Persahabat. Mungkin kata itu tepat untuk menyebutkan realita yang sedang kujalani. Tetapi perasaanku menolak apa yang kusebutkan, namun pada kenyataannya hanya itu yang bisa menggambarkan kedekatan kami.
Meskipun hanya sekedar sahabat, entah mengapa aku selalu menangkap "sesuatu" dimatamu. Sesuatu yang merubah perasaanku seiring berjalannya waktu.
Seringkali aku bertanya pada diriku sendiri, rasa apakah yang kumiliki untuknya. Hatiku berbicara bahwa aku mulai menyukainya, namun keraguan masih membayangi pikiranku.
Aku membutuhkan sebuah lisan untuk menjawab keraguanku, dan tepat ditanggal 11.11, tepat pukul 11 nanti kami akan bertemu, setelah satu minggu yang lalu aku mengungkapkan isi hatiku. Aku berharap cemas, semoga saja ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Alfin terlonjak kaget, seseorang baru saja menepuk pundaknya dari belakang membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?" ucap Alfin. Seulas senyum terbit dari bibirnya, menyambut seseorang yang kini berjalan mendekatinya. Meskipun sedikit kesal, Alfin enggan mengutarakannya, tak mau ambil pusing untuk masalah yang sepele.
" Kenapa melamun? lagi mikirin gue yah?" tanya Disya dengan tampang polosnya.
Tawa Alfin membuncah, sepupunya itu memang mempunyai rasa percaya diri level tinggi.
"Iya nih. Kangen tau".
"Beneran nih?" tanya Disya ragu, meskti tak bisa dipungkiri wajahnya berubah rona memjadi merah.
Alfin mengangguk kecil, tangannya mengacak acak rambut Disya.
"Alfin jangan gitu dong, berantakan nih rambut gue" Disya merajuk, ia takut rambutnya yang tak beraturan bisa mengurangi kecantikannya. Jemarinya menyisir rambutnya perlahan memperbaiki tatanan rambutnya.
Alfin mencubit bibir Disya yang menggemaskan, bibir Disya yang mengerucut terlihat lucu dimatanya.
Disya memegang bibirnya, "sakit tau" Disya berteriak, kesal dengan ulah Alfin.
"Okey, maaf" Alfin mengacak lagi rambut Disya.
Diysa berusaha menangkis tangan Alfin, merasa risih dengan rambutnya yang berantakan.
"Alfin udah dong"
"Iya bawel" Alfin pun melepaskan tangannya yang sedang asyik mengacak rambut Disya.
"Beneran lo kangen gue?" Disya menatap Alfin penuh harap. Hubungan darah dengan Alfin tak bisa melenyapkan perasaan love dihatinya. Ini memang sebuah kebodohan, dirinya tidak akan bersatu. Namun tetap saja hatinya kekeh menginginkan Alfin.
"Iya, kangen banget gue" Alfin tertawa pelan.
"Kangen sama pipi lo pengen nyubit" Pandangan Alfin mengarah pada pipi Disya yang putih bersih, pipinya yang cubby membuat Alfin tak tahan muntuk tidak menyentuhnya.
"Nggak boleh" Disya refleks menutup kedua pipinya dengan telapan tangannya. Pasalnya, cubitan Alfin sangat beda tipis dengan api neraka, terasa panas saat menyentuh kulitnya.
Alfin memegang tangan Disya.
"Minggir dong, tangan gue udah gatel nih pengen nyubit" .
"Enggak boleh Alfin" Nisa memperkuat benteng pertahanannya, semakin lekat memegangi pipinya.
"Dasar gendut pelit" Alfin mengalah, masih banyak cara lain untuk menggoda Disya.
Disya melirik tajam kearah Alfin tak ayal, sebuah pukulan melayang kearah Alfin disusul pukulan pukulan lainnya secara beruntun.
"Aww sakit Sya" Alfin pura pura meringis kesakitan. Berbeda dengan hatinya yang tertawa jahat, pukulan Disya tak akan mempan ditubuhnya. Ia hanya menghargai usaha Disya tidak ingin mengecewakannya.
Disya tidak menggubrisnya masih lanjut memukuli Alfin.
"Udah dong Sya ampun, sakit nih" Alfin memegang bahu bekas pukulan Disya.
Diya merasa senang kemenangan berada dipihaknya, Ia menjulurkan lidahnya. Disya menghentikan pukulannya, melipat kedua tangan didadanya.
Kesempatan emas ini tak disia sia kan Alfin, ia mencubit pipi Disya dengan keras. Kemudian berlari secepatnya menghindari amukan Disya.
"Alfiiiinn" Disya berteriak marah. berusaha mengejar Alfin. Diysa berhenti disebuah persimpangan jalan, sosok Alfin tak dapat ditemuinya.
"Ah sial" Disya mengumpat kesal. Ia berbalik arah akan menunggu Alfin pulang saja.
Dilain sisi tempat Alfin berjalan menuju taman kecil didekat tempat tinggalnya. Jarum jam dipergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 11.00 dia teringat janjinya untuk menemui seseorang.
Mendadak hujan turun begitu deras, Alfin berlari mencari tempat berteduh, ia melihat sosok yang sangat dikenalinya sedang duduk melamun disalah satu gazebo taman.
Alfin berjalan mendekatinya, Ia adalah Zetha, seorang sahabat yang juga seseorang yang disukainya.
Nisa melihat kedatangan Alfin, ia tersenyum ramah kepadaku sembari mempersilahkan ku duduk disampingnya.
Aku membalas senyumannya, hatiku meleleh karena senyuman hangatnya.
Keduanya diam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Aku hanya bisa memandanginya, tanpa berani untuk mengawali pembicaraan dengannya.
Betapa pengecutnya diriku.
Zetha menghembuskan nafasnya berusaha menenangkan dirinya, ia tahu tidak mudah berada dikondisi seperti ini. Kecanggungan melanda keduanya, dirinya sadar pertemuan mereka kali ini akan menentukan nasib persahabatan mereka.
"Aku minta maaf" Zetha memulai percakapan dengan Alfin. Hatinya menolak untuk berbasa basi terlebih dahulu, ia ingin segera berakhir.
Alfin mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu arah pembicaraan Zetha.
"Minta maaf untuk hal apa?"
"Untuk jawaban pertannyaanmu minggu lalu" Zetha berusa mengingatkan Alfin.
Alfin diam membeku.
"Aku berpikir akan lebih baik jika kita hanya sekedar menjadi sahabat" .Zetha menjelaskan alasannya hati hati meski terdengar tidak masuk akal.
"Tapi kenapa?" Alfin bertanya tanpa sempat berpikir. Pikirannya sudah melayang layang diangkasa, imajinasinya untuk bisa membangun masa depan yang indah dengan Zetha musnah seketika.
"Aku merasa hanya sebatas nyaman saat kamu menjadi sahabatku"
"Jadi selama ini kedekatan kita tidak berarti apapun untukmu?" Alfin menyanggah alasan Zetha, baginya itu tidak lebih dari alasan sampah.
Ia bahkan masih mengingat dengan jelas saat Zetha merajuk tidak mau makan jika tidak disuapinya, malam malam panjangnya saat berkencan dengannya disebuah taman kota, Saat saat dirinya berlari saling berkejaran ditepi pantai sambil menggendong Zetha yang tertawa lepas diatas punggungnya, mata nya yang berkaca kaca saat dirinya memberikan bunga mawar kesukaannya.
Apakah ia selama ini salah menyimpulkan arti tawa bahagia yang dimiliki Zetha saat bersamanya? Zetha hanya butuh penghibur untuk membahagiakan diriya. Senyuman itu tak lebih dari simbol Zetha nyaman saat bersama dirinya bukan mengharapkannya.
"Maafkan aku Al, aku hanya sebatas nyaman denganmu tapi tidak dengan perasaanku untukmu"
"Bisakah kamu memberikan alasan yang logis Tha?" Alfin masih tidak menyangka, Zetha akan menolaknya mentah mentah.
"Sudah ku katakan aku tidak memiliki perasaan apapun untukmu, ini sudah cukup jelas, cobalah untuk memahami Al" Zetha bangkit dari duduknya, air matanya sudah tak terbendung. Lebih baik dia meninggalkan Fian dari pada melihatnya menangis.
Alfin tak memedulikan kepergian Zetha rasa benci menyeruak memenuhi rongga dadanya. Ingin rasanya dia meminta penjelasan lebih pada Zetha namun rasa sabarnya entah menguap kemana. Air mata mengalir dari pelupuk matanya. Mungkin kalian akan mengira aku lelaki lemah, menangis hanya karena cinta. Tapi aku tak peduli, aku menumpahkan segala kesedihan ku bersamaan air hujan yang luruh kebumi.
Dilain sisi suara isakan terdengar pelan. Tidak hanya Alfin yang tersakiti dalam perpisahan ini. Hati Zetha pun ikut hancur. Alfin tak salah, jika menyimpulkan dirinya juga mencintainya. Zetha lah yang salah dia tidak berani menentang keingingan saudara kembarnya yang juga ingin memiliki Alfin.
Zetha mengingat kembali saat terakhir Alfin memberinya bunga mawar kepadanya, matanya berkaca kaca menahan haru, Bahagia sekaligus terluka . Dia senang dengan segala perlakuan Alfin, tapi dia juga mengingat Shinta, seseorang yang terlahir dari rahim yang sama dengannya juga menginginkan Alfin. Air mata jatuh membahasi pipinya. I'm sorry honey ucapnya lirih berharap Alfin bisa mendengarnya.