Di sebuah gunung terjal nan misterius. Dimana tak seorangpun berani memasukinya. Tempat dimana seorang penyihir hidup ratusan tahun lamanya.
Sebuah rumor mengerikan telah menyebar ke penjuru desa dan kota besar. Tak seorangpun yang tak tahu tentang rumor mengerikan yang ada di Gunung tersebut.
Sebuah rumor mengatakan,"Barang siapa yang berani melangkahkan kakinya, masuk kedalam kediaman sang penyihir dan menjumpainya. Maka, bersiaplah! Kau akan diubahnya menjadi monster dengan hidup penuh kesedihan sampai ajal menjemputmu."
Tahun 1609, Gunung Jiri.
Seorang pria gagah dengan sebuah busur panah terpegang di tangannya. Telah siap menghujamkan sebuah panah lancip dan tajam ke perburuanya, seekor rusa jantan yang sedang asyik menyantap makananya.
Pria gagah itu bersembunyi di balik pohon besar dan mengarahkan panahnya ke arah rusa itu.
Tak...
"Aah.."pria itu menjerit karena sekor ular kobra telah mematuk paha pria itu.
Set..
Panah terlepas dari busurnya.
jleb...
Panah itu meleset. Rusa yang menyadari kalau dirinya terancam langsung berlari kencang menjauh dari pria itu. Sedang pria itu kesakitan karena ular kobra yang mematuknya tadi.
Pandanganya mulai kabur, kepalanya terasa pusing. Ia tidak bisa menahanya lagi, di kesadaranya sebelum ia benar-benar kehilangan kesadaran. Seorang wanita menghampirinya.
"To... long.."
Buk..
Pria itu jatuh dan tak sadarkan diri.
▪▪▪
Matanya perlahan terbuka. Dan saat benar-benar terbuka ia memperhatikan sekeliling ruangan. Ingatan terakhirnya ketika ia sedang mencoba memanah rusa di gunung dan seekor ular kobra mematuknya dan seorang wanita datang.
Sekarang dirinya tidak lagi ada di hutan, melainkan sebuah rumah yang tidak tau siapa pemiliknya.
"Kau sudah bangun?"Seorang wanita mufa mendekat ke arahnya dengan sebuah kendi berukuran kecil dan juga gelas yang terbuat dari tanah liat.
Pria itu menoleh ke wanita itu dan ia berusaha untuk bangun. Mengambil posisi duduk.
"Ada dimana aku?"tanya pria itu.
"Kau ada di rumahku,"awab wanita itu singkat.
"Rumah? apa sebuah gua ini dia anggap sebagai rumah?"ucap pria itu di dalam hatinya setelah memperhatikan gua itu.
Wanita itu menatap lelaki itu dan tersenyum,"dari aku lahir kedunia, aku sudah tinggal disini. Jadi, aku menyebutnya sebagai rumah."
Pria itu terkejut seakan wanita itu tau apa yang ia katakan di dalam hatinya. Ia tersenyum malu, merasa tidak enak karena telah berpikir yang tidak-tidak mengenai gua ini.
"Siapa namamu?"tanya wanita itu.
"Gu Nam Soon,"jawab gu nam soon singkat sembari senyum manis tersirat dari bibirnya dan di balas senyum dari wanita itu.
"Ha in, namaku Ha In."
"Apa kau tinggal sendiri di gua ini?"
Ha In meganggukkan kepalanya,"orang tuaku telah meninggal 100 tahun yang lalu."
Gu Nam Soon langsung memundurkan badanya. Ia merasa takut setelah mendengar perkataan Ha In, karena kalau orang tuanya sudah menibggal 100 tahun yang lalu berartisekarang umur Ha In sudah 100 tahun tapi, wajah dan tubuhnya tak terlihat seperti orang yang sudah berumur 100 tahun. wajah dan tubuhnya terlihat seperti wanita yang berumur 20 tahunan.
"Siapa kamu?"ucap Gu Nam Soon dengan nada dingin dan takut.
Ha In mengangkat tanganya, mencoba untuk menyentuh tangan Gu Nam Soon tapi melihat Ha In yang ngin memegang tanganya, Gu Nam Soon langsung menghindar dan berpaling. Ha In merubah ekspresi wajah cerianya tadi menjadi murung.
"Apa kau takut padaku?"taya Ha In dengan terus terang.
"Aku tau, aku salah. Karena telah memasuki tempat tinggalmu,"Gu Nam Soon berbalik dan menundukkan kepalanya, tanganya memohon.
"Aku mohon, biarkan aku pergi dari tempat ini. Aku janji! Aku tidak akan kembali lagi ke gunung ini dan mengganggumu!"mohin Gu Nam Soon sembari air matanya mengalir karena ketakutan.
Gu Nam Soon tau tentang rumor yang ada di gunung Jiri. Ia menyadari kalau wanita di depanya adalah seorang penyihir yang di ceritakan orang-orang setelah mendengar kalau orang tua Ha In telah meninggal 100 tahun yang lalu.
Seorang manusia tidak akan punya tubuh dan wajah semuda itu kalau umurnya sudah menginjak 100 tahun. Ha In adalah seorang penyihir.
"Apa kau setakut itu padaku. Apa kamu berpikir kalau aku akan mengutukmu seperti yang orang-orang itu katakan. Kalau aku akan melakukanya pasti aku tidak akan mencoba untuk mengobati lukamu, jika kamu percaya aku akan melakukan hal buruk padamu. Maka pergilah!! Tapi sebelum itu, minumlah ramuan obat ini,"lirih Ha In sembari menyodorkan gelas dan kendi yang dibawanya kepada Gu Nam Soon.
Gu Nam Soon menatap obat itu,"apa itu racun?"
Tes.. Tes..
Air mata Ha In menetes,"seburuk itukah rumor yang disebarkan tentang aku, sampai ingin menolong orangpun masih harus di curigai. Kalau kau tidak mau sembuh dan meminumnya maka tinggalkanlah. Aku tidak memaksamu," ucap Ha In dengan nada sedih.
Ha In keluar dari gua itu, meninggalkan Gu Nam Soon sendiri dalam Gua.
Gu Nam Soon merasa bersalah setelah melihat Ha In menangis di depanya. Gu Nam Soon meminum air yang di berikan Ha In padanya.
Setelah meminumnya, Gu Nam Soon memeriksa tubuhnya apakah ia merasakan sesuatu yang aneh atau tidak? Tapi ia sudah menunggu selama setengah jam dan tubuhnya masih baik-baik saja. Justru karena air yang di minum tadi rasa sakit di kakinya telah berkurang.
"Aku sudah salah paham padanya,"ucap Gu Nam Soon menyesal.
Gu Nam Soon keluar dari Gua dan ia melihat Ha In sedang memberi makan beberapa Kelinci hutan. Gu Nam Soon jadi lebih merasa bersalah karena telah berpikir buruk tentang Ha In.
Gu Nam Soon mendekati Ha In dan duduk di sampingnya,"Maaf, telah mengatakan hal buruk padamu?"
Ha In menoleh ke arah Gu Nam Soon dan tersenyum,"tidak apa-apa. Aku sudah melupakanya,"
"Apa kau sering memberi mereka makan?"
"Kau mau mencobanya?"
Ha In memberikan beberapa wortel ke Gu Nam Soon,"cobalah!!"
Gu Nam Soon mendekatkan wortel itu ke kelincinya.
Krauk.. Krauk...
Kelinci itu melahap wortel yang di berikan oleh Gu Nam Soon.
"Apa yang kau lakukan di sana kemarin?"tanya Ha In sembari menunjuk ke tempat Gu Nam Soon sedang berburu rusa.
"Berburu rusa,"
"Bagaimana dengan ular yang mematukmu?"
"Aku tidak memeperhatikan kalau ular itu sudah berada di dekatku, karena terlalu fokus pada rusa itu,"
Ha In tersenyum malu. Gu Nam Soon ikut tersenyum melihat Ha In tersenyu. begitu manis.
"Berapa tahun para penyihir bisa hidup?"
"300 tahun, dan jika beruntung. Seorang penyihir bisa hidup lebih dari 400 tahun kalau dia memakan bunga bulan Merah,"
"Bunga Bulan Merah?"
Ha In mengangguk,"Bunga itu sangat langka dan tidak mudah di temukan. Keberuntungan pernah datang ke kedua orang tuaku. Mereka berhasil menemukan bunga itu dan memakan mereka. Tapi 100 tahun yang lalu, seseorang membunuh mereka dengan ramuan pohon Dead Blood. Pohon itu adalah kelemahan para penyihir dan pohon itu juga sangat langka,"
"Jadi, orang tuamu meninggal karena orang itu? Apa kamu tau siapa yang melakukan itu pada kedua orang tuamu?"
"Tidak, yang aku tau kalau orang itu adalah seorang pemburu yang menyelinap masuk ke hutan dengan misi balas dendam. Katanya orang tuaku pernah melakukan hal buruk padanya."
"Aku turut berduka untuk kedua orang tuamu,"
Gu Nam Soon memutuskan untyk tinggal di hutan itu bersama Ha In. Ia mulai jatuh cinta denganya, dan perasaan itu terus tumbuh di dalam hatinya.
Setelah berbulan-bulan ia tinggal bersama Ha In. Gu Nam Soon memutuskan untuk menikahinya dan melamar Ha In.
Ha In dengan senang hati menerima lamaran Gu Nam Soon dan Menikahinya. Malam ini adalah malam bulan purnama merah. Dan menjadi malam pertama mereka juga.
Gu Nam Soon telah siap di tempat tidurnya menunggu Ha In yang sedang membuat Ramuan penguat untuk Gu Nam Soon katanya.
Beberapa menit menunggu, Ha In datang dengan sebuah ramuan di gelas kecil yang dibawanya. Ia memberikan ramuan itu kepada Gu Nam Soon.
Tanpa pikir panjang Gu Nam Soon dengan lahap meminum ramuan itu.
Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dan perlahan ujung kakinya berubah menjadi abu. Gu Nam soon menatap Ha In dengan Marah,"apa yang telah kau berikan padaku?"
"Itulah adalah ramuan Dead blood, ramuan yang kakek buyutmu berikan pada orang tuaku."
"Apa? Tidak mungkin?"
"Membuat manusia jatuh cinta itu begitu mudah bagi seorang penyihir. Menipu mata mereka juga begitu mudah. Bertahun-tahun aku menyusun rencana ini, akhirnya aku melakukanya dengan sangat baik,"
"Aku sangat mencintaimu dengan tulus Ha In,"
"Tapi aku tidak pernah mencintaimu Gu Nam Soon, Dari awal rencanaku hanya untuk membunuhmu. Tidak ada ketulusan di dalam sandiwara yang aku buat untukmu,"
Ha In mendekatkan bibirnya ke bibir Gu Nam Soon lalu menciumnya,"tapi aku masih bisa berbaik hati, dengan memeberikan ciuman manis di akhir hidupmu. Selamat tinggal Gu Nam Soon."kata Ha In.
Air mata Gu Nam Soon mengalir dan tatapan sedih menyelimutinya, Hatinya begitu sakit karena merasa di khianati oleh cinta pertamanya.
"Tidak apa Ha In, aku akan selalu mencintaimu di akhir hidupku. Cintaku padamu tak pernah ada kepalsuan di dalamnya. Cinta ini suci sama seperti sucinya dirimu,"
Tubub Gu Nam Soon sudah hampir menjadi debu semua. Dalam tatapan terakhirnya ia hanya menatap Ha In dengan air mata yang terus menetes.
Syuuuu...
Debu dari tubuh Gu Nam Soon berterbangan dalam sekejab ia menghilang. Ha In menatap debu terakhir yang menghilang itu.
Tidak ada cinta sejati antara penyihir dan manusia
Apalagi jika manusia itu telah mencari masalah dengan seorang penyihir
Para penyihir mampu membutakan mata manusia dalam urusan Cinta
Tapi para penyihir tidak akan bisa menipu manusia yang punya cinta setulus dan semurni bayi yang baru lahir.
Ha In meneteskan air matanya. Ia kehilangan, kehilangan seseorang yang mempunyai cinta tulus padanya. Awalnya ia mengira kalau Gu Nam Soon mencintainya karena tipu daya yang di buatnya. Tapi, di akhir hayat Gu Nam Soon Ha In merasakan cinta tukus yang di berikan oleh Gu Nam Soon.
Ini bukan kisah Beauty and teh beast yang berkhir happy ending. Ini adalah kisah penyihir yang mencoba membalas perbuatan buruk seseorang kepada orang tuanya. Balas dendam itu tidak akan ada baiknya. Karena jika seseorang mempunyai sakit hati di dalam hatinya. Penyakit hati itu tidak aka. pernah terobati jika orang itu ingin orang yang membuatnya sakit merasakan hal yang sama. Penyakut hati itu di sembuhkan dengan Maaf, memaafkan segala kesalahan yang di perbuat orang padamu dan melupakanya.
Salah satu keluarga yang bersikap egois dan merugikan orang lain tak akan ada hubunganya dengan saudaranya. Karena mereka tidak tau apa-apa hanya saja mereka di salahkan karena punya gen sama dengan orang tersebut.