Kenapa aku harus terlahir? kenapa aku harus hidup? untuk apa aku ada di dunia ini? hidupku kacau, hariku suram, hatiku berkabut.
Kenapa aku terlahir begini, aku juga ingin seperti mereka yang berlari, saling kejar mengejar, berjalan santai. Mereka tampak bahagia, ceria, gembira dan bersenang-senang bersama keluarga mereka. Aku juga ingin sangat-sangat ingin.
Orang tua ku seakan tak peduli mereka hanya fokus kerja, kerja dan kerja aku sendiri disini, tak bisa bergerak tanpa kursi yah tanpa kursi roda.
Kaki ku lumpuh dari lahir, aku selalu menangis meratapi buruk nya nasib ku, hanya bisa terbaring di ranjang, tak bisa merasakan kaki ku seperti mereka-mereka yang sempurna.
Kenapa-kenapa aku harus dilahirkan, aku tak berguna untuk apa aku ada, aku tak berdaya untuk apa aku hidup, harus ibuku tak melahirkan ku, lihatlah mereka sekarang pergi pagi pulang larut malam tanpa memperdulikan ku tanpa memerhatikan ku, aku kesepian kumohon aku butuh seseorang sebagai sandaran.
"Bi..bibiii.." teriak ku
"iyaaa sebentar, nona mau apa?" tanya nya kepadaku
Namanya bi sumi dia ituuu pengasuh ku, lucu bukan usia ku sudah 16 tahun tapi masih seperti bayi yang punya baby sister, makan minum di ambilin, baju di siapin, semua yang harus nya bisa aku lakukan sendiri bahkan itu hal kecil, tak bisa aku lakukan, aku cuman gadis cacat.
"aku pengen keluar" ucap ku
dia medorong ku keluar rumah
"udah bi di teras aja" ucapku menghentikan dorongan nya pada kursi roda
"yaudah bibi ke dapur dulu ya, non mau lanjutin masaknya" pamit nya aku hanya mengangguk
Ketika aku sedang melihat-lihat kebahagian orang lain, rasa iri ku mulai muncul ketika melihat anak-anak sebaya ku bercanda tawa bersama teman-temannya, mereka kelihatan nya pulang baru pulang sekolah, aku juga ingin. Aku pernah sekolah namun karena salah satu fisik ku tak bekerja mereka menghina ku, mengejek ku, hingga aku tak mau lagi bersekolah dan mengurung diri, rasa nya selalu menyesakan ketika aku teringat kata-kata mereka "si cacat, si lumpuh".
Apakah ini salah ku? aku juga ingin seperti mereka,
Apa ini keinginan ku? bukan aku tak pernah ingin terlahir lumpuh, jika bisa aku tak ingin terlahir di dunia ini, jika saja tuhan mau mendengar doa ku, aku ingin mati saja.
***
Ketika aku sedang menonton tv terdengar suara mobil memasuki garasi, sepertinya mereka pulang yah mereka itu ayah dan ibuku.
"kami pulangg" suara mereka terdengar berbarengan dengan suara pintu terbuka
"kamu sedang nonton apa sayang?" tanya ibuku sembari mengelus rambut ku begitupun ayah
"iya kayak nya seru" timpal ayah
"tapi tak seseru bekerja kan, buktinya ayah dan ibu sangat betah di kantor bahkan hari libur pun masih tetap bekerja sampai tak ada waktu untuk menemani anak nya yang cacat ini" ucap ku menyindir
mereka sejenak terdiam mungkin kata-kata ku benar sehingga mereka memilih diam.
"kami bekerja mencari uang sayang, untuk dirimu, untuk masa depan mu, dan untuk kit-"
"Aku tak butuh uang, aku ingin bisa berjalan, kalaupun tak bisa aku hanya butuh kalian berada disisi ku menemani bukan malah pergi, menjaga bukan malah terjaga karena selalu bekerja hingga malam, apa menurut kalian aku bahagia? apa di wajah ku ada raut ceria? aku menderita sangat-sangat menderita jika saja aku tak terlahir di dunia, apa kalian menyayangiku? apa kalian mencintai ku? maka luangkan lah waktu untuk ku bukan di habiskan oleh pekerjaan, aku yang anak kalian bukan komputer, laptop, handphone,kertas laporan, uang, atau semacam nya anak mu itu aku yang tak pernah kalian utamakan" malam ini aku tumpahkan amarah ku, aku keluarkan segala kesal ku, sungguh aku tak kuat lagi jika harus terus menahannya kesal, amarah, sakit, mereka menggerogoti jiwa ku.
"Bi..bibi...bibi" aku terus berteriak memanggil bi sumi, kulihat dia datang dengan terponggoh-ponggoh
"iya non?" ucap nya dengan napas yang masih tersenggal-senggal
"bawa aku kekamar! aku mau istirahat" ucap ku
aya ibuku hanya terdiam mungkin dengan perkataan ku barusan mereka akan sadar, bahwa aku tak pernah bahagia.
***
esok nya ku pikir mereka akan berubah, mereka akan menemani ku untuk hari ini saja, ternyata aku salah mereka malah pergi bekerja bahkan lebih pagi dari biasanya.
Sungguh sia-sia saja aku bicara mungkin kalau aku mati mereka akan berpikir dan menyesal atqu mungkin mereka akan terbebas tak ada lagi anak memalukan yang lumpuh, atau aku bunuh diri saja ya itu akan mempercepat ke pergianku
Sepanjang hari ini hanya ku habiskan untuk berdiam diri dikamar dan merenung seraya berpikir haruskah aku bunuh diri agar aku tak menjadi beban??
Hari kedua, ketiga, keempat setelah aku mengungkapkan kekesalan ku, mereka masih sama, pergi pagi-pagi buta pulang larut malam.
Hari kelima, sore harinya aku menonton televisi, kulihat ada berita soal 7 sosok pria yang berkampanye tentang LOVE MYSELF, menyuarakan, menggaungkan, tentang mencintai diri sendiri.
"Huh omong kosong, kalian tampan, sempurna, banyak yang mencintai kalian, mana mungkin kalian merasakan apa yang aku rasakan. Membenci diri sendiri, membenci keadaan, membenci semuanya, omong kosong apa itu tentang mencintai diri sendiri, keadaan bahkan tak pernah berpihak padaku, orang tuaku bahkan tak pernah memperdulikan ku" ku matikan tv karena untuk apa menonton omong kosong.
***
keesokan harinya mereka tetap sama, aku muak, dengan keadaan ini jika saja kaki ini bisa di gerakan aku akan mengejar mereka dan memohon untuk tidak bekerja atau aku akan pergi kemana saja agar mereka tak menemukan ku.
Sudah, sudah cukup aku menderita, aku akan mengakhiri semuanya sesak, amarah, dan hidupku
Ku ambil pisau di atas meja dapur, kubawa kekamar ku dan menguncinya.
Tuhan aku lelah biarkan aku pulang padamu, sudaj cukup penderitaan ini, selamat tinggal ayah, ibu selamat tinggal bibi terimakasih karena sudah merawat ku maaf aku selalu menyusahkan.
sreeett
ku potong pergelangan tangan kiri ku darah mengalir seketika...
sakiiitt
tapi ku yakin setelah ini aku akan bahagia di surga...
pranggg
***
"kami pulang..."
" bi dima-?"
prranggg
"suara apa itu bi..?"
"gak tau nyonya, tapi suara nya dari kamar nona"
"pah ayo kita lihat"
"mah pintunya di kunci"
"sayang ini mamah buka pintunya nak!"
"dobrak aja pah, mama khawatir terjadi apa-apa sama anak kita"
"iya mah"
brukk...bruuk, brakk pintu terbuka seketika mata mereka terkesiap melihat darah segar membanjiri kamar,
"sayyyaangg......"
"noonaaa......"
"pah cepet angkat kita kerumah sakit"
itulah yang suara terakhir yang aku denag sebelum kesadaran ku lenyap.
***
ketika aku bangun aroma obat-obatan menyeruak masuk ke penciuman ku, ruangan bernuansa putih yang pertama ku lihat.
dimana ini apa ini di surga tapi kenapa bau rumah sakit, dan kenapa ada ayah dan ibu apa mereka juga meninggal.
"sayang kamu udah sadar? ini mamah na" ucapnya pada ku tapi mulut ku terasa terkunci, sulit sekali untuk bicara.
datanglah seorang perempuan memakai jas putih, apa ia bidadari? dia memeriksa denyut nadi ku dan detak jantungku, apa dia memastikan aku masih hidup atau mati.
"tekanan darahnya normal, detak jantung juga sudah kembali normal, tinggal pemulihan saja" kata perempuan tadi
" terimakasih dokter" ucap ibuku
" iya mari bu, mari pak" ucap nya yang aku yakin bahwa dia dokter
"iya dokter" ucap ayah ku
tatapan mereka berdua beralih padaku
"sayang ada yang sakit? atau kamu mau minum? mau makan?" tanya mereka beruntun
Aku tak bisa berkata-kata apa mereka orang tua ku tapi mengapa mereka berbeda sangat peduli,
lalu kenapa aku masih hidup kenapa mereka malah membawa ku ke rumah sakit, kenapa aku tak mati saja. Tak terasa air mataku mengalir.
"sayang maafin ibu, maafin ayah, kami salah na kami salah besar harus nya kami lebih mementingkan pekerjaan dan mencari uang tapi kami sangat menyayangi mu nak, ini semua kami lakukan untuk biaya pengobatan kamu, kami ingin kami sembuh, ingin melihat kamu berjalan dan bermain bersama anak-anak sebaya mu, tapi kami lupa kebahagian mu adalah yang utama kami lupa bahwa kamu butuh dukungan... maaf sungguh maafkan kami nak" ibu sudah berderai air mata, sorot mata mereka juga memancarkan penyesalan
Aku menangis, disini tidak ada yang salah mereka ingin aku bisa berjalan dan terus mencari uang untuk biaya pengobatan tapi mereka lupa bahwa aku juga butuh dukungan, butuh sandaran.
Dan seharus nya aku sadar bahwa mereka berangkat pagi pulang malam semuanya untuk ku, lelah sudah pasti tapi mereka tak pernah mengeluh, seharusnya aku bersyukur mempunyai orang tua seperti mereka.
"maafin cinta juga ibu ayah, cinta salah udah buat kalian khawatir, seharus nya cinta gak bunuh diri, seharusnya cinta gak egois, cinta udah repotin ayah sama ibu, seharusnya cinta bersyukur punya ayah dan ibu yang sayang sama cinta" ucap ku sambil menangis sungguh aku menyesal dengan perbuatan ku, aku menyesal dengan semua keluhan ku, maaf kan aku tuhan yang tak pernah bersyukur.
"kamu gak pernah repotin ayah sama ibu, kamu itu anak kebanggaan kami, jadi jangan pernah ngerasa gitu, maafin ayah sama ibu yah yang gak ngerti tentang keinginan kamu" ucap ayah
aku hanya mengangguk, mereka pun mendekat dan memeluk ku erat, sungguh bahagia rasanya, hilang sudah beban hidup yang selama ini aku rasakan.
***
"ayah ibu cepetan aku pengen liat air mancur dari mulut singa nya" ucap ku riang dan tak sabar
"iyah..iyah bentar ibu ambil dompet dulu" jawab ibu dari kamar
"udah mah?" tanya ayah
"udah yuk berangkat" ajak ibu
***
"waah bagus banget, air nya keluar dari mulut" ucap ku riang
"kamu seneng sayang?" tanya ibu
"iyah aku seneng bangett" jawab ku
aku terus melihat-lihat hingga pandangan ku tertuju pada seorang anak yang tengah duduk sembari memegang tongkat aku ingin sekali menyapa nya sehingga aku menggerakan kursi roda ku ke arah nya.
"hai, my name is cinta" ucapku memulai perkenalan
"ooh hai i'm sofia, where you from?" ucap nya
"i'm from indonesia, and you?" tanya ku kembali
"aku juga berasal dari indonesia" jawab nya
"waah aku tak menyangka bisa bertemu dengan orang indonesia disini, aku baru kali ini keluar negri jadi aku agak lebayy heeehhee" ucap ku malu
" itu wajar kok" jawab nya tersenyum
tapi ada yang aneh dengan matanya, tatapannya terlihat kosong, akupun mengangkat tangan ku ke depan wajah nya dan menggerakan nya ke kiri dan kanan. tapi kemudian dia memegang tangan ku dan...
"aku buta, tak bisa melihat indah nya dunia" ucapnya sembari tersenyum
aku terkejut
"kamu beneran gak bisa lihat, tapi kenapa tadi kamu bisa tau aku lagi ngecek mata kamu bisa liat apa enggak? maaf sebelumnya" tanya ku penasaran
" aku hanya buta mata, masih bisa merasakan angin akibat gerakan mu" jawabnya
"pasti gelap ya... tak bisa melihat?"tanyaku
"iyah memang gelap, tapi aku masih bisa mendengar, masih bisa berjalan, masih bisa berbicara dan menghirup udara itu adalah sebuah anugrah tuhan ada aku mensyukurinya" ucap nya
"tapi bukannya gak adil yah orang lain itu sempurna bisa melihat, bisa berjalan, tidak seperti aku dan kamu yang di ambil salah indera nya" ucapku
"semuanya adil kok, banyak orang yang sempurna fisik tapi tak bahagia batin, ada orang fisik nya kurang tapi bahagia batin nya, ada yang sempurna fisik dan juga hatinya, ada juga fisiknya kurang batinya apalagi, ada yang bersyukur ada juga yang kufur semua itu terletak pada hati masing-masing, dan gimana kita menyikapinya....
namun yang paling penting cintai diri mu sendiri karena dengan mencintai diri sendiri kamu bisa mendapatkan kebahagian sesungguhnya" ucapnya sungguh itu menyentuh hati
"LOVE MYSELF" gumam ku
"yah, apa kamu tau itu adalah kampanye yang di gaungkan oleh grup boyband korea BTS kamu pernah mendengar nya" jelasnya
"aku pernah mendengar itu, dulu omongan mereka ku anggap omong kosong, tapi setelah aku amati dan rasakan juga perkataan mereka benar ternyata, ah aku harus banyak melihat kata-kata penyemagat dari pada kata keluh kesah" ucapku padanya
" aku banyak belajar dari mereka aku memang tak bisa melihat, tapi aku bisa merasakan mereka itu tulus melalui musik mereka membawa perubahan aku sangat berterimakasih atas jasa mereka" ucapnya
"aku akan coba menonton dan mendengar suara mereka" ucap ku tersenyum
"sayanggg kamu dari mana aja ibu sama ayah nyariin kamu, tiba-tiba kamu udah gaada aja bikin khawatir" ucap ibu yang datang dengan ayah, terlihat dimata mereka mencemaskan ku, aku tersenyum
"maaf ibu ayah, aku melihat nya lalu aku ingin berkenalan, namanya sofia" ucapku memperkenalkan sofia pada ayah ibuku
"hallo sofia" ucap ayah dan ibu bebarengan
"hallo paman bibi" ucap sofia
kami berbincang-bincang, makan, berswafoto bersama sofia juga.
LOVE MYSELF
LOVE YOURSELF
~end~