Aku parasit di keluarga ini?
Ada yang bilang kalau hujan adalah rahmat dari Tuhan, ada juga yang bilang kalau hujan pembawa sial, dan ada pula yang menganggapnya tidak pernah ada. Semua itu sama halnya denganku, kata ibu aku tidak boleh bermimpi untuk dianggap dikeluarga ini, bukan hanya ibu tapi ayah, ka andri, bahkan hampir semua dari mereka tidak suka aku, namun tidak semuanya jahat masih ada bi onah pembantu dirumah ini, bi onah baik dia sering mengobati lukaku saat aku dipukul oleh ibu dan ayah, kadang mereka menggunakan rotan kadang juga menggunakan tongkat besi kata mereka itu semua mereka lakukan semata mata untuk melatih mentalku mereka selalu bilang kalau dunia itu kejam itu sebabnya aku harus terbiasa dan aku hanya bisa diam menerima segala perlakuan mereka, dan selanjutnya ada juga pak adi satpam komplek, pak adi suka memberiku permen manis karena aku anak yang baik aku suka jadi anak baik, lalu ada mba wulan pemilik warung, mba wulan baik ia mengajariku cara menghitung uang kembalian, aku bersyukur karena dikelilingi oleh orang – orang baik seperti mereka. Namun itu adalah kenangan masa kecilku kenangan yang tentu saja tidak akan kulupakan sampai kapan pun. Hai namaku Namira panggilan masa kecilku adalah Ami. Ami bingung kenapa dulu orang – orang dirumah ini tidak ada yang menyukai Ami? Namun sekarang aku sudah dewasa aku ingin menceritakan sedikit kisahku.
“jadi inget dulu sakitnya kayak apa”
Namira tertawa pelan sambil menatap langit
14 tahun sebelumnya
Saat itu umurku genap 8 tahun pada tanggal 17 juni Ami ingin seperti anak lain yang dirayakan ulang tahunnya bersama keluarga tapi naasnya itu Cuma khayalan Ami saja. Dulu Ami ingin sekali belajar membaca entah mengapa hanya aku dikeluarga ini yang tidak mendapat pendidikan, hanya ka andri saja yang mendapatkanya. Ami iri, Ami juga mau seperti ka andri yang belajar dan menjadi pintar agar ibu dan ayah bangga dan memujiku seperti ka andri. aku pernah mencoba belajar membaca bersama bi onah di dapur belakang, dan saat itu ayah tiba tiba datang dan melihatku mukanya menunjukan kejengkelan padaku dia jelas tidak menyukai aku lalu ayah bilang
“percuma belajar anak bodoh! ya bakal tetep bodoh!”
“Lagian cewe buat apa sekolah kalau ujung ujungnya bakal di dapur juga, dasar bodoh!”
Setelah itu ayah pergi entah kemana, aku ingat setiap kata yang dilontarkan ayah
Dulu Ami Cuma bisa ketakutan karna Ami ngga suka nada bicara ayah, nada ayah seperti pisau yang menusuk hati entah kenapa rasanya sakit.
Apa seorang wanita yang belajar agar pintar adalah suatu kesalahan besar?
Saat mengepel rumah bersama bi onah Ami ngga sengaja liat siaran televisi dimana di sana memperlihatkan seorang wanita cantik dengan tutur kata yang baik dan senyuman yang ramah, wanita itu begitu menarik perhatian Ami tanpa ku sadari saat itu bi onah menyadari kalau aku menyukainya.
“Ami suka pramugari ya?”
Tentu saja aku mengangguk cepat karna aku menyukainya
“pramugari itu apa bi?”
“pramugari itu pekerjaan non, kerjanya di pesawat melayani penumpang”
“oh gitu toh bi, Ami bisa ngga ya jadi pramugari?”
“kalau udah besar bisa non yang penting Ami belajar yang rajin”
Sejak saat itu aku mempunyai tujuan, tujuan yang disebut cita-cita walau dengan rintangan yang sulit dan dengan sedikit rasa ketakutan. Kalian pasti paham apa maksud Ami, tentu saja Ami takut dengan ayah dan ibu karna biasanya mereka tidak mengizinkan aku melakukan hal hal yang tidak berguna.
Dulu Ami mulai belajar diam diam, Ami belajar ke mba wulan saat ibu dan ayah kerja dan mas andri sekolah Ami ke warung mba wulan buat belajar membaca, menulis , dan belajar bahasa inggris namun terkadang aku ketahuan belajar oleh ayah kadang ayah menarik tanganku untuk pulang kerumah sambil marah marah lalu hukumannya adalah dikurung dikamar 2 atau 3 hari tanpa makan. Aku ingin menyerah namun entah kenapa tekad ku berkata lain ‘Ami mau jadi pramugari, Ami ngga boleh nyerah ini Cuma sebentar kok’. Walau kejadian ini terulang terus Ami tetap pergi ke warungnya mba wulan untuk belajar lagi, Ami tidak takut karna Ami punya tujuan dan tujuan itu tujuan yang baik bukan jahat.
14 tahun setelahnya
Aku datang ke tempat mba wulan, dan entah kenapa mba wulan terlihat sangat senang dia cepat cepat menghampiriku.
“mba nemu lowongan pramugari buat kamu Ami”
Ntah harus senang atau sedih aku bingung harus apa saat itu di satu sisi Ami ingin mencapai tujuan Ami namun disisi lain Ami takut untuk minta izin ke ayah dan ibu dan juga Ami memiliki banyak kekurangan.
“mba wulan yakin Ami bisa lolos? Lagi pula Ami ngga punya ijazah”
Jujur saja aku saat itu memang tidak berpendidikan walaupun aku bisa membaca menulis dan berhitung ataupun berbicara bahasa inggris dengan lancar.
“dicoba dulu Ami, pasti bisa kok banyak-banyak berdoa nanti pasti didengar Tuhan kok”
Dengan berbekal doa dan dorongan oleh orang-orang terdekat yang meyakinkan ku untuk mengikutis tes ini aku benar benar tidak menyangka kalau aku memiliki banyak orang yang menyayangiku ‘memang terkadang orang yang sangat dekat bahkan sudah seperti keluarga dengan kita bukan berasal dari keluarga sedarah’.
Dulu Ami ingat kalau Ami diantar oleh mobil pa adi dengan mba wulan yang mengantar ku dan juga bi onah yang sudah seperti ibu kedua untukku, kemana ayah dan ibuku? Tentu saja aku mengikuti tes ini secara diam diam saat itu aku meminta izin kalau aku ingin ikut bi onah pulang kampung dan mereka hanya bilang “ya udah pergi aja lagian saya juga eneg liat muka kamu, ngga guna nyusahin aja kerjaanya dirumah” itu kata ibu yah aku tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang baik sih, pokoknya saat aku di dalam ruangan itu, diruangan yang menentukan nasibku aku hanya memikirkan orang-orang yang ku sayangi yang sudah mendukungku sampai sejauh ini aku hanya berfikir kalau aku tidak boleh mengecewakan mereka dan sesuai nasihat bi onah aku selalu berdoa saat didalam ruangan itu dan aku menjawab seluruh pertanyaan yang dilontarkan mereka kepadaku, aku juga mengikuti semua tes yang mereka berikan padaku, dan entah bagaimana caranya itu seperti berlangsung begitu cepat mereka hanya menganggukan kepalanya lalu menyuruhku keluar dan menunggu hasilnya nanti sore. Aku keluar dengan tubuh panas dingin, bohong kalau aku tidak gugup sama sekali aku keluar dan langsung berhambur ke pelukan bi onah pelukan yang sangat hangat dan nyaman yang dapat membuatku tenang lalu aku duduk dan menggenggam tangan mba wulan dan bi onah aku menatap pa adi yang mengelus rambutku pa adi menganggukan kepalanya seolah olah berkata ‘pasti lolos kok’ sekarang ketakutan terbesar berada di hadapanku.
Hingga tiba saatnya pengumuman entah kenapa aku takut, takut kalau aku benar benar gagal, lalu mereka mulai menyebutkan nama-nama peserta yang lolos dan siap untuk dipekerjakan entah kenapa perasaanku semakin resah namaku tidak sama sekali disebutkan hingga....
“Namira ayunindia sebagai lolos sebagai peserta terbaik diantara peserta lainnya”
Semua keluarga ku teriak mereka memelukku erat entah kenapa saat itu air mata yang kutahan selama hampir 14 tahun tanpa kusadari keluar mengalir dengan hebatnya aku membalas pelukan keluargaku, atau bisa ku sebut dengan keluarga terbaik yang aku punya. AKU BERHASIL!!!!.
Penulis A
2 july 2018