Sikapmu semakin dingin terhadapku, biasanya kamu selalu menyapaku disetiap chat dimalam hari, memberikan kabar setiap hari, mengingat kan aku untuk makan, selalu menemaniku tanpa aku minta. Tapi sekarang itu semua mulai berkurang semenjak kita duduk dikelas 11 semenjak kita beda kelas, semenjak dia datang dihidupmu.
Dia, Karin teman sekelasmu, aku tidak tahu bagaimana awal mulanya kau bisa dekat dengannya, yang pasti dipagi ini didepan kelasmu kamu memutuskan hubungan denganku dan sekaligus memperkenalkan dia sebagai pacar barumu.
"Del kita putus ya" katamu dengan gugup yang masih menatapku lekat aku tidak bergeming hanya tatapan penuh tanya.
"Aku sayang sama orang lain, dan maaf aku telah menduakanmu" katamu pelan menatapku
"Aku tahu itu, dia Karin kan, dan 1 bulan yang lalu kalian jadian" kataku tersenyum hambar, kau sedikit terkejut menatapku
"Aku sengaja pura pura tidak tahu, aku pengen kamu yang jujur mengatakan semuanya, dan berharap kau masih menjadi pacarku" kataku tersenyum kecut anehnya air mataku tak mau keluar
"Pada akhirnya kamu menginginkan untuk pergi, aku tidak keberatan kita putus. Randy terimakasih dengan semuanya" kataku tersenyum manis dan air mata yang aku tunggu-tunggu akhirnya keluar juga aku mengusap pipiku dan berjalan meninggalkan Randy yang masih termenung.
Saat putus cinta rasanya memang sakit tapi apa kita harus hanyut dalam kesedihan?. Enggak dong. Jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran.
Cukup sehari aku menagisi Randy, selebihnya aku kembali ke Adel yang dulu. Dua bulan kita putus, dua bulan pula kita tidak saling tatap muka.
"Adel" sapa seseorang yang sudah aku kenal dia Hildan teman sekelasku hobinya main sepak bola, tapi jadi kapten diklub tenis, terkadang dia ikut turnamen basket kata orang dia multi talent, entahlah. Kita sering mengobrol banyak hal dan dia baik.
"Tahu nggak kalau melamun dibawah pohon itu gak baik" kata Hildan yang ikut duduk disamping ku
"Kenapa? Apa mau bilang kalau nanti bakal kesembet?" Tanyaku sambil tersenyum padanya, dia tertawa sambil memainkan bola sepak dikakinya.
"Aku mau tanya, kamu gak capek mikirin dia?" Tanyanya sambil melihat kearah kantin, aku mengikuti ekor matanya yang tengah melihat dua orang sedang menikmati makan siang.
"Apa aku terlihat seperti sedang memikirkannya?" Tanyaku yang masih memperhatikan dua orang itu, Hildan memperhatikan ku sejenak
"Tidak juga, hanya saja akhir akhir ini aku sering mendapatimu sedang melamun, jadi aku pikir kau sedang memikirkan Randy" kata Hildan yang tak lagi melihat kearah kantin.
"Randy. Entahlah aku sudah lupa tentang dia" kataku menatap awan yang mulai berubah formasi
"Gampang banget, secepat itu move on" Kata Hildan yang ikut mentap awan
"Move on itu bukan masalah gampang atau sulit tapi kitanya mau apa enggak untuk move on" kataku tersenyum tipis.
_
Sepertinya pergi ke kafe saat malam minggu adalah pilihan yang salah untuk orang yang jomblo seperti aku. Bagaimana tidak, cafe ini sudah dipenuhi oleh pasangan yang sedang kasmaran. Dengan hanya ditemani jus jeruk dan cemilan aku duduk didekat jendela sesekali melihat suasana malam kota Palangka.
"Sendirian aja mba" kata seseorang, aku terkejut dengan suara Hildan yang tiba-tiba itu
"Hildan? Kok kamu bisa disini? sama siapa?" Tanayaku sedikit antusias entahlah kenapa denganku yang begitu senang saat bertemu Hildan malam ini
"Sesenang ya itu melihat aku?" Goda Hildan kepadaku aku tertawa
"Iya, mungkin efek kesepian" kataku Hildan ikut tertawa
"Kamu belum jawab pertanyaanku" kataku lagi
"Oh iya aku kesini sama pacarku" jawab Hildan santai, aku sedikit kecewa teryata Hildan sudah milik orang lain.
"Pacar? Sejak kapan kamu punya pacar?" Tanyaku mencoba menutupi rasa kecewaku
"Sejak sekarang" jawab Hildan menatapku, aku tidak ahli dalam mengartikan sebuah tatapan, dan aku tidak mengerti apa arti tatapan Hildan malam ini. Aku mengernyitkan dahi mempertanyakan maksud dari pembicaraan terakhir.
"Aku suka kamu" kata Hildan memegang tanganku, aku masih diam penuh tanya
"Sejak dulu, sejak sebelum kau jadi pacar Randy, sejak awal kita ketemu" katanya lagi kali ini aku sedikit terkejut
"Aku tidak tahu itu" kataku masih tak percaya selama itu dia menyukaiku dan aku tidak menyadarinya
"Bukan salahmu aku yang terlalu pengecut. Tapi malam ini dengan keseriusanku aku memintamu untuk menjadi kekasihku" kata Hildan dari raut wajahnya aku bisa melihat keseriusan disana.
Aku senang mendengarnya bahkan sekarang aku merasakan ada kupu-kupu berterbangan diperutku. Sedikit trik kecil yang aku baca dari buku wanita yang akan aku terapkan dimalam ini.
Aku melepaskan genggaman tangannya dan sedikit memposisikan diri sebelum aku berucap.
"Bolehkah aku meminta waktu untuk memikirkannya dulu aku masih bimbang dengan perasaanku" kataku dia tersenyum
"Baiklah aku harap besok Senin kau sudah memiliki jawabannya" katanya santai sambil tersenyum.
_
"Kamu gak lupakan dengan hutangmu kemarin?" Tanya Hildan mencegahku untuk keluar kelas
"Emmm Hildan ya" kataku tersenyum kaku
"Jadi?" Tanyanya serius menatapku
"Setelah aku pikir pikir, aku gak bisa" jawabku memalingkan wajahku
"Oh oke, aku mengerti setidaknya aku sudah mengatakannya" kata Hildan melangkah pergi
"Kamu mau kemana?" Tanyaku menarik seragam putihnya
"Del gak semua orang kaya kamu yang dengan cepat melupakan seseorang, jadi lebih baik dari sekarang aku menjau.." belum selesai dia berbicara aku memotongnya
"Aku mau jadi pacarmu" kataku tegas dia membalikkan badannya
"Maksud kamu apa? Tadi kamu bilang kamu gak bisa" tanyanya masih menatapku
"Aku bilang gak bisa, gak bisa nolak kamu Hildan" kataku tersenyum senang, dia langsung memelukku
"Hildan malu banyak orang" kataku mencoba melepaskan pelukannya, semua yang ada dikelas bertepuk tangan,
"Selamat ya Dan"
"Cie yang baru jadian selamat bro"
"Teman kita punya pacar juga"
Kata teman teman Hildan menyalami kami memberikan ucapan selamat, namun entah kenapa teman kelas kami juga ikutan menyalami kami memberikan ucapan selamat jadi berasa seperti orang yang sedang nikahan.
"Yang baru jadian kok pulangnya sendirian?" Tanya Carla sahabat ku
"Tadi dia bilang mau nemuin pelatihnya, lagian kamu kaya gak tahu Hildan aja" kataku
"Oh iya pacar mu kan Mr. Sibuk" katanya kita tertawa dan berjalan menuju parkiran
"Aku sudah dijemput, Adel aku duluan ya" kata Carla lagi aku hanya mengangguk.
Diparkiran aku melihat Randy duduk dimotornya, saat itu aku pikir dia sedang menunggu Karin jadi aku tidak mau perduli dengannya.
"Kamu pacaran dengan Hildan?" Tanyanya didepan motor ku
"Iya, aku rasa aku pacaran dengan siapa bukan urusan mu lagi" kataku santai lalu memundurkan motorku, tapi tanganku ditahan oleh Randy
"Kamu cinta sama Hildan? Atau hanya untuk membuatku cemburu?" Tanyanya serius
"Membuatmu cemburu? Aku gak tahu kenapa kau berkata seperti itu, Kau berkata seolah olah aku masih suka denganmu" kataku sambil menaraik tanganku
"2 tahun kita pacaran harusnya kau sudah tahu sifatku seperti apa, membuat orang cemburu bukanlah gayaku" kataku lalu meninggalkan Randy diparkiran.
Aku gak tahu apa maksud dia mengatakan hal konyol kaya gitu. Tapi satu hal apa pun yang terjadi dimasa lalu jangan dijadikan alasan untuk kembali, biarkan kenangan itu menjadi pelajaran.