Sebuah desa yang letaknya jauh dari kota dan menjadi satu-satunya desa yang tertinggal. Desa yang masih menggenggam kuat kepercayaan mereka terhadap sesuatu yang mistis. Tradisi yang telah lama ditinggalkan masih begitu kuat di desa ini. Cerita mistis yang disampaikan dari mulut ke mulut penduduk. Jauh dari tempat penduduk desa, terletak di tengah-tengah hutan. Sebuah rumah Joglo dan pendopo yang dikeramatkan. Ada banyak sesajen yang sengaja diletakkan. Adalah salah satu bukti dari banyaknya cerita yang tersampaikan melalui penduduk desa. Tempat balai desa diujung jalan hanya bisa dipergunakan tak sampai dari sembilan orang. Jalan setapak menuju balai desa. Desas-desus yang beredar di dalam desa, pohon beringin yang tumbuh besar serta rimbun di pekarangan balai desa merupakan tempat tinggal bagi leluhur penjaga balai desa.
Tepat di bawah rimbunnya dedaunan, sesajen diletakkan. Setiap malam ketiga kepala balai desa harus memberikan sesajennya. Di percaya jika sajen yang diminta oleh leluhur tidak sesuai atau terlambat memberikan, akan ada bencana besar yang akan meluruh lantakkan penduduk desa. Dan lagi aturan yang berlaku di balai desa, setiap penduduk yang ke sana harus berjumlah ganjil dan jumlahnya tidak boleh lebih dari sembilan orang. Para penduduk percaya leluhur-leluhur mereka tinggal di setiap pohon besar yang rimbun. Dan mereka percaya bahwa desa mereka akan baik-baik saja serta aman karena para leluhur yang menjaga desa ini. Mereka menolak balak, kutukan, maupun ilmu hitam yang dikirim dari desa lain. Para penduduk desa harus mempercayai akan hal itu sehingga di manapun pohon yang tumbuh besar, rimbun akan diberikan sajen. Ini adalah bentuk rasa hormat serta terima kasih penduduk karena telah menjaga desa mereka dari bentuk mara bahaya yang datang.
Ada aturan yang ditetapkan di desa ini. Setiap malam Jumat dan malam satu suro larangan sekaligus menjadi pantangan bagi penduduk desa untuk keluar dari rumah mereka ketika menjelang malam, tepatnya waktu magrib. Cerita sekaligus aturan yang mestinya tidak lagi asing di telinga penduduk desa. Menurut cerita mulut ke mulut tidak ada seorangpun yang tahu sejak kapan aturan itu ditetapkan. Karena saat mereka lahir aturan itu sudah ada bahkan sudah dijalankan. Tidak seorangpun dari penduduk desa yang tahu siapa yang membuat aturan itu. Yang mereka dengar hanyalah aturan itu ada dan dibuat oleh leluhur terdahulu. Tidak ada pembenaran maupun pembuktian yang menyangkal. Para penduduk desa percaya jika suatu aturan maupun cerita itu benar adanya apabila di dalam serta asal muasal ketetapan itu adalah leluhur. Mereka tidak dapat menyangkalnya sebab mereka percaya sangkalan itu akan membawa malapetaka bagi desa nantinya.
“Tak lelo…lelo…lelo ledung…cep menenga, aja pijer nangis. Anakku sing bagus rupane.”
“Yen nangis ndak ilang baguse. Tak gadhang bisa urip mulya.”
“Dadiyo pria utama. Ngluhurke asmane wong tuwo.”
“Dadiyo pendekaring bangsa….”
“Wis cep menenga…anakku…. Kae...mbulane ndadari.”
“Kaya buta nggegilani. Lagi nggolekki cah nangis...”
“Tak lelo, lelo, lelo ledung...wes cep menengo ngger, anakku.”
“Tak emban slendang Batik Kawung. Yen nangis mundak ibu bingung.”
“Bune, anak e bune wes magrib ndhang diajak mplebu!”
“Iya pak.” gegas wanita itu mengendong anaknya masuk ke rumah.
“Eling bune ojo kelalen.”
“Iya pak, Ibu ora kelalen.” laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepala mengambil singkong rebus di atas meja, memasukkannya ke mulut. Sesekali ia menyeruput kopi yang masih panas. Tak lama kemudian ia masuk ke dalam rumah membawa kopi dan sepiring singkong yang tinggal tiga.
Desa itu kini tampak sepi. Ini malam Jumat, pantangan bagi penduduk desa untuk keluar. Semua penduduk desa berdiam diri di dalam rumah. Hari mulai menandakan akan datangnya malam. Desa terpencil yang masih begitu kuat memegang kepercayaan mereka. Ini akan menjadi malam yang sunyi di desa. Seorang anak laki-laki yang berada di rumah, ia mengintip ke luar yang terlihat sepi dari cela papan yang berlubang. Hanya gelap dan sunyi yang ia temukan. Ia berbalik ke arah bapaknya yang sedang duduk dengan lintingan tembakau di tangannya. Anak laki-laki itu mendongak melihat bapak yang asyik dengan asap tembakau, ia bertanya, “Pak kok di luar sepi?” laki-laki yang telah berumur lanjut itu menghembuskan napas membuat kepulan asap-asap berhamburan keluar dari hidung dan mulutnya, “Lhakan podo turu.” ucap bapaknya kembali menghisap lintingan tembakau yang masih diapit dengan kedua jemarinya. Anak laki-laki itu hanya mangut-mangut mendengar jawaban sang bapak.
“Pak....pakne...!” panggil wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh menghampiri suaminya yang berada di ruang tengah. Melihat istrinya buru-buru menghampiri dirinya, ia menoleh bersama dengan anak laki-laki yang masih berdiri di sampingnya, “Ono opo to Bu? Alon-alon wae iki wes wengi ora penak karo tangga teparo!” ucapnya menasihati istrinya yang sudah berada tepat di sampingnya.
“Iki lho pak, ibu nerima surat seko adike sampean.” terangnya menunjukkan surat di tangannya. Bapak hanya menanggapi istrinya dengan santai sambil sesekali menghisap lintingannya, “Lha terus aku kon piye, Bune?” balas bapak mengepulkan asap.
“Lho...lho...pak, sampean ki kepiye to? Adike sampean iku urip neng kota. Jare anake lanang karo wedok arep dititipke rene!” ujar wanita itu greget melihat bapak yang hanya santai-santai menanggapinya.
“Yowes.” ucap bapak singkat.
“PAK!!”
“Ya Allah Gusti, Bune! Aku ijek neng ngarepmu. Lagian bapak kon nanggepi piye maneh toh tetep bakal mbok urus. Bapaki arep ngene salah ngono salah, yowes tak manut karepmu wae seng paling bener, Bune.” tungkas bapak serba bingung.
“Karepmu, Pak!” ucapnya berbalik meninggalkan bapak dan anaknya di ruang tengah.
“Lho piye to ki?!” ucap bapak bingung melihat istrinya yang malah marah.
“Deloken ibumu, Le! Wong wedok i ngono kui angel...angel...!” ucap bapak pada anak laki-lakinya.
“Lah bapak opo mboten angel?” timpal anak laki-laki itu mempertanyakan balik apa yang disampaikan bapaknya.
“Lho kui bedano. Bapaki lanang dadi digawe gampang, gelem yo ngono ora gelem ah yowes. Ora usah bingung-bingung.” anak laki-laki itu kembali mangut-mangut mendengar jawaban bapaknya.
“Adike dijaga, Nang. Ibu ben masak.” pinta bapak dibalas anggukan anak laki-lakinya yang kemudian setengah berlari menghampiri adiknya di kamar.
Adzan magrib selesai berkumandang, suasana penduduk desa mulai sepi. Bapak yang berada di ruang tengah beranjak pergi ke kamar menemani kedua putranya Genta dan Adjie. Lampu-lampu teras dan jalan sengaja dimatikan. Hanya lampu dalam rumah yang terlihat remang-remang melalui cela papan. Semua aktivitas penduduk dihentikan sampai kalam illahi terdengar kembali. Suara jangkrik dan kodok mulai bersahut-sahutan dari balik semak. Sesekali satu dua kali sahutan burung hantu terdengar. Suasana malam yang sepi dan gelap membuat bulu kuduk penduduk merinding. Kesunyian malam mengundang tanya di kepala anak laki-laki bungsu bapak.
“Bapak sepi. Cemua olang pelgi yah, Pak?” tanya si bungsu yang belum lancar berbicara.
“Iya semua lagi pergi.” jawab bapak mantap dengan anggukan kepalanya.
“Ji mau ikut pelgi, ayo bapak endong Ji pelgi.” ucapnya kembali membuat bapak beranjak menggendongnya. Bapak membawanya berkeliling di dalam rumah, menepuk-nepuk punggung Adjie sembari menyanyikan lagu gending Jawa.
“Yen ing tawang ono lintang cah bagus... Aku ngenteni tekamu.”
“Marang mego ing angkoso. Sung takok-ke pawartamu, janji-janji aku eleng cah bagus.”
“Sumedot roso ing ati. Lintang-lintang’e wingi-wingi raka, tresnaku sundul ing ati...”
Tembang bapak beberapa saat kemudian menidurkan Adjie dalam gendongannya. Ia menunggu Adjie benar-benar terlelap agar ketika dibawa ke kamar ia tidak menangis. Anak bungsunya ini cukup cerdas. Dalam tidurnya saat berada di gendongan ia dapat merasakan ke mana arah jalan orang tuanya. Ia cukup cerdas menghafal jalan menuju kamar meski dalam keadaan terlelap sekalipun. Ketika malam hari kamar memang terasa panas. Dan lagi mereka tinggal di desa bukan kota jadi tidak ada yang namanya AC ataupun kipas angin. Jika ingin sedikit dingin setidaknya mereka menggunakan koran bapak yang sudah dibaca untuk dijadikan kipas manual atau mungkin mereka bisa keluar rumah sebentar mendapatkan sedikit hawa sejuk malam hari, namun ini adalah malam Jumat. Pantangan bagi mereka untuk membuka pintu rumah meski sekadar berdiri di teras ataupun berdiri di depan pintu.
Sahutan hewan malam mulai memenuhi sepi desa. Barangkali ada yang terlewat namun diabaikan. Barangkali mendengar tapi pura-pura tutup telinga agar seperti orang tuli atau mungkin barangkali melihat namun tidak berani menatap. Jangkahnya seperti bom waktu yang siap meledak. Jantung-jantung berdetak lebih cepat saat mendengar penanda nyaring. Debaran yang begitu menguji nyali penduduk. Mulut beku sesaat terasa kelu. Mata terus was-was mengintai dari balik kelambu yang menutupi. Tapaknya mungkin tidak akan berbekas, tapi suara tapaknya akan terngiang sampai hari tua di desa. Siapa yang ada di balik renda tua dengan ukiran kuno itu? Rupanya tidak ada yang tahu. Dari kabar burung yang terdengar tatapan matanya mengundang maut pada kematian seseorang. Namun selama ini tidak pernah terdengar kabar jika telah menelan korban. Mungkin penduduk desa saking takutnya hingga harus bermain petak umpet di malam hari. Penduduk desa bersembunyi sementara ia akan mencari dengan tunggangannya. Waktunya hanya sebentar dari menjelang temaram sampai kembali terdengar kalam illahi yang dilantunkan. Siapa tahu itu waktu yang singkat untuknya berkeliling dan siapa tahu itu adalah waktu yang panjang untuk penduduk desa yang bertahan dalam persembunyiannya.
Konon dari cerita yang sampai ke telinga penduduk desa, ia berasal dari kerajaan kuno yang masih berdiri megah di ujung sana. Entah yang dimaksud adalah ujung mana. Desas-desus yang beredar penunggang itu merupakan penguasa alam gaib. Menurut cerita leluhur, ia adalah gadis cantik di masa kerajaan keluarganya memerintah. Ia menjadi incaran seluruh kerajaan karena suatu ramalan. Ramalan itu mengatakan akan ada kejayaan dan keberuntungan bagi kerajaan itu jika ia menikahi putri dari kerajaan kuno dan tertua. Sedangkan di masa itu kerajaan yang dimaksud dalam ramalan hanya ada dua kemungkinan. Satu merupakan kerajaan yang berdiri lebih awal dari kerajaan-kerajaan yang ada. Kerajaan itu hanya memiliki enam keturunan dan keenamnya merupakan seorang pangeran. Tidak mungkin ada seorang putri di dalamnya.
Dan satu kerajaan kuno berdiri selang beberapa tahun. Kerajaan kuno dengan ukiran-ukiran yang menjadikan kerajaan itu unik dan terlihat berbeda dari kebanyakan kerajaan termasuk kerajaan dengan enam pangeran. Kerajaan dengan empat keturunan. Tiga di antaranya adalah seorang pangeran dan satu putri. Seluruh kerajaan pada masa itu menargetkan kerajaan kuno sebagai pemilik berlian. Para raja maupun pangeran berlomba-lomba untuk melamar putri kerajaan. Hingga terjadi pertumpahan darah antar kerajaan. Demi memiliki berlian itu kerajaan-kerajaan yang bersahabat saling membabat satu sama lain. Sampai suatu ketika muncul seorang putri dalam kerajaan itu. Raja dan pangeran berhenti berperang. Putri yang terlihat berbeda dengan sebelumnya. Seluruh raja dan pangeran mempertanyakan putri itu. Apa yang terjadi? Putri sebelumnya tampak cantik tidak terlalu buruk untuk disandingkan dengan pangeran maupun raja. Dia juga memiliki tata krama yang baik. Lantas siapa putri yang muncul tiba-tiba dalam istana? Ia terlihat cantik. Wajahnya putih, tubuhnya yang ramping berbalut dengan pakaian kerajaan. Pembawaan seorang putri yang berwibawa. Bulu mata yang lentik menyapu seluruh mata. Setelah beberapa hari dibumbui rasa penasaran raja dan para pangeran. Akhirnya kerajaan itu mengumumkan putri bungsu yakni putri kelima sebagai putri yang disembunyikan oleh raja sendiri. Mendengar hal itu beberapa kerajaan sempat memperdebatkannya. Lantas siapa putri dalam ramalan itu. Kerajaan itu benar-benar memberikan sesuatu yang tidak terduga. Raja sepertinya telah dulu mendengar ramalan itu.
Putri bungsu raja akhirnya mendirikan kerajaannya sendiri tanpa ada yang tahu alasannya. Ia mendirikan kerajaan dengan ilmu yang dipelajarinya dari empu penasihat kerajaan dan seorang kakek tua yang katanya ia tinggal di tengah hutan. Masyarakat kala itu menyebutnya sebagai kerajaan gaib karena tidak semua orang bisa melihat letak kerajaan itu bahkan sekalipun itu raja dan pangeran. Dari kisah sampai kisah kerajaan itu hanya ada satu arah yang menunjukkan letaknya bukan tepat keberadaan kerajaan itu. Di ujung. Itu merupakan cerita dari leluhur yang kemudian diturunkan ke anak cucunya. Hingga menjadi desas-desus cerita di desa ini.
Krincing...krincing...
Suara lonceng samar terdengar dari balik bukit desa. Suaranya kian makin jelas menandakan jika ia semakin dekat dengan desa. Suara yang semakin dekat terdengar tapak kaki kuda berjalan. Sesekali suara kuda itu terdengar mengerikan. Di balik renda itu seorang putri penguasa kerajaan gaib singgah. Ia menggunakan sepasang kuda putih untuk menariknya. Sepasang kuda yang memiliki mata hitam pekat. Memang mirip dengan kuda siluman. Roda yang menggelinding seiring kuda itu menariknya.
Krincing.... krincing....
Suara lonceng yang berbunyi ketika mendapat jalan yang tidak rata. Suara jangkrik dan kodok mendominasi malam dengan suara sepasang kuda yang tengah melintas di desa. Kunang-kunang mulai menampakkan diri ketika kereta itu melintas di depan mereka. Mereka yang berjumlah tidak sedikit terlihat begitu indah dengan warna lampu di tubuhnya, namun itu terkesan menyeramkan sebab suara kuda yang terus mendominasi di tengah malam. Andai mereka para penduduk desa tahu kereta yang dinaiki adalah kereta dengan ukiran kuno yang begitu indah. Tapi belum lagi melihat penampakan kereta itu, penduduk desa sudah dirangkul rasa takut. Bagi mereka melihat kereta yang melintas itu merupakan malapetaka. Kereta itu sempat berhenti tepat di depan rumah bapak. Ia mendengar tangisan seorang anak. Bapak segera menyadari bahwa kereta itu tengah berhenti tepat di depan rumah mereka. Segera bapak sebisa mungkin menenangkan tangisan Adjie yang merasa panas di dalam kamar. Bapak membawa Adjie keluar kamar agar tangisannya segera berhenti. Syukur tangisan Adjie berhenti tak lama setelah bapak membawanya keluar kamar. Ia masih menimang-nimang Adjie agar lekas terlelap kembali dan kereta yang berhenti di depan rumah mereka lekas pergi. Bapak merasa was-was ketika kereta itu tidak lekas pergi padahal tangis Adjie sudah berganti hening. Ia telah kembali terlelap dalam gendongan.
Dari balik renda putri itu tersenyum antara cantik atau mengerikan. Setelah itu kereta kembali berjalan meninggalkan pekarangan rumah bapak. Bapak tampak bernapas lega mendengar lonceng kereta itu semakin menjauh. Tiba-tiba Genta sudah berada di depan bapak membuatnya terkejut. Baru bernapas lega sudah dikagetkan dengan kehadiran Genta. Anak laki-laki itu mengucek matanya setengah masih mengantuk, “Pak, Genta krungu lonceng suarane krincing...krincing...” ucap Genta mempraktikkan suara lonceng yang kemudian bapak menyuruhnya untuk diam. Ia bergidik ngeri ketika Genta menirukan suara lonceng kereta itu. “Iku opo, Pak?” tanya Genta kembali membuat bapak mendelik menatapnya. Genta mau tidak mau sadar tidak sadar meminta bapak menyebut kereta itu. Bapak berjalan mendekati papan yang sedikit memiliki cela dan berlubang. Ia mengintip di baliknya memastikan kereta itu telah benar-benar pergi. Selang beberapa saat bapak kembali menghampiri Genta yang masih berdiri menunggu jawaban dari bapak. Bapak sedikit berjongkok menyamakan tingginya dengan Genta, “KERETA KENCANA!” bisik bapak lirih di telinga Genta. Semoga saja Genta tidak menanyakannya lebih jauh. Mewanti-wanti hal itu, bapak menyuruh Genta kembali tidur dan syukur Genta menurutinya. Ia kembali masuk kamar menyusul ibunya yang juga terlelap.
“Genta...” ucap putri yang sedari tadi mengamati anak itu. Ia tersenyum setelahnya bersamaan dengan sepasang kuda yang kembali berjalan meninggalkan desa itu.