Hidup memberikan banyak teka teki, begitu juga dengan hati, hati juga memberikan sebuah teka teki tentang perasaan, apakah ada cinta tanpa ikatan ?, bagaimana rasa dan cara menjalaninya ?
bisa saja kisah cinta seperti itu memang ada.
Dama naranda, seorang pengusaha mudah yang sukses, ia meraih kesuksesannya di usia 20 tahun berkat ide dan pengetahuan serta penelitiannya di bidang industri, Dama hidup di apartemen pribadi miliknya, ia tidak sendiri ia ditemani oleh seorang wanita, yaitu karyawan di perusahaannya sendiri.
Namia sellandra, gadis cantik lulusan universitas terbaik di Jakarta ini memilih bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang industri (Retdus Grup), ia tinggal bersama Dama di apartemen milik si tampan itu.
Mereka berdua tidak mempunyai hubungan darah, mereka juga tidak memiliki hubungan yang dimakan cinta itu, namun mereka melakukan semua kegiatan yang dilakukan atas dasar cinta, sebuah hubungan yang rumit bukan.
"Na, hari ini aku pulang malam jangan menungguku."ucap Dama kepada Namia di dalam lift kantor.
"Memangnya mau kemana?"tanya Namia menggandeng tangan Dama.
"Rahasia."balas Dama, Namia menganggukan kepalanya.
"Kalau kau makan diluar berarti aku tidak perlu masak bukan."balas Namia melihat wajah Dama.
Dama tak menjawabnya, ia hanya tersenyum mengelus kepala Namia, mereka berpisah di parkiran, Dama pergi menggunakan mobilnya dan begitu pula dengan Namia yang langsung pulang ke apartemen.
Saat malam tiba, Dama pulang dengan keadaan mabuk, Namia selalu menemani Dama disaat seperti ini, Dama meracau memanggil namanya yang membuat Namia sangat senang, lelaki itu sangat membutuhkan Namia, tentu saja itu suatu kebahagiaan bagi gadis itu, hingga munculah kejahilan Namia, ia ingin menanyakan tentang hubungan apa yang sedang mereka jalani ini, karena biasanya saat seseorang dalam pengaruh alkohol ia akan menjadi orang yang sangat jujur.
"Da, sebenarnya hubungan macam apa yang kita jalani sekarang?"tanya Namia lembut mengusap usap kepala Dama.
"Haaaaa memangnya menurutmu hubungan seperti apa?."balas Dama balik bertanya.
"Aku juga tidak tahu, aku sangat nyaman saat bersamamu aku bahagia, aku ingin memilikimu seutuhnya, namun aku tak ingin berpacaran."jelas Namia.
Dama tidak menjawab itu, ia lebih memilih tidur dan paha Namia yang menjadi bantalnya, Namia tampak agak kecewa karena tidak mendapat jawaban, hubungan yang konyol itu sudah mereka jalani selama 4 tahun, dan itu bukanlah waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan.
Keesokan harinya Dama yang lebih dulu bangun dari Namia, ia memandangi wajah gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan, sudah 4 tahun gadis itu menemani dirinya, selama 4 tahun itu pula ia dilayani seperti seorang suami istri, ya gadis itu sudah memberikan semua yang ia punya, baik itu perasaan dan tubuhnya sendiri untuk Dama, ia mengingat apa yang ditanyakan oleh gadis itu malam tadi, karena ia masih mempunyai sedikit kesadaran.
"Hoamm...kau sudah bangun ya?"tanya Namia mengagetkan Dama membuyarkan lamunannya.
"Kau tau suamimu sudah bangun, lalu kau masih bermalas malasan."balas Dama mengelus kepala Namia, wanita tampak tersenyum bahagia dengan apa yang dikatakan oleh Dama.
"Heum...iya aku bangun dan membuat sarapan untuk suamiku."balas Namia membalas gurauan Dama.
"Kalau sarapannya tidak enak, maka kau yang akan kulahap pagi ini."balas Dama menggigit kecil hidung Namia.
"Hahaha dasar mesum."balas Namia memeluk Dama.
"Selamat pagi wahai bidadari surga."bisik Dama mendesah menggetarkan tubuhnya menjadi agak bernafsu.
Cuppp
"Selamat pagi wahai pangeran bumi."balas Namia mencium bibir lelaki tampan yang hanya tersenyum lalu membalas ciumannya.
Pagi itu sangat hangat, sepasang insan yang tak mempunyai hubungan sedang bercumbu layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
Apa mereka hanya tak ingin mengakui jika mereka saling mencintai, karena mereka yang memilih untuk tidak mempunyai ikatan, dan mereka memutuskan untuk tidak menjadi sepasang kekasih, lalu apa yang mereka inginkan ? apa alasan dibalik itu semua, mereka sanggup menjalani hidup tanpa sebuah ikatan yang orang lain tidak menginginkannya sama sekali.
"Hari ini aku tidak ke kantor."ucap Dama mencium bahu Namia yang duduk dipangkuannya.
"Kenapa?, apa kau merasa tidak enak badan."tanya Namia melingkarkan kedua tangannya di leher Dama.
"Tidak, aku sehat, aku hanya ingin menemanimu hari ini."balas Dama yang tentu saja membuat Namia tersenyum bahagia.
"Heum...kalau begitu bagaimana kalau kita ke puncak saja."balas Namia sementara Dama hanya mengangguk menuruti kemauan Namia.
Siang itu mereka berangkat dari Jakarta menuju Puncak Bogor, mereka ingin menghabiskan waktu di kota hujan itu, hanya berdua tak ada orang lain.
Mereka menikmati perjalanan itu, mereka menikmati suasana yang damai dan tentram serta dingin yang membuat tubuh mereka selalu menempel seperti permen karet yang lengket.
Hubungan mereka memang hubungan yang tak mempunyai status, namun mereka saling mengasihi satu sama lain, bahkan cemburu ketika salah satu dari mereka tampak akrab dengan lelaki atau gadis lain, mungkin mereka belum menyadari bahwa mereka memang ditakdirkan bersama.
Setelah menjalani hubungan mesum itu selama 4 tahun, selama itu pula mereka bertahan, lalu apa artinya semua hubungan itu?, hari itu Dama tampak berbeda, ia memeluk erat tubuh Namia dang menangis, tentu saja hal itu membuat Namia bingung dan bertanya tanya, Dama menjelaskan semuanya mereka duduk di kursi dibawah pohon rimbun, Dama memegang tangan Namia dan dengan tegas mengatakan bahwa hubungan mereka hanya sampai disini, hubungan apa yang dimaksud oleh Dama adalah, Namia dan dirinya tak perlu tinggal bersama lagi, Namia tidak perlu melayaninya lagi.
Hening, tak ada kata apapun, lalu air mata mulai berjatuhan dari kelopak mata gadis cantik itu, tubuhnya bergetar hebat, seketika tubuhnya tampak tak berdaya, hanya tangis yang ada, hanya rasa takut yang mulai membayangi, hanya kenangan yang akan ditinggalkan lalu membekas, akhirnya apa yang diharapkan Namia tidak seperti apa yang terjadi, ia mengharapkan sebuah ketulusan yang diikat dengan cintah dalam jalinan tali kasih yang sah, yaitu pernikahan.
Selama 4 tahun ia menunggu, selama 4 tahun ia tak pernah ingin membebani Dama dengan apa yang diharapkannya, selama 4 tahun dia berjuang mempertahankan semuanya, selamat 4 tahun ia menantikan sebuah kepastian, selama 4 tahun ia berseteru dengan keluarganya karena pilihannya menolak semua lamaran lelaki lain, namun yang ia dapat hanyalah luka serta waktu yang terbuang sia sia, ia akhirnya menyadari apa yang telah ia pertahankan selama ini itu bukan yang di pertahankan oleh Dama.
Namia tidak menyesali keputusannya dulu, ia berterimakasih karena sudah diberikan kesempatan untuk hidup bersama orang yang ia cintai selama 4 tahun itu, Namia mengerti keadaanlah yang memaksa Dama untuk tidak menikahinya, selama Dama bahagia maka ia akan melakukan apa yang menjadi kebahagiaan lelaki itu, termasuk perpisahan yang bisa membuat Dama kelak bahagia.
Namia memeluk erat tubuh yang setiap malam memeluknya saat tidur, ia ingin memeluk tubuh itu untuk terakhir kalinya sebelum berpisah, tampak air mata dari keduanya tak terbendung, Dama menangis menyadari betapa sia sianya 4 tahun yang di pertahankan oleh Namia, ia menyesal menyadarinya setelah 4 tahun, ia merasa sangat menyakiti hati Namia yang memeluknya erat, dan mereka berpisah.
6 bulan kemudian…
Hari hari yang dijalani Namia terasa sangat hampa, terlebih lagi ia harus menuruti keinginan keluarganya untuk menikah dengan sebuah perjodohan, Nami tampak seperti orang gila, ia hanya terus terusan menangis di kamarnya mengurung diri menunggu orang orang yang datang untuk melamarnya, namun ia menolaknya yang dia tunggu itu adalah Dama dia tidak menunggu orang lain selain lelaki itu.
Setidaknya akan ada satu lelaki yang datang untuk melamarnya, saat ia sedang berbaring menangis ibunya memanggilnya untuk menemui orang yang ingin melamarnya.
"Nak turunlah ke bawah dan temui, jika kau tak suka kau boleh menolaknya."ucap sang ibu memeluk Namia, matanya sembab karena ia hanya menangis.
"Aku tidak ingin menikah Bu..hiks..hiks"balas Namia menangis dalam pelukan ibunya.
"Iya, kau boleh menolaknya jika kau tak suka."jawab sang ibu menenangkan Namia.
Mereka pun turun menapaki satu persatu anak tangga, perlahan terlihatlah beberapa orang yang sedang menunggunya, namun tangisnya pecah saat ia melihat seorang lelaki yang berdiri menatapnya sendu, rasa rindunya yang sudah tidak tertampung lagi serta cintanya yang luar biasa ia bagai tak menapaki anak tangga lagi ia berlari dan disambut pelukan yang sangat ia rindukan, semua mata yang melihat itu tampak bingung, melihat kejadian itu, Bagaimana tidak bahagia, orang yang ia cintai datang melamarnya,
Dama menciumi wajah Namia tanpa menghiraukan orang orang yang melihatnya termasuk keluarganya sendiri yang tak percaya akan perbuatan Dama yang begitu mengejutkan.
Air mata bahagia itu berbeda dengan tangis pilu, wajah Namia tampak cerah dan bersemangat, Dama menghapus air matanya dengan kecupan.
"Apakah istriku ini baik baik saja?"tanya Dama menggoda Namia yang menangis tersedu sedu.
"Apakah suamiku ini akan membawaku pergi."jawab Namia balik bertanya kepada Dama dengan mata yang berkaca kaca.
Orang tua mereka tampak bingung menatap satu sama lain, dan akan menikahkan mereka secepatnya, mereka juga menangis haru atas kebahagiaan itu, mereka tak menyangka anak mereka yang tampak gila ternyata karena lamanya berpisah dengan belahan hati mereka.
Setelah pertemuan itu, mereka akhirnya menikah, mereka kembali lagi kerumah lama mereka, apartemen yang menjadi saksi atas hubungan tanpa ikatan yang mereka jalin selama 4 tahun.
Kebahagiaan yang tak dapat ternilai dengan apapun, mereka hidup bahagia dengan orang yang mereka cintai, 4 tahun yang tak sia sia, 4 tahun yang memberikan sebuah teka teki perasaan yang membingungkan namun bertujuan menyatukan dalam kebahagiaan yang sesungguhnya (Pernikahan).
.
.
.
.
.
.
.
.
Tamat.