Apalah sang bunga, ia hanya bisa diam di tempat sang kumbanglah yang harus datang menghampiri. Kecuali jika itu bunga palsu, hantu bunga, atau malah bunga plastik palsu, bunga palsu yang benar-benar palsu. Lagi pula, kumbang akan mati jika hanya diam di tempat. Mungkin itu perumpamaan yang tepat untuk kisah cinta si tupai yang tinggal di pohon kelapa di pinggir sungai Delisen.
Setiap harinya tupai jantan itu hanya tidur di sarangnya yang nyaman. Dia tertidur sepanjang musim hujan dan hanya akan terbangun pada musim kemarau, itu pun hanya untuk melihat si tupai betina yang dicintainya mencari air di sungai bawah sarangnya.
Pagi itu awal musim kemarau datang, tupai jantan terbangun dari tidur panjangnya untuk hari yang sangat ia tunggu. Benar saja, dari sarangnya ia melihat si tupai betina sedang mencari air di sungai, tapi si tupai jantan tidak pernah berani menghampiri, dia hanya diam di tempat dan mengawasinya dari jauh.
Hari berikutnya ia berusaha memberanikan diri, tapi ia tetap tak bisa, sampai musim kemarau hilang digantikan hujan dia tetap tak berani sekedar mendekati si tupai betina. Akhirnya tupai jantan kembali tertidur dan menunggu musim kemarau berikutnya. Ia telah bersumpah pada dirinya sendiri, musim kemarau yang akan datang ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menghampiri tupai betina.
Di akhir musim hujan, si tupai betina akan dijodohkan dengan prajurit kerajaan tupai oleh ayahnya, si tupai betina berharap akan ada cinta yang menyelamatkannya agar perjodohan dengan prajurit yang jahat dibatalkan. Tapi sayang, sampai hari pernikahannya dengan sang prajurit tak ada cinta sejati yang menyelamatkannya. Akhirnya dengan berat hati si tupai betina menikah dengan prajurit yang jahat.
Akhir musim hujan telah tiba, pertanda awal musim datang. Si tupai jantan terbangun dari tidur lelapnya. Hari ini juga dia akan memberanikan diri untuk menghampiri tupai betina yang ia cintai. Setelah menunggu lama akhirnya datanglah si tupai betina mengambil air, namun betapa kagetnya si tupai jantan karena tupai betina datang bergandengan tangan dengan tupai jantan lain. Tupai jantan sangat menyesal karena tidak dari dulu mendekati pujaan hatinya. Si tupai jantan memilih untuk tertidur kembali, tapi kali ini untuk selama-lamanya, karena ia tahu musim kemarau yang akan datang tidak ada hal penting yang membuatnya harus terbangun.
Cerpen Karangan: Eka Wahyuni Facebook: Eka W