Riko mempercepat langkahnya menuju gerbang sekolah. Lima menit lagi bel akan berbunyi. Dia tak ingin kehilangan kesempatan mengucapkan selamat pagi pada Yola.
Menatap senyum Yola adalah penyemangat Riko menerima pelajaran, walau sering dia malah sama sekali tidak mengerti pelajaran yang diterangkan Pak Dal, guru mata pelajaran fisika.
“Pagi Yol, apa kabarmu pagi ini?” sapanya ceria.
Yola tersenyum geli melihat gaya Riko yang lucu.
“ Pagi juga Riko”, balasnya sambil menarik kursi.
“Ehh,
iya, mana Benny? Kok belum datang?”
Yola mengedarkan matanya mencari keberadaan Benny. Senyum manis mengembang di bibirnya melihat Benny yang sedikit terengah memasuki kelas.
“Hufff, nyaris saja Rik, aku hampir memutuskan bolos kalau gerbang sudah ditutup Pak Diman.” Benny menghempaskan tasnya di atas meja di samping meja Riko.
“Telat bangun lagi kamu?” Riko menepuk bahu sobat karibnya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Benny terbahak menatap wajah prihatin Riko. Matanya berpaling pada Yola yang memperhatikannya sejak tadi sambil tersenyum manis.
“Hai Yol, apa kabar? Kangen ya sama aku. Ngeliatin aja dari tadi.“ Benny menegur Yola dengan cuek.
Yola kaget mendengar sapaan Benny. Wajahnya kontan memerah.
“Apaan sih? Geer amat deh kamu,” cibirnya kesal.
Benny tertawa ngakak dan tidak menyadari kalau Riko terpaku menatap Yola yang tersipu malu. Desiran di hati Riko terasa semakin kuat.
--------------------
“Riko!! Ayo makan, Bunda udah masak ayam goreng balado kesukaanmu nih.” Bunda mengetuk pintu kamar Riko.
Tak lama Riko menyusul ke meja makan. Tapi dia hanya berdiri saja.
“Bun, Riko gak makan ya malam ini, masih kenyang,” ujarnya pelan.
Bunda meletakkan piring yang akan diisi nasi buat Riko dan melirik Ayah sekilas yang hanya tersenyum kecil.
“Kenapa nak?, kamu gak enak badan ya? Kok gak selera makan gitu?” tanya Bunda bertubi-tubi dengan wajah sedikit khawatir.
“Aku gak apa-apa kok Bun,” jawab Riko nyengir sambil menggaruk kepalanya.
“Terus, kenapa gak mau makan?” desak Bunda lagi.
“Aku mau diet Bun,“ Riko menjawab malu-malu.
Bunda tertawa kecil. Tumben, pikir Bunda dalam hati.
“Wahh, bagus kalau Riko mau diet, biar beratnya turun ya nak?” Bunda mengangguk maklum.
“Iya bun, risih juga kalau aku gemuk banget kayak gini!” jawabnya penuh semangat.
“Bunda kupasin pepaya saja ya, gak bikin gemuk kok, malah bagus buat diet kamu!” Bunda menatap Riko penuh sayang.
“Makasih Bun, aku ke kamar lagi ya.”
---------------------
Beberapa minggu menjalani diet ketat plus rajin berolahraga, terlihat perubahan yang jelas pada tubuh Riko. Dia berhasil menurunkan berat badannya hampir 20 kg!!
Bunda merasa takjub melihat tekad Riko untuk menurunkan berat badannya. Tapi Bunda tak mau bertanya kenapa. Bunda menunggu Riko menjelaskan alasan utamanya berdiet.
Walau Bunda sudah menduga-duga. Hmmm …. Apakah anak laki-lakinya sedang jatuh cinta?
--------------------
Pagi ini Riko terlihat sangat bersemangat menjelang berangkat sekolah. Dia segera bangun ketika Bunda mengetuk pintu kamarnya.
Dengan cepat dihabiskannya sarapan pagi dan salim pada Ayah dan Bunda sebelum bergegas berangkat. Wajahnya terlihat bersemangat dan ceria.
Bunda melantunkan doa buat anak lelakinya. Sedikit rasa cemas terlintas di hati Bunda tapi segera ditepisnya.
-----------------
Riko melangkah ke dalam kelas dengan wajah penuh senyum. Dia melihat Yola sudah duduk manis di kursinya sambil membalik-balik buku pelajaran Bahasa Indonesia.
Perlahan dia duduk di samping Yola yang segera berpaling dan menatap Riko dengan wajah bertanya.
“Yol, boleh gak aku main ke rumahmu nanti sore?” tanya Riko pelan sedikit gugup. Dia menatap Yola dengan wajah penuh harap.
Yola sedikit kaget dengan permintaan Riko. Tiba-tiba terlintas sesuatu di kepalanya.
Senyuman manis segera terlihat di wajahnya. Riko merasa dadanya mau meledak melihat reaksi Yola.
“Boleh kok Rik, tapi ajak Benny ya?” pintanya sambil tetap tersenyum manis.
Riko sedikit kaget mendengar jawaban Yola. Tapi hatinya sudah terlanjur bahagia dan tidak berpikir lebih jauh.
Apa salahnya mengajak Benny, pikirnya. Toh dia sahabatku. Mungkin Yola masih malu kalau kami cuma bertemu berdua saja.
“Oke Yol, nanti aku ajak Benny, “ janjinya cepat.
“Jangan sampai Benny gak ikut ya Rik !” Yola menekankan suaranya.
Riko mengangguk dengan cepat dan kembali ke bangkunya. Lagi-lagi Benny terlambat, gerutunya dalam hati.
---------------------
Hari-hari semakin terasa indah bagi Riko. Kunjungan ke rumah Yola bersama Benny membuatnya semakin yakin akan perasaan yang dia rasakan pada gadis manis itu.
Tapi sepertinya Yola masih menjaga jarak dengannya. Apakah karena dia belum menyatakan perasaannya dengan langsung?
Riko memikirkan cara termanis untuk menembak Yola. Terpikir untuk menciptakan sebuah lagu indah tentang rasa cintanya.
Sambil tersenyum kecil, Riko membayangkan reaksi Yola yang tersenyum manis dengan wajah memerah menahan malu.
“Heiii, ngelamun apa sih loe?, senyum-senyum sendiri!“
Benny menepuk pundak Riko yang tersentak kaget.
“Mau tau aja sih loe,“ kilahnya cepat.
“Loe suka ya sama Yola?” Benny berbisik pelan sambil melirik Yola yang ternyata juga tengah meliriknya. Dikedipkannya mata menggoda gadis manis berhidung mancung itu.
Yola mendelik dan segera menundukkan wajahnya menahan malu.
“Ben, keluar bentar yuk!. Aku mau cerita.” Riko menggamit Benny yang masih menoleh pada Yola.
Segera dia berdiri mengikuti Riko yang sudah duluan berjalan keluar kelas.
“Ada apa sih?” Benny bertanya penasaran ketika mereka sudah berdiri di luar kelas.
Riko menatap wajah sahabatnya itu dengan sedikit ragu. Benny terlihat tak sabar menunggu penjelasan Riko.
“Kamu benar Ben. Aku memang suka pada Yola,”Riko berkata pelan.
Benny sedikit tersentak mendengar ucapan Riko. Jantungnya berdegup cepat.
“Kamu serius Rik?” Benny bertanya lagi.
“Sudah beberapa bulan yang lalu kok Ben. Aku belum yakin dan percaya diri. Tapi aku tak mau lagi menutup-nutupinya. Aku ingin Yola tahu.”
Benny menganggukkan kepalanya dan mencoba menepis rasa sedih.
“Semangat bro, aku dukung kamu!” ucapnya tulus.
Riko tersenyum lega dan merangkul sahabat baiknya itu kembali masuk ke dalam kelas.
---------------------
Besok adalah praktek mata pelajaran kesenian. Riko sudah mempersiapkan lagu yang sudah dia ciptakan beberapa hari yang lalu dengan semangat. Setiap murid ditugaskan menunjukkan bakat seni yang mereka sukai.
Sepertinya ini saat yang tepat untuk nembak Yola, batin Riko. Disambarnya HP yang terletak di atas meja belajar. Lebih baik aku sampaikan dulu kalau aku suka padanya, pikirnya dan segera mencari no WA Yola.
Hai Yol, lagi ngapain?
Aku mau bilang kalau besok waktu praktek pelajaran kesenian, aku akan menyanyikan lagu khusus buat kamu
Ciptaan aku sendiri lho …😊
Aku harap kamu juga menjawabnya besok
Bye Yola …. Have a nice dream.
Riko tersenyum lega. Semua beban perasaan yang dia rasakan sudah dicurahkannya walau baru lewat WA.
Kembali diintipnya WA. Ternyata Yola sudah membacanya. Hati Riko semakin berdebar kencang.
Tapi kenapa Yola tidak membalasnya ya?
Ahh, mungkin dia malu. Riko tersenyum sendiri. Semoga besok Yola menerima pernyataan cintanya.
------------------------
Memasuki gerbang sekolah Riko merasakan dadanya berdebar sangat kuat. Inikah namanya jatuh cinta, dendangnya dalam hati.
Di dalam kelas tak ditemukannya raut manis Yola. Apakah dia tidak masuk sekolah hari ini?.
Riko merasa khawatir dan agak sedikit kecewa. Ditatapnya pintu gerbang berharap Yola segera datang
Tak lama dia melihat Yola dan Benny berjalan beriringan menuju kelas.
Riko menghembuskan nafas lega. Hatinya kembali bernyanyi riang.
Yola melintas di depan Riko dan tersenyum kecil. Riko tak sabar menunggu jam pelajaran Kesenian.
---------------------
“Anak-anak semua, sesuai kesepakatan kita minggu lalu, hari ini Ibu beri kesempatan siapa yang sudah mempersiapkan materi prakteknya, boleh tampil hari ini! “ terang Bu Ida, guru mata pelajaran Kesenian.
Terdengar suara-suara ribut sekelas saling mendorong temannya untuk maju.
Benny menepuk bahu Riko dan mendorongnya untuk segera berdiri.
Kemaren Riko sudah menceritakan rencananya menembak Yola hari ini dan Benny terus meyakinkan Riko untuk berani.
Walau hati kecilnya sedikit kecewa karena dia juga suka pada Yola. Tapi Benny berusaha menepisnya. Riko lebih dulu berterus terang padanya. Benny tidak mau menikung sahabatnya sendiri.
“Riko mau tampil sekarang?” Bu Ida menatap Riko yang berdiri sedikit ragu-ragu.
“I-iya bu“, jawabnya sedikit terbata.
“Ayo ke depan!” panggil Bu Ida senang. “Coba kamu jelaskan apa yang mau kamu lakukan dan kenapa kamu memilih melakukannya.”
Riko melangkah pelan sambil menyandang gitarnya. Sekilas matanya melirik Yola yang sedang menunduk memeriksa isi tasnya.
“Ehm, saya mau membawakan sebuah lagu ciptaan saya sendiri,” Riko berkata pelan.
Seisi kelas segera bertepuk tangan. Riko merasa semakin bersemangat.
“Lagu ini khusus saya ciptakan untuk seseorang yang saya sukai,” ujarnya sedikit malu dan menatap ke arah Yola.
Seisi kelas segera bersorak riuh. Tapi Yola hanya diam saja. Seulas senyum tipis menghias wajahnya.
Riko membawakan lagunya dengan merdu dan penuh perasaan. Sebuah lagu cinta yang sangat manis.
Tapi hatinya sedikit galau melihat reaksi Yola yang biasa saja ketika dia bernyanyi. Setumpuk harap yang sangat besar masih kuat tersimpan di hatinya.
Tepuk tangan riuh kembali terdengar usai Riko mengakhiri nyanyiannya.
“ Bagus sekali Riko, kamu hebat!” Bu Ida memuji Riko dengan bangga.
“Berikutnya siapa lagi? Gantian yang putri lagi yang tampil ya? “
Seisi kelas kembali berisik. Riko terkejut ketika dia melihat Yola menunjuk tangan dan segera berdiri.
Dadanya berdebar kencang. Sejuta harap berkecamuk di hatinya. Benny menenangkan Riko yang terlihat gugup dengan menepuk bahunya pelan.
“Tenang bro, kamu harus siap dengan apapun jawaban Yola ya?” bisiknya pelan.
Riko mengangguk dan tertawa kecil menutupi kegugupannya.
“Baiklah Yola, kamu mau menampilkan apa sekarang?” Bu Ida bertanya pada Yola.
“Saya mau membacakan sebuah puisi Bu, buat seseorang yang saya sukai,“ Yola berkata pelan dan jelas.
Riko merasakan dadanya melambung. Matanya berbinar menatap Yola yang menunduk membuka kertas puisinya.
Ternyata Yola juga menyukaiku, ujarnya dalam hati. Jangan-jangan semalam dia tidak membalas WA ku karena akan menjawabnya hari ini juga.
Perlahan Yola membacakan puisinya. Sebuah pernyataan rasa suka yang sudah lama terpendam.
………..
………...
…………
Aku menyukaimu sejak dulu.
Tak tahukah kamu, Benny..?
Seisi kelas riuh rendah mendengar akhir puisi Yola. Dia tersenyum manis menatap Benny yang ternganga.
Riko merasakan jantungnya seakan berhenti berdenyut. Apakah Yola tidak salah nama? Bagaimana bisa?
Benny menahan tangan Riko yang akan berdiri. Ditatapnya wajah Riko yang memucat dengan pandangan kalut.
Sampai jam pelajaran Kesenian berakhir Riko sudah tidak merasakan dirinya masih berada di kelas. Pikirannya buntu. Kekecewaan teramat sangat dirasakannya.
Penolakan Yola sangat melukai hatinya. Mengapa pada Benny ? Dia tak akan mau bersaing dengan sahabatnya sendiri. Riko merasa sangat kalut.
Untunglah bel tanda istirahat segera berbunyi. Dia bergegas keluar tanpa menghiraukan panggilan Benny.
Di taman kecil di ujung sekolah, Riko mengeluarkan emosi yang ditahannya sejak tadi. Tangannya terkepal memukul sebatang pohon kecil dekat bangku duduk. Riko mengusap wajahnya dan mendesah dengan berat.
Dia tersentak ketika merasakan tepukan kecil di bahunya. Benny tersenyum kecil dan segera duduk di sebelahnya.
“Tenang Rik, ditolak itu biasa. Resiko jatuh cinta cuma dua, diterima atau ditolak!” Benny tertawa kecil.
“Jangan khawatir, aku gak akan menerima pernyataan cinta Yola!”
Riko menatap sahabatnya dengan bingung. Ditaksir gadis secantik Yola tapi Benny malah menolaknya. Apa dia serius?
“Kenapa Ben? Kan Yola cantik dan dia suka sama kamu”.
“Hei bro, kamu kira aku apa?” Benny memukul bahu Riko yang masih menatapnya dengan bingung.
“Bagiku persahabatan lebih berharga Rik, kita sudah berteman sejak kecil. Kamu adalah sahabat terbaikku. Aku tak bakalan merusaknya hanya karena Yola!”
Riko merangkul Benny dengan wajah penuh rasa terima kasih.
Ditolak gadis cantik sudah resiko seorang lelaki. Masih banyak gadis cantik lainnya yang bisa dikejar.
Kecewa pasti ada. Tapi selama ada sahabat di dekatmu, kamu pasti kuat.