Selamat membaca ☺️
#cerpenrasaanime
Hiroshi, adalah bagian dari imajinasi seorang gadis muda yang mempunyai fantasy berlebihan di dalam dirinya, ia menciptakan karakter untuk diajak kencan, yang awalnya hanya sebuah imajinasi menjadi sebuah kenyataan.
Eiko, seorang gadis dengan dunia fantasi dan imajinasi yang sangat tinggi, ia mampu menciptakan karakter di dunia fantasy nya sampai menjadi kenyataan yang mengejutkan.
Awalnya ia hanya menciptakan dirinya sendiri di dalam dunia fantasinya, namun secara tidak sengaja ia juga menciptakan fantasy hadirnya seorang lelaki yang tentu saja untuk di kencani nya, hidup yang berat seketika lenyap karena Hiroshi, karakter fantasy hanya dengan imajinasi.
Namun, apa yang terjadi tidak seperti yang ia bayangkan, Hiroshi adalah imajinasi yang menentang semua keinginan Eiko, namun Hiroshi sangat berterimakasih karena sudah ciptakan dalam sebuah imajinasi fantasi seorang gadis berumur 19 tahun itu.
"Maaf, tapi aku tidak bisa memenuhi keinginanmu."ucap Hiroshi membuat Eiko bingung karena fantasynya di lawan oleh Hiroshi karakter imajinasi ciptaanya sendiri.
"Kau itu aku yang ciptakan jadi, turutilah semua keinginanku."jawab Eiko dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Sekali lagi maaf, aku tidak bisa, dan terimakasih sudah menciptakan aku di dalam fantasimu, namun sangat disayangkan memang hidup di dunia nyata."jelas Hiroshi membuat Eiko kebingungan.
"Sudahlah, jika begitu aku akan menghapusmu."balas Eiko kesal tidak menggubris pernyataan Hiroshi.
"Silahkan saja kalau itu bisa, lakukanlah."balas Hiroshi pergi meninggalkan Eiko yang bertambah kesal.
Eiko mencoba menghapus Hiroshi dalam imajinasinya, namun itu tidak bekerja, bahkan dunia fantasy nya menentang kehendak Eiko, tentu saja hal itu membuat Eiko tak percaya, ia mencobanya berkali kali namun tak pernah berhasil, hingga akhirnya ia menyerah, ia ingin keluar dari fantasinya sendiri, malangnya itu tidak berhasil, ia tetap berada dalam dunia fantasinya sendiri, kini Eiko hanya bisa menangis karena merasa takut dengan keadaan.
"Aku ingin keluar!...hiks...hiks."teriak Eiko menangis tersedu sedu.
"Ini, hapus air matamu, sudah kubilang fantasimu ini berbeda, entah mengapa aku merasa seperti hidup di dunia asli."ucap Hiroshi datang menenangkan Eiko.
Sudah satu bulan lebih Eiko berada di dalam ruang imajinasi fantasi gila itu, perlahan tubuh Eiko mulai tampak seperti hancur, tangannya kulit tangannya mulai mengelupas seperti potongan puzzel, hal itu menambah tingkat kecemasan Eiko.
"Kenapa ini?"apa aku kan lenyap, tidak aku tidak ingin mati disini..hiks..hiks"ucap Eiko lirih, ia menangis dengan dipenuhi ketidakpercayaan.
"Sudah kukatakan berkali kali, fantasimu itu berbeda."ucap Hiroshi berhasil mengejutkan Eiko karena keberadaanya yang selalu saja tiba tiba.
"Apa kau bisa menolongku, aku tak ingin mati disini..hiks...hiks."balas Eiko menangis menundukan wajahnya.
"Aku tidak tahu caranya, aku yakin ini bukan hanya sekedar imajinasi, namun ini seperti fantasimu yang menembus ruang waktu.
"Maksudmu?."balas Eiko penasaran atas pernyataan Hiroshi.
"Iya mungkin saja kau menembus dimensi."jawab Hiroshi.
"Benarkah?, lalu tahun berapa sekarang?"balas Eiko bertanya.
"3001."balas Hiroshi sambil menatap Eiko dengan tajam.
"Apa!...yang benar saja."jawab Eiko terperangah tidak percaya.
"Kau ini dari tahun berapa?, aku sudah lama ingin menanyakan hal ini."balas Hiroshi menatap serius.
"A--aku dari tahun 2022."balas Eiko mulai menghapus air matanya.
"pantas saja kau tampak kuno."balas Hiroshi berhasil membuat Eiko geram menatap tajam matanya.
"Sudahlah!..lebih baik kau bantu aku keluar dari duniamu, tampaknya aku memang tidak bisa hidup di masa depan."balas Eiko tampak putus asa karena tubuhnya semakin mengelupas bertebaran seperti potongan kertas Puzzel.
"Aku tidak tahu caranya bodoh!."bentak Hiroshi kesal karena bingung.
"Kau ini kurang ajar sekali!, aku ini lebih tua darimu."ucap Eiko menarik narik rambut Hiroshi.
"Aahh, lepaskan atau aku tidak akan membantumu."balas Hiroshi mencoba menenangkan Eiko.
Hiroshi memutuskan untuk membantu Eiko dengan sisa waktu yang tersisa, ia bersama Eiko pergi menemui seorang profesor yang meneliti Dimensi, namun tak banyak informasi yang mereka dapat, karena bagi sang profesor menembus dimensi itu bukanlah hal yang mudah dan bagi banyak orang itu hanya tabu, intinya tak ada jalan atau cara untuk Eiko kembali ke dunianya, dan ia akan mati di dunia masa depan hasil fantasinya sendiri.
Setelah tiga hari, pasca menemuni sang profesor itu, Eiko hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, kini tubuh Eiko sudah hancur tinggal menyisakan separuh tubuhnya saja, Hiroshi menjaga dan merawat Eiko atas kehendaknya sendiri, selama beberapa hari menjaga Eiko ia merasakan hal yang sulit diartikan, ia takut akan kepergian Eiko, ia mulai merasakan takut akan kehilangan.
"Hei, ini makanlah aku membuatnya."ucap Hiroshi mencoba menghibur Eiko yang sudah tak dapat melakukan banyak gerakan.
"Terimakasih."balas Eiko lirih, setiap Hiroshi membuatkan makanan untuknya, ia hanya takut akan perpisahan yang menyedihkan, air matanya mengalir begitu saja, Hiroshi tampak ikut sedih ia manahan laju air matanya.
"Kau ini aneh, mengapa kau menangis."tanya Eiko mencairkan suasana haru dengan senyuman manis untuk Hiroshi.
Hiroshi melihat senyum Eiko dan ia langsung menangis, ia tak dapat membendung air matanya lagi, bagaimana bisa ia akan kehilangan orang yang sudah mencuri hatinya, Hiroshi menangis di hadapan Eiko yang berusaha menenangkannya, Eiko mengatakan ia akan menunggu Hiroshi di kehidupan lain.
Sekarang tiba waktunya, Eiko akan menghilang selamanya, Perpisahan Eiko dan Hiroshi itu terasa sangat menyedihkan, sekaligus menyakitkan, di kesempatan waktu yang tersisa itu Eiko mencium pipi Hiroshi yang sedang menangis, Eiko meminta Hiroshi membuat tanda di lehernya, dengan penuh kesedihan Hiroshi menuruti keinginan terakhir Eiko, lalu setelah itu Hiroshi menangis histeris melihat Eiko yang telah meninggalkannya potongan tubuh itu bertebaran melayang di udara
"Selamat tinggal Eiko."ucap Hiroshi menangis tersedu sedu.
Panas, sinar matahari bersamaan dengan detik jam dinding, Eiko terbangun dari tidurnya, ia menangis karena mimpinya dan imajinasinya tampak seperti nyata, namun ia meyakinkan dirinya bahwa itu adalah imajinasi alam bawah sadarnya, Eiko berdiri berjalan menuju kamar mandi, namun alangkah terkejutnya ia mendapati tanda yang diberikan oleh Hiroshi dilehernya, tubuhnya bergetar, air matanya mengalir tak terbendung seketika membuatnya jatuh terduduk di lantai menangis histeris mendapati bahwa itu adalah kenyataan bukan hanya sekedar imajinasinya.
.
.
.
.
.
.
.
Hormat saya.
iitarnt_ia