Love in 1948
#romansa
#cerita romantis
Yogyakarta 18 Desember 1948.
Nyanyian dan tiupan lembut yang dihasilkan oleh padi dan angin di siang hari membawa suasana hangat yang romantis.
" Aku akan selalu menantikan mu kembali ", wanita yang memakai kebaya batik lusuh namun terlihat anggun.
" Tunggu aku, setelah perlawanan ini selesai, aku akan menjemputmu, Djani ku " pria dengan pakaian militer yang terlihat gagah.
19 Desember 1948, agresi militer Belanda ll
Belanda datang ke Yogyakarta dan mengebom rumah-rumah warga sipil, mereka melukai warga sipil dan membawa wanita-wanita muda Yogyakarta untuk kesenangan.
" Lepaskan aku, lepaskan, akhh " seorang wanita muda berpakaian kebaya lusuh yang sedang di tahan oleh tentara Belanda.
" Lepaskan dia!! Djanii, cucu ku!!" Wanita paruh baya dengan raut wajah khawatir ingin menghampiri wanita itu yang bernama Djani, namun langkah nya di hentikan oleh seorang pria yang tidak terlihat muda maupun tua.
" Hentikan, kau tidak lihat mereka membawa senjata, nenek, kau akan mati " pria itu tetap menahan wanita paruh baya yang terus ingin menghampiri Djani cucunya itu. " Tidak, dia adalah cucuku satu-satunya tolong selamatkan dia".
pria itu tidak menghiraukannya dan langsung membawa wanita paruh baya itu ketempat pengungsian yang aman. Wanita muda yang bernama Djani itu di bawa ketempat persembunyian tentara Belanda.
Para wanita muda yang tertangkap di jadikan alat untuk menyenangkan nafsu seksual mereka, Djani yang tertangkap mencoba melarikan dirikan diri, namun tertangkap lagi.
Djani di paksa untuk melakukan kegiatan seksual tersebut, Djani yang mulai kehilangan akal sehatnya mencoba untuk bunuh diri dengan mensayat pergelangan tangan nya.
Namun kegiatan bunuh diri itu dia hentikan, karena teringat dengan kekasihnya, yang seorang tentara militer Indonesia. " tidak, Adi akan datang menjemput ku, dia akan membawaku keluar dari sini ", dia terus mengingat kekasihnya jika tiapkali dia merasa depresi.
Djani menahan semua rasa sakitnya untuk bertemu dengan kekasihnya dan berada di sisinya, Djani mendapat kabar bawah wilayah selatan berhasil di ambil lagi oleh tentara Indonesia, kini tentara Indonesia berada di sebelah barat Yogyakarta untuk mengambil ahli tempat ini.
Djani yang mendapatkan kabar itu kabur dari tempat persembunyian Belanda, dia berlari ke arah tengah kota, ketika berlari di antara gedung, dia sekilas melihat kekasihnya Adiwilaga.
Djani pun mengikuti kilasan itu, dan benar, kilasan yang dia lihat adalah kekasihnya, namun dia memberhentikan langkahnya dan menatap kekasihnya dengan raut wajah terkejut.
" Ada apa? Kenapa kau melihat ke arah sana? " Seorang wanita kulit putih, bertanya kepada pria yang melihat kearah jalanan yang di penuhi pejalan kaki, " tidak ada apa-apa", pria itu merasa gelisah, namun dia menghiraukannya dan melanjutkan perjalanan bersama wanita Belanda itu.
Adi membukakan pintu mobil. Sembari memegang tangan nya, Adi mempersilahkan wanita Belanda itu untuk masuk terlebih dahulu. Mereka berinteraksi dengan mesra. Setelah wanita itu masuk kedalam mobil, diikuti oleh Adi setelah nya. Mobil itu melaju meninggalkan Djani.
Djani termenung di tempat, siapa wanita yang bersama dengan Adi? Siapa? Siapa itu?. Selagi diam mematung, dua orang tentara Belanda yang mencarinya, membekap Djani, memelintir tegangannya ke belakang. Djani yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat, hanya diam tanpa perlawanan di bawa oleh tentara Belanda.
Setelah sampai di tempat persembunyian Belanda, Djani di pukuli oleh para tentara Belanda, namun dia diobati oleh wanita pribumi lainnya, di malam hari, Djani tidak bisa tidur karena teringat dengan kekasihnya " kenapa dia bersama wanita lain? Dan tersenyum hangat seperti itu? ".
Djani tidak bisa membendung tangisannya, dia menangis semalaman, mencoba untuk tidak memikirkannya, Djani mencoba berpikir positif, dia ingin mencoba melarikan diri lagi untuk bertemu kekasihnya.
Beberapa hari setelah hari itu, pasukan tentara militer Indonesia menyerang persembunyian Belanda, tempat Djani berada, pasukan Indonesia menghabiskan tentara Belanda tersebut, ketika ingin menyelamatkan para wanita yang di tangkap, Adi bertemu dengan Djani.
" Djani? Kenapa kau ada di sini? ", pria itu langsung memeluk Djani, Djani yang merasa sangat senang menangis di dalam pelukannya " aku mencintaimu, aku selalu menunggu mu Adi " Djani menangis dan meluapkan semua yang ingin dia ucapkan.
" Djani ku, aku juga mencintaimu, maafkan aku datang terlambat " Adi mencoba menenangkan Djani dan membawanya kerumah miliknya.
Djani membuka matanya, dia terkejut berada di tempat asing, ketika ingin beranjak dari kasur, pintu di sisi kiri terbuka dan memperlihatkan kekasihnya Adi, Djani pun memeluknya dengan erat.
" Aku merindukanmu, kau sudah menjemput ku, Sekarang aku bisa berada di sisimukan?", Djani merasa ragu dengan hubungan mereka, setelah melihat kejadin beberapa hari yang lalu.
Adi membalas pelukan Djani " aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, tapi, maafkan aku, sebentar lagi, hanya sebentar lagi, kita akan bersama, kau bisa menunggu ku kan, Djani ku?" Djani merasa gelisah, dia tidak ingin menunggu lagi, kenapa dia harus menunggu lagi, apa karena wanita Belanda itu?.
Djani takut untuk membicarakan wanita itu, dia takut tidak bisa berada di sisi kekasihnya lagi, dia akan tetap menunggunya, menunggu untuk berada di samping nya.
Djani tinggal di rumah milik Adi di selatan Yogyakarta, dia menghabiskan waktu bersama ibuk yang membersihkan rumahnya, Adi mengunjunginya 2 kali seminggu, dan hari ini adalah hari dimana dia akan mengunjungi nya.
Beberapa hari ini Djani merasa tidak enak badan, dia merasa lelah, melakukan apapun selalu capek, karena itu dia tidak beraktivitas di luar rumah, namun hari ini dia akan menunggu Adi di teras.
Sebuah mobil Porsche yang biasa Adi pakai berhenti di depan rumah, namun yang keluar dari mobil bukanlah Adi, namun wanita Belanda yang pernah dia lihat sebelumnya, wanita Belanda yang bersama Adi.
Djani merasa gugup dan sangat gelisah, kenapa wanita ini mendatanginya?, Wanita itu menatap Djani dengan tidak suka dan menghampiri Djani " plak " suara tamparan yang cukup keras, wanita Belanda itu menampar wajah Djani.
Warna kulit yang awalnya kuning Langsat berumah menjadi merah, " kau!, Berhentilah menempel pada pria ku, wanita kotor seperti mu sangat rendahan, kau tidak cocok berada di sampingnya, kami akan segera melangsungkan pernikahan, kau itu hanya simpanan ".
Wanita itu meninggalkan Djani di teras rumah, Djani tidak bisa membendung air matanya, dia sangat terluka, dia sangat ingin menanyakan hal ini pada Adi, tapi dia takut, hal ini akan terjadi, hal dimana dia tidak bisa melihat kekasihnya lagi.
Djani pun pergi meninggalkan rumah milik Adi, Adi yang mendengar berita itu dari ibuk yang membersihkan rumahnya, langsung pergi menemui Djani, namun, Djani telah pergi, tidak tau kemana.
Adi menghampiri wanita Belanda itu, dan memukul wajahnya " kenapa? Kenapa kau menghampirinya?! " Adi meluapkan emosinya.
" kenapa? Kita akan menikah, kau akan menikahi ku kan? Sesuai dengan perjanjian kau dengan ayah ku ", wanita Belanda itu menunjukkan sebuah surat kepada Adi.
Adi yang emosi mengambil kertas itu dan merobeknya " sekarang perjanjian itu batal, kita tidak akan menikah, kau mengerti? " Adi meninggalkan wanita itu.
" Adi, tidak, kau tidak bisa memutuskannya begitu saja, tidak bisaaa!! ".
Adi terus mencari Djani, awalnya dia tidak benar-benar ingin menikahi wanita Belanda itu, dia hanya ingin menjalin hubungan baik melalu surat perjanjian, dia ingin mengambil wilayah kekuasaan milik ayah dari wanita Belanda itu.
Namun kejadian ini terjadi, dia tidak bisa melepaskan Djani, Adi yang sudah mencari Djani mendapatkan informasi bahwa Djani berada di sebuah rumah sakit di kota Yogyakarta.
Adi melihat Djani yang tidak berdaya di tempat tidur rumah sakit, Djani mengidap HIV, dia tidak terlihat seperti Djani yang biasanya, HIV nya sudah sangat parah, Adi merasa sangat kesal dengan dirinya, kenapa dia meninggal Djani, dia marah dengan dirinya sendiri, Adi memeluk erat Djani dengan air mata yang tidak henti hentinya mengalir.
Di kondisinya yang sangat buruk, Djani menyentuh wajah kekasihnya " kau pergi dengan tujuan yang mulia, membela negaramu mungkin adalah pilihan terbaik mu yang pernah ku dukung, aku menunggumu sekian lama, dengan pengharapan kau kembali walau hanya sekedar ragamu saja,
Dan kau benar-benar kembali dengan raga yang utuh, namun dengan hati yang lain, aku tidak masalah kau memilikinya, yang aku inginkan hanya berada di sisimu, namun sepertinya aku tidak bisa berada di sana, namun aku akan selalu mencintaimu, kekasih ku ", Djani pun menghembuskan nafas terakhir nya.
Beberapa hari setelah Djani meninggal, pasukan militer Indonesia yang di pimpin oleh adiwilaga, mengepung pasukan Belanda , Adi yang penuh dengan luka tersungkur di tanah "maafkan aku, aku berjanji akan berada di sisimu, namun aku tidak bisa menepati janji itu ketika kau hidup, aku mencintaimu kekasih ku, tapi sekarang aku bisa menepatinya, janjiku untuk mu Djani ku ", pluru melesat dari arah belakang, menembus tubuh Adi. Beberapa hari berikutnya sudah di pastikan kemenangan berada di tangan Indonesia.
Jangan lupa dukung karya ymopi noriu dengan like ya ( ╹▽╹ ), dan baca karya ymopi noriu yang lainnya (◠‿・)—☆