Aku tinggal di sebuah desa yang sangat jauh dari ibu kota, di desa yang kecil ini semua orang masi sangat premitif mereka masi sangat percaya dengan ramalan, sihir dan makhluk-mahkluk tak kasat mata yang meraka sebut tuan rumah.
yang paling sulit di percaya dari desa ini adalah anak-anak perempuan yang hilang dari desa tak pernah di cari sebagai mana seharusnya, bahkan orang tua sang anak dengan mudah meyakini bahwa anaknya telah terpilih menjadi pengantin sang tuan rumah dan akan hidup sejahtera bersama sang tuan rumah.
Kasus anak hilang ini selalu terjadi setiap bulannya, dan setiap bulan pula para penduduk desa meletakan baju-baju anak-anak tersebut di kaki gunung sebagai hadiah pernikahan untuk sang tuan rumah yang mereka yakini tinggal di dasar gunung bersama anak-anak mereka.
Semangkin lama aku semangkin penasaran kemana semua gadis-gadis kecil itu, mengapa mereka bisa hilang tanpa jejak, apakah mereka masi hidup di suatu tempat di bumi ini.
Aku tak pernah membantah keyakinan penduduk desa, namun aku dan keluarga ku yakin bahwa anak-anak itu hilang bukan karna ulah mahkluk penghuni gunung seperti yang sering di katakana.
“hari ini seorang anak hilang lagi bagai mana mungkin mereka bisa mengabaikan kasus ini dengan mudah” kata ku kesal kepada kedua orang tua ku, “romi kau tak bisa mengubah keyakinan seseorang hanya dengan kata-kata mu” ibu menjawab “ini bukan ibu kota romi penduduk kota lebih percaya kepada peramal dari pada polisi untuk menangani semua kasus di desa, keyakinan itu sudah ada jauh sebelum aku lahir romi” ayah menambahkan
“tapi apa tak ada hal yang bisa kita lakukan untuk anak-anak itu selain meletakan baju mereka sebagai sesajen di kaki gunung”
Keesokan harinya aku bangun cukup pagi dan pergi mendaki gunung, aku berharap bisa menemukan beberapa jejak dari anak-anak yang hilang dari desa, setidaknya jika yang di katakana penduduk desa benar aku harus bertemu dengan mekhluk yang mereka sebut tuan rumah itu.
Meski sebenarnya aku sama sekali tak percaya tentang keberadaan sang tuan rumah itu, jika dia memang ada kenapa satu orang pun tak pernah melihat sosoknya, fikir ku.
Setelah lama berjalan melewati semak belukar aku tak kaunjung menemukan jejak atau petunjuk tentang keberadaan anak-anak itu seakan mereka benar-benar hilang di telan bumi, setelah hampir menyerah mencari aku melihat seorang peria tua berjalan di tengah hutan dengan memegang sebilah pisau untuk memotong akar-akar kayu,
Aku tak pernah melihat peria itu di desa sebelumnya, tampa ragu aku menghampirinya. “permisi apakah anda butuh bantuan” ia menatap ku dengan pandangan kesal sebelum akhirnya tersenyu lebar “tak perlu, kenapa kau datang ke gunung di sini berbahaya, ada banyak binatang liar yang haus darah di sini”
“ah apakah anda pernah mendengar tentang tuan rumah desa ini” tanya ku spontan, “entahlah aku tak yakin namun jika seluruh penduduk percaya berarti dia memang tuan rumah di sini ya kan” ia tertawa dan kembali menatap ku dengan tatapan tak biasa.
Aku melihat kain merah muda dengan renda berwarna putih yang membungkusi tangannya yang mungkin tergores oleh pisaunya, bahkan ada kain bemotif bunga balut di kedua kakinya yang ia gunakan sebagai ganti kaus kaki di balik sepatu butnya yang terlihat usang.
“maaf tapi apa anda tinggal di sekitar sini, sepertinya aku tak pernah melihat anda di desa” aku menunjukan wajah serius “ya aku benci suara bising di desa jadi aku memilih tinggal di sini, apa ada masalah dengan itu” ia meninggikan nada bicaranya.
“oh tidak, maaf jika pertanyaan tadi membuat anda tak nyaman” aku meninggalkan peria tua itu dan segera kembali ke desa dengan perasaan campur aduk, melihat pakaian dan sepatu unsang yang ia kenakan sepertinya ia tak pernah turun dari gunung untuk membeli pakayan di desa, namun kain-kain bermotif bunga itu terlihat masi baru, bagai mana ia bisa memilikinya.
Beberapa hari kemudian aku mengumpulka ke empat orang teman ku untuk menyelidiki peria tua itu, kami pergi mendaki gunung bersama kali ini kami menelusuru hampir semua sisi hutan rimba ini dan akhirnya menemukan gubuk yang di tutupi dengan ranting-ranting kayu di bagian atapnya
Semangkin kami mendekati rumah itu, bau busuk mulai tercium cukup kuat membuat perut mual dan bulu kuduk merinding, kami memutuskan untuk melihat rumah melalui celah-celah kecil di tembok, seorang teman ku hampir teriak karna terkejut melihat isi gubuk itu, sedangkan aku kehilangan kata-kata bahkan kaki ku mulai gemetaran tak percaya dengan apa yang ku lihat.
Begitu banyak potongan tubuh manusia yang di gantung di dekat tumpukan kayu bakar dan banyak tulang-tulang cukup besar tergeletak begitu saja di lantai.
Tampa kami sadari peria tua itu telah tiba di belakan kami, ia menghunuskan pisaunya pada seorang teman ku, beruntung pisau itu hanya mengenai pergelangan tangannya, kami berempat bertarung dengan sengit melawan peria tua itu hingga akhirnya bisa mengikat kedua tangannya.
Kami kembali kedesa dengan banyak luka dan memar di wajah dan tubuh kami, aku membawa peria itu ke kepala desa dan menceritakan semua yang ku lihat.
“apa yang kau lakukan pada anak-anak itu” tanya kepala desa dengan tegas. “tentusaja aku memakan mereka, kalian menjual makanan terlalu mahal untuk orang-orang seperti ku, lagi pula bukankah kalian telah merelakan anak-ank itu, apa bedanya jika mereka menjadi miliku atau menjadi milik si tuan rumah itu”
“apa kau tak merasa kasihan pada mereka” tanya kepala desa yang masi kaget mendengar perkataan peria tua itu, “tentu saja kasihan, namun mereka terlalu berisik saat aku membawanya pulang jadi aku membuat mereka diam dengan membunuhnya, dan mayat-mayat mereka terlalu indah untuk di kubur jadi aku memakanya agar keindahan itu bisa hidup abadi di dalam tubuh ku” jelasnya dengan wajah sumbringah seakan menceritakan hal luar biasa yang bisa di banggakan.
Seluruh penduduk desa sepakat untuk mengurung peria tua yang kini di bawah pengaruh hipnotis atau yang mereka sebut dengan sihir kematian untuk membuatnya kembali merasakan emosi dan bisa mengingat wajah-wajah gadis-gadis kecil yang telah ia bunuh itu, yang membuatnya tenggelam dalam rasa takut dan penyesalan tak berujung.
Beberapa minggu kemudian peria itu di temukan tewas di gudang dengan keadaan tergantung dengan akar pohon yang memilit di lehernya, ia bunuh diri karna tak sanggup menahan rasa bersalah yang menghantuinya…..
-TAMAT-