua hidung lelaki tersebut bergerak-gerak merespon bau yang tercium dari kaos kakinya. Lalu, tidak lama ia terbangun sambil mual-mual ingin muntah.
"Uee.. Uee! Bau apa ini? Mengerikan sekali!" serunya sambil mengibas-ngibaskan tangannya didepan hidung mancungnya dan mencoba mencari sesuatu yang segar untuk dihirup oleh hidungnya.
"Huh... Syukurlah! Cara ini berhasil!" ujarku merasa lega karena ia baik-baik saja.
Mata lelaki itu, memicing tajam tatkala ia dapati diriku yang tengah memakai kaos kakiku kembali. "Hei! Apa itu ulahmu?" tanyanya begitu dingin dan menatapku marah.
"Aku... hanya berusaha membangunkanmu, itu saja!" balasku sambil tersenyum tanpa ada rasa salah sedikit pun padanya.
"Apa?!" sahutnya. Ia meraba hidung yang terasa sakit karena tekena lemparan botol air minumku. Lalu, ia sangat terkejut sekali ketika mendapti darah segar yang mengucur dari hidungnya.
"Ah! Apa ini?!" serunya begitu heboh saat melihat darahnya sendiri. "Kenapa aku berdarah?" tambahnya lagi.
"Yaelah, lebay amat sih! Cuma berdarah gitu ajah heboh," sahutku kecut padanya.
"Kau..." Ia menunjukku sambil merapatkan kuat-kuat giginya.
Aku hanya menghela nafas dan mengeluarkan sapu tangan milikku. Hanya sekedar mencoba meminta maaf saja padanya.
"Udah, jangan marah-marah! Kemari, biar aku bersihkan!" seruku sambil mendekat dan mengelap darah yang keluar dari hidungnya.
Tiba-tiba cowok itu, menepis kasar tanganku dengan kasar. Lalu, ia pergi begitu saja dengan sangat tergesa-gesa. Tingkahnya berubah menjadi sangat aneh.
"Cih... Dasar aneh! Di bantuin malah kasar!" umpatku, entah kenapa merasa kesal saja.
Lantas, aku segera bangkit dan mencari kelasku didalam gedung besar itu. Aku sedikit kebingungan karena luasnya dan banyak sekali ruangan. Aku bahkan sampai tersesat saat mencari letak kelasku.
"Aduh! Nih, gedung susah amat yah, cari kelas doang!" gerutuku merasa lelah mencari.
Tidak lama akhirnya, aku pun menemukan kelasku tepat pada waktunya kelas akan dimulai. Jujur, aku suka sekolah disini. Benar-benar sangat berkualitas. Aku senang mngikuti materi yang disampaikan oleh Dosen, karena mudah sekali untuk diingat dan dipahami.
Usai kelas selesai aku sengaja menyetel musik dan menyibukkan telingaku dengan lagu-lagu regge yang ku sukai. Yah, setidaknya telingaku tidak akan panas mendengarkan cibiran dari orang-orang.
Lalu, tiba-tiba saja saat aku tengah berjalan di koridor seseorang sengaja melempar telur ke arahku. Aku terkejut menerima serangan dadakan dari mereka. Tidak hanya satu atau dua saja telur itu pecah memenuhi tubuhku dengan bau amisnya.
Tawa mereka pecah, mengalahkan suara musik yang tengah kudengarkan saat ini. Aku hanya bisa diam saja saat itu. Aku sama sekali tidak berdaya. Aku berusaha tegar dihadapan mereka. Tapi, entah kenapa air mataku lolos begitu saja.
Seseorang mencoba melempar satu telor terakhir yang ada digenggamannya ke arahku. Namun, entah datang dari mana, seorang lelaki menghadang telur yang melayang hampir mengenai kepalaku, digantikan oleh punggungnya yang lebar.
Aku melirik dan melihat wajah lelaki yang membelaku itu. Aku terkejut, ketika tahu bahwa orang yang membelaku adalah cowok yang ku lempar dengan botol air minum tadi.
"Kamu..."
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil tersenyum.
Sumpah! Tatapannya sangat berbeda dari tatapan yang ia berikan pertama kali. Tatapannya lebih, hangat dan damai daripada tadi. Ia seperti orang yang berbeda, namun dalam raga yang sama.
Beberapa mahasiswa yang berkumpul itu pun bubar setelah datangnya lelaki itu.
"Mereka memang selalu seperti itu... Selalu saja menganggu mahasiswa baru. Hallo! Aku Erik. Senang bertemu denganmu untuk pertama kalinya," sapanya memperkenalkan diri.
Apa? Pertama kali? Bukankah tadi pagi sudah bertemu? Aku terdiam heran dengan sikapnya yang begitu berbeda dari sebelumnya.
"Kamu tidak ingat aku?" tanyaku. Namun, ia menggeleng pelan. "Ah, sudahlah. Terimakasih, sudah membantuku," ujarku lagi tidak mau memikirkan apapun tentangnya. Toh, aku kagak peduli.
"Tidak perlu. Ini hanya kepribadianku saja. Aku tidak tahan, jika melihat orang lain diperlakukan tidak adil," balasnya.
"Hanya kepridian?" ulangku tidak paham akan maksudnya.
"Bersihkan tubuhmu, kau bau amis," ucapnya lagi tersenyum manis padaku. Lalu berlalu pergi begitu saja.
Dari sikap yang ia tunjukkan, sepertinya dia memang tidak sedang mengada-ngada saat ini. Dia benar-benar berbeda dari yang pertama kali bertemu. Bahkan, senyumannya nampak sangat tulus tidak seperti sebelumnya, yang terus saja marah-marah dan kasar.
Rasanya, aku sedang dipermainkan oleh orang yang sama dengan kepribadian mereka yang berbeda. Apa semua ini? Benar-benar sangat aneh.
Ah, tubuhku sangat bau amis. Sudahlah, lebih baik aku bersihkan diri daripada harus memikirkan soal kepribadian cowok yang bernama Erik itu. Bukan urusanku juga.