" Bolos lagi?." tanya ku dari balik telepon saat mendengar sebuah alasan dari seseorang di balik telepon itu.
" Yahh bagaimana lagi. Emergency sih!." jawabnya santai.
" Baiklah. Jika taun ini kamu tidak naik kelas lagi, aku tidak mau bertemu denganmu lagi!." tukasku.
" Heeeiii!!!. Aku juga ingin naik kelas, tapi guru - guru itu saja yang selalu membuat masalah." kilahnya.
" Sudahlah. Susah bicara dengan kepala batu!." dengusku.
" Heeemmm kamu mau aku bawain oleh - oleh apa nanti?." tanyanya merayu.
" Gak usah!." tolakku.
" Baiklah. Aku tutup dulu ya. Keretanya sudah hampir tiba. Gak lucu kan kalau sampai ketinggalan." ujarnya.
" Heeeemmmmm!!!." jawabku lalu mematikan sambungan telepon.
Aku mendesah kesal. Ini sudah kelewatan. Hampir setiap bulan selalu saja ada alasan untuk tidak masuk sekolah. Yang ini, yang itu lah. Sampai bosan rasanya.
Lelaki yang aku bahas itu adalah Roni. Dia teman sekelas ku. Lebih tepatnya Roni adalah kakak kelasku. Namun dia tidak naik kelas selama dua tahun akhirnya menjadi teman sekelas ku.
Walaupun sikapnya terlihat urakan dan tidak pernah serius dalam suatu hal, tapi Roni adalah anak yang menyenangkan dan sangat solid kepada kawannya. Dia terlahir dengan wajah yang tampan dan harta yang berlimpah. Kedua orang tuanya juga begitu menyayanginya. Hanya saja kelemahannya itu terletak pada otaknya.
Dia sangat lemah dalam semua mata bidang pelajaran. Dia juga pemalas. Pada dasarnya dia adalah orang yang tidak suka di atur. Baginya sekolah dan belajar adalah sebuah aturan yang membosankan. Maka dari itu dia selalu malas untuk pergi ke sekolah dan belajar.
Seperti malam ini, dia tiba - tiba menelepon ku dan bilang kalau dia tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari kedepan dengan alasan ingin berlibur. Padahal ini bukan waktunya musim liburan sekolah.
*****
Empat hari kemudian
Aku sedang duduk di bangku ku membaca buku sejarah dengan menggunakan headset di telinga ku. Tiba - tiba ada yang menarik headset ku dan duduk di sampingku tanpa ras bersalah.
" Oohh?. Masih hidup rupanya?. Aku kira sudah almarhum!!." tukasku saat melihat Roni yang sudah duduk manis di samping ku.
" Rara sayang, kenapa kamu kejam sekali padaku. Mana mungkinlah pangeranmu ini pergi tanpa sang Puteri di sampingnya." ujarnya dengan senyum jenakanya.
" Pangeran?. Kamu?. Mimpi!!!." ejekku.
Roni hanya terkekeh melihatku. Dia lalu membuka tas ransel miliknya dan memberikan aku sebuah bungkusan itu kepadaku.
" Apa ini?." tanya ku.
" Sogokan. Agar tuan putri tidak marah lagi." jawabnya.
Aku tersenyum mendengar ucapan nya. Walaupun itu terdengar menjijikan, entah mengapa aku suka saat dia memanggilku seperti itu.
*****
Satu bulan kemudian
Aku langsung bergegas turun ke bawah saat mama memberitahuku kalau Roni ada datang. Aku melihat jam yang ada di dinding. Hampir jam sepuluh malam. Ada apa dia datang selarut ini ke rumahku?.
Saat aku tiba di lantai bawah. Aku melihat Roni yang sedang menonton bola bareng dengan papa ku di depan layar televisi. Dia terlihat akrab dan dekat sekali dengan Papa tanpa sungkan sama sekali.
Dia hanya menatap ku sekilas dan kembali lagi menatap layar televisi. Aku pun menarik tangannya dan mengajaknya bicara di teras rumah.
" Ada apa kesini malam - malam?. Ganggu orang tidur aja?." dengusku.
" Iiih ini sih masih sore tau. Kamu aja yang kebo. Liat bantal dikit langsung merem." ejeknya.
Aku meliriknya tajam. Sedangkan dia masih cengengesan gak jelas.
" Iya iya. Gak usah gitu kali liatnya. Nanti juling tau rasa deh." ujarnya.
" Kalau gak penting mending pulang aja deh. Aku mau tidur!." tukas ku kesal dan ingin beranjak dari dudukku. Namun lenganku langsung di tarik lagi olehnya.
" Iya iya. Gitu aja marah. Emosian banget sih. Lagi dapet ya?." tanyanya. Aku semakin melotot menatapnya.
" Aku laper. Mau minta temenin kamu makan nasi goreng." ujarnya.
" Hah?. Jauh - jauh kesini cuma mau minta temenin makan nasi goreng?. Berangkat sendiri tadi kan bisa?. Nyusahin deh!." dengusku.
" Oohh jadi selama ini aku nyusahin ya?. Oke deh aku gak akan nyusahin kamu lagi mulai saat ini." ujarnya dengan bibir monyong ke depan.
" Gitu aja baper. Tunggu bentar aku ganti baju dulu. Sekalian sana minta izin Mama sama papa ku." pinta ku.
Roni langsung tersenyum dan bergegas masuk ke dalam meminta izin ke kedua orang tuaku.
Kami pun makan nasi goreng dan berjalan - jalan dengan motor Vespa nya berkeliling kota tengah malam. Sangat menyenangkan sekali. Aku akui walaupun Roni bodoh dalam pelajaran sekolah. Tapi dia pandai dalam menyenangkan hati orang. Buktinya Mama dan papa ku iya iya aja saat dia meminta izin mengajakku keluar tadi.
" Ra." panggilnya sambil terus fokus mengendarai motor Vespanya.
" Apa?." teriakku sedikit keras akibat bunyi klakson mobil di jalanan.
" Aku boleh ngomong sesuatu gak?."
" Apa?."
" Aku suka kamu!!!." ujarnya.
Hatiku langsung mencelos saat mendengar ucapan itu. Senang dan tak percaya.
" Kok diam?." tanyanya.
" Hah?."
" Kamu loh kok diam?."
" Emang kamu ngomong apa?. Aku gak dengar?." ujarku menggoda Roni.
" Aku bilang, Aku suka kamu!!!." tukasnya.
" Gak denger Ron. Yang kenceng ngomongnya!." pintaku.
" Kamu budek atau pura - pura budek sih." ujarnya kesal.
Aku hanya terkekeh mendengar keluhannya.
" Tadi ngomong apa?. Aku gak denger."
" RARA ..... WO AI NI ..... " teriak Roni dengan keras dan lantang di tengah - tengah jalanan sampai pengendara yang lainnya pun menoleh ke arahnya dan melempar tatapan aneh dan siriknya.
Aku yang mendengar itu pun hanya tersenyum. Sudah sejak lama aku juga memendam rasa yang sama terhadap mu. Namun aku selalu menepisnya. Aku takut semua ini akan menghancurkan persahabatan kita.
Namun dari awal persahabatan ku dengannya sudah rusak. Mengapa?. Karena laki - laki dan perempuan tidak bisa berteman. Jika ada, salah satu di antara mereka pasti ada yang memendam perasaan cinta dan akhirnya terluka.
Aku pun mengeratkan pelukanku kepadanya.
" Aku juga suka kamu!!." jawabku.
Roni yang mendengar itu pun berteriak kegirangan. Dia bergoyang - goyang di atas motor Vespa nya dan terus berteriak dan tertawa lepas. Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah lucunya.
" Jadi, kita jadian nih?." tanyanya.
" Enggak!."
" Lah tadi bilang juga suka aku?." tanyanya tak mengerti.
" Aku gak boleh pacaran sama Papa sampai lulus sekolah. Kalau kamu mau, tunggu aku sampai lulus." tukas ku.
" Itupun kalau kamu lulus. Kalau kamu tinggal kelas lagi, aku gak mau sama kamu. Memalukan tau!!." jelas ku.
" Ok. Demi kamu, aku akan lulus taun ini. Aku akan buktikan kepadamu, my princess." ujarnya.
" Aku butuh bukti. Bukan janji." jawabku.