Rintikan air itu terus menghujam bumi, disertai angin yang membuat daun melambai-lambai serta suara gemuruh yang memekakakan telinga. Dan di sini lah aku, duduk termenung di depan bangunan tua sambil berharap hujan akan segera reda. Tanpa terasa air itu telah membuat bajuku basah, membawa kedinginan yang tak terelakan.
Dua jam berlalu, kini langitpun telah menjadi gelap gulita, hanya di sinari rembulan. Begitu indah dan sangat menakjubkan. Mungkin bagi banyak orang biasa saja, tapi bagiku rembulan di malam hari adalah sesuatu yang menakjubkan. Bulan memang lebih kecil dari bumi, tapi ia mampu menerangi kegelapan, walau tak begitu terang. Seperti kehidupan, se kelam apapun kehidupan kita pasti akan ada setitik harapan di dalamnya, walau kecil. Tergantung bagaimana kita akan merubahnya nanti.
Ku langkahkan kakiku menuju istana yang telah menjadi tempat berlindungku selama ini. Langkahku ku lalui dengan sangat berat saat aku mendengar suara itu.
"Ibu kenapa kakak belum juga pulang, aku sudah sangat lapar, dia sudah janji akan membelikan ayam goreng yang aku inginkan, aku sudah tidak sabar ingin memakanya bu," suara Fitri adikku yang berusia 7 tahun.
"Sabar kakakmu pasti sebentar lagi pulang," kata ibuku sambil terbatuk-batuk.
Tanpa terasa buliran bening itu meluncur begitu saja. Bagaimana ini bahkan uang dagangan kue ku saja hanya mampu untuk membeli singkong rebus. Ini memang semua kebodohanku. Karna aku tidak hati-hati kue daganganku terkena air saat aku berteduh. Aku tadi tidak menyadari telah menaruh dangan ku di tempat yang salah. Dan gedung tua itu ternyata bocor dan mengenai danganku, sehingga tak layak untuk di jual.
Dengan langkah yang berhati - hati ku taruh singkong rebus yang tadi sempat ku beli di depan rumahku. Lalu aku bergi berlalu dari rumahku. Berencana mencari pekerjaan yang mungkin akan mampu membelikan adiku ayam goreng.
Bererapa warung telah aku kunjungi, berharap aku akan mendapat pekerjaan. Tapi ternyata hasilnya nihil. Mungkin jika aku meminta-minta uangnya pasti akan cukup untuk membeli ayam goreng itu. Tapi tidak, selagi aku masih mampu untuk bekerja tak akan ku lakukan itu.
Ku lihat di sebuah warung makan kecil, ibu pemilik warung itu sepertinya sangat kelelahan, di lihat banyak keringat yang membanjiri tubuhnya, bahkan sesekali ia hampir terjatuh saking lelahnya. Sangat tidak tega rasanya melihat itu semua. Akhirnya ku hampiri ibu itu.
"Bu biar saya bantu membereskan warung ibu, sepertinya ibu sangat kelelahan," kataku pada ibu itu.
"Tidak usah nak, walaupun kamu membantu ibu tetapi ibu tidak bisa memberimu uang sepeserpun. Karena ini bukan warung ibu, ibu hanya membantu mengelola warung ini," kata ibu itu sampil menghela kringat dibdahinya.
"Saya iklas membantu ibu. Saya tidak mengharapkan sepeser uang apapun dari ibu. Tidak semua pertolongan di balas dengan uang bu. Bagi saya menolong orang adalah kewajiban," kataku sambil terseyum.
Mendengar itu semua ibu itu tersenyum.
"Kamu bukan hanya tampan di luar tapi ternyata hati kamu juga sangat mulia nak, ya sudah kamu boleh membantu ibu," kata ibu itu.
"Kalau begitu biar saya saja yang membereskan ini semua. Ibu tidak perlu membantu. Ibu duduk saja," kataku saat melihat ibu itu masing ikut andil membereskan warung.
Akhirnya ku bereskan warung ini, mulai dari menyapu, mengelap meja-meja dan menata kursi-kursi. Tanpa terasa pekerjaan ini telah selesai dan ku lirik jam telah menunjukan pukul 10 malam.
"Bu saya pamit pulang dulu ya sudah malam," kataku pada ibu itu.
"Ya sudah, terima kasih ya nak. Ini ada sedikit makanan untuk kamu," kata ibu itu memberikan bungkusan makanan kepadaku.
"Tidak usah bu saya iklas membantu ibu. Lagian jika ibu kasih makanan itu ke saya nanti ibu bisa di marahin bos ibu," kataku menolaknya.
"Saya juga iklas memberikan ini untuk kamu nak. Ibu tidak akan di marahin bos ibu, karena warung ini tutup jam 9 malam, dan jika masih ada sisa maka boleh ibu bawa pulang. Itu kata bos ibu. Terima lah maka ibu akan merasa senang," sambil tersenyum ibu itu memberikan bungkusan itu kepadaku.
"Ya sudah terima kasih banyak bu, semoga tuhan membalas kebaikan ibu ini, saya pamit dulu bu," ku ambil bungkusan itu dan berpamitan dengan ibu itu.
Kini malam semakin larut, mungkin memang hari ini aku akan melihat kesedihan di wajah adikku karna tak mampu membelikan apa yang ia mau. Mungkin bungkusan makanan ini dapat menggantikan keinginan adikku itu.
Saat ku sampai rumah ibuku menyambut dengan senang hati, ku lihat ada wajah kekawatiran di wajahnya. Sungguh aku tak bermaksud pulang selarut ini.
"Ya ampun Aldo, dari mana saja kamu. Ibu sangat kawatir, dari tadi adikmu menunggumu pulang," kata Ibuku dengan nada lembut.
"Maaf ibu aku tidak bermaksud membuat ibu kawatir, tadi sehabis jualan aku membantu ibu-ibu yang sangat kelahan. Apa Ibu dan Fitri sudah makan?" tanyaku.
"Ibu sudah makan, tadi saat ibu membuka pintu ada singkong rebus di depan rumah, mungkin orang yang berbaik hati dengan kita. Tetapi Fitri tidak mau makan, katanya ia mau menunggu ayam goreng yang akan kamu belikan," kata ibuku.
"Apa Fitri sudah tidur bu?" tanyaku.
"Sudah nak," kata ibu sambil tersenyum.
Akhirnya aku membangunkan Fitri untuk makan.
"Fitri bangun, ini kakak bawa makanan untukmu," kataku sambil mengoyang-goyangkan tubuh Fitri.
"Iya kak," jawab fitri sambil mengucek matanya.
"Wah kakak bawain aku ayam goreng ya," kata Fitri melihat bungkusan makanan yang aku bawa.
Bagaimana ini aku saja tidak tau apa isi bungkusan itu. Mungkin itu bukan ayam goreng, bagaimana reaksi Fitri nanti.
"Buka saja Fitri, syukuri apa yang ada. Terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan harapan kita," kataku.
Begitu terkejutnya aku begitu Fitri membuka bungkusan itu ternyata isinya nasi, sayur dan ayam goreng. Dan betapa hangatnya hati ini melihat senyum yang merekah di hati Fitri.
"Kakak sudah makan?"
"Kakak sudah makan kok" kataku berbohong. Melihat Fitri makan dengan lahab pun aku sudah kenyang.
Lalu aku berlalu untuk masuk ke kamarku, saat aku melihat ke meja makan di sana masih ada sedikit singkong rebus. Lalu aku makan singkong itu untuk menganjal perutku.
*********
Matahari telah memancarkan sinarnya. Siang yang begitu terik. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang di tutup dengan sangat kerasnya.
"Ada apa Fitri kenapa kamu pulang sekolah marah-marah begitu?" tanya ibuku.
"Ibu kenapa kita harus jadi orang miskin, rumah gubung ini membuatku malu. Semua teman-teman mengejekku. Aku malu Ibu sangat malu. Aku ingin rumah yang jauh lebih baik dari ini. Kenapa juga aku harus dilahirkan menjadi orang miskin Ibu. Kenapa tuhan tak adil pada kita," kata Fitri sambil menangis, Ibuku menangis mendengar itu.
"Siapa yang bilang rumah kita gubuk Fitri. Rumah kita ini istana. Istana yang sangat megah. Tidak semua orang memiliki istana seperti kita. Dan siapa bilang kita miskin, kita saja masih mampu untuk membeli makan. Masih ada orang yang bahkan tak makan berhari-hari karna tak mampu membeli makan," kataku dengan lembut.
"Bagaimana kakak bilang rumah kita istana. Lihat saja, rumah kita gubuk reot kak. Bahkan tak pantas di sebut rumah," kata Fitri sambil berteriak lalu ia lari ke kamarnya.
Ibuku sangat terpukul mendengar itu semua. Ia menangis tersedu-sedu. Aku berusaha menenangkanya tapi ia tetap menangis.
"Maafkan Ibu Aldo. Ibu hanya bisa menyusahkan kalian. Bahkan di saat umur kamu masih 15 tahun pun kamu harus mengantikan ayah kamu mencari nafkah untuk keluarga. Maaf juga kalau rumah kita juga cuman sebatas gubuk reot," Ibuku terus saja menangis.
"Ibu berapa kali aku bilang rumah kita itu istana, apa ibu tak sadar?"
"Sudahlah kamu tidak usah banyak bermimpi nak," kata ibuku yang berlalu ke kamarnya.
Mulai saat ini aku harus bekerja dengan giat. Aku akan buktikan bahwa rumah ini istana yang sangat megah. Mungkin dengan bekerja di kota akan membuatku mendapatkan banyak uang. Tapi bagaimana dengan ibuku dan adikku. Sungguh membuat kepalaku sangat berat.
*******
"Ibu aku ingin bekerja di kota, supaya aku bisa mendapat banyak uang dan aku juga akan buktikan bahwa rumah kita itu istana," kataku.
"Tidak nak, kalau kamu ke kota kamu mau kerja apa dan tinggal dimana?" tanya ibuku.
"Ibu tenang saja aku sudah dapat kerja dan mendapat fasilitas tempat tinggal juga," kataku berbohong, supaya ibu tidak kawatir.
"Setiap bulan aku akan mengirim uang untuk ibu dan Fitri nantinya. Ibu tidak usah kawatir," kataku.
"Baiklah tapi kamu harus jaga diri baik-baik disana" kata ibuku sambil tersenyum.
Keesokan harinya aku berpamitan dengan ibu dan berangkat ke kota dengan menebeng mobil pengantar barang ke kota. Sesampainya di kota aku tidak tau harus kemana hanya berkeliling mencari pekerjaan. Saat aku tiba di sebuah toko kecil aku melihat ada lowongan pekerjaan di sana. Setelah itu aku bertanya dan aku langsung di suruh untuk wawancara. Begitu senangnya aku karena aku diterima, padahal umurku masih 15 tahun.
Berhari-hari berlalu. Selama berhari-hari itu pula aku tinggal di sebuah masjid. Disana aku di tugasi untuk membersihkan masjid setiap hari. Saat aku sedang menata barang aku melihat penjaga kasir yang kebingungan. Lalu aku hampiri ia.
"Mbak ada apa kok bingung gitu?"
"Ini lo mesin kasirnya rusak, mbak gak tau cara benerinya," di saat itu pula pemilik toko datang dan melihat masalah ini.
"Biar saya coba benerin mbak,"
"Emang kamu bisa dek?"
"Insya allah saya bisa mbak," Aku memang sangat menyukai teknologi. Cita-citaku memang menjadi seorang IT. Meski aku tak dapat melanjutkan sekolah aku masih tetap belajar. Dulu sehabis jualan kue aku selalu ke perpustakaan daerah untuk membaca-baca buku tentang teknologi. Serta sesekali aku mampir ke rumah kak Satria tetanggaku yang kebetulan ia seorang IT handal.
"Ini sudah selesai mbak, sudah bisa di pakai lagi mesinya."
Bosku sangat terkejut melihatku, bagaimana bisa anak berusia 15 tahun mampu memperbaiki program kasir yang eror.
"Bagaimana kamu bisa memperbaiki itu Aldo?" tanya bosku.
"Saya banyak belajar pak," kataku sambil tersenyum.
"Kalau begitu kamu saya pindahkan di bagian IT, saya akan pindahkan kamu ke toko pusat. Begitu ada kendala di toko pusat maupun cabang kamu akan membantunya."
Tak bisa ku bayangkan bagaimana perasaanku saat ini. Gembira? Iya sangat.
******
10 tahun berlalu. Selama itu pula aku selalu menyisihkan uangku untuk membangun sebuah toko sendiri. Dan kini aku telah memiliki banyak toko cabang. Mungkin sebentar lagi keinginanku akan terkabul. Sudah lama sekali rasanya aku tidak pulang ke rumah. Karna itu hari ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah.
Saat aku telah sampai ke rumahku di desa aku tersenyum. Kini untuk membuktikan bahwa rumahku adalah istana telah terkabul. Kini bisa aku lihat sendiri bangunan megah di depan mataku. Beberapa bulan yang lalu aku memang merenovasi rumaku menjadi rumah yang megah.
"Kakak aku kangen kakak," kata Fitri yang berlari memelukku saat dia melihatku berdiri di depan rumah. Kini Fitri, telah menjadi gadis remaja berusia 17 tahun.
Saat mendengar adikku berteriak ku lihat ibu keluar dari rumah dan memelukku juga. Senang rasanya bertemu orang-orang yang sangat aku cintai. Lalu kita bertiga masuk ke dalam rumah.
"Kakak benar rumah kita bukan gubuk tapi istana yang saat megah," kata Fitri dengan senangnya.
"Iya Fitri kakak senang melihatmu senang. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat. Bersyukurlah atas apa yang kamu punya. Bermimpilah setinggi langit dan berjuanglah setinggi langit pula. Rejeki tidak akan salah tempat Fitri. Mau rumah kita kayak apapun kamu harus bersyukur, rumah itu adalah istana bagi kita, masih banyak orang yang tidak memiliki rumah," kataku.
"Baik kak, maafin Fitri dulu ya kak, Fitri udah buat kalian semua sedih dulu. Fitri sadar, Fitri salah besar dulu," kata Fitri sambil menunduk.
"Tidak apa Fitri, wajar dulu kamu begitu karna dulu kamu masih anak-anak. Karna kamu juga kita sekarang bisa hidup berkecukupan. Kalau dulu kamu tidak begitu mungkin kakak tidak akan pernah ke kota," kataku.
Lalu ku peluk adikku yang tak terasa jika ia mengangis. Ibuku juga ikut memelukku ternyata. Beginilah hidup, jika kita bersyukur dan berusaha pasti akan ada jalan keluarnya.
Selesai.....