"Gwe nggak nyangka lo sebejat itu... Br3ngsek.. "Senja berteriak dengan keras didepan Leo yang malah tersenyum sinis.
"terus? " Leo berkata begitu enteng, padahal dihatinya benar-benar tidak karuan.
'Plak... '
Satu tamparan mendarat sempurna di salah satu pipi Leo dan meninggalkan bekas kemerahan.
itu sepadan.. dengan apa yang telah dia lakukan.
Senja berlalu begitu saja, pergi dari sana.
Leo hanya bisa menatap kepergian Senja dengan wajah datar, tapi jika dia bisa jujur dia ingin menangis sekarang, biarlah orang menganggapnya lemah.. tapi itu kenyataanya..
dia tidak bisa bersama Senja atau Senja akan tersakiti, meski dia sangat ingin berada disisi gadis itu, menggenggam erat memeluknya dan memberinya banyak kasih sayang.
tapi itu hanya akan meninggalkan luka bagi Senja, jauh lebih baik Senja membencinya dan melupakanya.. dari pada Senja harus tulus mencintai namun terluka karenanya..
ಠ_ಠ
Senja berjalan dengan tergesa-gesa dia pergi kerumah sakit untuk sebuah hal.
Dia langsung berlari ke ruangan Dokter yang telah dia kenal selama ini dengan baik, mengabaikan orang yang berteriak padanya karena berlari di dalam rumah sakit.
'Brak.. '
Dokter Rega tersentak, beruntunglah dia sedang tidak melayani.
"Bagaimana? apa dia setuju? " Senja langsung bertanya sembari berjalan dan duduk di berhadapan dengan Dokter Rega.
"Mereka setuju dan ingin bertemu.. tapi aku sudah memberikan pengertian.. dan mereka akhirnya mau mengerti.. " Dokter Rega berucap tenang.
Senja terlihat bahagia, meski keadaanya akan sangat berbalik jauh..
Dokter Rega memperhatikan Senja dengan sendu, "Tapi.. apa kau yakin melakukanya Senja? kau tau ini sangat beresiko.. " tanya Dokter Rega serius.
Senja tersenyum hangat, tapi senyum itu membuat luka bagi mereka yang paham keadaanya.
"Selama dia baik baik saja untuk apa aku peduli resikonya? biarlah itu aku yang menanggungnya.. tapi dia baik-baik saja Dokter.. " ucap Senja bulat akan keinginannya.
"Ini menyangkut nyawa Senja.. " ujar Dokter Rega lemas.
"sudahlah Kak Rega.. aku yakin.. aku pasti baik-baik saja.. tenang.. jika pun tidak aku tetap akan baik-baik saja.. " Senja beranjak dan memeluk Dokter Rega yang kelihatan tak berdaya itu.
"Kakak Harap.. begitu.. Jangan tinggalkan Kakak.. " Rega balik memeluk Senja dengan erat, dia tidak mau kehilangan Adik Asuhnya itu.
Tanpa sadar setetes cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Senja, tapi dia sadar dan segera mengusapnya.
"Kak.. jika nanti itu tak seperti yang kita harapkan.. aku mohon kakak jangan sedih.. Kak Rega harus kuat.. demi Bunda dan adik-adik yang lainya ya kak? " Ucap Senja dengan raut wajah bahagia.
Rega hanya bisa menganguk pasrah, dia berdiri dan kembali memeluk adik asuhnya itu dengan erat, seakan tak pernah mau melepaskannya dan tidak ingin kehilanganya, karena memang.. dia tidak ingin kehilangan Senja.
=^._.^= ∫
Leo gelisah diatas ranjang tempatnya dirawat, entah apa yang membuatnya seperti itu.
"Yo.. lu ngapa sih.. " Aris salah satu teman Leo bertanya heran.
"gwe nggak tau kenapa tapi... gwe ngerasa khawatir.. gimana nanti gwe jelasin ke Senja.. pasal semuanya.. " ucap Leo,menatap Aris sayu.
"Tenang ajalah.. gwe bakal bantu lo jelasin semuanya ke Senja.. dan gwe yakin dia ngerti.. " Aris menatap iba sahabatnya itu.
Kekhawatiran Leo sedikit berkurang, tapi dia masih cemas dengan Senja.
Dia tidak bisa menghubungi Senja, mencarinyapun dia tidak menemukanya, bahkan teman-teman nya ataupun teman-teman Senja tidak mengetahui Senja ada dimana.
(๑•̀ㅁ•́ฅ✧
"Senja kau yakin? " Rega bertanya sekali lagi pada Adik Asuhnya itu.
Senja tersenyum dan menjawab dengan pasti, "Aku Yakin... "
Rega mulai menyuntikan bius pada infus Senja dan menatap Senja dengan air mata yang lolos begitu saja, Senja tersenyum kalau itu sebelum kesadaran nya benar-benar terenggut.
Mereka akan menjalani operasi, Operasi pengambilan Liver, Senja bersedia mendonorkan Liver nya. meski harus nyawa taruhanya..
Sebenarnya..
ketika dia merasa aneh Leo tiba-tiba menjauhinya, Senja mencari tau, lalu saat tau yang sebenarnya jika Leo terkena Liver saat dia sedang membantu Rega membersihkan ruanganya dan menata tumpukan kertas yang ternyata berisi data diri pasien yang di tangani Rega.
Senja hancur, benar-benar merasa hancur..
dengan tanganya dia menampar Leo? Senja benar-benar merasa bodoh . Leo menjauhinya karena dia menderita Liver dan hidupnya tak lama lagi, dimana obat satu-satunya hanya pendonor.
tapi.. siapa yang mau melakukanya ketika taruhanya adalah nyawa?, tapi bagi dia yang mau melakukanya adalah seorang malaikat..
Setelah berfikir selama beberapa hari, Senja akhirnya memutuskan dia yang akan mendonorkan Livernya untuk Leo, orang yang paling dia cintai..
Maka saat itu juga Dia Mencalonkan diri, yang pasti ditolak mentah-mentah oleh Rega, setelah berhari-hari perdebatan yang tidak membuahkan hasil apapun, Rega akhirnyaa menyetujui dengan berat hati.. dan memberi satu syarat dimana Senja harus bisa bertahan.
Maka sekarang inilah di tempat yang sama tapi tidak ada yang menduga, Liver Senja di berikan pada Leo.
Rega meneteskan air matanya saat itu juga ketika memindahkan Liver itu ke tubuh Leo.
sungguh hebat pengorbanan Senja, dia mengorbankan dirinya sendiri demi orang yang dia cintai.
pengorbanan yang melebihi perjuangan, tidak akan ada yang mampu membayar pengorbananya.
Leo dibawa keluar lebih dulu dari ruang operasi itu untuk memastikan tidak ada yang tau jika Pendonor itu adalah Senja.
三三ᕕ( ᐛ )ᕗ
hari demi hari berlalu, Leo pulih seperti sediakala dan dia segera meminta teman-teman nya mencari Senja agar dia bisa menjelaskan semuanya, perihal sandiwaranya saat itu, kenapa dia harus !? arena sejak beberapa hari ini dia merasakan sakit di bagian perut dan pada akhirnya dia memeriksakanya dan ternyata dia terkena Liver,Dokter juga menyatakan hidupnya tak lama lagi dan jalan satu-satunya adalah dengan donor.
jika dia ingin sembuh.
Namun, setelah sekian lama dia mencari tidak ada pendonor yang cocok dan mau, karena taruhanya adalah nyawa.
Leo putus asa dan menjauh dari Senja agar dia tidak terluka, hanya saja tak lama dia bertengkar dengan Senja ada pendonor yang mau dan ternyata cocok, Namun tanpa Identitas.
Awalnya dia dan yang lainya tidak setuju karena belum bertemu pendonor, namun ini saran Dokter Rega jadi Mereka baiklah.
(๑ↀᆺↀ๑)
Senja menatap Rega dengan penuh kasih sayang, Kakak Asuhnya ini menangis sedari tadi.
"sampai kapan kakak akan menangis.. " tanya Senja dengan suara serak dan pelan seperti tak ada tenaga sama sekali, tapi itu memang benar.
dia bertahan selama ini karena Bantuan Alat pencernaan buatan, hanya saja tentu ada efek sampingnya. dia harus merasakan sakit.
Rega Menoleh, biarlah orang mengatakan bahwa dia Lelaki payah menangis didepan adik nya, Tapi.. sehebat dan sekuat apapun seorang lelaki pasti akan bersedih dan merasa terpuruk ketika orang yang dia sayangi berada di ambang kematian tapi tetap merasa tenang.
Bukanya menjawab Rega malah mengecup kening adik asuhnya itu cukup lama,"Kak.. aku baik-baik saja.. "ucap Senja menghibur Rega meski itu tidak mempan.
Rega melepas kecupanya dan menatap adik asuhnya dengan serius, " Kakak tidak mau kehilangan kamu.. sudah cukup dulu kakak kehilangan keluarga kakak.. jangan kamu atau siapapun.. "Ujarnya dengan isak tertahan.
" Kak.. kakak tau aku sayang Leo.. Kakak dan yang lainya.. keluarga kakak sekarang bukan aku saja kak.. masih ada yang lain.. ada Bunda, Ara, Sefa, Zayn.. dan adik-adik kita di panti kak.. "ujar Senja dengan tenang.
" Senja... "Rega berucap dengan serak.
" Kak.. aku pasti bisa.. jikapun tidak aku tetap bahagia.. "ujar Senja tulus. sembari tersenyum
Tapi senyuman itu tak bertahan lama, Senja mengeluhkan sakit di perutnya,lagi..
" Kak.. Sakit.. "ucap Senja dengan serak. Rega kalang kabut dia memanggil beberapa perawat dan memeriksa adik asuhnya itu.
" Kak.. Lepas Alat itu kak.. "Ucap Senja, serius
" Tapi Senja.. Kau tidak akan bisa bertahan lama tanpa Alat itu. . "ujar Rega.
Senja tersenyum, " Aku tidak apa kak.. ", Senyuman itu kembali luntur ketika Senja mengaduh kesakitan.
Mau tak mau Rega melepas Alat yang membantu Kehidupan Senja itu.
ʕ´•ᴥ•`ʔ
Leo merasa gelisah, Dia dan teman-temannya tidak menemukan Senja dimanapun..
Leo telah pulih cepat, dan dia Tengah mencari Senja di apartemen ya bersama beberapa temanya. , tapi Kata pemilik Apartemen Senja sudah tidak pernah ada kabar sebulan ini.
Leo frustasi, bahkan tetangga seaprtemen Senja tidak ada yang melihatnya terakhir kali.
"Tunggu.. Bukankah Senja dulu tinggal di sebuah Panti? bisa saja dia pulang ke panti.. " ucap Ana, salah satu teman Senja yang ikut mencari Senja.
"Ya.. itu benar.. Panti Asuhan Kasih Keluarga.. Ayo kesana.. siapa tau Senja ada di sana.. " ujar Rina teman Senja yang ikut juga.
Leo tanpa aba-aba langsung berlari keluar apartemen diikuti yang lainya.
Mereka masuk ke mobil masing-masing dan segera melajukanya, tak sulit mencari panti asuhan itu karena panti itu cukup terkenal.
Leo turun dari mobilnya dengan segera mencari Ibu panti, Mereka akhirnya menemukanya di salah satu kamar panti tengah duduk dan matanya kelihatan sembab.
"Permisi.. Bu.. Assalamu'alaikum.. " Salam yang diucapkan Leo membuat Ibu Panti itu menoleh.
ibu panti itu mengusap kedua pipinya yang basah berdiri dan tersenyum, "Waalaikumsalam..Iya.. ada apa yah? " Tanyanya ramah.
"Apa.. disini dulu ada anak perempuan yang namanya Senja tapi dia udah keluar panti dan tinggal di apartemen? " Tanya Rina. Hati-hati
Ibu panti itu terisak kembali,Ana dan Rina menenangkan ibu panti itu yang tiba-tiba menangis.
"Kalian teman-teman Senja? " tanya Ibu panti itu tak lama kemudian.
Leo dan yang lainya mengangguk benar.
"Senja tidak pulang dan tidak ada kabar selama sebulan ini.. biasanya dia akan kemari setidaknya seminggu sekali... tapi sebulan ini dia tidak kemari sama sekali.. " ujar Ibu panti dengan suara serak.
"Mungkin Ibu tau terkhir kali Senja pergi dan mungkin biasanya dia paling dekat dengan siapa? " Tanya Ana refleks.
"Senja kemari sebulan lalu.. Dia paling dekat dengan Rega.. " ujar Ibu panti itu dengan sayu.
"sebulan lalu dia mengucapkan hal yang aneh.. " lanjutnya.
Leo dan yang lainya diam mencoba menunggu dan tidak mencoba memaksa, "Dia bilang.. Dia nanti akan selalu disini.. dan tidak akan meninggalkan tempat ini.. meski dia akan pergi jauh.. "
"Siapa Rega? " Tanya Leo serius.
"Rega adalah Kakak Bagi Senja.. mereka dekat sejak kecil.. benar-benar seperti sepasang saudara.. Rega menganggap Senja adiknya dan Sebaliknya.. Rega sudah pergi dari panti dan dia kini menjadi seorang Dokter.. " jelas Ibu panti.
Leo berfikiran sejenak, Dokter Rega?
dia pernah mendengar nama itu..
"Bukankah itu Dokter yang mengoperasi Dirimu Leo? " ucap Aris.
"Apa dia bekerja di Rumah sakit Medica Bunga? " tanya Leo malahan pada Ibu panti itu dan dia mengangguk.
"Mungkin dia tau.. "Mereka hendak pergi tapi di tahan sebentar oleh Ibu panti.
"Nak.. Tolong jika kalian menemukan Senja.. katakan Bunda menyayanginya dan kami semua merindukannya... tolong ajak dia pulang.. dan pastikan dia baik-baik saja.. Ibu mohon.. " Leo dan teman-temannya mengangguk mantap lalu berpamitan pergi.
"Assalamu'alaikum bu.. "
"Waalaikumsalam.. Hati-hati tolong bawa Senja Ibu kembali.. "
ᕕ(ಥʖ̯ಥ)ᕗ
Senja tengah menatap Langit-langit ruang perawatan itu, Tapi.. perutnya kembali terasa sakit.
"Kak.. " Rega menoleh cepat, dia segera menghampiri Senja dan bertanya.
"Sakit kak.. " kelihatan Mata Senja bekilauan, dan setetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya.
"Senja sudah kakak bilang.. seharusnya Alat itu tidak di lepas.. " ujar Rega sembari mengusap puncak kepala Senja pelan.
"Kak.. Jika nanti aku pergi.. Katakan pada Bunda aku minta maaf.. yang lain juga.. kalo Leo nanti tau.. katakan padanya Aku benar-benar mencintainya.. sangat.. dan suruh dia melanjutkan ke hidupnya tanpa aku.. suruh dia melupakanku..kak.. " ucap Senja sembari tersenyum.
"jangan katakan itu Senja.. " Rega berucap sembari mengecup kening adik asuhnya itu.
"Kak.. Waktuku tak banyak lagi.. kak.. Tuntun aku.. " Ucap Senja, membuat Rega menangis saat itu juga.
Rega menggeleng kuat, tidak.. tidak.. jangan katakan itu Senja.. hatinya terus berteriak tapi entah kenapa suaranya terasa kelu.
"Kak.. " Senja menggenggam erat tangan Rega yang menggenggam tangannya.
'Brak.. '
"Dokter... " Seorang berteriak setelah mendobrak pintu.
Senja terkejut saat itu juga, "Leo.. "
tanpa babibu.. Leo berteriak, "Senja... " dia memeluk Senja, saat Rega mundur, bunga Mawar yang dia bawa telah dia jatuhkan entah dimana.
"A-apa yang kau lakukan.. di-disini.. " ucap Senja.
"harusnya aku yang bertanya.. Senja apa yang terjadi.. aku dan teman-teman lainya mencarimu.. " Leo meneteskan air matanya saat itu juga.
"Leo.. dia yang mendonorkan Hatinya untukmu.. " Rega berucap.
Leo menatap tak percaya kemudian menatap Senja yang kelihatan redup dengan wajah pucat pasi itu.
"Senja.. " Teriak itu terdengar tapi Leo tak mau melepas dekapan tanganya pada Senja.
Ana dan Rina menutup mulut mereka dengan air mata yang lolos. Aris dan teman Leo lainya pun terkejut saat itu juga.
"Apa yang terjadi.. " ucap Mereka bersamaan.
Senja hanya tersenyum, Nafasnya sesak..
Mereka yang disana khawatir.
apalagi Leo dan Rega.
"Leo.. Tuntun aku.. " ucap Senja pelan.
Leo menatap Senja dan menggeleng, jangan ucapkan itu.. "Senja.. "
"Waktuku tak banyak lagi Leo.. Tuntun aku.. " Ucap Senja. Rina dan Ana merosot, mereka terduduk di lantai ruangan itu dengan tangis yang pecah, menyaksikan teman mereka yang akan pergi selamanya..
Senja merasa nafasnya memberat, "Leo.. Tuntun aku... " Cairan bening tak berhenti mengalir dari pelupuk mata indah yang kini sayu itu.
"Leo menatap ke sekitar nya, beberapa temanya menggeleng lemah tapi ada yang mengangguk dengan berat hati, Rega menggeleng tapi..
" Leo.. sakit.. "Senja memejamkan matanya erat mengangguk sakit.
" Tuntun aku Leo.. ku mohon.. "Senja memohon dengan menahan sakit.
mau tak mau.. Leo melakukanya... Dia yang akan menuntun orang yang disayanginya pergi ke pangkuan sang kuasa.
" Asshadualla ilaha illallah.. "Leo menangis, saat itu juga, Senja tersenyum dan mulai menirukan, " Asshadualla Ilaha illalah.. "
Mereka yang diruangan itu tak ada yang tidak meneteskan air mata saat itu juga.
"Waashadu anna Muhammad da Rasulullah.. " tangis Leo semakin kencang dan genggamanya pada tangan Senja semakin erat, dia benar-benar tidak ingin kehilangan Senja.
"Waashadu Anna Muhammad da Rasulullah.. " Senja mengucapkannya tanpa hambatan pasti.
dan saat itu juga dia tersenyum pada Leo, Rega dan temanya yang lain, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya dan menutup matanya untuk selamanya.
"SENJA.... " Leo berteriak, dan langsung terduduk di lantai, Rega mendekat mengecup singkat kening adik asuhnya itu.
Ana dan Rina menangis sejadi-jadinya saat itu juga.
.
.
Senja memang hal terindah, dan yang paling indah diantara segalanya.. bagi Leo
Senja hanya bisa dilihat dan nikmati, dia tidak bisa di peluk atau di kecup.
Senja lah yang memulai pertemuan mereka, Senja juga yang mengakhiri Pertemuan mereka.. Senja yang memulai segalanya.. Senja juga yang mengakhiri semuanya..
Senja adalah keindahan.. Bukti bahwa kebahagiaantak harus datang di awal..
Saat Leo terpuruk Senja yang datang menjadi penolong.. penyemangat dan orang yang kau mengulurkan tanganya..
namun saat mereka bersama.. harus ada..hambatan yang hadir.., Leo terpaksa menjauh..
tapi Saat Leo terpuruk dan putus asa saat itu juga.. Senja lah yang kembali datang menjadi Malaikat bagi Leo..
Tanpa Senja tak ada cerita mereka.. Tanpa Senja hidup Leo hanya ada abu-abu..
Senjalah Warna-warni Hidup Leo..
.
.
.
.
.
.
ಠ_ಠTamat