Pacaran sudah tiga tahun, dan mereka sudah saling merencanakan pernikahan, bahkan ingin mempunyai anak berapa. Tapi sebuah musibah menimpa Tian kekasih Megi membuat laki laki romantis tersebut hilang ingatan tentang memory Cintanya dengan Megi. Dan hanya mengingat Cinta pertama nya Salsa, kekasih Tian sebelum berpacaran dengan Megi.
Antara kecewa, sakit yang luar biasa tapi tidak berdarah, dan rasa ribuan duri menghujani hati kecil nya, Hancur. Itulah semua kata yang pantas Megi rasakan sekarang setelah perjalanan tiga tahun Cintanya dengan Tian tiba tiba sebuah nasib takdir memisahkan mereka dengan kejamnya.
Mencoba untuk tetap kuat di dalam kepungan badai berduri Megi mencoba untuk tegar dan kuat, menahan moment dan posisi yang salah. Mungkin selama ini Cinta yang berarti dalam hidupnya adalah Menjaga seseorang untuk orang lain.
Satu bulan telah terlewatnya masa kritis Tian saat menghadapi masa masa hidup-matinya, dan Megi yang selalu setia mendampingi Tian siang ataupun malam. Tapi dihadiahi tuhan oleh Tian yang sekarang tidak mengenalnya sama sekali.
Tian mengalami kecelakaan beruntun dua mobil dan beberapa motor bahkan ada yang dinyatakan meninggal ditempat karena kecelakaan tersebut, dan ada juga yang koma salah satunya Tian yang koma tiga minggu saat sadar ia mengaku tidak mengenali siapa siapa selain keluar, kekasihnya Salsa, dan sahabat dekatnya, sedangkan Megi dianggap upik abu dalam hidupnya.
Dan hari ini mereka berkumpul di tempat biasa dulu mereka berkumpul saat masih sekolah menengah atas yaitu cafe mercua.
"Meg yang sabar ya!!, " seru Gibran teman dekat Tian untuk menguatkan Megi, yang sedari tadi melihat kemesraan antara Salsa dan Tian kekasih nya larat mantan kekasihnya yang bahkan tidak ada kata putus.
"Mungkin ini jalan yang terbaik buat aku Gib, " lirih Megi yang masih di dengar oleh ketiga teman Tian. Sedangkan Tian tidak menghiraukan Megi, Salsa sebenarnya kasihan dengan Megi tapi jika diingatkan terus terang Tian yang akan mendapatkan resiko buruknya.
"Megi Sorry!!, "cicit Salsa. Megi terpaku seketika tapi ia langsung menetralkan diri.
"Takdir memang kejam ya, " seru Megi sambil menunduk. Seketika itu menambah rasa bersalah Salsa. Bukan seperti perempuan haus akan Cinta, Salsa merupakan gadis yang baik hati seperti Megi. Ia putus dengan Tian karena kemauannya untuk meneruskan ilmu pengetahuan tidak dulu dengan pacaran, malah sekarang nasib membuat dirinya bersatu kembali dengan Tian dan menyakiti hati seseorang.
"Kenapa kamu minta maaf sama dia, " tanya Tian. Sontak membuat pasang mata yang ada di meja tersebut menghadap ke arahnya, tidak terkecuali Megi.
"Nggak papa, " ujar Salsa. Megi menunduk menahan air mata sejuta kalinya supaya tidak keluar tapi semua nya tidak bisa ia tahan, meluncur dengan bebas di permukaan pipi chuby milik Megi. Ia menggigit bibir bawahnya dengan supaya tidak terisak, membuat kedua matanya memerah untuk menahan air mata kesekian kalinya.
"Kok lho nangis sih, seharusnya lho ngehargain Salsa karena udah minta maaf ke lho tampa sebab!, " seru Tian, itupun membuat terkejut Megi karena dengan nadanya yang sedikit ketus. Apalagi dengan kata lho-gue.
Raga teman Tian yang melihat suasana semakin panas mengajak Megi untuk mencari tempat lain guna menenangkan dirinya, sedangkan Salsa hanya bisa diam tampa sepatah kata pun.
Raga dan Megi pergi ke tempat yang tidak terlalu ramai, disitulah sebuah buliran bening yang sempat ia tahan dari tadi lolos dengan banyaknya membasahi pipi chuby Megi. Cukup lama ia menangis sampai matanya sedikit bengkak, Raga hanya bisa menenangkan Megi dengan kata kata mutiaranya.
"Ga, gue titip ini ya tolong berikan pada Tian!!, " seru Megi menyerahkan amplop merah dengan sedikit hiasan tulisan END berwarna gold di amplop tersebut.
"Apa ini? Lho mau kemana?, " tanya Raga.
"Sudah cukup untuk satu bulan menahan penderitaan Ga, gue juga butuh bahagia jika ia telah bahagia walaupun dengan orang lain gue juga turut iku bahagia, walau hati ini tertusukkan ribuan duri takdir, lho tau kan Ga sakit banget!!, " ujar Megi menggebu-gebu menahan tangisnya yang ingin pecah kembali.
Raga menatap sendu Megi, betapa hancur nya perempuan berhati madu di depannya tersebut. Ingin sekali ia memeluk dan menguatkannya tapi demikian tidak akan mungkin. Ia tau batasan sebagai sahabat dan kawan.
"Lantas lho mau kemana?, " tanya Raga.
"Hari ini-, " Megi mengecek jam tangan Bvlgari Diagono Chronograph milik telah menunjukkan pukul 08.33 WIB. "Nanti jam 9 aku berangkat ke Amerika, dan ini pertemuan gue sama Tian yang terakhir kali, mungkin disana gue bisa sedikit refresing membersihkan masa lalu dan kembali ke jalan depan, " ujar Megi membersihkan air mata yang sedikit berbekas di mukanya.
"Jangan lupa berikan ya!!, " sambung Megi lalu beranjak berdiri diikuti oleh Raga yang juga berdiri.
"Gue boleh peluk lho, mungkin untuk terakhir kali, hahah, " seru Raga dengan tawa getirnya. Megi menatap Raga yang tertawa hambar lalu memeluk erat Raga begitu pun Raga yang juga membalas pelukan nya. "Jangan lupain gue ya Ga, "
"Justru gue yang berpesan pada lho jangan lupain gue yang pernah menjadi teman susah senang lho, " ujar Raga melepas pelukan Megi. Setelah sedikit bersendu Ria perpisahan akhirnya Megi pulang karena telah di telpon oleh Ayahnya untuk Take.
Raga berjalan dengan lesu menuju ke meja teman temannya duduk bersama. Gibran, Varo dan juga Salsa menatap nya tanya dimana Megi bukankah bersamanya.
Raga melempar secarik kertas amplop yang dititipkan Megi padanya untuk Tian. "Baca Buat lho," seru setelah nya. Tian mengerutkan keningnya tapi masih saja membuka amplop tersebut tampa bertanya lagi dan lagi. Saat membuka pertama kali yang ia lihat adalah secarik surat.
"SURAT TERAKHIR, "
Aku mencintaimu, seperti angin mencintai bunga
Seperti hujan mencintai pelangi
Namun yang ku terima hanyalah duri tajam mu
Namun nyatanya kau bahagia saat ku pergi
Jujur saja ku berharap kau mengerti
Tapi semakin ku mengenalmu aku tahu akan sulit untuk mu bisa mencintaiku
Aku tak punya sesuatu yang pantas
Yang bisa membuatmu melihat ku
Baiklah aku pergi
Bukan ku lelah, bukanku menyerah
Bila jauh dariku membuatmu bahagia
Aku berharap akan ada seseorang yang mencintaimu melebihi ku
Dan ku berharap kau tak sia-siakannya sebagaimana kau membuangku
Aku akan sangat rindu bagaimana aku berusaha tinggal di hati kecilmu
Meski ternyata tiada tempat tersisa untukku disana
Baiklah aku pergi, maafkan jika ku merusak hidupmu
Ini yang terakhir yang bisa ku berikan
Semata ku hanya ingin melihat kau tersenyum
Ku berharap kan ada seseorang yang menjagamu yang menyayangimu melebihiku
Bila nanti hatimu terbuka..
Datanglah padaku, bawakan aku harapan yang ku tunda
Ini yang terakhir yang bisa ku buktikan, aku menyayangimu
(End Megi Carold Jasellin)
Tian masih belum mengerti apa yang dimaksud dengan surat ini apakah dirinya pernah berhubungan dengan Megi. Tian menatap teman temannya yang menatap nya acuh sedangkan Salsa masih setia menunduk. Di berikutnya mata Tian di fokus kan paca beberapa kertas kecil yang mempunyai foto.
Terdapat foto dirinya dengan Megi dengan adegan yang mesra. Mulai dari Tian yang mencium pipi Megi, Tian menyuapi ice cream Megi, Tian yang menggendong Megi, Tian yang sedang memeluk Megi dengan mesranya dan yang terakhir foto Tian dan Megi bersama keluarga Tian.
Dari sini Tian mulai memgerti jika ia mempunyai hubungan dengan Megi, bahkan lebih dekat dengan Megi dari pada Salsa. " apa aku dulu sedekat itu?, " tanya Tian dengan polos dan bodohnya.
"Jika lho tanya sedekat apa, lho dulu sama Megi hampir tunangan, bahkan udah ngomongin masa depan ingin anak berapa, lho lupa lho dulu ingin punya anak kembar, oh gue pikun lho hilang ingatan ya sampe bikin temen gue sakit hati, " sinis Raga. Tian merasakan sakit dikepalanya ia semakin ingat dengan perkataan Raga yang menyebutkan dirinya menginginkan anak Kembar.
"Gigi!!, " pekik Tian dengan keras setelah pusing yang menghujani kepalanya. Gigi adalah sebuatan sayang Megi dari Tian.
"Di-dimana dia sekarang, " pekik Tian menggebu gebu dengan kepala yang masih nyeri. Raga tersenyum sinis "Amerika dia udah berangkat ke Amerika beberapa menit lalu, " ujar Raga. Membuat orang yang terdapat di meja tersebut terkejut bukan kepalang, pasalnya baru beberapa menit yang lalu Megi disini dan sekarang ia telah terbang ke Amrik.
"Ga lho jangan main main ya, nggak lucu, " seru Gibran dengan tawa hambarnya.
"Ga ini bukan saatnya lho bercanda!!, " seru Salsa selanjutnya.
"Bercanda? Kalian pikir muka serius gue ini bercanda, dia juga ingin bahagia jika orang yang disayangnya bahagia, sakit dia juga sangat sakit hati bro, kalian tau kan rasanya sakit di dalam tapi tidak berdarah, " ujar Raga dominan dengan bentakan lalu terduduk lemas setelah nya.
Raga dan Megi memang sangat akrab bahkan mereka telah menganggap sebagai kakak dan adik, Mereka berteman sejak dari sekolah dasar kelas 2 dan sampai sekarang sungguh berat rasanya ditinggal dengan orang yang paling dekat dengan kita.
Tian beranjak keluar dari cafe tersebut membawa mobilnya menuju ke salah satu bandara soekarno hatta. Dengan kecepatan maksimal ia menuju tujuannya. 45 menit berlalu Tian sampai di bandara tersebut, berlari tidak tentu arah dan mencari jadwal penerbangan di amrik.
Di jadwal penerbangan telah berlalu hampir satu jam yang lalu. Tian terduduk lemas entah rasa apa sekarang yang sedang menghunjaminya mulai dari rasa bersalah, sakit hati, kecewa pada dirinya sendiri. Telah tercampur dan terdominasi dengan kata hancur.
[Sekian dan terima kasih END]