Sebenarnya, dia adalah ketidak mungkinan yang selalu aku semogakan. Kemustahilan yang selalu aku impikan. Aku jatuh cinta. Aku mencintainya. Dari awal sampai akhir. Walau dia nyata dan ada tepat di hadapan ku, tetap saja dia sulit ku gapai. Jadi, sampai akhir dia adalah ketidakmungkinan ku.
Tapi, aku tetap mengharapkan sebuah keajaiban.
Jihan, nama cantik yang dipersiapkan ayah ku sebelum dia pergi untuk selama-lamanya. Hidup memang tidak pernah mudah dan takdir terkadang terlalu mengerikan. 5 tahun setelah kepergian ayahku, wanita hebat yang telah memperjuangkan kelahiran ku pun ikut menyusul cinta sejatinya. Di usiaku yang baru saja menginjak 5 tahun, aku resmi menjadi seorang yatim piatu.
Mungkin saat itu aku masih belum mengerti apapun. Belum tau bagaimana tersiksa nya merindu tanpa bisa bertemu. Dan semakin dewasa, aku mulai mengerti sakitnya kehilangan. Yang paling menyakitkan, aku tidak punya banyak kenangan tentang ibu dan ayahku.
Tak apa, Tuhan adalah pembuat skenario yang luar biasa. Tuhan masih menyisakan malaikat hebat lainnya untuk ku dan dia adalah tante ku. Seseorang yang sudah merawatku sejak 18 tahun yang lalu. Aku sangat menyayanginya.
Itu latar belakang diriku. Aku memang bukan seorang gadis yang terlahir dari keluarga serba ada namun, aku adalah pejuang kehidupan mapan di masa mendatang.
Salah satu dari hal yang tak pernah aku lewatkan untuk selalu aku syukuri, aku selalu berhasil lolos masuk sekolah ternama lewat jalur beasiswa. Mulai dari SMP sampai perguruan tinggi dan sekarang sudah menjadi salah satu karyawan di perusahaan yang walaupun bukan perusahaan besar, tapi upahnya cukup untuk membantu diriku agar terbiasa hidup mandiri.
Tidak banyak teman yang ku miliki dan aku tidak begitu pandai mengenal pria dan berkencan. Ralat. Bukannya tidak pandai, hanya saja, aku masih mencintai orang yang sama sampai saat ini. Orang yang aku temui di musim hujan ketika aku masih mengenakan seragam putih abu.
Hah, aku tidak pernah bosan ketika harus kembali menyelami ingatan tentang momen pertama kalinya aku bertemu dengannya.
Kurasa itu adalah musim hujan sekitar 8 tahun yang lalu. Untuk yang pertama kalinya aku melihat pria dengan muka datar namun diam-diam mempunyai hati yang baik. Pura-pura tidak butuh dan menyimpan begitu saja payung yang dia pegang lalu berlari secepatnya, padahal hari itu hujan benar-benar sedang turun sangat deras.
Tebak ku, dia sengaja meninggalkan payung itu agar bisa di pakai oleh seorang ibu yang sedang hamil besar. Dan entah kenapa hanya karena melihat momen itu, pikiran ku hanya tertuju pada pria itu bahkan sampai berhari-hari.
" Kalau aku bertemu dengan nya lagi, aku akan jatuh cinta, " gumamku. Sebenarnya aku tidak terlalu serius ketika mengatakannya.
" Siapa yang jatuh cinta? Apakah keponakan ku sedang jatuh cinta? "
Aku langsung menoleh dan berakhir memeluk erat wanita yang tengah tersenyum sambil membawakan satu gelas susu hangat untuk ku. Dia adalah malaikat ku. Tante ku.
" Tidak ada yang sedang jatuh cinta. Aku hanya sedang bergumam asal saja, " elak ku sambil tersenyum.
Menyentil hidungku, " Bohong. Bagus kalau Jihan beneran sedang suka sama seseorang, jangan terus-terusan bergulat dengan buku-buku pelajaran di perpustakaan. Bermainlah sesekali dengan teman-teman dan berkencan lah. Temukan pria baik yang akan menerimamu apa adanya seperti ayahmu yang menerima ibu mu apaadanya. "
Kalau sudah seperti ini, pasti akan berlanjut bercerita tentang ayah dan ibu ku. Dari kecil, dongeng pengantar tidur yang aku sukai bukanlah tentang kisah si kancil, melainkan tentang kisah ayah dan ibuku yang di ceritakan lewat tante ku.
*****
Tidak biasanya aku terus menganga seperti orang dungu selama pelajaran di sekolah sedang berlangsung. Yap, benar. Aku bertemu kembali dengan pria payung kemarin. Sekarang dia sedang terduduk tepat di kursi belakang sebelah kiri. Ternyata dia murid pindahan disini. Dan aku... Aku rasa aku benar-benar jatuh hati padanya.
Setelah lama mengamati, tidak banyak yang aku tau tentang dirinya. Aku hanya tau, jelas latar belakang keluarganya berbanding terbalik dengan ku. Sama seperti dugaanku sebelumnya, dia bukan tipe orang yang ramah. Sebenarnya aku kurang respect dengan sifat orang yang seperti itu, tapi entah kenapa aku jadi suka semenjak orang itu adalah dirinya. Entah kenapa hal yang tidak aku sukai yang banyak terdapat pada dirinya, entah kenapa aku jadi suka selama itu ada pada dirinya.
Agaknya aku benar-benar sudah gila.
Aku juga tidak punya pengalaman mengejar-ngejar pria atau mengungkapkan perasaan secara gamblang, dan aku rasa, ini juga yang pertama kalinya untuk ku. Haha konyol sekali. Aku memutuskan untuk menjadi pengagum rahasia saja.
*****
Hobi baru ku, ikut bergabung bersama gerombolan siswi mengelilingi lapangan basket sambil bersorak-sorak. Pria payung itu juga sedang bertanding di lapangan.
" Jihan, lo suka ya sama murid pindahan itu? Suga? "
Kemunculan dan pertanyaan Myura yang tiba-tiba benar-benar menghancurkan fokus ku.
" Apa? Siapa? Enggak tuh, biasa aja. " Sudah aku katakan sebelumnya bukan? Aku hanya akan menjadi pengagum rahasianya saja, jadi aku juga tidak menceritakan tentang ini meski itu pada sahabat ku sendiri, Hyun Myura.
" Kalau enggak, kenapa dari tadi lo cuma teriak Suga, Suga, dan Suga? Padahal disitu bukan cuma Suga, Hyunbin juga lagi main tuh, " cecar Myura.
" Ya, mhh itu kan mhhh itu kan kamu juga bisa lihat dia jago pas main basket nya, " aku benar-benar gugup setengah mati.
" Alasan, " menjitak kepalaku.
" Aww shht, Ya!! Sakit tau. " Kepalaku benar-benar terasa panas.
Semakin banyak yang ku tau tentang Suga, semakin aku jatuh hati padanya. Aku merasa hari-hari ku ikut berubah. Tapi, ada yang salah dengan hari ini. Aku benar-benar kesal. Suga di tuduh mencuri uang di ruang kepala sekolah. Aku yang tau dan yakin Suga tidak melakukan itu, lantas aku segera bergegas ke ruangan BK dengan semua argumen pembelaan ku yang sudah terkumpul di kepala ku.
Awalnya aku tidak langsung masuk, aku hanya mengamati Suga yang sedang di cerca pertanyaan namun Suga tak menjawab atau mengelak apapun. Suga hanya diam.
" Permisi Pak, boleh saya masuk? " Guru dan Suga kompak menoleh ke arah ku. Aku mendadak gugup saat mataku tak sengaja bersirobok dengan mata milik Suga.
Sadarlah Jihan, bukan saatnya kamu merasa gugup begini. Ingat, tujuan mu ke sini bukan untuk itu.
" Jihan? Masuklah. Ada apa? "
" Bukan Suga pelakunya, " aku langsung to the point.
" Apa yang membuat mu yakin kalau bukan Suga pelakunya? "
" Karena dari pagi sampai jam makan siang, Suga ada bersama saya pak. "
" Benarkah begitu, Suga? " tanya guru ku.
" Hmm. "
" Benar pak, kebetulan hari ini saya dan Suga mendapat tugas dari bu Airin. Selama jam pelajaran, kita berdua ada di perpustakaan dan pas waktu jam istirahat kita ikut bu Airin pergi ke luar. Bapak bisa tanya penjaga perpustakaan atau bapak bisa tanya langsung ke Bu Airin. Saya dengar pak kepala sekolah kehilangan uang pas jam istirahat,bukan? Jadi saya yakin bukan Suga pelakunya. "
Guru tampak berfikir, " Tapi Suga sempat masuk ke ruangan kepala sekolah. Suga juga mengakuinya dan tidak mengelak sama sekali. "
" Itu satu setengah jam setelah jam istirahat pak. Saya juga ikut masuk ke ruangan kepala sekolah bersama Suga untuk menyimpan dokumen yang di titip kan Ibu Airin. Kalau pun seandainya Iya Suga menjadi tersangka, bukannya saya patut di curigai juga, pak? "
Sesekali aku melirik Suga tapi aneh, dia hanya diam saja dan terlihat tidak perduli sama sekali.
Akhirnya, setelah penjelasan ku yang cukup panjang, aku dan Suga bisa keluar ruangan. Suga bukan lagi tersangka begitupun dengan diriku. Guru akan melakukan penyelidikan ulang.
Cukup gugup karena aku kembali berjalan berdampingan bersama Suga. Tiba-tiba Suga menghentikan langkah kakinya. Otomatis aku juga ikut berhenti dan spontan menoleh.
Berdecak, " Tidak seharusnya lo ikut campur. "
Wajah Suga memang tidak pernah terlihat ramah, tapi kali ini aku bisa melihat dengan jelas. Suga benar-benar terlihat kesal. Kesal dengan ku?
Aku hanya terdiam sambil berfikir, benarkah tidak seharusnya aku ikut campur tadi?
" Dan lo bukan tipe gue! " berlalu.
Ku rasa, itu percakapan terakhir ku bersama Suga di musim itu.
Setelah kejadian itu, aku benar-benar tidak berani lagi berpapasan dengan Suga. Suga terlihat tidak nyaman berada di dekatku. Setelah tau kalau Suga tidak nyaman ketika berada di dekat ku, tapi kami malah sering terjebak di kelompok yang sama ketika mengerjakan tugas. Sering sekali, aku tidak bohong. Entah ini hal yang harus aku syukuri atau harus aku rutuki.
" Jihan, lo udah dengar sesuatu belum? " tanya Myura.
" Gosip apa? Sekarang siapa lagi yang baru jadian? " sahut ku tak tertarik sama sekali.
" Bukan gosip itu, ini tentang Suga. "
" Suga? " mendadak aku langsung antusias setelah mendengar nama Suga.
" Ia, ku dengar Suga sempat di tuduh mencuri. "
" Oh, soal itu. Tapi bukan Suga pelakunya. " aku kembali kehilangan rasa antusias ku.
" Iya tau. Tapi bukan itu yang mau gue omongin, Jihan. Yang gue denger, katanya Suga emang sengaja gitu pas di tuduh gitu tuh dia sengaja enggak ngelak atau melakukan pembelaan karena kalau dia terbukti mencuri, Suga bakal di keluarin dari sekolah. Gue rasa si Suga ini emang pengen di D.O dari sekolah. "
Aku benar-benar terkejut setelah mendengar apa yang di katakan Myura. Pantas saja waktu kejadian itu Suga memang nampak diam saja. Apa Suga benar-benar ingin di keluarkan dari sekolah? Tapi kenapa? Jadi ini alasan Suga nampak kesal padaku waktu itu?
" Tapi tunggu Myura, bukannya pas kejadian itu kamu lagi enggak masuk sekolah, ya? Jadi bagaimana kamu bisa tau tentang itu? Jangan asal bicara kamu. "
" Lo kayak enggak tau Hyun Myura aja. Pusat nya info dan gosip di sekolah. "
" Dasar!! "
" Eh tapi ya katanya ada yang bantu dia buat buktiin kalo Suga bukan pelakunya. Wah, orang itu kayaknya emang suka ikut campur atau terlalu baik ya. "
Aku hanya berdeham, tak menimpali lagi.
Jujur, semenjak mendengar apa yang dikatakan Myura, aku jadi kepikiran terus tentang Suga. Sesekali aku mencuri-curi pandang, memperhatikan Suga secara diam-diam selama di kelas. Dan Suga masih seperti biasanya. Sibuk dengan ponselnya dan bermain game.
Benarkah, tidak seharusnya aku ikut campur waktu itu? Seandainya aku tidak ikut campur, mungkin aku masih bisa akrab bersama Suga. Tapi kalau aku tidak ikut campur, Suga bakalan di keluarin dari sekolah, jadi gimana bisa akrab?
Akrab bersama Suga? Dari awal dia memang tidak pernah welcome terhadap ku. Konyol sekali diriku masih berharap bisa akrab dengannya.
" Myura, apa kamu tidak mendengar lagi berita tentang Suga? "
" Berita apa? "
" Ya, apa aja. "
" Ah ya, gue denger Suga di pindahkan ke sini secara paksa sama bokapnya. "
" Kenapa? "
" Mana gue tau, gue cuma dapat info tentang Suga nya bukan tentang bokapnya. Tapi yang gue tau kalau waktu itu dia beneran jadi di keluarin dari sekolah, Suga bakalan ikut kakaknya sekolah di luar negeri. Mungkin dia mau nyari kebebasan, " mengedikkan bahu.
Aku jadi semakin kepikiran dan merasa bersalah terhadap Suga. Aku seperti sudah menjadi penghalang atas apa yang di inginkan Suga. Memutuskan untuk memberanikan diri meminta maaf kepada Suga pun ku lakukan. Kebetulan hari ini aku dan Suga mendapat tugas lagi dari bu Airin. Tuhan benar-benar memberikan aku kesempatan untuk meminta maaf kepada Suga.
Aku benar-benar gugup setengah mati.
" Suga, itu... Hmm aku mau minta maaf soal waktu itu. Memang tidak seharusnya aku ikut campur waktu itu, aku benar-benar minta maaf. " Spontan aku sedikit membungkuk.
" Permintaan maaf lo enggak bakalan bisa merubah apapun. "
Oke, Suga masih kesal terhadap ku dan sampai kami lulus pun aku dan Suga tidak pernah bisa benar-benar akrab.
*****
Saat yang aku tunggu-tunggu, aku benar-benar sudah mempersiapkan akan ini. Akhirnya aku berhasil di terima di salah satu universitas di Seoul. Aku berhasil mendapatkan beasiswa kembali. Yes, setidaknya aku tidak akan membebankan biaya kuliah ku terhadap tante ku. Myura juga ada bersama ku. Kita berhasil di terima di kampus yang sama.
Aku tertegun setelah melihat seseorang yang benar tak asing di ingatan ku. " Suga? "
" Kampus yang sama, jurusan yang sama. Lo benar-benar seorang penguntit. "
" Tapi aku enggak... aku bukan... " belum selesai aku berbicara, Suga sudah pergi begitu saja. Aku benar-benar sakit hati dengan apa yang dituduhkan Suga. Sungguh, aku bukan penguntit. Bahkan aku juga sama terkejutnya bisa ketemu Suga lagi di kampus yang sama.
" Siapa? Kok gue kayak enggak asing sama tampang nya. Itu si Suga, ya? Wah kita satu kampus sama dia? Gue rasa kalian berdua emang jodoh deh. " Oceh Myura.
" Ngaco kamu. "
Suga tetap tidak pernah welcome terhadap ku dan aku juga tidak pernah memaksa untuk membuat Suga bisa welcome terhadap ku.
" Lo masih suka yang sama si Suga? "
" Apa benar-benar terlihat jelas ya? "
" Ya ampun, bukan cuma gue doang kali yang nyadar kalo lo dari dulu emang tertarik sama manusia itu. "
" Haha, ternyata aku payah menyembunyikan perasaan ku, " menggaruk kepala ku yang tidak terasa gatal sama sekali.
" Kenapa harus di sembunyikan? Ungkapin aja kali, han. Lagian udah jadi trend juga cewek yang nembak duluan di jaman sekarang. "
Aku terdiam sejemang. " Mungkin pas SMA aku masih punya keberanian buat ngungkapin perasaan ku sama Suga, tapi sekarang enggak. Sekuat dan seberapa suka pun aku sama Suga kali ini, aku tidak akan pernah mengakui perasaan ku secara terang-terangan terhadap Suga. Itu lebih baik. "
" Bodoh. "
" Emang. " Aku tertawa.
Myura menangkup kedua pipi ku, " Jihan, gue perhatiin kenapa akhir akhir ini muka lo keliatan pucet sih? Apa gue salah lihat ya? Lo begadang lagi? Jangan begadang mulu napa Jihan, lo gak bakalan langsung bego kalu enggak belajar sehari aja. Lo kan udah pinter dari sana nya, sama kayak si Suga. "
" Mana bisa begitu. Kalau aku enggak belajar sekali, nanti aku tertinggal sama kayak kamu. "
" Sialan!! "
Percakapan kami di akhiri tawa.
*****
Tuhan, tolong jangan membuat ku bingung. Kenapa setiap kali aku ingin mengendalikan perasaan ku, setiap kali aku ingin mencoba menghindari Suga, kenapa kau selalu membuat ku terjebak di waktu dan ruang yang sama bersama Suga? Sama seperti masa-masa SMA, aku sering terlibat tugas kampus yang sama bersama Suga. Bahkan pernah mendapat hukuman yang sama dari dosen. Itu sekitar dua minggu yang lalu. Aku masih ingat bagiamana kesalnya Suga hari itu. Aku tidak sengaja menghilangkan hasil penelitian tugas ku bersama Suga.
" Tapi semalam aku benar-benar udah menyimpan file nya di laptop ku, Suga. "
" Gue enggak nanya file nya semalam ada atau enggak, gue nanya sekarang file nya mana? Enggak ada kan? "
" Iya tapi,... maaf. "
Karena tidak bisa mengumpulkan tugas sesuai deadline yang sudah di tentukan dosen, aku dan Suga pun mendapat sanksi. Tidak hanya harus mengulang penelitian, aku dan Suga pun harus membersihkan lapangan olahraga.
Hari yang buruk. Interaksi antara aku dan Suga pun semakin buruk. Benar-benar lengkap sudah.
Suga tidak banyak berbicara, dia sibuk mengambil sampah yang ada di lapangan sementara aku sibuk merapikan bola.
" Lo duduk aja, biar gue yang selesaikan. Gue enggak suka liat muka pucat lo. "
Aku benar-benar terkejut. Posisi ku saat itu aku masih berjongkok mengambil beberapa bola dan tiba-tiba saja Suga ada di depan ku sambil memberikan sebotol air mineral yang entah darimana air itu berasal.
Aku mencoba tidak menunjukkan reaksi berlebihan bahkan aku sampai berusaha mengulum senyum ku. Ini yang pertama kalinya aku merasakan kepedulian dari seorang Suga walau cara nya agak berbeda.
Aku hanya duduk di tepian sambil memandangi Suga. Ini benar-benar momen bersejarah sepanjang abad perbucinan ku terhadap seorang Ahn Suga.
Itu benar-benar menjadi momen indah satu-satunya yang aku miliki selama masa perkuliahan, karena setelah momen itu, aku tidak pernah terlibat lagi bersama Suga. Sampai masa kuliah ku berakhir. Akhirnya aku dan Myura berhasil menyelesaikan masa kuliah kami, begitu juga dengan Suga.
*****
Aku dan Myura sudah sibuk mempersiapkan sesuatu yang baru, mencari cari tempat kerja tentunya.
" Kalian masih sibuk buat surat lamaran kerja? "
" Iya tante, " sahut Myura sementara aku hanya menyahut dengan senyuman saja.
Tante mengelus pucuk kepalaku, memandangi ku sejenak dengan pandangan yang sulit aku artikan lalu dia tersenyum, " Kenapa Jihan tidak kerja di toko kue tante saja, hmm? "
Pertanyaan itu lagi.
" Jihan mau coba dulu cari kerja yang sesuai dengan apa yang sudah Jihan pelajari di kampus. Kalau nanti Jihan capek atau merasa muak, Jihan janji deh bakalan kerja di toko tante atau mungkin Jihan jadi pengangguran saja, haha. "
Kembali mengelus pucuk kepala ku, " Janji ya, kalau Jihan capek, Jihan berhenti. Tidak apa-apa istirahat sejenak, Jihan tidak akan tertinggal. "
" Iya, Jihan ambil barang dulu ya di kamar. " Aku pun bergegas.
" Tante, tante masih mengkhawatirkan Jihan? " Myura.
" Tentu saja Myura, tante pinginnya Jihan fokus saja tapi... "
" Tenang saja tante, kemanapun Jihan pergi, Myura bakal terus sama Jihan. Myura bakalan jagain Jihan. "
" Haih... "
*****
Betapa hebohnya pagi ini setelah aku dan Myura sama-sama mendapat surel pemberitahuan bahwa kami berhasil di terima kerja di perusahaan yang sama. Sebuah takdir yang benar-benar langka.
Walau masih jadi anak magang, tapi aku dan Myura benar-benar tidak melewatkan kesempatan ini. Kita benar-benar menyiapkan semua ini sebaik mungkin.
Seragam hitam putih masih menjadi seragam kami. Berhasil di terima di perusahaan cabang yang masih berkembang.
" Tempat kerja kita, Myura. Wah aku benar-benar masih belum percaya kita beneran keterima disini. Aku masih berasa ini mimpi. "
" Perlu aku tabok? "
" Jangan dong... "
Aku dan Myura berjalan berdampingan sambil sesekali bercanda. Memasuki kantor dengan status anak magang benar-benar membuat ku gugup setengah mati. Kegugupannya mengingatkan ku pada momen ketika pandang ku tak sengaja bersirobok dengan mata milik Suga.
Eh kok aku jadi bahas Suga lagi sih, kan ceritanya aku mau move on walau tetep enggak bisa.
" Suga? " Langkah ku spontan terhenti setelah tidak sengaja berpapasan dengan Suga.
Sungguh? Ini bukan mimpi,kan? Seragam yang sama, tanda pengenal yang sama dan kantor yang sama?
Suga menghela nafas, jengah mungkin. " Sungguh, bahkan lo sekarang harus satu tempat kerja sama gue? " berlalau begitu saja.
Aku juga masih mematung, ini sama mengejutkannya.
" Itu Suga ya? Wah benar-benar. Dimana ada Jihan pasti di situ ada Suga. Apa gue kebalik ya? Fiks ini takdir. Yaudah sih kalian tinggal jadian aja, Tuhan udah kasih kode dari lama tuh. "
" Myura!! Kamu sendiri tau kan aku enggak mau menjalin hubungan dengan siapapun, termasuk Suga. Oke, memang sampai saat ini aku masih belum bisa mengubah perasaan ku sendiri terhadap Suga, tapi aku masih sama seperti sebelumnya, tidak ingin menjalin hubungan apapun dengan siapapun sekalipun Suga. Aku tidak mau akhir yang tragis. Bisa ku tebak aku akan berakhir tragis. Aku tidak mau melibatkan Suga dalam hal ini. " Entah kenapa aku mendadak emosional.
" Jihan, kenapa lo selalu pesimis tentang hal ini? Mana Jihan yang selalu optimis tentang segala hal? Kenapa lo pesimis jika menyangkut soal ini? "
" Aku hanya kehilangan kepercayaan diri ku jika tentang hal ini. "
" Bukannya lo yang sering bilang sama gue kalau Tuhan itu ada? Bukannya lo sering bilang kalau mukjizat itu nyata? Tapi lo sendiri enggak percaya tentang keajaiban yang mungkin saja bisa lo dapatkan juga. "
" Sudahlah. Tentang hal ini, keputusan ku masih sama. "
*****
Entah apa maksud Tuhan kali ini membuatku kembali terjebak di lingkungan yang sama bersama Suga. Mungkinkah Tuhan ingin membuatku kembali percaya kalau keajaiban itu ada? Tapi kepercayaan diriku semakin berkurang setiap hari berganti hari. Walaupun demikian, aku tetap tidak bisa memalingkan perasan ku dari Suga. Aku masih jadi pengagumnya. Sulit sekali aku mengendalikan perasaan ini. Perasaan yang sama seperti sebelumnya.
Entah apa maksudnya Tuhan membuatku terus dekat dengan Suga. Setiap kali ada perubahan di kantor, posisi ku tidak pernah jauh dari posisi Suga. Bahkan terkadang kami berdampingan. Kalau terus seperti ini, aku tidak yakin tetap bisa memendam perasaan ku atau tidak. Sampai suatu hari dimana mungkin Suga sudah benar-benar merasa terganggu dengan keberadaan ku.
" Jihan, bisa kita bicara sebentar, " aku terkejut. Tidak biasanya Suga berbicara langsung padaku apalagi sampai menghampiri meja kerja ku. Teman-teman ku sudah kompak memberikan reaksi yang berlebihan. Aku sampai salah tingkah sendiri.
Aku mengekori Suga yang masih belum berbicara sepatah kata pun sampai akhirnya Suga berhenti tepat di depan gudang. Tempat ini cukup sepi.
Suga berbalik, " Jihan, lo tau kan dari awal gue enggak pernah ramah sama lo? Lo tau kan dari awal gue enggak pernah nyambut lo? " Aku hanya mengangguk gugup, " Terus kenapa lo masih kayak gini? Lo enggak capek apa? Gua aja capek. Hanya karena gue diem, bukan berarti gue bego sampai enggak tau kalau lo itu tertarik sama gue. Lo sadar enggak, rasa tertarik lo itu ngebebanin banget? " Nada penyampaian nya tidak tinggi sama sekali. Suga cenderung tenang ketika mengatakannya tapi itu justru membuat setiap kalimat yang di ucapkan Suga terasa begitu menusuk.
Meskipun aku sering berlatih, melatih hati ku agar tidak sakit kalau kalau hal seperti ini beneran terjadi, tapi... astaga aku tetap saja sakit hati saat mendengar langsung Suga berbicara seperti ini.
" Gue emang enggak bisa mengendalikan perubahan di kantor. Setiap kali posisi gue di sini berganti, selalu ada lo dibelakang gue. Gue akui gue enggak bisa ngerubah itu tapi bisa enggak lo kek enggak usah peduli sama kerjaan gue. Lo enggak harus ikut-ikutan lembur buat bantuin kerjaan gue yang jelas-jelas itu harusnya jadi tanggung jawab gue sendiri. Stop ngasih perhatian dan stop peduli sama gue. Bisa enggak? "
Oke, memang yang Suga katakan benar adanya. Kadang rasa bucin ku membuat ku terlihat bodoh sampai aku rela nambah jam kerja ku agar aku bisa terjebak bersama Suga lebih lama lagi.
" Apa sebegitu jelas nya rasa peduli ku? Apa sebegitu terbebani nya kamu? Kalau begitu aku minta maaf. "
" Gue enggak nyuruh lo buat minta maaf, gue cuma nyuruh lo buat berhenti lakuin apapun yang bakal buat gue merasa terbebani lagi. Lo ngerti kan maksud gue? "
Mataku benar-benar sudah memanas, ingin sekali aku menangis tapi tidak mungkin di depan Suga. Aku hanya mengagguk menjawab pertanyaan terakhir Suga. Mengagguk sambil berusaha mengulum bibir ku yang mulai bergetar.
" Apa ada yang mau kamu katakan lagi? Kalau tidak ada aku permisi, " Aku tidak menunggu jawaban Suga dan langsung pergi begitu saja. Dada ku benar-benar terasa sesak memikirkan apa yang baru saja Suga katakan. Sepayah itu kah aku mengendalikan perasaan ku? Sepayah itu kah aku menyembunyikan perasaan ku sampai Suga harus berkata terang-terangan seperti tadi.
Maaf Suga, aku tidak tau kalau selama ini kamu merasa terbebani.
Suga masih berdiri di depan pintu gudang, " Sorry, Jihan," ucapnya lirih.
Tiba-tiba saja pintu gudang itu terbuka dan menampilkan sosok Dohwan, teman kerja Suga.
" Ckckck, aku tidak tau kalau Tuan Ahn Suga se mengerikan ini. Jangan terlalu kasar terhadap perempuan. "
" Sejak kapan lo di situ? "
" Yang jelas gue lebih dulu ada di dekat sini. "
Suga hanya menghela nafas panjang.
" Kenapa lo jadi kehilangan kendali? Bukannya dari awal lo udah pandai tidak memperdulikan soal perasaan dan perhatian Jihan? "
" Gue juga enggak tau. "
" Itu tandanya lo mulai membuka hati lo buat Jihan. Lo mulai suka sama Jihan tapi lo enggak mau mengakuinya. Lo bilang lo merasa terbebani dengan perhatian Jihan tapi menurut gue bukan kek begitu. Bukan terbebani tapi lo takut mulai terbiasa sama perhatian Jihan. Menurut gue sih kek gitu, ya broo. "
Suga tidak menanggapi perkataan Dohwan, dia berlalu begitu saja.
" Jangan kaku napa broo jadi cowok, mirip kanebo kering lo, " teriak Dohwan.
*****
Entah sudah berapa lama aku mengunci diriku di toilet. Aku masih berusaha mengendalikan tangisku yang sialnya semakin sulit ku kendalikan.
Ponsel ku berbunyi, ada notif pesan dari Myura.
" Jihan, lo dimana? Kenapa belum balik? Lo masih sama Suga. "
Membaca nama Suga membuat ku teringat kembali betapa terbebani nya Suga dengan perasaan ku selama ini.
" Enggak. Myura, boleh tolong bilang atasan aku izin pulang lebih awal hari ini. Aku enggak enak badan. "
Hanya selang dua detik Myura langsung menelfon ku.
" Halo Jihan? Lo sekarang dimana? Cepat kasih tau gue!! Lo enggak papa kan? Sekarang apa yang sakit? Mana yang sakit? Gue samperin lo sekarang juga. "
Aku mengigit kuat tangan ku agar Myura tidak menyadari isak tangis ku.
" Aku enggak papa, cuma enggak enak badan aja sedikit. Aku bisa pulang sendiri kok. Titip barang-barang aku aja ya tolong bawain nanti. " Aku langsung menutup sepihak sambungan telpon ku. Aku memutuskan untuk pulang, sedikit berjalan menuju halte bus. Aku tidak bohong saat mengatakan aku tidak enak badan, kepalaku benar-benar terasa pusing saat itu. Bahkan sesekali aku mencari pegangan untuk menopang tubuhku selagi menunggu bus agar tubuhku tidak ambruk.
Kepalaku benar-benar terasa berat sekali. Hampir saja tubuh ku benar-benar ambruk kalau saja tidak ada seseorang yang sigap meraih tangan ku.
" Jihan? "
Aku berusaha menatap dan mencari tahu siapa orang yang telah membantu menopang tubuh ku. Nihil. Pandangan ku benar-benar kabur tapi aku masih bisa mengenali suaranya.
" Lo ngapain di halte bus? Ini belum jam pulang kerja? "
" Suga? " panggil ku lirih untuk memastikan aku tidak salah orang.
" Iya, ini gue. "
Aku berusaha tersenyum samar, " Tiba-tiba ada urusan mendadak jadi izin pulang lebih awal. "
" Nona, hidung anda berdarah. " Teriak seseorang yang berhasil mengejutkan ku.
" Lo mimisan. " Sigap Suga menyeka darah yang mengalir dari hidung ku menggunakan sapu tangannya. Aku segera mengambil alih dan menyeka darah ku sendiri.
" Terimakasih dan maaf. "
" Lo enggak papa kan? "
" Enggak papa. "
" Nona, jadi naik bus atau tidak? " Teriak sopir bus.
" Jadi, tunggu sebentar. Ah dompet ku tertinggal. "
Tidak banyak berbicara, Suga langsung membantu ku naik bus dan membayarkan tarif bus untuk ku.
" Terimakasih dan maaf merepotkan. " Pamit ku sekali lagi.
Suga masih memandangi bus yang aku tumpangi meski bus nya sudah mulai melaju.
" Dasar kanebo kering plin-plan, " ucap seseorang yang berhasil mengejutkan Suga.
" Yak Kim Dohwan!! Kenapa lo muncul di mana-mana sih? "
" Lihatlah, siapa yang beberapa saat yang lalu berbicara tegas terhadap seorang perempuan dan apa yang terjadi sekarang? Dia malah mulai menunjukkan perhatian nya secara terang-terangan. "
" Ngomong apaan sih lo? " berlalu.
" Jangan pura-pura bego, bung. "
Suga, kenapa sikap mu membuatku bingung?
*****
" Jihan... Lo enggak papa kan? " Teriakan Myura benar-benar hampir membuat jantung ku lari dari tempatnya.
" Yak Hyun Myura, bisa lebih tenang sedikit tidak? Kamu hampir membuat ku mati terkena serangan jantung, " sahut ku lemas dari atas tempat tidur.
" Jangan mati dulu dong hiks, kan udah janji. " Myura langsung menghambur ke arah ku dan memeluk ku.
" Kamu pulang kerja langsung datang ke sini? "
" Tentu saja. Aku mana bisa tenang. "
Aku tersenyum, " Makasih. "
" Tidak masalah. Oh ya, apa yang terjadi? Apa yang Suga lakukan sama kamu? "
" Tidak ada. Hanya bicara, " aku mendadak kesulitan berkata-kata. Ini masih terasa menyakitkan. " Suga bilang dia merasa terbebani dengan perasaan ku dan dengan perhatian kecil dari ku. Apa aku sebegitu payahnya menyembunyikan dan mengendalikan perasaan ku sampai-sampai Suga sendiri bisa menyadari kalau aku tertarik sama dia dan akhirnya dia merasa terbebani akan hal itu? " kalimat ku di akhiri tawa hambar.
" Emang lo sih di sini yang bodoh. Bahkan temam di divisi kita pun hampir semuanya tau kalau lo emang tertarik sama si Suga. "
" Wah? Benarkah? Aku benar-benar tidak tau, " sahut ku lemas.
" Jadi sekarang lo mau kek gimana? "
" Melakukan apa yang di katakan Suga tentunya. Aku bersyukur atas hal ini, setidaknya mungkin aku akan lebih mudah dalam mengendalikan perasaan ku. "
" Semangat, semoga lo bisa. "
" Myura, apa aku harus resign aja ya? "
" Ngapain? Jangan lah. Kalau pun iya, harusnya si Suga aja yang resign. Lagian gue sebenarnya juga heran, kan si Suga anak orang kaya dan setau gue papanya juga punya perusahaan sendiri tapi kenapa anaknya malah sibuk magang di perusahaan lain. Kecil pula. Ah emang enggak ada yang bisa nebak apa yang di pikirkan manusia. "
*****
Seperti yang aku katakan sebelumnya kalau aku tidak ingin membuat Suga merasa terbebani lagi. Aku berusaha menghindari apapun yang bisa membuat ku kembali terjebak bersama Suga. Aku berusaha mengindari kontak langsung bersama Suga. Beberapa memang berhasil aku lakukan tapi masih ada beberapa yang tidak bisa aku hindari dan itu benar-benar diluar kendali ku. Tapi aku sudah terlatih untuk menjadi asing ketika tidak sengaja berapapasan bersama Suga. Itu sudah berjalan hampir 3 4 bulanan.
Situasi ini juga di luar kendali ku. Aku tidak sengaja berapapasan bersama Suga. Pandang ku tak sengaja kembali bersirobok bersama manik milik Suga. Konyol memang aku ini. Bagaimana bisa aku benar-benar menjadi orang asing saat aku masih berada di lingkungan yang sama bersama Suga. Selama ini interaksi juga masih ada dan itu hanya seputar pekerjaan saja tidak lebih tapi di luar itu aku tetap berhasil menghindari Suga.
" Jihan ada waktu? Temui aku di cafe seberang sepulang kerja. "
Kaku sekali. Aku sampai bingung dia beneran ingin aku menemuinya atau tidak.
Akhirnya aku tetap datang dan aku bisa melihat Suga sudah terduduk di sana. Dia menungguku?
Aku menghampirinya dan langsung ikut duduk tepat di hadapannya. Perasaan gugup ku mulai bercampur perasaan bingung. Sudah lama kami duduk tapi masih belum ada percakapan sama sekali. Akhirnya aku memberanikan diri untuk memulai percakapan.
" Suga? Apa aku masih membebani mu? "
Agaknya Suga sedikit terkejut, " Tidak, bukan itu. "
" Lalu? " tanya ku bingung.
" Hmm,, lo harus tanggung jawab. "
Sekarang giliran aku yang terkejut dan bingung. Tak sadar aku memiringkan kepalaku dengan alis yang sudah tertaut, " Untuk? "
" Pokoknya lo harus tanggung jawab. Sekarang gue mulai rindu perhatian lo. Kayaknya lo berhasil buka hati gue. Intinya lo harus tanggung jawab. "
Demi apapun aku benar-benar terkejut. Kaget. Senang, haru bercampur perasaan perasaan lainnya. Aku benar-benar ingin bertetiak detik ini juga. Tapi aku kembali teringat sesuatu yang membuatku spontan menatap sendu.
" Maaf, aku enggak bisa tanggung jawab. Aku enggak bisa kayak dulu lagi. Intinya aku enggak bisa. Maaf aku benar-benar minta maaf. "
Tebak ku, pasti sekarang Suga masih bingung dengan perkataan ku.
Aku memutuskan untuk pergi saja dari sana. Sesuatu yang baru saja aku dengar dari Suga ini terasa lebih menyakitkan daripada hal yang pernah Suga katakan sebelumnya tentang dia yang merasa terbebani dengan perasaan ku.
Aku pergi dari sana tapi aku tidak tau ternyata Suga mengejarku. Langkah ku terhenti saat pergelangan tangan ku di genggam seseorang.
" Kenapa? Kenapa lo enggak bisa? Gue yakin lo masih tertarik sama gue sampai sekarang. Ya gue tau gue emang enggak tau diri dan..."
" Iya, kamu tidak salah. Sampai detik ini pun aku masih suka sama kamu tapi percuma, aku udah enggak punya banyak waktu, so im sorry, Suga. Bisa kamu kembali tutup saja hati kamu? "
" Enggak punya banyak waktu? " Suga semakin bingung.
" Ya, kamu tidak akan mengerti dan aku juga tidak berniat membuat mu untuk mengerti juga. " berat sekali rasanya. Berat sekali ketika aku terpaksa harus melepaskan genggaman tangan Suga yang selama ini aku impikan. " Im so sorry, Suga."
Setelah hari itu, aku benar-benar semakin bertekad untuk menghindari Suga. Dari awal memang tidak seharusnya seperti ini. Aku sudah melanggar janji yang aku buat sendiri. Perlahan menghilang adalah keputusan terbaik.
*****
Sekarang, Suga lah yang sedang di rundung perasaan tak karuan. Sejak hari dimana dia meminta Jihan untuk bertanggung jawab, Suga tidak pernah melihat Jihan lagi.
" Hyun Myura? Dimana Jihan? " tanya Suga tanpa basa basi.
" Jihan? Dia sedang cuti kerja karena sakit, " sahut Myura tak bersemangat sama sekali.
" Sakit? " Suga terkejut.
" Iya, sud... " perkataan Myura terpotong dering telpon nya.
" Halo tante? Iya? Apa? " Raut wajah Myura berubah seketika. Myura nangis sejadi-jadinya detik itu juga. Membuat Suga semakin bingung.
" Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi? "
" Jihan, kondisi Jihan semakin memburuk. Jihan koma. "
Demi apapun, Suga benar-benar merasa sudah mendapat sambaran petir di siang bolong.
Myura dan Suga kompak langsung bergegas pergi menuju rumah sakit.
*****
Telinga ku masih bisa mendengar tangisan tante ku. Tangan ku masih bisa merasakan genggaman tangan Myura. Dan aku masih bisa mendengar samar-samar suara Suga yang seperti memohon meminta ku untuk bangun. Aku ingin sekali membuka mata ku hanya saja tubuh ku semakin melemah bahkan aku tidak punya tenaga untuk sekedar membuka katupan kelopak mata ku. Perlahan aku benar-benar mulai kehilangan kesadaran atas diriku.
Tuhan menyuruh ku untuk terlelap.
" Nona park Jihan sudah berpulang. " Apa yang baru saja di sampaikan dokter benar-benar membuat histeris seisi ruangan.
" Jihan sayang, Jihan sayang. Kamu kuat. Kamu sudah berjuang selama ini. Terimakasih sudah bertahan. Sekarang kamu tidak akan merasa kesakitan lagi. Tuhan mengabulkan do'a mu. Tuhan akan mempertemukan mu bersama ibu dan ayah mu. " Tangis tante dan Myura benar-benar pecah seketika sementara Suga hanya terduduk lemas.
Jenazah Jihan sudah di pindahkan ke rumah duka. Suga masih terlihat sama seperti sebelumnya. Termenung di sudut ruangan. Myura menghampirinya. Ikut duduk di samping Suga.
" Jihan sudah lama mengidap penyakit kanker otak. Aku dan tante baru mengetahui nya sejak semester pertama waktu kuliah dulu, itupun karena aku tidak sengaja melihat catatan diagnosa kesehatan Jihan. " Tutur Myura dengan tatapan kosong. " Awalnya aku tidak mengerti kenapa Jihan selalu bersikeras tidak ingin terlibat hubungan apapun dengan pria manapun termasuk kamu. Aku tidak mengerti sama sekali. Jihan tetap tidak ingin menjalin hubungan even itu dengan kamu, satu-satunya orang yang Jihan cintai. Tapi setelah aku membaca catatan diagnosa kesehatan Jihan, aku mulai sedikit bisa memahami Jihan. Jihan tidak akan pernah sanggup meninggalkam orang yang dia cintai. Aku ke sini untuk membantu menyampaikan permintaan maaf dari Jihan. " Myura mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya. " Aku rasa ini memang untuk kamu, " Myura menyerahkan amplop berwarna biru langit kepada Suga. Dengan gemetar Suga menerima pemberian Myura.
" Aku pergi. "
Tangan Suga semakin gemetar saat dia berusaha membuka bungkusan amplop biru itu. Suga menemukan selembaran yang sudah di penuhi rangkaian kata. Perlahan dia membaca setiap kalimat yang tertulis di sana.
*****
1 November 2020,
Aku tidak tau kenapa tiba-tiba aku ingin menulis sesuatu. Mungkin karena aku sudah mulai merasa bosan. Ini hari ke-7 aku terbaring di brankar rumah sakit. Setiap hari, tubuh ku semakin melemah. Tapi tetap ada satu nama yang selalu berhasil membuat ku ingin kembali bertahan. Suga, aku akan berjuang sampai aku lelah. Aku akan bertahan sampai aku sudah tidak sanggup untuk bertahan lagi. Tunggu, apa ini terdengar seperti surat wasiat? Tidak. Ini bukan surat wasiat. Aku hanya ingin mencurahkan segala hal yang belum sempat aku katakan dan mungkin tidak akan pernah bisa aku sampaikan.
Pria payung di musim hujan. Suga, itu adalah momen pertama aku bertemu denganmu. Kamu yang sengaja meninggalkan payung mu agar bisa di gunakan ibu hamil, itu benar-benar berhasil membuat ku terkesan. Kamu baik sekali. Aku sampai sempat berkata, kalau saja kita bertemu lagi, aku akan benar-benar jatuh cinta sama kamu. Dan siapa sangka kita benar-benar di pertemukan lagi dan lagi. Dan aku benar-benar jatuh hati. Jatuh hati sampai detik terakhir.
Suga, apakah kamu sempat merenung mempertanyakan kenapa Tuhan selalu membuat kita terjebak di ruang dan waktu yang sama? Aku sering merenungkan hal itu. Note, aku bukan penguntit loh, Suga. Awalnya aku kira mungkin aku memang jodoh sama kamu, haha tapi akhirnya aku tersadar, aku menyadari satu hal. Bukan itu maksud Tuhan sering membuat kita terjebak di ruang dan waktu yang sama. Tuhan sengaja ingin membuatku sadar bahwa meskipun kamu nyata dan ada tepat di hadapan ku, kamu tetap tidak bisa aku gapai. Di kehidupan ini, Tuhan menciptakan kamu bukan untuk ku begitupun sebaliknya.
Aku ingin minta maaf jika selama ini perasaan ku sudah membebani mu. Aku juga ingin minta maaf karena tidak bisa bertanggung jawab terhadapmu. Maaf kan aku yang menyuruh mu kembali menutup paksa hati mu yang sudah berhasil aku ketuk dengan tidak tau dirinya. Dari awal, memang tidak seharus nya aku melakukan hal ini. Maaf. Tapi aku benar-benar senang ketika tahu bahwa kamu mulai bisa menerima keberadaan ku, sungguh. Hanya saja aku tetap memilih untuk tidak bertanggung jawab. Aku takut tidak bisa menemani mu lebih lama apalagi sampai akhir. Aku paham betul Suga, bagaimana tersiksa nya merindukan seseorang yang tidak bisa kita temui lagi di dunia ini. Itu benar-benar menyiksa dan aku tidak ingin menempatkan mu dalam penderitaan itu.
Aku berkata begitu bukan ingin membuat mu merasa menyesal. Tolong. Jangan sesali apapun, Suga. Aku juga tidak pernah menyesali apapun. Termasuk perasaan ku sama kamu selama ini. Surat ini bukan untuk membuat mu merasa menyesal. Tolong jangan sesali apapun. Anggap saja takdir kita di kehidupan ini memang tidak beruntung.
Suga, apa kamu percaya adanya reinkarnasi? Awalnya aku tidak percaya hal itu, tapi semenjak aku kenal kamu, aku berusaha untuk menyakini hal itu. Kalau saja aku benar di lahirkan kembali di kehidupan selanjutnya, aku akan mencarimu. Aku akan mengejar mu, tidak peduli kamu terasa terbebani atau tidak, aku akan tetap mencari mu sampai aku menemukan mu. Aku akan memaksa kepada Tuhan untuk menjadikan mu takdir ku di kehidupan selanjutnya. Aku akan mendapatkan mu. Aku tidak perduli kamu suka atau enggak.
Di kehidupan selanjutnya, aku akan menemui mu. Di kehidupan selanjutnya, aku akan bersamamu. Dan di kehidupan selanjutnya, aku akan terlahir lebih sehat lagi agar aku bisa punya waktu untuk mengejar mu sampai bisa menua bersama mu.
Untuk mu, seseorang yang diam-diam menyelampirkan kain ke tubuh ku saat aku kelelahan dan terlelap di atas meja kerja.
Untuk mu, seseorang yang diam-diam menyiapkan payung saat aku kelupaan membawa payung.
Untuk mu, seseorang yang diam-diam menyimpan segelas teh hangat di meja kerja ku saat aku sedang terserang flu.
Untuk mu, aku benar-benar mencintaimu.
Untuk mu...
Tolong tunggu aku di kehidupan selanjutnya, Suga.
*****
Entah sejak kapan air mata itu sudah turun membasahi pipi seorang Ahn Suga. Suga langsung berlari masuk ke kamar duka. Ruang itu masih di penuhi tangisan histeris kerabat Jihan dan teman-temannya. Walaupun Suga tidak ikut menangis histeris, tapi bisa di lihat di ruangan ini Suga lah yang sangat terpukul atas kepergian Jihan.
Penyesalan memang sering datang terlambat.
Suga perlahan mendekati jenazah Jihan. Perlahan dia mengulurkan tangannya, mengusap lembut wajah dingin Jihan.
" Maaf. Maafkan aku. Aku juga mencintai mu. Maafkan aku yang terlambat mengatakannya. Aku akan menunggu mu di kehidupan selanjutnya. Aku yang akan mencarimu dan mengejar mu di kehidupan selanjutnya. Mari bertemu di kehiupan berikutnya. "
Suga mengecup lembut dahi dingin Jihan. Kecupan pertama dan terakhir kalinya.
The End