Disebuah bukit bernama Bukit Batu Merah terdapat sebuah rumah kuno yang sudah tak lama ditinggali. Dulu rumah itu milik keluarga Han. David Han, seorang cucu yang kemudian berlibur ke bukit itu bersama ke dua temannya Dora dan Dec. mengalami misteri yang tak terduga.
Banyak orang yang berkeliaran di sekitar rumah itu, entah itu setelah mereka datang, atau sedari mereka belum datang. Seperti Pak Frank si pemarah yang mengira mereka pencuri. Ia adalah pemilik losmen yang bangunannya tak jauh dari rumah itu. Kemudian muncul Pak Ben, seorang anggota tim film yang katanya tengah mengamati lingkungan yang hendak dibuat film.
Berbagai kejadian misterius dan mengguncang jiwa pun menghampiri mereka. Mulanya ketika mereka tengah membersihkan rumah, mereka menemukan jejak misterius yang hilang tanpa alur. Kemudian sebuah wajah menyeramkan terlihat di jendela saat mereka tengah menyantap roti isi mereka. Dan yang paling mencengangkan adalah kehadiran sosok bayangan hitam dan merah ke kamar Dora saat tengah malam.
"Hih aku ngeri tinggal disini! Bagaimana jika kita pindah saja, mungkin ke losmen Pak Frank?" Usul Dora bergidik. Namun ke dua temannya tidak setuju.
"Kuasa kita perlu menyegarkan otak. Mungkin besok kita pergi ke telaga?" Usul Dec.
Keesokan harinya setelah pulang dari telaga yang tak terlalu jauh dari rumah. Mereka samar-samar melihat sosok berpakaian serba hitam yang berbadan kekar keluar dari jendela belakan rumah merah itu. "Hei kau pencuri ya!" Dave selaku cucu pemilik rumah itu berusaha mengejar, namun ia kehilangan jejak.
"Aneh sekali! Langsung hilang begitu saja!" Gerutunya.
Mereka memeriksa tiap ruang dalam rumah itu. Betapa terkejutnya saat Dec melihat ruang kecil yang memungkinkan adalah kamar dari Kakek Han berantakan. Kertas berserakan dimana-mana. Laci-laci dan lemari terbuka. Sebuah jam usang tergeletak miring di dinding menunjukkan pukul 11.11, kelihatannya jam itu telah lama tidak berdetak.
"Ada yang ia cari disini! Mungkin dokumen penting?" Dec duduk disebuah kursi menghadap jendela yang terbuka. "Hei ada kertas tersangkut di pohon!" Ia menunjuk sebuah kertas yang terlihat tersangkut di dedaunan merah. Dari lantai dua pohon itu memang masih terlihat.
"Waktu memang sangat berharga! Aku mencintai kalian, tertanggal 11/11!" Kata Dora membaca kertas yang tadinya tersangkut dipohon setelah mereka susah payah mengambilnya.
"Sebelas November ya? Tapi tidak tertera tahun disitu?" Tanya Dec. Dora hanya menggeleng saja.
Bayang-bayang jam matahari telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Tak lama muncul tamu berbadan kekar yangvtak lain adalah Pak Frank. "Hallo anak-anak. Jika kurasa kalian harus hati-hati." Ucap Frank dan dengan segera anak-anak memicingkan matanya. "Bukan apa-apa. Tapi aku melihat seorang yang mencurigakan di daerah ini," lalu ia kembali pergi dan menggiring beberapa dombanya.
Tak lama setelah kepergiannya bunyi berisik terdengar dari arah dapur. Jejak-jejak kaki berlumuran darah membuat bulu mereka berdiri. Terlihat sebuah noda merah darah menjadi tinta di kaca jendela. "Pergi dari sini! Atau kalian akan terancam!" Bunyi tulisan yang tertera itu.
"Apa-apaan ini!" Teriak David. Dora sudah terlihat menggigil dibalik punggung Dec.
Setelah membersihkan noda itu mereka kembali berunding di ruang kantor yang kemarin kemasukan maling. "Ada misteri dibalik semua kejadian itu!" Ucap Dec.
"Aku juga merasa begitu Dec!" Kata Dave. Namun Dora bergidik dan tetap mengira bahwa itu adalah hantu.
"Aku ingin tanya padamu Dave! Apa pekerjaan kakekmu sebelum ia hilang?" Tanya Dec.
"Dia seorang petambang batu merah di puncak bukit itu!" Balas David.
"Surat ini seperti petunjuk bagiku. Kata-kata waktu sangat berharga, dan tanggal 11 11 yang tertera." Ia kemudian dengan tak sengaja melihat jam tua itu. "Dan menurutku memang sebuah petunjuk!" Ia mendekati jam dengan arah 11.11.
"Sangat kebetulan!" Ucap Dave.
"Dan kau juga berpikir itu pentujuk sebuah harta terpendam?" Mata Dora berkilat-kilat.
Mereka berpikir-pikir semalam penuh. Paginya mereka sadar bahwa mereka masih ada di ruang yang penuh kertas itu. "Kertasnya hilang!" Kaget Dec saat tahu-tahu kertas yang ada di meja sudah tiada. Mereka mencari-cari ke semua sudut dan kantong baju mereka. Namun tak ada. Pintu belakang rumah menganga lebar.
"Orang itu mencurinya!" Kata Dora kesal.
Tak lama mereka melihat Pak Ben melintas di depan rumah merah itu. "Hantu?" Pak Ben terkekeh geli ketika mereka menceritakan semuanya padanya. "Aku tidak percaya hal itu anak-anak!" Ia masih sedikit tertawa.
"Tapi ada baiknya jika kalian tidak nyaman, kalian pindah saja dari sini. Losmen di sana sangat bagus!" Ucapnya riang.
Mereka juga mulai menceritakan tentang kertas yang hilang itu dan jam dinding yang menunjukkan pukul 11.11.
"Benarkah?" Kata Ben orang film itu. Tiba-tiba Pak Frank datang dengan muka masam.
Sorenya hantu itu kembali muncul mengejar mereka dari lantai dua yang luas itu. Disertai dengan suara melengking tinggi yang meratakan telinga. Mereka berlari mencari sebuah tangga namun karena sangat panik mereka hampir seterusnya berputar dalam ruangan lantai dua. Mereka berhasil menuruni lorong tangga yang gelap dengan tersandung sandung. Jejak kaki berdarah meuncul di ambang pintu. Dec dan David berhasil keluar tapi Dora tersandung kaki kursi hingga ia jatuh tersungkur. "Dora!" Teriak Dec dan Dave kompak. Mereka berteiak tolong dengan keras.
Sementara mata Dora terkejap-kejap sesaat dilihatnya sebuah sepatu dibawah meja dalam keadaan bersih. Dan kemudian diikuti jejak kaki berdarah.
Pak Frank datang dan hantu pun langsung lenyap tanpa asap. "Ada apa?!" Tanyanya.
----
Esoknya diruang yang kemarin mereka pergi mencari jam dinding itu. Namun jam itu juga hilang. Dec langsung mengambil kesimpulan bahwa ia mencurigai Pak Frank sebagai pencuri dan orang kekar itu pula yang menghledah serta mencuri kertas petunjuk rahasia. "Semua sudah jelas! Dia tidak ingin kita ada disini! Dan dia juga menakuti kita, memperingatkan kita agar hati-hati. Dan saat hantu itu muncul dirinya juga ikut muncul. Dan jika kalian perhatikan, tadi malam dia tidak memakai sepatu." Jelas Dec. "Kau bilang kau melihat sepatu tersembunyi dibawah kursi kan Dora?" Lanjutnya. Dora mengangguk.
"Pokoknya kita harus lebih dulu memecahkan teka-teki itu!" Hal Dora kemudian.
"Tapi bagaimana jika jam dinding itu adalah petunjuk? Diakan sudah lenyap!" Kata Dec lesu.
" Hei bagaimana jika jam itu salah satu petunjuk dan pengecoh saja?" Dora berteriak gembira sambil memandang samar-samar jam matahari yang ada di belakan rumah itu. "Dan jika kalian tahu, bukankah biasanya harta karun terpendam didalam tanah?"
"Wow! Tepat! Jam matahari itu! Tapi dimana kita harus menggali?" Kata Dave.
"Di arah jam 11.11!" Kata Dec dengan sorot matanya yang kembali bersemangat.
Keesokan harinya tepat pukul 11 mereka memandang jam matahari itu. Tak ada siapapun disekitar rumah itu. "Sebelas menit lagi!" Ucao Dora memandang arlojinya.
Mereka menandai tanah yang merupakan ujung bayangan dari pukul 11.11. Rencananya mereka akan menggali malam-malam agar tidak terlalu menyolok.
----
Tak ada kejadian misterius di hari itu, tak ada pula yang datang ke rumah itu. Mereka menunggu waktu malam dengan tak sabar. Semua peralatan menggali yang diamabil dari gudang sudah siap. Akhirnya waktu yang mereka tunggu-tunggu tiba. Dengan susah payah mereka mencari koin yang Dec tanam dalam tanah sebagai tanda, namun mereka tak butuh waktu lama untuk menemukan.
Galian itu sudah hampir setengah meter namun belum juga ada apapun yang mereka temukan. Tiba-tiba sesuatu yang keras menabrak ujung cangkul yang Digunakan David. Sebuah kotak terbuat dari kayu hampir lapuk dimakan tanah dan waktu. Namun ia belum hancur.
Ketiga remaja itu berkeliling di dalam dapur rumah itu berusaha membuka peti itu. Degan pisau mereka mengorek bagian pinggir kotak dan membuka perlahan kotak itu. Dengan hati berdebar mereka melihat bongkahan benda yang berkilat-kilat terkena sinar lentera yang tergantung di dinding dapur. Mereka semua melongo. Wajah mereka kala itu terlihat tolol.
Bunyi bantingan pintu dapur mengagetkan Ketiganya. "Serahkan itu padaku!" Seorang berbadan kekar dengan nada licik mengancam mereka. Ditangannya terlihat senapan angin yang siap melepas mimisnya. "Terimakasih kalian sudah membantuku mencari batu itu anak-anak tolol!" Lanjut orang itu. Anak-anak dengan ketakutan menatap tajam orang yang tinggl di losmen sebelah. Bukan sang pemilik! Tapi orang yang mengaku orang film yang tak lain adalah Pak Ben.
Hampir saja ia meraih peti itu tapi suara nyaring diluar mengagetkannya. Anak-anak pun ikut kaget. Mereka kira itu adalah mimis senapan yang kala itu mungkin sudah menembus dada mereka.
"Jangan bergerak!" Kata suara yang diluar.
"Paman Max!" Gumam Dora.
Mereka berempat yang ada di dalam rumah berbondong keluar dari dapur itu. Tiga sosok terlihat berdiri di samping bebatuan jam matahari. Dua orang dengan badan kekar dan satu orang dengan badan kecil dan bungkuk.
----
"Selama ini aku bersembunyi di dalam loteng untuk mengawasi kalian." Ucap orang tua bungkuk itu.
"Dora menelpon aku akan ada bahaya dirumah ini, jadi aku segera kemari. Dan kebetulan Pak Frank ini juga melapor ada seorang tamunya yang keluar membawa senapan." Kata Max yang merupakan seorang polisi.
"Maafkan kami Pak Frank. Selama ini ternyata kami salah paham. Aku kira anda yang menjadi biang dari semua ini!" Ucap Dec. Pak Frank kemudian mengangguk dan tersenyum.
Mereka kini tenang dengan tidak adanya hantu dan jejak berdarah lagi. Ternyata bayangan merah dan hitam itu adalah ciptaan dari ilusi proyektor Ben yang dulunya orang film. Namun sudah lama ia dipecat akibat ulahnya mencuri sebuah kamera untuk dijualnya. Dan saat Pak Frank tidak memakai sepatu, itu karena ia mendengar teriakan ke dua remaja saat hantu mengejar. Sehingga ia buru-buru dan langsung keluar tanpa alas kaki.
Kini nikahan intan mahal itu menjadi milik keluarga Dave Han dan Kakek Han kini tinggal bersama anak-cucunya dikota.