Claire yang berpetualang tiba di kota Rolan Gate, ia tinggal bersama pamannya di sebuah kafe bernama Cafe Taria.
"Claire, kau sudah mengelap semua mejanya?" Tanya istri pamannya bernama Tari.
"Sudah bi! Kita sudah siap buka." Ujarnya sambil mengacungkan jempolnya bahwa persiapan sudah selesai.
Ia pun membalikan papan buka di pintu masuk dan cafe pun mulai berbisnis. Tidak menunggu lama, pelanggan pertama pun datang, ia adalah teman perjalanannya ke kota Rolan Gate yaitu Antonio.
"Selamat datang!" Sapa Claire.
Antonio pun langsung memilih tempat duduk favoritnya yakni dekat rak buku yang menyimpan beberapa tulisan dan kisah dari berbagai negri.
Koleksi buku itu memang wajar, mengingat paman Thomas adalah seorang petualang, sama seperti ibunya. Buku yang digemari oleh pembaca merupakan jurnal penjelajahan dan novel fiksi, namun yang sering mereka baca adalah jurnal milik ibunya yang mengembara ke seluruh penjuru benua.
"Baiklah kau mau pesan apa?"
Namun mata Antonio tertuju pada menu yang belum ia lihat sebelumnya, nama menu itu juga terlihat sangat aneh membuat Antonio tidak kuasa menahan tawanya.
"PanClaire? Menu konyol apa ini?" Antonio mempertanyakan menu baru tersebut.
"Kalau ga suka jangan kau pesan dasar payah!" Claire menggebrak meja lalu berteriak keras di hadapan Antonio atas apa yang diucapnya.
Bibi Tari memperhatikannya dari meja kasir, ia menatap tajam Claire lalu menggelengkan kepalanya.
Oh tidak! Bibi Tari marah karena aku membentak pelanggan, dasar Antonio, aku akan membantaimu hingga habis.
"Ahaha, aku hanya bercanda. Jadi kau mau pesan apa?." Claire kembali bertanya dengan senyum kakunya.
"A...aku mau PanClaire dan kopi Macchiato." Jawab Antonio dengan wajah yang terancam.
"Satu PanClaire dan Macchiato!" Teriak Claire menjawab pesanan.
"Oke!" Jawab seorang perempuan berambut pirang panjang dengan seragam yang sama, ia adalah Yuni, puteri dari paman Thomas dan bibi Tari yang merupakan seorang barista di kedai kopi tersebut.
Beberapa pelanggan pun berdatangan hingga bangku di kafe itu terisi penuh, itu memang wajar karena di kota hanya ada dua kafe dan mereka saling bersaing satu sama lain.
Tidak ada bar ataupun kasino, tempat ideal untuk terhindar dari hal yang buruk. Minuman keras dilarang karena masyarakat di sini tahu akan efek negatifnya.
Itulah mengapa masyarakat di sini lebih memilih kopi sebagai pengalihan mereka dari lelahnya bekerja.
"Mau pesan apa nona?"
"Emm... Anda pelayan baru di sini?" Tanya pelanggan perempuan itu pada Claire.
"Aku Claire pelayan sementara di Cafe Taria."
"Oh, aku mau double espresso dan... PanClaire?"
"Itu menu baru kami, sesuai dengan namaku." Jawab Claire sambil tersenyum.
"Kalau begitu double espresso dan PanClaire ya."
Claire pun mencatat pesanan itu, ia sangat senang kalau menu buatannya banyak yang memesan, walau pada awalnya ia ragu kalau Panekuk tidak akan ada yang memesan.
'Aku jadi ingin membuka kafe di desaku nanti.' Claire berkhayal.
Ia pun pergi ke dapur, terlihat sangat kacau seperti kapal pecah. Berbanding terbalik dengan bagian kopi yang berada di depan.
"Claire, bisakah kau membeli bahan-bahan seperti tepung dan krim?" Tanya paman Thomas yang terlihat sangat sibuk membuatkan pesanan.
"Tapi siapa yang jadi bagian pelayanan?" Tanya Claire untuk bagian tugasnya.
"Yuni akan menggantikanmu sementara, karena bahan untuk panekukmu sudah hampir habis kita perlu membelinya."
"Baiklah, semoga saja aku masih ingat toko langganan paman."
Berbekal beberapa keping emas dan sebuah nota, Claire berangkat menuju toko olahan pangan di pasar yang dekat dengan kafe mereka.
Jalanan begitu ramai, banyak penjual kaki lima menjajakan makanan dan peralatan rumah tangga di tepi jalan. Matanya tertuju pada sebuah toko di ujung jalan yang terlihat ramai.
'Ramai sekali, tidak biasanya jalanan sepadat ini.' Gumam Claire heran.
Setelah berlama-lama, Claire pun mendapat apa yang ia butuhkan. Bergegas dirinya berlari menuju kafe, karena mereka sudah menunggu bahannya.
*****
Kembali ke tugasnya, Claire melayani banyak pelanggan hari itu. Tidak biasanya kafe seramai sekarang hingga membuat paman Thomas dan Yuni kewalahan.
Seorang pelanggan mengacungkan tangannya, dengan cepat Claire menghampirinya untuk mendengar apa yang diinginkannya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?"
"Aku ingin membaca buku novel berjudul The Dragon Lord." Pinta pelanggan itu sambil menunjukkan buku yang ia maksud.
'I...itu kan jurnal milik ayah!' Claire terkejut melihat apa yang pelanggan itu tunjuk.
"Yang ini tuan?"
"Ya, Albert Abraham adalah salah satu penulis yang ku suka." Ujarnya sambil menikmati kopi yang ia pesan sebelumnya.
'Ternyata benar jurnal ayahku!'
Claire berlari ke dapur untuk mendapat jawaban dari ayahnya, apa benar ia pernah melawan Dragon Lord, tapi mungkin saja itu hanya karangan fiksi yang ayahnya buat.
"Itu benar, bahkan ayahmu dan companionnya hampir menaklukannya." Jawab paman Thomas atas pertantaan Claire.
Claire terpelanga saking terkejutnya. Yuni menariknya kembali ke depan mengingat pelanggan masih berdatangan.
Bibi Tari memanggil Claire dan memberikan sebuah kopi pesanan pelanggan dengan latte art bergambar bunga mawar.
"Ini pesanan anda." Claire memberikan pesanan itu pada gadis remaja di meja dekat jendela yang diarahkan bibi Tari.
"Wooaaahh! Aku ingin melihat proses pembuatannya!" Cakap seorang gadis remaja yang duduk bersama temannya itu.
"Anda tinggal memesan saja."
"Kalau begitu aku mau Creamy Latte! Tapi aku ingin gambar kucing."
"Baiklah, akan disiapkan di hadapan anda nona." Jawab Claire lalu memberikan pesanan itu pada Yuni.
Kali ini bibi Tari membawa kopi Latte dan teko berisi susu dan bersiap untuk pertunjukkan.
Dengan cepat ia mengaduk kopi itu dengan memutar-mutar cangkir berisi kopi secara cepat dan tidak berceceran ataupun tumpah, lalu ia menuangkan susu dan membentuknya dengan sebuah sendok menyerupai wajah kucing.
Latte art pun terbentuk sempurna, Claire dan pelanggan di depannya pun sangat terkesan dengan aktraksi bibi Tari selaku pemilik kafe.
"Wajah kucing! Aku jadi tidak tega untuk meminumnya." Ujar gadis itu yang masih mengagumi Latte art miliknya.
"Yise! Minum kopimu cepat!" Temannya menyodorkan kopi itu ke mulutnya.
"Hentikan Shela, nanti tumpah!"
Namun kopi itu terlanjur menyentuh bibirnya membuat gadis itu sedih. Namun setelah ia mencicipinya rasa sedih itu tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi senyuman bahagia.
"I...ini enak sekali! Apa sih bahan pokoknya?"
"Kopi, foam dan susu." Jawab bibi Tari dengan singkat.
Claire jadi penasaran untuk membuat latte art, ia menghampiri Yuni untuk memintanya mengajari langkah-langkah membuatnya.
Yang pertama dilakukan yaitu menguapi susu di suhu yang dingin, ini dilakukan untuk membuat foam yang sempurna. Kemudian dilanjutkan dengan memanaskan krim atau foam namun tidak sampai mendidih.
"Yuni, kenapa yang di praktikkan olehku berbeda dengan yang ditunjukkan ibumu." Claire merasa kalau pembuatannya terlalu rumit.
"Kita akan membuat foam, ini unsur penting kopi latte." Ujarnya sambil menuangkan susu ke teko uap.
"Aku lebih suka membuat espresso," keluh Claire yang memperhatikan Yuni cara membuatnya.
Paman Thomas menghampiri Claire sambil membawa box coklat. Claire terheran dengan isi box itu yang membuat pamannya terlihat panik.
"Claire, kau salah membeli coklat."
"Apa! Aku akan menukarkannya."
Claire pun mengambil box itu lalu bergegas kembali ke toko yang ia kunjungi sebelumnya. Keadaan kota pun semakin ramai tidak seperti biasanya, ia penasaran apa yang sedang terjadi.
Ia tiba di tokonya, terlihat tidak seramai sebelumnya. Claire pun berdialog terlebih dahulu untuk meyakinkan kalau dirinya membeli bahan dari sini.
"Maaf nona, tapi rincian pembeliannya harus di perlihatkan." Penjaga toko itu berkata sambil menyerahkan kembali apa yang dibawanya.
"Tapi sungguh aku belanja di sini." Claire mencoba meyakinkannya.
"Ini sudah prosedur, maafkan saya."
Ini akan memakan waktu lama kalau dirinya harus kembali ke Cafe Taria untuk mengambil rincian pembelian barang. Namun hendak berbalik untuk kembali, penjaga toko itu kembali memanggilnya.
"Anda bekerja di Cafe Taria kan?" Tanya pria di samping penjaga toko tersebut.
"Aku pelayan sementara di sana." Jawabnya.
Pria itu melihat box yang dipegang Claire, ia pun tersenyum dan menepuk pundak penjaga toko di sampingnya.
Claire pun bisa menukar coklat batang itu dengan coklat bubuk, untungnya ada pria yang membantunya. Mungkin dia adalah pemilik toko ini, mengingat paman Thomas sudah lama berlangganan di sini.
Bergegas ia pun kembali ke Cafe Taria, namun kerumunan orang mengarahkannya ke suatu tempat.
'Jadi ini tempat yang membuat ramai kota. Tapi tunggu dulu, ini kan kafe saingan bibi!'
Misteri kafe banyak pengunjung hari ini pun sedikit terungkap, membludaknya pelanggan kafe di sini membuat Cafe Taria menjadi peralihan. Namun dirinya masih bingung, kenapa hari ini banyak sekali orang yang ingin meminum kopi.
Tidak ada waktu untuk memikirkan itu, Claire harus kembali ke Cafe Taria untuk menyerahkan coklat bubuk yang ditunggu pamannya. Akan tetapi ketika ia berbalik,
"Aku dimana?"
Ia pun menyusuri jalan yang sebelumnya ia lewati, namun setiap sudut nampak asing baginya. Claire pun berinisiatif untuk menanyakan lokasi Cafe Taria berada.
Seorang pria paruh baya melintas di depannya, Claire pun memanggilnya untuk menanyakan sesuatu.
"Maaf pak, aku ingin tanya kalau Cafe Taria sebelah mana ya?"
Pria paruh baya itu berpikir, lalu menunjuk kearah utara tepatnya ke samping kanan dari arah Claire tepat di persimpangan ke tiga dari sana.
"Terimakasih pak!"
Bergegas ia berlari menuju lokasi yang di tentukan. Namun sialnya pria itu membohonginya.
"Ini alamat yang salah, koin emasku juga hilang, aku kena tipu!" Claire sangat kesal, baru pertama kali ia tertipu seperti ini.
Dengan langkah penuh emosi, ia kembali mencari kedai kafe milik bibinya itu. Untuk kedua kalinya ia mendapat sial, langkah kakinya tersandung batu membuatnya terjatuh.
Brukk...
'Sialnya diriku hari ini.'
Claire mencoba menahan tangisnya atas nasib buruk yang menimpa, namun kesialan juga masih menerpanya karena coklat bubuk yang ia bawa terinjak seseorang.
"Aku sudah tidak kuat!"
***
Berlama-lama ia berjalan kaki menyusuri kota hingga matahari sudah mulai terbenam, ia terdiam di tepi jalanan kota yang mulai sepi. Dirinya sudah tersesat begitu jauh hingga dirinya pasrah.
Tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang, suara itu terdengar tidak asing baginya.
"Claire dari mana saja kau?"
Claire pun berbalik dan benar saja, ia adalah Yuni yang berdiri di depan teras kafe yang sudah dibereskannya.
'A...aku ingin segera pergi dari kota ini.'
(Side story from Crimson Hunter Claire)