Namaku Indah. Aku suka keindahan terutama keindahan yang Allah berikan pada Langit dan Laut. Aku juga pencinta warna biru dan hampir semua barang yang aku miliki berwarna biru.
Saat itu aku adalah salah satu anggota Resimen Mahasiswa (Menwa). Aku wajib ikut dalam perekrutan anggota baru di kampus. Markas Komando kami terletak di bawah ruang 21 yang konon katanya banyak penghuni gaib di sana.
Diklatsar anggota baru akan dilaksanakan selama tiga hari. Yaitu Jumat, Sabtu, Minggu. Aku begitu lega, karena hari yang ditentukan telah lewat dari malam Jumat dan aku tidak sedang berhalangan untuk tetap melaksanakan Shalat.
Hari pertama, akan dilaksanakan latihan - latihan dasar seperti tiarap, merayap, berguling yang di latih oleh para senior termasuk aku. Namun aku memilih untuk sekedar mengawasi, khawatir kalau ada anggota baru yang tidak mampu melakukan hal tersebut dan jatuh sakit.
Kegiatan yang padat merayap tersusun hingga malam hari, tak terkecuali Ishoma yang juga termasuk dalam jadwal.
Tiga hari dua malam kami harus berada di kampus. Jam sembilan, apel malam selesai. Saat jam istirahat malam, tak ada perbedaan antara anggota baru dan seniornya.
Para anggota Perempuan tidur di dalam Mako sedangkan anggota laki - laki memilih tidur di depan Mako dengan menggelar sebuah tikar. Tak butuh waktu lama bagi anggota baru untuk terbang ke alam mimpi, baik laki - laki maupun perempuan.
Tak banyak orang tua yang mengijinkan anak perempuannya bergabung dengan Menwa sehingga senior perempuan yang hadir dalam kegiatan tersebut hanya berjumlah 5 orang (Nora, Ria, Novi, Citra dan aku). Setelah semua anggota baru tidur, Nora, Citra dan Ria pulang kerumahnya karena mereka tidak mendapat izin dari orang tuanya untuk menginap. Tinggallah aku dan Novi di luar Mako bersama para senior cowok.
"Kenapa belum tidur?" Awis, senior sekaligus kekasihku menghentikan tangannya yang sedari tadi memetik gitar.
"Belum mengantuk!" Jawabku dingin disertai Novi yang ikut keluar dari Mako dan duduk di sampingku.
Awis melanjutkan petikan gitarnya dengan lagu kemesraan.
"Yang lain kemana?" Aku menanyakan para senior cowok yang tadi masih duduk dan bicara bersama membahas kegiatan selanjutnya sambil menghentikan tangan Awis agar menjawab pertanyaanku.
"Herman, Fendi, dan Hendri mengantar Nora, Citra dan Ria pulang. Mereka juga berjanji akan segera kembali ke Mako setelah mengantar para cewek pulang. Fahmi dan yang lain pergi ke masjid kampus untuk Shalat Isya karena tadi mereka belum sempat melaksanakannya" Awis menjelaskannya panjang lebar.
Aku mengajak Awis menjauh dari Mako, kami memilih duduk di atas hamparan paving di bawah sinar terang bulan purnama diikuti Novi yang duduk di sampingku Menyanyikan lagu "KEMESRAAN".
Mendengar suara kami bertiga, senior yang berada di kampus datang menghampiri kami dan ikut duduk dibawah terangnya sinar bulan purnama.
Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 23:00. Awis yang memang mengerti keadaanku menyuruhku tidur. "Pergilah tidur, supaya tidak muntah darah!"
"Iya,kak!" Aku melangkah sendirian menuju Mako karena Novi sudah kembali ke Mako satu jam yang lalu. Aku coba memejamkan mata sebelum jam 00:00 karena jika di jam itu aku belum tidur, maka aku akan muntah darah. Tak butuh waktu lama untuk aku tertidur pulas.
"Maling! Maling! Maling!" Terdengar teriakan beberapa security yang jaga malam di kampus. Serentak mereka yang masih bermain gita langsung berlari ke arah suara yang meneriakkan maling. Sementara aku hanya terduduk di mako karena terkejut dan belum sepenuhnya sadar.
Aku melihat bayangan putih turun dari lantai dua. Aku mengusap mata agar terlihat jelas apa yang sebenarnya lewat di depan Mako.
Saat itu aku seolah melihat seorang gadis diperkosa oleh beberapa orang laki - laki hingga gadis tersebut meninggal dunia.
Entah apa yang terjadi dengan diriku malam itu, aku kembali tertidur hingga subuh aku terbangun karena suara Adzan di masjid kampus.
Aku bergegas mandi, berwudhu dan Shalat subuh berjamaah di masjid kampus. Usai Shalat, kami para senior melakukan briefing yang dilanjutkan briefing calon anggota.
Saat sarapan pagi datang, para calon anggota makan bersama di dampingi para senior kecuali aku dan Awis yang makan berdua di sebuah gardu tak jauh dari yang lain.
Aku menceritakan apa yang aku alami semalam, Awis mempercayai semuanya karena ia adalah salah satu senior dan Mahasiswa Abadi di kampus kami sehingga mengetahui banyak hal yang terjadi di kampus.
Selesai sarapan pagi, kami bejalan kaki menuju 516 untuk mengikuti Latihan di sana.
Di jalan, aku meminta Awis mengambil Ponsel aku tinggal di Mako saat aku shalat Subuh dan lupa membawanya saat berangkat menuju 516. Aku jelaskan letak pastinya pada Awis agar mudah mencarinya. Tak butuh waktu lama, karena Awis naik motor.
Dia memberikan Ponselku bersama dengan selembar kertas putih bergambarkan seorang gadis yang hadir dalam penglihatanku semalam.
"Dek, bukannya kamu tidak bisa menggambar wajah?" Tanya Awis keheranan.
"Iya, aku memang pandai melukis apapun tapi tidak dengan lukisan wajah!" Sahutku.
"Lalu ini gambar siapa?" Tanya Awis sembari memberikan kode agar aku naik motornya untuk menyusul mereka yang sudah berjalan jauh dari kami.
"I - itu gadis yang aku ceritakan tadi pagi" Aku gugup menjawab pertanyaan Awis.
"Lalu, siapa yang membuat lukisan ini?"
"KAMU atau DIA?"
Sejak saat itu, aku bisa melukis wajah seseorang saat aku tidur malam dan tanpa aku sadari.
Orang yang ada dalam setiap lukisanku adalah orang yang berbeda yang aku sukai, aku benci atau orang yang sedang dalam pikiranku sebelum aku tidur.
~~~SELESAI~~~