Namanya Cahaya Permatasari, gadis cantik dan manis, apalagi jika tersenyum terlihat lesung pipinya. cahaya atau biasa di sapa Aya adalah gadis yang periang dan murah senyum. tapi itu dulu, sekarang ia menjadi pendiam dan tidak bersemangat menjalani hari-hari, karena sebuah kecelakaan yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan seperti dulu lagi dan harus memakai kursi roda setiap harinya.
saat mengetahui ia tidak bisa berjalan lagi, cahaya lebih sering menyendiri dan menghindar dari keramaian. wajahnya pucat, tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya yang ada hanyalah tatapan kosong.
Pagi itu, di sebuah rumah minimalis bertingkat suasana tampak hening seperti tidak berpenghuni. berbeda dari hari-hari sebelumnya, yang selalu ramai dengan canda tawa di setiap harinya. kini hanya ada kesunyian dan kesedihan.
" kak, ayo kita makan " kata Mentari, adik dari Cahaya yang hanya selisih 1 tahun dengannya.
sedangkan wanita paruh baya yang berada di antara kakak beradik itu hanya menatap mereka dengan sendu. wanita paruh baya itu adalah ibu dari Cahaya dan Mentari.
Cahaya menatap makanan yang tertata rapi di meja makan, terlihat enak untuk dinikmati. namun saat ini ia tidak berselera makan karena melihat kondisinya yang lumpuh. ia memilih pergi sambil mendorong kursi rodanya, meninggalkan ibu dan adiknya yang menatap Cahaya dengan sedih.
" Ibu, kapan ka Aya akan berubah seperti dulu, aku rindu bermain bersama, canda tawa ka Aya dan senyuman nya yang menghangatkan." kata Mentari dengan muka sendu
" Sabar ya, mungkin ka Aya butuh waktu untuk menerima keadaannya, ibu juga merindukan Cahaya yang dulu, dan yang terpenting sekarang kita harus memberikan semangat untuk Cahaya " kata Ibu sambil mengelus pundak Mentari. lalu mereka melanjutkan makannya.
_____________
Di sebuah kamar nuansa putih, terlihat seorang gadis yang sedang bercermin menatap pantulan dirinya.
" kapan aku bisa berjalan kembali, menikmati udara di luar sana, bermain bersama. jujur saja, aku merindukan saat masa-masa dimana aku masih bisa berjalan. canda tawa dan kehangatan keluarga yang aku rasakan. Ibu dan Mentari maafkan aku yang tidak pernah merespon kalian, karena aku sadar dengan kondisiku yang lumpah dan hanya akan menyusahkan kalian." kata Cahaya dengan mata berkaca-kaca
Saat Cahaya merasa bosan, ia pun pergi menuju kamar adiknya.
setelah sampai di depan pintu kamar mentari, lalu ia membuka pintu dengan pelan. saat pintu terbuka ia melihat Mentari yang sedang asik bernyanyi di depan cermin sambil melangkahkan kakinya ke kanan dan kiri.
Cahaya yang melihat itu pun, ia sedih menatap kakinya. sedangkan Mentari baru menyadari keberadaannya kakaknya. saat Cahaya menyadari Mentari yang sedang menatapnya, ia pun langsung pergi sambil mendorong kursi rodanya. Mentari hanya pasrah melihat sikap kakaknya yang seperti itu.
____________
Keesokan harinya...
Mentari sudah rapih berpakaian, ia memakai Hoodie warna kuning dan celana training panjang. lalu ia mengambil sepeda dan berpamitan kepada ibunya.
Mentari mulai menaiki sepedanya dan pergi meninggalkan halaman rumah.
Diam-diam Cahaya mengikuti Mentari, ia ingin menikmati udara di luar dan ingin melihat Mentari bermain sepeda.
Mentari sedang asik bersepeda, ia belum menyadari keberadaan kakaknya.
Cahaya yang melihat Mentari asik bersepeda, ia ingin menghampiri sambil mendorong kursi rodanya untuk menyebrang ke pinggir jalan.
Saat Mentari melihat kakaknya ingin menyebrang jalan, ia melihat ada mobil yang akan melintas, lalu ia berlari meninggalkan sepedanya untuk menyelamatkan kakaknya, setelah mendorong kursi roda kakaknya ke pinggir jalan, Namun naas ia tidak sempat menyelamatkan dirinya dan Mentari lah yang tertabrak mobil itu.
Cahaya yang melihat itu pun syok dan langsung berteriak meminta tolong kepada warga sekitar dan meminta untuk memberi tahukan kepada ibunya.
Mentari telah di bawa ke rumah sakit, sekarang ia ada di dalam ruangan UGD sedang di periksa oleh dokter.
Tak lama kemudian dokter pun keluar dan memberitahu kondisi Mentari yang sedang kritis.
" Hiks...hiks... dek maafin kakak, kakak belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu, harusnya kakak yang nolongin kamu, bukan kamu yang nolongin kakak. harusnya kakak yang tertabrak bukan kamu." kata Cahaya dengan berlinang air mata.
sedangkan ibunya mengusap punggung Cahaya untuk menenangkan anaknya, ia juga merasakan apa yang Cahaya rasakan.
" kak " kata Mentari dengan suara parau karena baru siuman
" iya dek ada apa " sahut Cahaya sambil menggenggam tangan Mentari dengan mata yang sembab
" kak Aya janji ya sama aku buat berubah seperti dulu lagi " kata Mentari dengan suara parau
" iya kakak janji " sahut Cahaya yang masih menggenggam tangan Mentari
" Ibu, kakak maafin Mentari yah, Mentari belum bisa menjadi anak dan adik yang baik buat kalian " kata Mentari sambil tersenyum
" gak dek, kamu adalah adik terbaik buat kakak sampai kapan pun " sahut Cahaya dengan berlinang air mata, ibunya pun menitikan air matanya melihat kakak beradik yang saling menyayangi.
Tidak lama kemudian Mentari menutup matanya dan terdengar suara dari layar monitor.
Cahaya langsung menangis histeris karena tidak menyangka adiknya akan meninggalkannya untuk selama-lamanya dan ibunya langsung memeluk Cahaya sambil menitikkan air matanya.
" kita harus mengikhlaskan Mentari " kata Ibu sambil menenangkan Cahaya.
TAMAT
~ Janganlah berlarut dalam kesedihan,
lihatlah orang ada yang di sekitar mu,
yang menyayangi mu, yang berusaha untuk
membuat mu tersenyum dan bangkit dari
keterpurukan.
~ Mungkin hari ini, esok atau nanti kamu akan
menyadari arti sebuah kehadiran yang akan
terasa saat kehilangan telah merenggutnya,
maka penyesalan lah yang akan tercipta.