Aku menuruni anak tangga darurat rumah dengan tergesa-gesa. Sepatu high hels yang menghambat langkahku aku lepas dan buang begitu saja. Aku ingin cepat sampai di lantai dasar untuk mengecek keberadaan suamiku dan apa yang terjadi, karena suamiku sudah berada di lantai dasar untuk menghidupkan mobil.
Alarm yang berbunyi membuatku yakin bahwa sesuatu telah terjadi. Dan aku yakin itu dibunyikan oleh suamiku agar aku waspada akan bahaya yang sementara mengancam. Kepalaku pusing ketika berlari karena aku merasakan goncangan yang hebat, dan sekilas aku melihat bahwa rumah kami bergerak sendiri seperti kapal yang terombang-ambing di tengah laut.
Aku dan suamiku telah menikah delapan tahun yang lalu. Kami menikah saat aku berusia 20 tahun dan suamiku berusia 28 tahun.
Perbedaan usia yang mencolok diantara kami tidak membuat cinta kami memudar. Bahkan sejak menikah hingga sekarang, kami tidak dikarunia seorang anak pun.
Kami sudah memeriksa ke dokter kandungan berulang kali, dan dokter mengatakan bahwa diantara kami tidak ada yang bermasalah. Artinya kami berdua normal.
Akulah yang sering merengek kepada suamiku karena tak kunjung dikarunia anak. Tetapi suamiku dengan sabar meyakinkanku agar bersabar, karena menurutnya, jika Tuhan berkenan, Ia akan memberikan kepada kami apa yang kami minta.
"Sayang!" Begitulah cara aku memanggil suamiku.
"Ada apa honey?" Jawab suamiku. Dan sebaliknya begitulah jika ia memanggilku. Kami sudah menikah sejak lama, dan ia selalu berlaku romantis kepadaku. Aku bahkan tidak pernah melihat ia sekali pun marah walaupun aku salah.
"Aku rindu ada kehadiran bayi di rumah kita." Kataku dengan wajah cemberut dan bibir yang mulai monyong 15 centi.
"Apa kamu ingin menggeser posisi bayi jumbo ini?" Katanya dengan suara manja dan mulai meletakkan kepala di pangkuanku.
"Aku butuh bayi nyata, bukan bayi jadi-jadian." Kataku sambil mengangkat kepalanya dan menjauhkannya dari pangkuanku.
"Apa honey pikir aku tidak nyata?"Katanya sambil meletakkan kepala lagi di pangkuanku sambil membelai wajahku dengan mesra.
"Mau ada anak atau tidak, aku akan selalu mencintaimu. Karena saat aku berjanji untuk setia padamu di dalam pernikahan kita, aku telah berjanji untuk mencintaimu dalam segala kondisi. Jadi tidak ada yang akan berubah dengan cintaku." Katanya sambil tangannya meraih kepalaku dan menciumnya dengan lembut.
Jika sudah seperti itu, aku akan segera melupakan urusan anak dan merasakan bahwa memang dunia hanya milik kami berdua karena sifat romantis suamiku yang tidak berubah hingga sekarang.
Kemana pun kami pergi, kami akan selalu bersama-sama. Suamiku sangat posesif, dan ia tidak akan pernah membiarkanku berjalan sendiri untuk urusan apapun. Karena itu, sejak kami menikah, ia juga memasukkanku di kantor tempat ia bekerja. Alasannya, karena tidak ingin aku kesepian jika ia sedang ke kantor.
Kami bekerja di kantor yang sama, karena ia adalah pemilik saham terbesar di kantor tempat kami bekerja sehingga aku dengan mudah dimasukkan untuk bekerja walau hanya mengandalkan ijazah SMA. Dan sejak aku bekerja di kantornya, semua sahamnya dialihkan atas namaku.
Sifatnya yang dewasa serta mapan itulah yang membuatku menerima lamarannya dan kemudian menikah dengannya. Kami menikah bukan atas dasar cinta, tetapi karena pilihan orang tua masing-masing yang telah menjodohkan kami.
Pertama kali bertemu, aku tidak terlalu menaruh perhatian dengannya, karena ia tidak tersenyum sama sekali.
"Ma! Kenapa mama memperkenalkanku dengan manusia aneh yang tidak ada senyum sama sekali?" Tanyaku dengan nada protes kepada mama setelah Andre (nama suamiku) dan orang tuanya pulang.
"Aneh bagaimana? Anaknya tampan begitu kamu bilang aneh." Jawab mama.
"Tampan apanya? Melihatku saja seperti melihat patung." Kata sambil menggerutu.
"Kata tante Nani, Andre itu anaknya pendiam. Mungkin ia mau banyak bicara jika sudah menikah denganmu. Jadi mama harap, kamu terima lamaran mereka dan jangan kecewakan mama. Andre itu pria yang baik dan sopan. Kamu tidak akan menyesal." Kata mama menjelaskan.
Begitulah kata mama yang artinya aku tidak punya hak untuk menolak apa yang sudah diputuskan mama.
Akhirnya, setelah dua kali pertemuan yang hanya di lakukan dalam dua minggu, aku dan Andre resmi menikah.
Sejak menikah, Ia selalu memanjakanku dalam segala hal, sehingga ketika bersamanya, aku merasa seperti seorang ratu.
Aku bahkan terlena dengan perlakuan manisnya hingga segera melupakan sifat dinginnya. Ia selalu mengerti aku dan melakukan semuanya sesuai dengan keinginanku.
*****
Begitu aku menginjakkan kaki di tangga terakhir, goncangan semakin hebat dan lemari kaca tempat di mana suamiku berdiri langsung Ambruk.
Aku menjerit sekuat tenaga. Suamiku berlari ke arahku dan menarik tanganku yang masih berdiri mematung agar segera keluar.
Aku menangis histeris karena ketakutan. Suamiku langsung menggendongku dan berlari keluar.
Saat kami tinggal beberapa langkah lagi, rumah kami mulai runtuh, dan ada serpihan tembok entah berapa kilo gram beratnya jatuh ke arah kami.
Suamiku dengan sigap menurunkanku dan mendorong tubuhku keluar pintu yang tinggal beberapa meter itu. Namun naas bagi suamiku, karena ia berniat menyelamatkanku tetapi serpihan tembok itu malah menimpa tubuhnya.
"Tidak...!"
Aku menjerit dengan sekuat tenaga saat melihat serpihan tembok itu mengenai badan suamiku yang membuat kepala dan beberapa bagian tubuhnya mulai keluar darah.
Suamiku berjalan dengan tertatih ke arahku dan kami pun berhasil ada di luar rumah. Gempa yang hebat sudah mulai reda, dan rumah kami pun sudah berhenti bergerak, namun masih ada barang-barang yang berjatuhan disertai dengan rumah yang masih rubuh di beberapa bagian.
Aku dan suamiku baru saja duduk ketika tiba-tiba suamiku memuntahkan beberapa gumpalan darah segar dari mulutnya.
"Sa..sayang!" Kataku dengan gugup ketika melihat kondisinya. Namun ia tidak menjawabku sama sekali.
"Aku mencintaimu. Selalu!" Katanya dengan suara yang mulai melemah.
Aku memeluknya dalam keadaan bingung. Mau menelpon ambulance pun tidak bisa karena handphoneku masih ada di dalam rumah. Aku belum berani masuk karena takut terjadi gempa susulan.
"Jika aku sudah tiada, jangan pernah bersedih agar aku tenang di sana. Aku tidak ingin melihatmu bersedih!"
"Dan jika kamu menemukan seseorang yang tulus mencintaimu seperti diriku, maka menikahlah! Aku pun akan bahagia di sana. Karena aku tak ingin melihatmu bersedih." Katanya dengam suara yang lemah.
"Apa yang kamu katakan sayang? Aku tidak ingin mendengar mendengar kalimat seperti itu. Aku tidak mau! Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama." Kataku sambil memeluk tubuhnya dengan erat.
"Anita wanitaku tersayang! Aku akan selalu mencintaimu, walau di alam maut sekali pun. Di hati ini, hanya namamu yang akan selalu terukir. Seluruh cintaku padamu tidak bersyarat, karena cintaku padamu tak bertepi." Katanya dengan suara yang semakin lemah, dan tiba-tiba lehernya melemah.
Aku melonggarkan pelukanku untuk melihat apa yang terjadi. Mataku melotot melihat kenyataan yang tidak aku inginkan.
Aku menepuk pipinya dan memanggil namanya berulang kali, tetapi ia sama sekali tidak memberikan respon.
Aku meraung-raung mengingat semua ucapannya.
"Kamu jahat. Mana janji setiamu untuk menemamiku hingga ujung maut. Kamu bohong!"
"Aku tidak mungkin mencintai pria lain, karena seluruh cintaku sudah ku berikan hanya untukmu. Jika cintamu tak bertepi, maka cintaku padamu pun tak berujung."
"Hai maut! Jemputlah aku dan pertemukanlah aku dengan cinta sejatiku." Kataku dengan tangis yang tak tertahan.
End
By : Eda Sally