Dari : Kak Valerian ❤️
Maaf, Ferlin. Janji kita harus dibatalkan. Aku ada kerja kelompok. Kelompok ku tiba-tiba memintaku berkumpul.
Huft... Lagi! Aku menghela nafasku dengan kasar. Kalau di hitung ini sudah janji ke 18 yang dibatalkan olehnya. Kecewa, tapi aku juga tak bisa mengatakan kekesalanku terhadap dia. Aku terlalu takut jika keegoisan ini akan merusak hubungan ku dengan dia. Yah, dia pacarku. Kami sudah pacaran selama 1 tahun ini. Kami bertemu saat aku masuk ke klub bahasa Inggris. Namanya Valerian. Dia Kakak kelasku sekaligus ketua klub. Dia siswa yang sangat pandai dan aktif. Ramah dan mudah bergaul. Beda jauh denganku. Aku hanya siswi SMA biasa yang tidak populer sama sekali. Tapi aku cukup pandai di sekolah. Aku berteman hanya dengan orang-orang yang biasa berbicara denganku. Tidak seperti Kak Val yang bisa berbicara dengan akrab pada siapapun. Itulah mengapa aku menyukainya. Aku merasa beruntung karena mendapat orang sehebat kak Val. Sekarang aku kelas sebelas dan dia kelas dua belas. Sekitar 6 bulan lagi, dia akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Yang artinya dia harus meninggalkan aku.
"Tolong rahasiakan hubungan kita dari siapapun ya? Kau tahu aku adalah ketua klub. Aku harus menjaga peraturan klub." Permintaan yang ia minta saat kami jadian. Di klub memang ada peraturan dimana tidak boleh ada hubungan asmara sesama anggota. Sebenarnya aku sedikit keberatan dengan permintaan Kak Val. Aku jadi tak bisa membanggakannya sebagai pacarku dan tak bisa menjalani hubungan seperti pasangan lainya. Selama setahun ini aku tak pernah menyebutkan namanya sebagai pacarku didepan teman-teman ku. Menyedihkan bukan? Tapi aku sangat menyukainya. Seberat apa yang aku rasakan, aku harus bertahan agar bisa terus menjaga hubungan ini.
Aku melangkah meninggalkan taman dengan perasaan yang sedikit tidak senang. Aku rasa aku kehilangan semangat ku.
"Ferlin?" Suara familiar dari belakang. Aku menengok untuk memastikannya dan memang benar. Yohan, sahabat ku berjalan ke arahku dengan senyumnya.
"Darimana?" Tanyanya sembari berjalan bersamaku.
"Aku melihat bunga Bougenville di taman. Kata perawat taman ada warna baru. Aku ingin memastikan saja." Jawabku berbohong.
"Oh, kalau begitu, ayo pulang bersama." Aku hanya mengangguk. Kami berjalan menuju rumah yang kebetulan bersebelahan. Itulah awal bagaimana aku dan Yohan bersahabat. Yaitu aku dan dia bertetangga.
"Akh!" Pekik Yohan memegang dadanya. Langkahnya terhenti dan dahinya mengernyit. Dia seperti menahan sakit. Membuatku menjadi khawatir tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanyaku cemas. Seketika wajahnya berubah biasa, meliriku sembari menurunkan tangannya dan tersenyum usil.
"Aktingku bagus?"
"Bug!" Ku pukul lengannya seketika karena jengkel. Aku sudah khawatir tapi dia bercanda? Benar-benar tidak lucu. Aku mempercepat langkahku meninggalkan dia dengan kesal.
"Hey, Ferlin! Tunggu!" Terserah, siapa suruh mengerjai ku.
*****
Hari ini kami ada pertemuan klub. Ada beberapa materi yang kami dapat. Aku senang karena ini bisa membantuku memperbaiki nilai pelajaran bahasa Inggris ku yang belum cukup baik. Usai pertemuan klub, Kak Val memintaku untuk tinggal di ruang klub sebentar. Mungkin dia akan membahas soal janji yang batal kemarin.
"Maaf ya, aku membuat mu kesal karena terus membatalkan janji." Ucapnya sembari merapikan bukunya. Aku tersenyum memandanginya yang sibuk sendiri.
"Tak apa. Apa tugas kelompok kakak sudah selesai?"
"Sudah. Terimakasih sudah mengerti aku." Dia orang yang lembut. Walau sudah membuatku kecewa karena batal janji tapi dia selalu minta maaf dan berterimakasih padaku.
"Kak, apa Kak Val tak ingin orang lain tahu hubungan kita? 6 bulan lagi Kak Val sudah lulus kan?" Tanyaku mencoba membujuknya. Hanya 6 bulan, mungkin saja Kak Val akan membiarkan teman-teman tahu. Dia berhenti sejenak, mengerutkan kening lalu menggeleng.
"Tidak, Ferlin. Jangan sampai orang lain tahu. Itu akan mengganggu ku. Biar kan aku menyelesaikan ujian dengan baik dulu." Yah, tentu saja dia tidak akan setuju. Aku yang bodoh kenapa harus menanyakan itu.
"Mau pulang... "
"Kau pulang saja dulu. Sepertinya aku masih ada pekerjaan. Anak-anak akan curiga jika kita keluar bersama." Baru saja aku mau mengajaknya pulang bersama. Dia sudah menyelaku dengan kalimat nya. Benar juga. Lagipula Yohan pasti juga sudah menungguku di gerbang.
"Iya, aku pulang dulu." Kataku. Aku segera membereskan barangku.
"Oh ya, Minggu depan aku janji akan mengajakmu ke museum buku." Janji lagi.Kuharap ia akan menepatinya kali ini.
"Baik." Aku bangkit dan segera meninggalkan ruang klub. Aku berjalan keluar sekolah. Dari kejauhan ku lihat Yohan sedang bersandar ke tembok seperti menahan tubuhnya. Tangannya memegangi dadanya seperti kemarin dan terlihat kesakitan. Ada apa dengannya?
"Yohan?" Dia menegakan badanya tiba-tiba saat mendengar panggilanku. "Kau kenapa?"
"Lapar." Jawabnya tersenyum simpul. Dahinya dipenuhi keringat dingin. Benar juga, aku baru ingat Yohan punya asam lambung. Sebaiknya kami cepat pulang agar kami bisa segera makan.
Sesampainya dirumah, ibu Yohan memintaku untuk mampir dan makan bersama. Ya aku menurutinya. Lagipula ayah dan ibu masih bekerja. Menghabiskan sore bersama Yohan juga cukup mengasyikkan. Setelah makan, ibu Yohan pamit untuk berangkat kerja masuk malam. Meninggalkan aku dan Yohan berdua dirumah. Biasanya kami bermain game atau belajar bersama. Tapi kali ini sepertinya Yohan sedang tidak sehat. Dia hanya tiduran di sofa membiarkan aku bermain game sendiri.
"Kau sakit?" Ia hanya mengangguk lirih tanpa membuka matanya. Ku letakan ponsel yang kupakai untuk bermain game ke lantai. Lalu mendekat ke wajahnya.
"Apa yang kau rasakan sakit? Dibagian mana?" Dia hanya diam tak merespon ku. Aku memegang dahinya yang penuh dengan keringat dingin.
"Yohan, kau masih mendengar ku kan?" Tanyaku cemas.
"Kau takut aku mati?" Aku melebarkan mataku seketika. Bicara apa dia? Kenapa bertanya seperti itu?
"Tentu saja aku takut. Kau kan sahabatku!" Tegas ku. Tiba-tiba ia meraih pergelangan tanganku dan menggenggamnya. Aku mencoba menarik untuk melepaskan genggamannya tapi dia terlalu kuat.
"Kau pernah dengar istilah tidak ada persahabatan antara pria dan wanita? Salah satu dari mereka akan diam-diam menyimpan perasaan." Apalagi yang dia bicarakan? Apa dia begini karena sedang sakit?
"Hey, lepas cepat! Jangan bicara aneh-aneh!" Aku menarik-narik tanganku namun ia terus memperkuat genggamannya.
"Jika aku benar-benar akan mati, aku akan sampaikan satu kalimat padamu." Aku diam, mencoba mendengarkan dia dengan serius. Apa dia akan mengatakan sesuatu tentang perasaannya? Atau...
"Kau.... Bau mulutmumu cukup mengganggu ku." Bisiknya. Membuat ku sontak mengecek bau nafasku. Dan dia kurasa sedang mengerjaiku.
"Plaks!" Kupukul lengannya dengan kesal. Lalu kuberi ia tinjuan-tinjuan kecil. Ia tidak kesakitan justru tertawa seolah aku sedang menggelitik nya. Sahabatku memang aneh.
****
Jalanan cukup ramai pagi ini. Setelah turun dari busway, aku berjalan sedikit menuju museum buku dan duduk di kursi depan gerbang. Kak Val memintaku menunggu disini. Hari ini dia belum memberi kabar. Tapi aku sudah berangkat dan menunggunya. Rasanya aku terlalu terburu-buru.
Pagi ini Yovan datang ke rumahku untuk mengantar sup buatan ibunya. Dia terlihat sangat pucat dan layu. Tidak segar dan bersemangat seperti biasa. Sepertinya dia sedang sakit. Aku khawatir, tapi dia tak mau menjawab saat aku bertanya tentang keadaannya. Aku jadi memikirkan dia. Semoga saja dia baik-baik saja.
30 menit, satu jam, sudah hampir dua jam aku menunggu. Tapi Kak Val belum juga datang ataupun memberi kabar. Hatiku mulai berkecamuk. Cemas-cemas kesal karena sudah menunggu lama namun dia tak memberi kabar sama sekali. Apa Kak Val lupa hari ini ada janji denganku? Atau dia membatalkan janji lagi tanpa memberi kabar padaku. Mungkin aku harus menunggu nya lebih lama sedikit, bisa jadi Kak Val ada hambatan yang membuatnya telat. Mungkin juga terjadi sesuatu pada ponselnya sehingga ia tak bisa menghubungi ku. Huft... Menarik nafas dalam-dalam sudah cukup membantuku menahan kegelisahan ini. Ku harap Kak Val segera datang atau memberi kabar.
5 jam setelah menunggu.
Aku benar-benar sudah merasa jengkel. Apa Kak Val sedang mempermainkan aku? Ini sungguh tidak lucu. Apa yang dia fikirkan? Bagaimana bisa dia membiarkanku menunggu selama ini? Setidaknya beri aku kabar! Apa sesulit itu mengabariku? Dia bisa meminjam ponsel siapapun untuk mengirim pesan satu kali padaku! Hah! Kurasa dia memang sengaja mengabaikan aku. Membuatku tak tahan denganya dan segera memintanya putus! Tapi cara seperti ini sungguh tidak cocok dengan dia yang begitu teladan! Sama sekali tidak gentleman!
Aku mengoceh dalam gumamanku. Aku tak tahu betapa kesalnya di perhatikan orang-orang yang berlalu lalang dari tadi. Bahkan security museum sepertinya menaruh kecurigaan padaku karena aku duduk di depan gerbang terlalu lama.
Kesal, sangat kesal, aku ingin pergi tapi fikiranku cemas jika Kak Val datang dan tak menemukanku. Aku harus apa?!
Mendung diatas sana sudah menggelap. Menata gumpalan-gumpalannya menjadi satu dan menutupi matahari. Sepertinya hujan akan segera turun. Apa aku harus menunggu nya bahkan sampai kehujanan? Kak Val apakah sudah tak peduli padaku? Lalu untuk apa dia membuat janji-janji padaku!
Tak lama setelah itu, hujan benar-benar datang. Aku berlari menuju teras pertokoan untuk berteduh bersama beberapa orang lainya.
"Ting!!!" Satu pesan masuk dari Kak Val. Dengan cepat aku segera membuka pesan itu.
Dari : Kak Valerian ❤️
Maaf. Kali ini aku juga tak bisa menepati janjiku. Aku sibuk!
Tidak lucu... Sekarang kau baru memberi ku kabar. Telat sekali! Kecewa sudah memenuhi seluruh dadaku. Ternyata aku terlalu remeh untuknya. Baginya mungkin aku sangat tidak penting. Sehingga ia bisa seenaknya membuat janji dan membatalkan semaunya. Aku sudah cukup muak!
Aku setengah berlari menerjang hujan. Melindungi kepalaku dengan tas yang kuangkat diatas ubun-ubun. Secepatnya pergi menuju halte untuk kembali kerumah. Saat aku sedang berlari, kulihat wajah seseorang yang aku kenal sedang duduk didepan toko tua yang sepi bersama seorang gadis. Seperti.... Kak Val.
Aku berhenti. Memperhatikan mereka dari kejauhan. Dan saat itu juga dadaku mengernyit ngilu, Gadis itu memegang lengan Kak Val kemudian menarik wajah Kak Val ke arah wajahnya. "Cup!"
Aku mematung. Terbelalak dengan perasaan yang hancur sehancur-hancurnya. Perih, kecewa! Bibirku membeku, Bergetar bersama air hujan yang membasahi kepala dan tubuhku. Yang kulihat ini apa?
"Kak Val... "
Seketika wajah itu melihat kearah ku dengan terkejut. Ia seperti hendak berlari ke arahku. Namun gadis didepannya dengan jelas menahan lengan Kak Val. Aku menyebut namanya dalam keputusasaan. Kecewa ini terlalu menusuk sekarang. Bahkan menatap wajahnya membuatku sangat kesakitan.
"Ferlin... "
"Ternyata janji kita batal karena ini?" Aku menyeret langkahku mundur perlahan. Tersenyum pahit dan menundukkan kepalaku.
"Aku menunggu mu begitu lama, kau... Apakah kau sibuk karena ini? Aku menahan semua dengan memaksa kesabaranku, tapi... " Air mata menetes sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Rasanya berat sekali. Satu kalimat terlintas memenuhi kepalaku. Haruskah aku mengatakannya pada Kak Val?
"Kita sudahi saja. Aku lelah... " Rela tidak rela. Perlahan aku terisak lalu berlari meninggalkan Kak Val dan gadis didepannya. Berlari kemanapun agar aku bisa menjauh dari mereka. Kak Val tidak berucap, juga tidak menyusulku. Wajahnya menunjukkan tak ingin aku pergi, tapi ia juga tak bisa meninggalkan gadis itu. Kenapa? Kenapa dia melakukan ini? Dia berbohong padaku? Apakah semua alasan janji batal yang ia berikan padaku adalah palsu?
Aku terus menangis. Bahkan sampai aku naik busway dan turun aku tetap menangis. Hujan belum juga reda. Aku berjalan seolah tak peduli hujan sudah membuat ku kedinginan.
"Baks!!!"
"Uh!" Aku hampir tersungkur ke belakang, saat dengan tak sengaja aku menabrak seseorang. Untunglah dia cepat menarik lenganku.
"Siapa yang membuatmu kehujanan begini?" Yohan menatap tajam ke arahku dengan tangannya yang masih memegang lenganku. Dia sepertinya tahu sesuatu terjadi padaku. Dia menarik diriku untuk berteduh di payung yang ia bawa. Kami berjalan bersama dan ia mengajaku ke rumahnya, menyuruhku duduk di sofa lalu memberiku handuk.
"Ibuku sedang bekerja. Keringkan dirimu disini.Jangan sampai bibi tau kau hujan-hujan. Dia bisa marah padamu nanti." Aku diam sembari mengusap lemah handuk pemberian Yohan ke rambutku. Apa yang kulihat tadi masih terbayang jelas. Sakitnya begitu terasa. Bayangan Kak Val yang berciuman dengan gadis tadi membuat air mataku kembali menetes.
"Sret!" Yohan merebut handuk dari tanganku kemudian mengusap rambutku dengan lembut.
"Jika kau mengusap nya dengan lemah, rambutmu tidak akan kering." Matanya tak menatapku. Tapi aku bisa merasakan kepedulian yang ia beri. Tanpa sadar perlahan kuraih bahunya lalu ku sandarkan wajahku. Menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa sedih yang menyesakan dadaku.
****
Hari itu berlalu begitu saja. Hatiku masih terasa sakit walau sudah ada satu bulan aku menghindari segala kesempatan yang bisa mempertemukan aku dan Kak Val. Aku mengganti nomor dan memblokir semua akun media sosial Kak Val. Aku tak ingin ada komunikasi sekecil apapun lagi dengannya. Bahkan disekolah pun, saat jam istirahat aku selalu menyembunyikan diriku di ruang kesenian agar ia tak menemukanku. Aku berusaha menenangkan diriku yang merasa sangat sakit karena dibohongi. Rasanya hampa dan kosong. Diriku menjadi lemah karena memutuskan hubungan yang dengan sangat keras ku jaga dan ku pertahankan. Yohan sangat membantuku. Walaupun dia tidak tahu apa yang aku alami, tapi ia terus menemaniku dan membantuku melakukan hal-hal menyenangkan agar aku bisa segera menjadi diriku yang bersemangat. Tentu saja dia bertanya apa yang terjadi padaku, tapi dia tidak memaksaku untuk bercerita saat aku memilih untuk tidak menjawabnya. Dia benar-benar menghargai privasi ku. Sahabat yang sangat baik.
"Cake cappucino dua potong setelah pulang sekolah. Ok?" Begitu caranya menyuapku agar aku bersedia bermain dengannya saat aku mulai murung didepannya.
Sore ini saat pulang, hujan juga turun lagi seperti hari itu. Aku duduk di halte busway menunggu Yohan menjemputku. Aku pulang cukup telat karena ada pelajaran tambahan, jadi Yohan pulang lebih awal untuk mengambil payung. Aku mendengarkan music kesukaanku lewat earphone, menatapi derasnya hujan yang menghantam aspal jalan.
"Hei?" Seseorang melepas earphone ku tiba-tiba. Membuatku terkejut dan langsung menengok.
"Apa yang kau lakukan?" Aku terdiam. Menatap wajah pucat dan lemah yang menghadapku. Kak Val yang terlihat jauh berbeda dari penampilan nya yang lama. Terbesit pertanyaan saat melihat perubahan pada sinar wajahnya yang redup.
"Kau tak memberiku kesempatan untuk bicara denganmu?" Aku masih diam. Perlahan aku mengambil earphone ku di jemarinya lalu mundur menjauhinya.
"Maaf, aku tak ingin bicara apapun dengan kakak."
"Aku tahu kita sudah putus. Aku tak bisa menahanmu karena itu keinginanmu. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tolong lihat aku." Keinginan ku? Dia melucu ya? Bukanya dia yang sengaja membuat semua terlihat jelas dimataku sampai akhirnya aku memutuskan hubungan? Huft! Sudahlah, tidak ada yang perlu didebatkan. Sekuat hati, ku angkat wajahku untuk menatapnya.
"19 janji. Aku juga menghitung seberapa banyak membuatmu kecewa. Maafkan aku." Dia juga menghitung nya? Jadi dia melakukan nya dengan sadar?
"Kau ingat aku berjanji untuk mengajakmu ke bukit kota bersama?" Aku mengangguk lirih, itu janji yang ia ucapkan saat kami genap 6 bulan menjalin hubungan.
"Minggu depan, izinkan aku untuk menepati janji itu. Setelah itu, kita tidak perlu bertemu lagi. Kau tidak perlu bersembunyi lagi hanya untuk menghindariku. Kali ini, aku akan menepati janji itu." Lagi? Apa dia akan membuat pembatalan janji ke 20?
"Ada apa ini? Kak Val disini?" Yohan tiba-tiba muncul disebelahku. Tangannya masih menggenggam payung yang terbuka. Dengan heran ia menatap Kak Val yang berhadapan denganku. Mereka saling bertatap sesaat, kemudian mereka sama-sama kembali melihat kearahku.
"Aku mohon. Untuk yang terakhir kali." Pinta Kak Val. Aku mengangguk. Menyanggupinya agar tak ada pembicaraan lagi. Kulihat Yohan menatap kami dengan penasaran. Setelahnya aku langsung mengajak Yohan pulang agar ia tak mengira macam-macam.
Malamnya aku dan Yohan berjalan-jalan ke lapangan basket dekat rumah. Dia banyak diam, seperti menyembunyikan banyak fikiran di kepalanya. Saat kami berjalan bersama aku memperhatikan wajahnya dari samping. Yohan ternyata cukup tampan. Sebenarnya sikapnya padaku itu terlalu hangat. Aku sampai berfikir, jika dia punya pacar apakah akan tetap seperhatian sekarang? Mungkin tidak. Tidak ada wanita yang rela perhatian pacarnya terbagi ke wanita lain. Sekalipun itu sahabatnya.
"Yohan, apa kau tak tertarik untuk berpacaran? Kau tau kan, masa-masa seusia kita adalah masa paling baik untuk membuat kisah cinta." Yohan tersenyum lalu mengangguk.
"Oho, jika aku pacaran apa kau fikir pacarku akan membiarkanku berjalan denganmu?" Itu yang aku pikirkan. Bagaimana bisa dia juga memikirkan itu?
"Kau tinggal menjauhiku." Dia menekuk wajahnya tak senang.
"Aku tak akan menjauhimu hanya untuk gadis lain. Lagipula ada seseorang yang aku suka. Aku tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun dan akan langsung menikahi orang yang Kusuka." Tegasnya.Kurasa aku tak salah bicara, tapi kenapa Yohan nampak marah?
"Ferlin, sebenarnya aku tau kau menjalin hubungan dengan seseorang."
"Apa?" Aku terhenti. Begitupun denganya. Apa dia juga tahu orang itu adalah Kak Val?
"Aku sedikit sakit hati saat kau tak menceritakan apapun padaku. Tapi kurasa pacarmu bukan orang yang egois karena dia membiarkanmu tetap berteman denganku. Jadi aku membiarkanmu." Memang sulit menyembunyikan apapun dari Yohan. Dia selalu tau apapun tanpa kuberitahu.
"Maaf, Yohan. Kemarin memang aku berpacaran dengan seseorang. Tapi kami sudah putus." Dia nampak terkejut. Aku tersenyum lalu menepuk kedua pipinya.
"Sudah jangan dibahas ya. Aku sudah sangat nyaman hanya dengan bersahabat denganmu. Aku rasa aku tak butuh pacar asal ada dirimu." Iya, aku tak butuh pacar. Aku tak akan berpacaran dengan siapapun lagi. Di masa mudaku ini cukup hanya dengan memiliki sahabat sepertinya. Cukup seperti ini saja.
Malam itu kami langsung pulang. Dengan perasaan yang tenang dan bahagia antara aku dan Yohan. Aku mulai sadar bahwa hariku sebenarnya sudah cukup berwarna karena ada dia. Sekarang aku baru mengerti keberadaannya cukup berarti untukku. Bahkan ucapan selamat malam yang ia beri semalam terdengar berbeda. Terasa spesial.
Keesokan harinya saat aku akan berangkat sekolah, tiba-tiba berita buruk mengejutkan aku.
"Ferlin, setelah pulang sekolah kau langsung ke rumah sakit kota ya." Kata Ibu sembari mengemas beberapa kotak makanan. Wajahnya nampak panik dan buru-buru.
"Siapa yang... "
"Yohan dibawa kesana dini hari tadi ."
"Deg!!!" Perasaan kacau menjalar ke seluruh dadaku. Badanku langsung bergetar.
"Ibu, aku ikut denganmu sekarang!"
"Tidak bisa, Ferlin! Rumah sakit membatasi pengunjung pada pagi hari. Ibu akan mengabarimu tentang kondisi nya nanti. Kau kesekolah dan lapor absen untuk Yohan. Ibu pergi dulu." Ibu bergegas pergi. Sementara aku masih membeku ditengah kecemasan.
Ada apa dengan Yohan? Mengapa tiba-tiba dia dibawa kerumah sakit? Separah apa sakitnya? Bukankah semalam dia baik-baik saja? Sesak! Dadaku terasa lebih sesak dibanding saat aku melihat Kak Val berciuman saat itu. Cemas, panik, dua hal itu beradu memenuhi relungku. Ada perasaan kuat yang menguasai segala fikiran dan hatiku, perasaan takut. Sangat takut! Bagaimana ini! Aku ingin sekali melihat Yohan! Aku ingin berlari menemuinya! Aku takut hal yang sangat buruk menimpanya.
Aku berangkat ke sekolah dengan perasaan yang berantakan. Setelah melapor izin untuk Yohan aku bergegas kerumah sakit tanpa menunggu kabar dari ibuku. Ibu Yohan mengirimkan nomor ruang rawat Yohan. Dan saat aku tiba disana, ibuku sudah pergi untuk menenangkan ibu Yohan dan membujuknya untuk makan. Ibu Yohan sampai seperti itu. Aku rasa kondisi Yohan bukan kondisi yang bisa diremehkan. Saat aku tiba disana aku bertemu Paman Yohan sedang bersandar pada pintu ruang rawat Yohan yang tertutup. Wajah tuanya nampak tertunduk sedih dengan sisa air mata di ujung matanya.
"Paman?" Panggilku. Paman nampak tersenyum paksa saat melihatku.
"Kau datang, Ferlin." Aku mengangguk pelan.
"Ada apa dengan Yohan?" Tanyaku tak sabar. Paman menggeleng bagai ragu bicara. Aku memohon padanya agar paman mau bercerita. Setelah aku memaksa, paman akhirnya paman mulai mau berucap.
"Yohan... Kritis. Penyakitnya sudah masuk tahap akhir."
"DEG!!!" Badanku lemas seketika. Dadaku seperti terhantam batu dengan keras. Dan kepalaku rasanya langsung pening. Aku terhuyung hendak jatuh namun paman segera memegangi kedua lenganku.
"Tahap akhir?" Yohan tak pernah cerita padaku. Apa ini tiba-tiba?
"Yohan mempunyai jantung koroner sejak lama. Dia menolak pengobatan berjalan dan memaksa keadaannya agar tetap terlihat baik-baik saja didepan siapapun. Tapi... " Aku terdiam mendengar pernyataan paman, menunggu kelanjutan kalimat nya yang sepertinya berat untuk di ucapkan.
"Sekarang Yohan sudah tidak mampu lagi menahanya."
"Tidak... " Mana bisa ini terjadi? Yohan tidak selemah itu! Bagaimana bisa?! Yohan selalu tersenyum dan bersemangat, bagaimana dia bisa menyembunyikan kesakitan nya selama ini? Harusnya dia bicara padaku! Mengapa dia memilih diam dan kesakitan sendirian?
Aku berlari masuk ke ruang rawat. Dia terbaring dengan alat medis ditubuhnya. Hatiku renyuh... Wajah pucat itu... Aku biasa melihat senyum di wajah itu. Kenapa sekarang wajah itu hanya diam dengan mata terpejam... Aku mendekat. Ku sentuh wajah itu dengan tanganku yang gemetar. Perlahan air mata leleh melewati rahangku. Aku tak bisa melihat nya seperti ini. Hatiku sakit sekali! Sangat sakit! Aku tak bisa kehilangan Yohan. Aku tak mau. Dia berharga untukku. Bagaimana ini bisa terjadi tiba-tiba? Aku benci melihatnya lemah seperti ini.
"Yohan... Ku mohon kuatlah. Ku mohon, Yohan."
****
Sudah beberapa hari sejak Yohan dinyatakan kritis. Hari berikutnya kondisinya stabil berkat bantuan medis namun ia belum sadar juga. Setiap hari aku mengunjungi nya. Menemaninya yang terbaring tanpa daya. Aku kembali merasakan kehilangan hari-hariku yang bahagia. Tidak ada yang membuat ku tertawa, tidak ada lagi yang berjalan disampingku saat berangkat dan pulang sekolah, tidak ada yang menemaniku main game atau belajar. Aku tak bisa membayangkan jika semua ini berlanjut. Aku terus merindukan hari-hari dimana Yohan bersamaku. Jika semua dapat kembali, aku ingin lebih menghargainya. Aku sangat merindukannya. Merindukan dia yang selalu tersenyum dan berdiri disampingku. Yohan... Kau tidak akan pergi kan? Aku kesulitan mengendalikan diriku yang merindukanmu. Sulit sekali... Aku mungkin akan benar-benar kehilangan diriku jika kau tak ada lagi disisiku.
Besok akhir pekan. Aku bahkan hampir lupa bahwa aku dan Kak Val berjanji untuk bertemu besok. Di suasana seperti ini apa mungkin aku bisa pergi menemui orang itu. Aku merasa mengkhianati Yohan. Aku tak bicara mengenai Kak Val padanya. Padahal Yohan adalah orang terdekatku. Apa aku harus pergi? Atau sebaiknya tidak? Aku akan menemuinya sebentar jika ia benar-benar datang. Aku tak akan membuang waktuku untuk menunggunya jika ia tidak datang. Bagaimanapun bertemu Yohan yang tak sadar itu jauh lebih baik daripada bertemu orang yang jelas melukaiku. Ku letakan kalender di atas mejaku lalu aku terlelap dengan perasaan gersang di atas meja belajar ku.
Tepat saat menjelang pagi ibu mengetuk pintuku dengan panik. Aku yang tidur, terbangun dengan kaget. Setelah kubuka pintu, aku mendapati ibuku hampir menangis.
"Kita harus segera kerumah sakit. Yohan kritis lagi." Dadaku berdenyut ngilu. Dengan pakaian seadanya aku mengikuti ibu dan kami pergi kerumah sakit. Sesampainya disana, ibu Yohan langsung menangis memeluk ibuku dengan tersedu-sedu.
"Mana Yohan? Bagaimana dia?" Tanyaku cemas di tengah kepanikan mereka.
"Dalam 3 jam, Yohan harus segera mendapat donor jantung. Jantungnya hampir tak berfungsi. Dokter telah mengupayakanya sekarang." Jelas paman.
"Donor jantung?" Aku terdiam. Tidak semudah itu mendapatkan donor jantung. 3 jam adalah waktu yang sedikit. Jika Yohan tidak mendapat donor jantung, apakah ia akan....
"Apakah tidak ada cara lain?" Tanyaku sedikit memaksa. Paman menggeleng. Kepalaku sakit memikirkan ini. Bagaimana ini? Apakah hari-hariku bersama Yohan hanya akan menjadi kenangan? Mengapa semua secepat ini?
Saat kami sedang berkumpul, seorang dokter menghampiri kami dengan wajah yang lesu. Dokter itu berkata kemungkinan menyelamatkan Yohan sangat kecil. Karena donor jantung sangat mustahil didapatkan hanya dalam waktu 3 jam. Dokter itu meminta kami untuk bersiap.
"Bersiap apa?" Tanyaku hampir terbawa emosi. Apa dokter itu meminta kami untuk menyerah?
"Keselamatan Yohan hanya tergantung 3 jam ini. Mempersiapkan diri dari segala kemungkinan buruk itu perlu. Kami akan mengupayakan sebisa mungkin." Dokter itu bergegas pergi meninggalkan kami. Lemas, aku sudah tak mampu melakukan apa-apa lagi. Tubuhku terhempas ke kursi ruang tunggu. Apa ini semua berarti bahwa kami harus pasrah? Semudah ini? Tidak! Aku tidak mau!
2 jam berlalu dengan ketidakberdayaan kami. Hati terus berharap, tapi sedari tadi belum ada kabar baik yang kami dapat. Sudah sangat kecil kesempatan itu datang. Apa memang malam itu adalah malam terakhir aku bisa berjalan dengan Yohan? Jika ini mimpi tolong bangunkan aku dengan keras! Mimpi ini terlalu menyiksa batinku.
"Ting !!!" Satu pesan masuk. Kulihat nama yang tertera dilayar ponselku.
Dari : Ex Val
"Aku tidak bisa datang. Padahal ini janji terakhirku. Maaf. Aku juga tak bisa menemuimu lagi. Pastikan kau selalu baik-baik saja, Ferlin."
Aku sudah tak punya minat menanggapi pesannya. Bukan saatnya aku menggubris dia disaat orang yang berharga untukku sedang diambang Kematian. Dan lagi, aku juga tak akan datang seandainya dia bisa datang.
"Keluarga Yohan?" Kamipun mendekat pada dokter yang memanggil.
"Sudah kurang dari satu jam lagi. Alat medis sudah hampir tak bisa membantu Yohan. Kalian diizinkan melihat kondisinya sekarang. Tapi mohon bergantian."
"Deg!!!" Badanku melemas. Aku kembali terduduk di bangku tanpa mampu berucap lagi. Ibu Yohan bergegas masuk ke ruangan Yohan dengan air mata yang tak bisa terbendung, dan ibuku bergegas menyusul untuk menenangkan beliau.
"Ferlin?" Panggil paman dengan suaranya yang berat. Kemudian duduk disampingku dengan merunduk.
"Paman, ini hanya mimpikan? Bagaimana bisa Yohan tiba-tiba seperti ini?!" Tak terasa air mata menetes lagi di pipiku. Seluruh tubuhku bergetar karena ketakutan. Iya. Aku sangat takut sekarang, hal terburuk yang tak pernah kubayangkan sebelumnya benar akan terjadi sekarang. Aku ingin menjerit! Aku ingin berteriak! Aku tak mau ini semua terjadi! Tidak mau!
Sekitar 15 menit, ibu Yohan menangisi Yohan didalam ruangan. Setelah itu dengan setengah dipaksa, ibu Yohan dibawa keluar ruangan untuk ditenangkan. Melihat ibu Yohan membuat hatiku semakin teriris. Bagaimana jika Yohan benar-benar pergi? Ibu Yohan pasti sangat kesepian. Ayah Yohan sudah pergi lebih awal, haruskah Yohan juga menyusul ayahnya?
Aku masuk ke ruangan. Kulihat wajah Yohan semakin memucat. Dengan sedih aku menyentuh wajahnya. Terasa dingin. Badannya sudah dingin. Tidak sehangat saat-saat yang lalu. Dadaku bagai tertusuk parang. Dalam! Sangat dalam! Aku ingin mengoyak tubuhnya agar ia bangun, seperti saat aku harus membangunkanya karena telat sekolah. Apakah aku tak akan bisa merangkul pundaknya yang tinggi dan kokoh itu lagi? Aku menyesal karena tak pernah memeluk tubuhnya yang kekar dan kuat. Basah... Rahangku dilewati airmata yang mengalir dari mataku.
Bagaimana jika aku mengatakan apa yang aku rasakan dulu, apakah ini kesempatan terakhirku untuk mengatakannya?
"Yohan, kau tahu... Kita sudah bersahabat belasan tahun. Kita sudah bersama sejak kecil. Aku... Masih ingin bersamamu puluhan tahun lagi. Aku... Hiks.. aku tidak mau... Hiks... Persahabatan kita hanya sampai disini. Jika... Tuhan memberi kesempatan... Aku akan sering memelukmu... Aku akan lebih menghargai kebersamaan kita. Dan kau harus tahu... Kau... Adalah..."
"Klek!!!"
"Permisi, nona." Beberapa perawat memintaku minggir, mereka dengan buru-buru membawa Yohan keluar dari ruangan. Aku hanya melihat mereka dengan bingung . Ingin bertanya tapi mereka terlihat sangat tergesa-gesa. Aku mengikuti mereka keluar, ingin mengejar tapi langkah mereka sangat cepat. Saat aku kembali ke ruang tunggu, disana hanya ada ibuku dengan wajahnya yang melega.
"Ibu, Yohan... "
"Dia akan segera di operasi." Kata ibuku mendahului kalimat ku.
"Apa dia mendapatkan donor nya?" Tanyaku sumringah. Ibuku tersenyum lalu mengangguk. Dengan girang aku langsung memeluk ibuku. Aku tidak tahu harus bicara apa, tapi ini sungguh bahagia yang tak bisa diungkapkan. Tak terhitung berapa kali aku mengucap syukur. Yohan akan sehat kembali. Semoga operasi ini berjalan lancar.
Setelah ibu Yohan menandatangani beberapa berkas, beliau kembali bersama paman. Kami menunggu operasi dijalankan. Masih harap-harap cemas. Namun bagi kami, kesempatan besar ini harus disyukuri. Dan setelah beberapa jam, dokter keluar dari ruang operasi dengan senyum penuh kebanggaan.
"Selamat nyonya, Operasinya sukses. Kita tunggu sampai kondisi Yohan stabil dan ia segera sadar." Kami saling berpelukan dengan bahagia. Sungguh luar biasa bahagia...
*******
Sudah malam, tadi sore ibu menyuruhku pulang dan mandi. Aku bisa meninggalkan rumah sakit dengan tenang karena kondisi Yohan juga sudah stabil. Kata dokter dalam 24 jam dia akan sadar. Ku harap demikian. Aku tak sabar untuk melihatnya tersenyum lagi. Usai mandi, aku duduk di ranjangku. Sembari menyalakan ponselku yang dari tadi siang kehabisan daya. Aku baru sempat mengecasnya setelah sampai rumah.
"Ting !!!"
"Ting !!!"
"Ting !!!"...
Beberapa pesan masuk secara bersamaan. Ramai bersahutan. Tertera pesan-pesan itu dari grub klub bahasa.
Apa yang mereka bicarakan sampai seramai ini?
.....
A : senior akan dimakamkan besok.
B : Sangat disayangkan, senior tampan
dan pandai. Tak kusangka. Secepat ini
pergi.
D : aku sangat sedih dengar kabar ini.
C: kita berkumpul dimana?
Pembimbing: di depan sekolah. Pukul 7.
Dimakamkan? Siapa yang meninggal? Aku membaca perbincangan mereka sembari mencari tau.
"Deg!!!"
....
Pembimbing : Anak-anak klub bahasa Inggris. Kita mendapat kabar duka. Senior sekaligus ketua klub kita, Valerian, pagi ini meninggal karena kecelakaan tunggal. Dimohon besok untuk hadir dalam pemakaman. Terimakasih.
....
Valerian?! Kak Val?! Apa ini mimpi?!
Tubuhku seketika kaku. Lagi-lagi segala perasaan kacau berkecamuk dalam dadaku. Kak Val benar-benar meninggal? Bagaimana ini bisa terjadi? Begitu singkat! Jelas-jelas tadi pagi aku masih menerima pesan darinya! Kenapa tiba-tiba... Sesuatu seperti menghantam dadaku dengan keras. Air mataku lagi-lagi menetes. Tidak tau kenapa, kenangan ku denganya tiba-tiba berputar di kepalaku. Membuat ku sangat pusing... Pusing hingga mataku menggelap dan entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang aku rasakan tubuhku lemah dan pening.
*****
Basah... Makamnya masih basah...
Aku berdiri mematung menatapi nama yang tertera di nisan itu. Rintik-rintik gerimis membuat hatiku semakin terluka. Janji... Aku mengingat janji terakhir yang tak tertepati dan benar-benar menjadi janji terakhir yang ia ucapkan. Aku tak tahu kenapa aku sedih. Padahal sebelumnya ia dan aku berpisah dengan cara yang sangat melukaiku. Kenapa semua terjadi begitu tiba-tiba dan mengejutkanku?! Tuhan seperti sedang membuat diriku tercengang dengan segala yang terjadi. Aku harusnya bahagia karena orang yang tega melukaiku pergi selama-lamanya. Tapi... Pesan terakhir yang ia kirim kemarin membuatku berfikir lain. Aku fikir dia masih...
"Val masih sangat menyayangimu." Aku berbalik melihat kearah sumber suara.
"Kau... " Gadis yang berciuman dengan kak Val tempo hari. Tangannya memegang kotak biru yang kemudian ia sodorkan padaku. Matanya sembab dan hidungnya memerah. Dia lebih banyak menangis daripada aku. Sesaat ia melirik sekitar memastikan tak ada orang lain.
"Dia bukan kecelakaan biasa. Dia... Bunuh diri." Apa?! Apa yang ia bicarakan?!
"Val... Dia mendonorkan jantungnya untuk adiknya. Dan adiknya itu adalah sahabatmu. Kau harus tau... Val memutuskanmu juga karena dia tahu bahwa... Yohan menyukaimu."
"Kau bicara apa? Aku tak mengerti!"
"Kau tentu tak mengerti. Tapi aku paling mengerti. Karena aku, Valerian, dan Yohan... Dari satu panti asuhan yang sama."
"Dia menitipkan ini sebelum pergi. Kau akan sulit menerimanya. Tapi aku harus menyampaikan apa yang ia rasakan sebenarnya. Dia mencintaimu bahkan saat ia akan mati. Aku... sangat iri padamu." Dia melangkah pergi dengan air mata nya yang hampir menetes. Suaranya sangat berat. Dia pasti terpukul dengan kepergian Kak Val. Perlahan kubuka kotak yang sudah berada di tanganku. Sebuah surat dan syal rajutan tangan.
"Untukmu Ferlin.
Aku tak tahu harus berkata apa. Aku merasa sangat jahat karena melukaimu. Aku bahkan tega menyakitimu dengan sengaja. Setelah saat itu, aku merasa sangat terluka. Aku sangat jahat karena diam-diam terus menyukaimu bahkan saat kau terus menghindariku. Aku melakukan semua karena ada orang berharga yang harus ku utamakan. Aku sangat menyayanginya sampai aku tak memikirkan kebahagiaanku. Bagiku ia segalanya. Saat kau membaca tulisan tangan ini, mungkin jantungku telah berdetak ditubuh yang lain. Ditubuh orang yang menyukaimu sejak lama dan ia yang akan menjagamu jauh lebih baik daripada aku. Aku hanya minta satu hal. Kau juga harus menyukainya lebih dari kau menyukaiku.
Maaf atas semua yang kulakukan terhadapmu. Aku akan mengingat kenangan kita dilangit. Aku akan mengingat bahwa yang paling membahagiakan dalam hidupku adalah saat aku melihat adiku bahagia karena punya ibu baru dan aku yang terus mencintaimu.
Maaf... janji-janji yang kubatalkan dengan bodohnya. Aku berada di tempat-tempat itu tapi aku tak bisa menghampirimu. Aku sedih melihat dirimu menunggu ku dengan sabar. Dan terimakasih untuk itu.
Suatu saat, datanglah menjengukku saat kau telah bersama orang yang tak akan menyakitimu. Aku akan memberi senyuman dari langit.
Valerian."
"Kak Val..." Air mata mengalir deras. Sesak! Sangat sesak! Semua ini apa... Dia mengorbankan segala kebahagiaannya bahkan hidupnya juga. Kenapa?! Apa tak ada jalan lain?! Kenapa seperti ini ?! Aaaaaarrrrrgggghhhh !!!!!!
**********10 tahun kemudian**********
Sudah berlalu sangat lama. Semua berjalan dengan tenang dan perlahan membaik. Setelah saat itu aku baru tau bahwa Yohan adalah anak hasil adopsi. Dan gadis yang menyampaikan surat terakhir Kak Val adalah sahabat Yohan dan Kak Val saat kecil dulu, namanya Yulan. Kami juga jadi dekat satu sama lain karena setelah kejadian itu aku dan Yohan jadi sering singgah ke panti asuhan tempat Yulan dan Kak Val tinggal.
Seperti sekarang ini, aku dan ia baru kembali dari panti dan makam Kak Val. Kami berjalan di trotoar jalan di tengah musim dingin. Pohon-pohon di tepi jalan cukup rimbun. Tapi butiran salju tipis menyelimuti permukaan daun dan ranting. Aku mengaitkan syal pemberian Kak Val dileherku hingga menutupi setengah wajahku untuk mengurangi hawa dingin.
"Ferlin, aku sudah berhasil jadi manajer." Kata Yohan dengan setengah gugup.
"Benarkah? Wah, selamat Yohan." Ucapku. Ia tersenyum, lalu tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan menatapku dengan serius.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kita sudah cukup lama bersahabat. Di usia sematang ini sangat aneh jika sepasang pria dan wanita lajang berteman."
Aku menatap nya balik dengan heran, dia mau membicarakan apa?
"Lalu?"
"Aku... " Dia melangkah ke arahku dengan tegap, berdiri tepat dihadapanku dengan tatapannya yang lembut. Tanganya tiba-tiba meraih tengkuk leherku, kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajahku dan...
"Cup!" "Deg-deg-deg!" Astaga jantungku! Matanya yang memejam perlahan terbuka. Hidungnya yang mancung masih menempel pada hidungku. Bibirnya bahkan hanya dua cm dariku. Kelembutan kecupannya masih jelas terasa di kulit bibirku. Untuk pertama kalinya...
"Akhiri persahabatan kita. Ayo menikah denganku." Tulus... Terdengar begitu tulus dari hati. Membuatku tak mampu berkata lagi. Dan tatapan kami terus beradu dalam hening. Aku hanya tersenyum setelah beberapa detik terdiam. Aku ingin menjawabnya tapi hasratku bertindak lebih cepat. Ku pegang kedua sisi wajahnya, dan kami kembali berciuman dengan sedikit agak lama.
"Ayo menikah... " Bisikku sembari melepas kecupanku.
"Sungguh?" Tanyanya. Aku mengangguk. Ia langsung melompat-lompat girang seperti anak kecil yang mendapat hadiah. Setelahnya dia memelukku dengan erat. Aku tak menyangka aku akan menerima sahabatku sendiri untuk menjadi pasanganku. Kebahagiaan kadang datang dari sisi yang tak terduga.
****End****