Iris itu bahkan hampir hilang, ukiran senyum tulus itu terukir dengan sendirinya ketika wajah tampan yang berdiri di depannya ini selalu membuatnya tersenyum. Siapa yang tidak akan senang dan selalu tersenyum lebar jika memiliki suami seorang raja yang sangat gagah dan jantan, pria yang memiliki cinta selembut dan sebersih salju. Mungkin seorang raja memiliki satu permaisuri dengan banyak selir? Tapi tidak dengan raja kerajaan ini, raja yang sangat jatuh pada pesona seorang Seulgi, wanita cantik yang bukan berasal dari keluarga bangsawan yang mampu menaklukan hati sang raja.
Wanita mana yang bisa menolak raja itu? Memiliki banyak kemampuan, raja yang gagah, serta memiliki banyak harta. Dan hanya Seulgi pemenang hati raja Jihwa.
Jangankan untuk memiliki istri lain, bahkan mata Jihwa tak bisa dialihkan pada wanita lain, retinanya hanya bisa menangkap seorang wanita cantik, hanya Seulgi dan akan tetap Seulgi. Seberuntung itu Seulgi bisa mendapatkan keindahan dunia yang tiada tandingannya dari sang raja. Kebahagian yang mengalir semakin melimpah ruah yang ditindih dengan kehamilihan Seulgi. Ntah dari mana pemikiran ini Jihwa dapatkan, mengadakan sebuah pertarungan untuk melawannya, siapa yang bisa mengalahkan Jihwa, maka jihwa akan memberikan seperempat dari harta yang ia punya sebagai tanda syukur atas kehamilan istrinya.
Seulgi duduk dengan anggun menyaksikan betapa gagah Jihwa dari singgasana yang dibuat setinggi 3 meter dari tempat pertarungan membuatnya bebas mengagumi rajanya. Sudah banyak pertarung yang Jihwa tumbangkan dengan banyak tumpahan darah, sebenarnya Seulgi ingin menghentikan semuanya dikala tak sanggup melihat setetes darah Jihwa jatuh sia-sia. Jihwa memanglah petarung yang handal, tapi untuk melawan seorang Panglima kerajaan lain bukanlah hal yang mudah dikala Jihwa yang sudah bertarung sedari tadi untuk melawan Panglima yang masih berjiwa segar.
Seulgi tak mampu memandang bagaimana terhempasnya tubuh Jihwa, Seulgi hanya mendengar decitan dua pedang dan suara teriakan dari Jihwa dan sang Panglima, mungkin ini saatnya Jihwa kalah dan mengiklaskan seperempat hartanya untuk Panglima itu. Seulgi berlari turun dari sana, menabrak tubuh Jihwa yang berdiri di depan Panglima, memeluk erat dan mengusap darah yang mengecer melalui pipinya, menangis tersedu tak sanggup melihat Jihwa yang kesakitan. Jihwa memeluk Seulgi demi menenangkannya.
Panglima itu sedang mengamati intens pada tumpukan emas yang banyak terungguk di depannya sebagai hadiah mengalahkan Jihwa. Panglima itu melangkahkan kaki menghadap Jihwa yang masih memeluk Seulgi. "Aku tidak menginginkannya, aku ingin hartamu yang lain" tutur Panglima. "Berikan dia lebih banyak" Jihwa dengan senang hati memerintahkan dayangnya untuk mengambilkan hadiah yang lebih banyak untuk Panglima itu. Tetapi tungkasan yang berasal dari bibir Panglima itu menghentikan semua pergerakan sang dayang. "Aku tidak menginginkan sepersenpun harta yang seperti itu"
Jihwa menjadi heran, apa imbalan yang akan diberikan Jihwa jika Panglima itu tak menginginkan sedikitpun harta. Bahkan kening tampan itu berkerut memikirkan apa yang dinginkan petarung itu. "Ucapkan secara jelas, supaya aku bisa mengerti" Panglima itu hanya diam seribu bahasa untuk beberapa saat, Panglima itu kembali membuka suara yang membuat seisi ruang itu terkejut. "Harta berharga yang sedang kau peluk yang mulia". Jihwa tertawa besar melepas Seulgi, menatap rendah pada Panglima "kau? Kau menginginkan istriku? Hahaha sama sekali tak pantas kau bersanding dengan permaisuriku, jangankan untuk bersanding berbicara denganmu rasanya Seulgiku sama sekali tidak tertarik"
"Yaaaaa, aku tau Ratuku ini sangatlah cantik dan memiliki pesona yang kuat, tapi kau begitu lancang" suara Jihwa menekan pada kata akhir, sebenarnya ingin sekali Jihwa menggulingkan pria brengsek yang berani meminta istrinya. Dengan sialnya Panglima yang tak seberapa itu menyentuh ujung rambut Seulgi. Jihwa terlalu tidak sabaran, menerjang Panglima hingga ia terguling. Siapa yang akan sabar ketika istrinya digoda pria lain? Rasanya tindakan Jihwa tidak salah apalagi ia seorang raja tidak ada yang berani menyalahkannya.
Kaki tegap itu masih kuat untuk berdiri, menopang berat tubuhnya. "Jika bukan yang mulia Ratu, maka izinkan aku meminta kebahagian sang Ratu" Panglima gagah itu mulai bergeser menggendong seorang anak berumur 10 tahun yang sedang bergetar karena takut. Siapapun tak bisa melihat wajah gadis kecil itu karena wajah itu penuh tenggelam di bahu Panglima. "Ini adalah putriku yang mulia, aku tau kau adalah laki-laki yang baik dan lembut, aku hanya meminta yang mulia menikahinya, kumohon Raja hanya ini permintaanku" suara Panglima itu berubah menjadi sebuah Isak tangis, sekarang Jihwa tau kenapa Panglima itu memintanya untuk menikahi gadis kecil itu. Panglima itu akan berperang dan akan meninggalkan anaknya untuk pergi bertaruh nyawa.
Retina Seulgi berputar, Seulgi yakin Jihwa akan menolak lamaran itu. Seulgi sangat mengenal prianya, rajanya tidak akan menikah lagi, Jihwa sudah berjanji akan hal itu dan Jihwa bukanlah seorang yang suka melanggar janji, apalagi janji pada Seulgi. Jihwa hanya bisa diam sama sekali belum bisa memastikan jawaban. Memandang lekat pada wajah Seulgi yang memucat, Jihwa tau Seulgi tidak suka dan tidak akan terima. Dibelainya surai tebal wanitanya mengecup singkat pucuk kepala Seulgi. "Maaf, aku melanggar janjiku"
Jihwa menjulurkan dua tangannya setinggi bahu, perasaan yang tak bisa dibaca. Jihwa hancur ini saatnya ia akan menyakiti Seulgi. Seulgi ada di dalam Jihwa, jika Seulgi merasa sakit sejujurnya Jihwa lebih merasakannya apalagi rasa sakit yang Seulgi rasakan diberikan olehnya. Panglima itu mendengar tarikan nafas panjang dari pria yang berdiri di depannya sekarang. "Berikan dia padaku" Panglima mengulurkan gadis kecilnya untuk masuk pada gendongan Jihwa. "Namanya Gyrda yang mulia" setelah mendengar penuturan itu Jihwa membawa gadis kecil berusia 10 tahun itu mendekat Seulgi. "Siapkan pernikahanku"
Nafas Seulgi tercekat, posisinya akan dibagi dua. Bukan posisi dalam singgasana kerajaanlah yang Seulgi takutkan tapi singgasana hati Jihwa yang akan terbagi dengan gadis kecil itu. Liquit bening itu luruh dengan sendiri melihat Jihwa yang menggendong calon istrinya. Bukan ini yang Seulgi ingin dari pertarungan ini, Seulgi rela jika seluruh harta Jihwa diambil tapi Seulgi tidak akan pernah rela jika Jihwalah yang jadi bahan taruhan.
Gyrda tau yang sedang ia lakukan adalah sebuah pernikahan, tapi yang tidak Gyrda tau ialah arti pernikahan dan latar belakang kenapa ia menikah di umur 10 tahun, ini bukan menikah muda tepatnya menikah di umur yang masih sangat kecil. Gyrda hanya mengikuti alurnya, tanganya digandeng sang ayah, berdiri tegap di depan pintu yang sangat tinggi dan megah.
Brak
Pintu itu terbuka dari dalam, di dalam sana banyak prajurit yang berdiri tegap sepanjang karpet merah. Panglima menuntun Gyrda untuk berjalan melewati karpet merah itu. Suara lengkingan lonceng gereja yang dipukul nyaring mulai menguar dengan merdu penuh kesedihan pada indra Jihwa dan Seulgi. Jihwa berdiri dengan gagah di atas altar suci dengan didampingi pendeta di sampingnya. Menghadap lurus pada Gyrda yang mulai mendekat, tepat di bawahnya, untuk menaiki altar ada empat anak tangga yang harus diterjang. Jihwa mengulurkan tangannya membantu gadis kecil itu demi melancarkan pernikahan. Gadis kecil itu terlihat cantik memakai gaun pernikahan serta polesan wajah yang ditata sedemikian rupa.
Berbeda dengan pernikahannya dengan Seulgi, Jihwa harus berdiri dengan tegap tetapi sekarang Jihwa dan pendeta berlutut menyamakan tinggi mereka dengan Gyrda. Janji suci itu berlangsung, kata demi kata sudah selesai diucapkan pendeta. Lamunan semua orang terbuyarkan dengan suara pendeta. "Kalian resmi menjadi suami istri, raja boleh mencium ratu" Jihwa menatap wajah teduh penuh kepolosan Gyrda, gadis kecil itu tak pantas menikah harusnya diumur yang masih kecil itu Gyrda bisa membawanya untuk bermain bersama teman-temannya. Jihwa mendekatkan dirinya pada Gyrda mengecup kening gadis itu. Bibir bervolume raja itu menempel sedikit lama di permukaan kening Gyrda.
Mungkin Jihwa tak mendambakan malam pertama yang indah bersama Gyrda yang Jihwa yakini tidak mengerti apa-apa. Gyrda terus saja manangis setelah ayahnya pergi meninggalkannya sendiri bersama Jihwa. Panglima tak memberi alasan pasti untuk Gyrda tapi Jihwa sudah mengerti bahwa ayah mertuanya akan pergi berperang sampai titik darah penghabisan.
Kehangatan menjalar dari tubuh kekar Jihwa yang memeluk Gyrda. Menenangkan gadis itu dan memberi pemahaman untuk memulai kehidupan yang baru, mengiklaskan apa yang sudah terjadi hanya itu yang Jihwa inginkan dari Gyrda. "Sekarang aku ada di dalammu, jika kau merasakan sakit maka aku ikut merasakannya. Kehidupan itu akan terus berjalan, aku tau kau masih sangat kecil untuk mengerti betapa kerasnya kehidupan tanpa kedua orang tua" Gyrda diam menunggu Kalimat bernada gantung yang keluar dari bibir suaminya. "Sekarang kau sudah tak memiliki siapa-siapa untuk dirimu bergantung, tapi aku di sini bersamamu. Aku suamimu, aku ayahmu, aku ibumu, aku temanmu. Di dalam istana ini hanya aku yang akan melindungimu. Diluar pintu kamar ini banyak pedang yang tak terlihat yang siap menusukmu kapan saja dari arah mana saja. Jadi berhati-hati dengan siapapun, termasuk istriku" jangan menyangka Jihwa sudah menerima Gyrda sepenuh hatinya, hanya saja Jihwa kasian melihat gadis kecil itu sudah ditimpa banyak kesulitan sejak kecil. Jihwa tau, bahkan sangat tau apa yang sedang Gyrda rasakan, jujur saja Jihwa sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, sama seperti Gyrda.
.
Gyrda duduk termenung menjuntaikan kedua kakinya di ujung emperan lantai tiga istana. Gyrda dapat melihat dataran luas dari atas, melihat banyak pekerja yang sedang mencari uang, seharusnya Gyrda berada di antara mereka semua sekarang, mencari uang untuk kehidupannya, dan bukan terkurung di istana ini. Sejak dulu Gyrda ingin memasuki istana dan menjadi ratu di sana, jika Gyrda tau menjadi ratu bukanlah hal yang mudah, maka Gyrda tidak akan pernah membayangkannya selama ini. Bayangan ayahnya pergi itulah yang menghantuinya sekarang.
Rungu menangkap suara getukan langkah kaki dari alas kayu itu berdecit dengan lantai, Gyrda dapat menghirup wangi yang melingkupi hidungnya. Gyrda melihat sepasang betis mulus tepat di sampingnya. Menengadahkan kepalanya, yang dilihat adalah atensi Seulgi yang menatap lurus dengan mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. "Kuberi kau sekarung emas, sebuah rumah yang besar, ladang yang luas. Dan pergilah kau menjauh" ujaran itu mampu membangkitkan rasa malas berdiri Gyrda untuk segera bangun dari duduknya. "Aku tidak akan pergi" mimik bengis Seulgi tertanam jelas ketika rasa jengkel mendengar cetusan gadis itu yang mudah sekali membantah. "Kau kira kau siapa membantahku? Jihwa saja tidak berani membantahku" bentak Seulgi.
"Kenapa aku harus pergi jika disini aku sudah mendapatkan semuanya?" Seulgi merasa sangat marah sekarang, tanpa adanya pemikiran panjang, Seulgi mencengkram tangan Gyrda yang kecil membantunya dengan mudah menarik Gyrda.
Sampailah Seulgi dan Gyrda dimana Jihwa duduk di singgasana kebanggaannya, terlihat pria itu menikmati minuman yang berada di tangannya. Berbincang politik dengan orang-orang penting kerajaan. Jihwa dibuat terkejut tiba-tiba tubuh Gyrda terhempas kuat membentur lantai sebab tolakan Seulgi yang sangat kuat. Seulgi sedang mengamuk, seperti siapa membunuh Gyrda sekarang ini. "Lihatlah jalangmu ini sangat tidak tau diri" ucapan itu penuh penekanan menyesak Jihwa untuk segera menghentikan hal itu.
Jihwa berdiri memeluk Seulgi demi menghentikan amukan Seulgi terhadap Gyrda. Gyrda yang masih memiliki pemikiran anak-anak menangis dan berlari ke kamarnya. Duduk di tengah kasur di kamarnya, memeluk erat kedua lututnya memendam perasaan sakit hati serta tangis yang mulai memecah. Bukan karena sang ayah menyuruhnya untuk tetap berada di sini, sudah sedari lama Gyrda pergi dari tempat buruk seperti ini.
Pintu itu terbuka memperlihatkan atensi suaminya, Jihwa melompat pada kasur membuat tubuh kecil Gyrda terangkat keatas. Mendorong tubuh kecil itu menggempur Gyrda habis-habisan dengan gelitikannya. Tawa Gyrda pecah begitu saja ketika jemari halus itu menyentuh perutnya. Bahkan tubuh kecil itu sudah melengkung akan rasa gelinya.
"Gyrda jangan menangis, kau adalah yang terkuat" hanya itu saja? Bahkan Gyrda memajukan bibirnya merasa tak terima atas perlakuan Jihwa, hanya ingin mengucapkan itu saja? Dan pergi tanpa kata perpisahan, walaupun Gyrda masih kecil tapi rasa cemburu itu membara, tanpa ditanya Gyrda sudah tau kemana tujuan Jihwa berjalan.
Sepasang kekasih ini sedang berpelukan mesra, memeluk tubuh kecil istrinya dari belakang, wanita itu menikmati banyak empuk terbuat dari otot lengan suaminya. Menyelamkan dirinya pada kenyamanan belaian surau dari tangan pria yang berada di belakangnya. Menatap bulan dari jendela yang terbuka, menikmati suana sunyi dengan cahaya yang tak terlalu terang, hanya ada cahaya bulan yang menerangi mereka berdua. Jihwa memperhatikan manik hazel milik istrinya dari pantulan kaca di depan, membuka memperhatikan bulan itu dengan seksama.
Tidak ada pembicaraan di antara merrka, hanya anggota tubuh mereka yang bergerak-gerak seakan berbicara satu sama lain. Jantung Seulgi berdetak ketika hatinya mulai gelisah dengan pemikiran otak yang mulai melayang. Tidak akan pernah Seulgi ikhlaskan pada Gyrda, di mata Seulgi Gyrda adalah gadis pembawa sial. Semuanya akan Seulgi lakukan, termasuk untuk melayangkan nyawa seseorang. "Tunggu waktunya, aku akan menjadi malaikat pemutus kehidupanmu" tuturan Seulgi dalam hati mampu menimbulkan semangat membawa untuk segera melancarkan aksinya.
.
Mungkin inilah waktunya, di tengah malam ini rasanya Seulgi sudah harus melaksanakan semua rencana yang sudah ia susun selama sebulan terakhir. Seulgi menatap dirinya di cermin, mengelus perut buncitnya, dalam kisaran waktu Seulgi akan melahirkan kurang lebih satu bulan lagi. Seulgi menatap kebawah, terlihat benjolan kecil yang bergerak-gerak di perutnya. Air matanya jatuh membasahi benjolan kecil itu, seakan memberi tau Seulgi sesuatu. "maafkan ibu, kau sepertinya tau apa yang ibu akan lakukan. Tapi ini semua ibu lakukan hanya semata-mata karenamu"
Seulgi mulai melangkah pelan, melihat mangsanya. Jihwa dan Gyrda sedang tertidur pulas dengan berpelukan, membuat semangat Seulgi semakin meronta melihat perlakuan Jihwa yang selalu ia lakukan bersama Seulgi dan disini Jihwa juga melakukannya bersama Gyrda. Rasa sesak di dadanya, dada Seulgi kembang kempis. Air mata yang sedari tadi mengucur tak bisa ia tahan mulai jatuh. Seulgi tidak sejahat ini, tapi Jihwalah yang mengubah isi hati Seulgi dengan seketika.
Pisau yang di genggaman Seulgi mungkin kecil, tapi jangan perhatikan ukurannya, ketajaman adalah hak utana di dalam senjata. Mengangkat setinggi bahunya, menghantamkan pisau itu ke bawah. Seulgi terpejam erat. Seulgi tidak sanggu melihat darah itu menembak sepertu air mancur ketika pisau itu membelah pinggang itu. Seulgi menutup kedua telinganya, Seulgi tidak akan pernah mampu mendengar erangan kesakitan Jihwa. Suara jeritan itu membuat Seulgi merasa sakit, tapi inilah yang Seulgi inginkan.
"S Seul? Kenapa kau lakukan ini padaku" suara Jihwa nyaris tak terdengar, rasa sakit dari tusukan ini tak seberapa dengan rasa pengkhianatan Seulgi. "kau yang membuatku seperti ini Jihwa, aku membencimu" suara penekanan Seulgi yang bercampur Isak tangis membuat hati Jihwa terkikis. "Anak kita akan segera lahir, apakah kau tega anak kita lahir tanpa seorang ayah?" Gyrda yang mendengar kegaduhanpun terbangun, apalagi erangan Jihwa tak berhenti, Gyrda berdiri melihat kondisi mengenaskan Jihwa. Pertama kali yang Gyrda amati adalah pisah kecil yang berada di tangan Seulgi, merasa diperhatikan benda kecil yang sudah memerah itu, terjatuh begitu saja dari tangan Seulgi. Gyrda berlari keluar kamarnya, Seulgi yakin gadis kecil itu akan memanggil seseorang.
Seulgi seperti akan melarikan dirinya, tapi tangan itu tertahan oleh genggaman Jihwa. "Aku membutuhkanmu di sini..aaarg"
Seulgi tidak bisa tetap di samping Jihwa, jika ia ingin selamat. "Istri keduamu itu mengancam keberadaanku, lebih baik kau mati. Dengan begitu semua harta yang kau miliki, semua kekuasaan yang kau miliki. Jatuh pada bagian lain dari tubuhmu, dan bagian itu ada di dalam perutku". Tubuh Jihwa merasa seperti jelly, ia tidak bisa menduga Seulgi yang gila harta seperti ini.
Seulgi ingin berlari, tetapi prajurit telah lebih dulu datang. "Tangkap dia, dia yang melukai Raja!" Tunjuk satu jari Gyrda menghadap pada Seulgi. Semuanya tak bisa menduga. Prajurit itu mulai mendekati Seulgi. Merantai kedua tangan Seulgi, menarik paksa Seulgi yang terus memberontak. "AKU MEMBENCIMU GYRDA". Teriakan itu menyeruak pada rungu Jihwa, ia tak sanggup apa-apa, sebenarnya Jihwa ingin sekali menahan Seulgi. Tapi tak tau kenapa pandangannya menjadi gelap hingga tak melihat apa-apa.
Sudah setengah bulan lamanya, Gyrda mengusapkan kain basah itu pada tubuh suaminya, demi kebersihan yang terjaga. Sejak kejadian itu, Jihwa sama sekali belum membuka matanya kala sedikitpun. Sebuah selang yang tabib masukan ketubuh Jihwa adalah pasokan makanan yang utama untuk tubuh Jihwa. Setiap hari pula, Gyrda harus memasukan makanan beserta minuman ke dalam selang itu. Keadaan Seulgi yang meringkuk di dalam penjara, semua penjaga tetap akan menjaga Seulgi bak seorang permaisuri, tapi hanya saja di dalam penjara dengan pandangan yang rendah.
Gyrda sedang memotong buah-buahan dengan membelakangi tempat Jihwa terbaring. Gyrda mau tak mau menghaluskan buah yang ia potong demi bisa memasukannya ke dalam tubuh Jihwa melalui selang yang kecil itu. Inikah rutinitas Gyrda selama setengah bulan. Tak ada satupun pelayan yang mengurusi Jihwa, hanya ada bekas tangan Gyrda di sana. Gyrda mesenandung kecil, merdu suara itu melingkuli ruang balok kamar kerajaan mewah ini.
Gyrda berbalik tubuh, bahkan rambut panjang itu ikut bergoyang. Menganga, itukah yang pertama kali Gyrda lakukan. Berjalan cepat meletakan jus buah tuh di nakas di pinggir kasur. Gyrda memandang mata hitam pekat yang sedang menatapnya. "Istri kecilku terlalu sibuk, hingga tak melihatku bangun" mata bermanik violet Gyrda memecing memperhatikan Jihwa yang terbangun dari lamanya tidur. "Kau baru bangun? Kenapa tidak memanggilku" nada bicara itu terlihat kesal. "Aku sudah bangun sejak satu hari yang lalu, hanya saja aku ingin merasakan lembutnya tanganmu" penuturan Jihwa membuat tangan Gyrda bergerak sendiri untuk memukul perut pria yang sudah menjadi suaminya ini. "A-au, sakit Gyrda" Gyrda jadi panik sendiri, Gyrda tak bermaksud memukul bagian perut Jihwa, yang mana, ujung jarinya mengenai pinggang bekas tusukan Seulgi.
Gyrda dengan intens memeluk Jihwa, gadis itu melompat karena senang setelah lama ia menunggu Jihwa untuk segera bangun dari tidurnya. Meletakan kepala di bahu tegap suaminya, menikmati elusan tangan lembut Jihwa yang berpusar pada rambut hitam itu. "Dimana Seulgiku?" Pertanyaan itu sukses membuat senyum Gyrda pudar, melepas pelukannya pada Jihwa, bahkan Jihwa dapat melihat wajah yang berkerut tanda tak senang milik Gyrda.
"Kau cemburu yaaa?" Bibir Gyrda mengerucut lucu, sempat sekali pria itu menggoda.
"Bagaimana aku tidak cemburu, aku yang merawatmu, dan kau bangun bertanya Seulgi yang sudah berencana membunuhmu" kesal Gyrda. Jihwa bangun dari baringannya, beridiri dan merangkul Gyrda untuk berjalan. Menelusuri lorong-lorong istana. Di ikuti dengan tiga pengawal di belakang mereka berjalan. Tibalah mereka di penjara. Terlihat Seulgi yang tertidur dengan damai. Di sana duduklah seorang dayang istana setia milik Seulgi. Fasilitas yang ada hanyalah kasur empuk dan dayangnya saja. Tak ada letak keindahan di penjara itu walaupun Seulgi adalah ratu.
Kunci penjara itu di buka, mempersilahkan Jihwa untuk masuk. Jihwa mengusap rambut lebat Seulgi, melihat tidur pulasnya yang memancarkan kecantikan yang luar biasa cantiknya. Luka tusukan Seulgi sudah lama sembuhnya, tapi luka yang ditorehkan Seulgi pada hatinya belum sedikitpun tertutup. Hanya ada darah mengalir sekarang. Jihwa menarik nafasnya dalam, melihat perut besar yang berisi bagian lain dari dirinya membuatnya menjadi sedikit bersemangat. Digapainya tengkuk dan sela betis Seulgi. Menggendong tubuh berat dan berisi itu keluar dari penjara.
Sampailah pada singgasana tertinggi, Jihwa duduk dengan memangku Seulgi yang masih tertidur pulas. Cemburu sekrang berpindah di hati Gyrda. Rasa jengkel melihat kebersamaan mereka membuatnya ingin mencekik Seulgi sekarang juga. Jika tau akan seperti ini maka Gyrda akan terus berdoa untuk Jihwa tidak akan bangun lagi.
"Yang mulia raja, maaf sebelumnya. Bukankah setiap orang yang berada di bawah kekuasaan yang mulia itu sama. Hukuman mati adalah hal yang adil untuk Seulgi yang mulia"
Tutur salah satu pilar kerajaan.
"Selancang itu mulutmu kepada Seulgiku. Semuanya sama istriku atau kau itu sama di mataku. Tapi Seulgi tidaklah sepenuhnya salah. Atas itu aku menjatuhkan keputusan bahwa Seulgi tidak bersalah". Semuanya diam menerima secara ikhlas, mau atau tidak untuk menerima semua itu keputusan raja. "Kenapa Seulgi tidak terbangun?" Tanya Jihwa. "Ratu selalu meminum obat tidur di setiap pagi raja"
.
"Kau akan melupakanku kembali jika ratu Seulgi ada kan?" Gadis kecil ini tak jauh berbeda dari Seulgi yang sudah berumur 23 tahun, sama-sama memiliki sifat cemburu yang sangat tinggi. Sekarang Jihwa paham tidak ada wanita yang bisa berbagi, tua muda ataupun kecil semuanya sama. Jihwa mengulum senyumannya, menahan tawa yang rasanya akan keluar dengan menggelegar. Tapi jika tertawa Jihwa yakin gadis kecil berumur 10 tahun itu akan memukulnya. Walaupun tidak sakit, tangan kecil itu pasti akan menarik telinganya juga.
Gadis itu masih mengerucutkan bibirnya seperti bebek walaupun sekarang ia sudah berada di dalam pelukan Jihwa. "Kau ada di dalam diriku, dan bagaiman bisa aku melupakan diriku sendiri ratu kecil" jelas Jihwa. "Tapi di dalammu juga ada Seulgi ratu" Jihwa menggeleng kecil, masih saja ada eluhan mengenai istrinya yang lain. Jika bersama Seulgi, maka Seulgi selalu berkeluh kesah akibat Gyrda. Dan ketika bersama Gyrda, selalu saja berkeluh kelas atas Seulgi. Jihwa jadi ingin memakan keduanya yang sama sekali tak bisa tersangingi walaupun dengan hal sekecil apapun. Jihwa jadi harus sangat adil tak bisa berbeda sekecil apapun.
Jihwa menggegam erat tangan Seulgi yang sedang berusaha melahirkan anak mereka. Dibantu oleh banyak tabib istana yang sudah berbakat. Sudah sekitar lima jam lamanya Seugi berusaha, tapi belum memberikan hasil apapun. Nafas dan erangan Seulgi bersahut-sahutan, keringan Jihwa Sama banyaknya dengan keringat Seulgi yang mengucur. Ini adalah saat penantian semua orang. Putra atau putri pertama akan lahir di dunia.
"Aaarg, Ji Jihwaaa.." mungkin itu adalah teriakan Seulgi yang terakhir, ketika bayi itu sudah keluar. Jihwa mengecup sedikit lama kening Seulgi, mengusap wajah basah istrinya. Rasa hangat melingkupi Jihwa ketika mendengar tangisan bayinya. Air bening yang berasal dari mata JIhwa ikut luruh mendengarnya, ini adalah penanantian yang sudah lama Jihwa tunggu-tunggu kehadirannya. "Terima kasih Seul, kau sudah berusaha melahirkannya" Seulgi hanya mengangguk sebagai jawaban iya atas pertanyaan yang dilontarkan Jihwa.
Bayi itu dibawa oleh tabib dan dibaringkan di samping Seulgi, Jihwa menyentuh pipi yang masih merah itu. "Hahah, dia lucu Seul" Seulgi hanya tersenyuk teduh memandangi bayinya. "raja, ratu selamat atas kelahiran pangeran" mendadak mata Jihwa membola melihat kembali pada putranya "hahaha, aku punya seorang putra".
Gyrda melihat kesenangan yang sedang melanda Jihwa, Gyrsa turut tersenyum dan membayangkan andai saja dia yang sedang melahirkan seorang bayi untuk Jihwa, apakah Jihwa akan sesenang ini?.
Nafas Seulgi kembali terdengar bersahut-sahutan, kepala itu bergerak seakan sendiri tanpa perintah dari otak Seulgi. "J ji kepalaku sakit hiks aarg" erangan Seulgi membuat Jihwa tak bisa berpikir kecuali menunggu tabib untuk segera memeriksa keadaan Seulgi. "Maaf sekali sebelumnya raja. Menurutku pembuluh darah di kepala ratu pecah. Semuanya akan berakhir di sini. Aku permisi" tabib itu pergi setelah menyampaikan hal yang tak senang itu.
Seulgi yang paham bahwa hidupnya sudah tak lama lagi, menggapai tangan Jihwa dan menciumnya. Jihwa memeluk erat Seulgi yang menangis tersedu-sedu. Seulgi baru merasa senang melihat putra kecilnya dan sekarang ia tepaksa akan berpisah untuk selamanya. Berpisah dengan Jihwa dab putranya. "Gyrda, k kau adalah harapan terakhirku. Jadilah ibu untuk putraku, dan istri satu-satunya suamiku"
"Jangan berbicara seperti itu kau akan sehat Seul hiks" Jihwa tak berhenti mengusapkan tangannya demi menenangkan Seulgi yang akan berpikir ia akan mati sekarang. Erangan kesakitan Seulgi kembali terdengar, dada Jihwa terasa sesak mendengarnya. Beberapa menit kemudian sudah tak terdengar sedikitpun erangan dari Seulgi, Jihwa melepaskan pelukannya membaringkan tubuh Seulgi di kasur itu kembali. Menyentuh pergelangan tangan dan memilih apa yang akan ia rasakan. "Hiks hiks S seulgi"
Jihwa terhenyak begitu saja di lantai ketika sudah tak merasakan satupun denyut di nadi Seulgi. Melihat keadaan pilu suaminya Gyrda memeluk Jihwa. Menenangkan pria itu dengan carah menepuk-nepuk pelan punggungnya. "Ji, di sini masih ada aku. Aku akan menjadi ibu anakmu aku akan menjaganya. Dan aku janji" Jihwa menyapu air mata yang jatuh melalui pipinya, membalas pelukan gadis kecil yang sedang menenangkannya itu. "Aku mencintaimu Gyrda" Gyrda mungkin belum tau apa arti cinta, tapi Gyrda sangat yakin bahwa dia sangat mencintai Jihwa di dalam hidupnya.
"Aku juga mencintaimu Ji"
"Seung dengarkan mama untuk sekali saja sayang" Gyrda menggapai tubuh kecil putra mahkota kerajaan. Gyrda terpaksa menarik sedikit kuat untuk menyeret tubuh kotor itu ke dalam air. Sang ratu hanya menghela nafasnya duduk di pinggiran kolam wangi bunga sambil tertawa kecil melihat aktifnya Seung yang berenang ke sana ke mari. Hingga sepasang lengan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tanpa Gyrda melihat ia sudah tau itu suaminya, siapa yang berani memeluk ratu selain sang raja? Jika ada mungkin sekarang kepalanya sudah terpenggal oleh Jihwa.
"Tidak terasa ya anak kalian sudah 8 tahun"
"Anak kita sayang"
Gyrda tertawa kecil mendengar peralatan ucapan yang dilontarkan Jihwa. Benar, Seung adalah anak mereka. Jihwa dapat menyaksikan sebesar apa cinta yang Gyrda salurkan pada anaknya dengan Seulgi. Gyrda sama sekali tidak pernah mengungkit dari mana anak itu berasal. Selama ini ia selalu mengatakan bahwa ia menyayangi Seung lebih dari apapun.
"Raja"
"Hm?"
"Umurku sudah 18 tahun"
"Ya aku tau"
"Tidak kah kau berniat memberiku satu seperti Seung?" Lengan yang masih mengalung itu mengendur bahkan terlepas. Jihwa beranjak dari tegak di belakang Jihwa dan berjongkok di depan gadis kecilnya. Gadis itu bahkan belum ia sentuh sedikitpun bagaimana ia bisa memberikan satu yang seperti Seung. Jihwa menggapai tangan Gyrda dan mengecupnya.
"Maaf, aku takut"
"Kau takut apa?"
"Aku takut kau akan bernasib sama dengan Seulgi. Cukup sekali aku kehilangan orang yang aku cintai"
"Percaya padaku aku kuat. Aku rindu tangisan seorang bayi. Aku ingin memberimu seorang anak. Aku lelah jika harus berkumpul dengan keluarga kerajaan lain dan selalu ditanya perihal seorang anak"
"Kita sudah punya Seung"
"Aku mau dari kandunganku"
"Aku takut aku takut"
"Beri aku kesempatan untuk menjadi seorang istri sepenuhnya. Ini perintah!"
"Mau buat sekarang?"
"Kau lihat ada anak kita di sana?"
"Ayo ke kamar" Jihwa menggendong tubuh gadis berumur 18 tahun itu untuk segera memproses kedatangan tangis dan gelak tawa setelah 8 tahun menghilang. Sekarang bayi kecil Seung akan digantikan dengan bayi kecil yang akan segera lahir. Biarkan Seung berada di alamnya sendiri untuk bermain lumpur ke sana ke mari asal jangan mengganggu kedua orang tuanya. Hahaha.