Bermain-main denganku, akan aku
ukir tubuhmu agar tampak indah—Ali
***
Gadis lugu yang tidak tahu apa-apa itu telah melakukan kesalahan fatal, apakah kesalahan yang dia lakukan? Sampai-sampai dibilang sangat fatal. Namanya Prlly gadis yang memilik sifat ceria, dan keceriaan gadis tersebut dapat menularkan orang sekitarnya, namun kesialan apa yang dia lakukan sehingga menjadi sangsi pembunuhan sadis.
Membuat gadis itu hanya diam di tempat berdirinya, seperti sekarang gadis tersebut berdiri dengan kaku melihat adekan sadis di depan matanya.
Entah kesialan apa yang dia alami hari ini, dan mengapa dia harus melewati jalan sepi tampa penghuni tersebut, di terpa dengan hujan yang menitik dengan pelan ke bumi menambah kesan menyeramkan berkali-kali lipat. Suasana yang sangat mendukung tindakan kejahatan terjadi.
"Sial mimpi apa gue semalam, harus menjadi sangsi pembunuhan segala!" umpatnya dengan suara pelan, sangat-sangat pelan.
Kaki dan tubuhnya terasa kaku seketika tidak bisa digerakan dengan cepat.
Dengan kekuatan yang ada Prlly gadis itu mencoba untuk membalikan badan sebisa mungkin. Tetap saja hasilnya nihil, ini seperti yang dia alam sering di mimpi, kaki kaku dan tubuh mati rasa, hanya bisa mengerakkan bola mata, persisi sekali waktu ia dikerja pocong dalam mimpinya.
Srett!
Sayatan sekian kali yang disusul darah mencuat dari mangsanya, membuat pemuda yang menjadi pelaku semakin senang walau korbannya telah kehilangan nyawanya. Namun, hal tersebut tidak luput dari mata gadis yang bernama Prlly tersebut.
'Tuhan tolong aku,' batinnyaa menjerit histeris namun tidak satu katapun yang keluar dari bibir mungilnya.
Krek!
"Shit! dasar tikus kecil!" Makian yang menggemparkan keluar dari mulut pemuda yang tadi asik dia saksikan sedang menyayat-nyayat wanita yang entah Prlly tidak tahu masih hidup atau sudah mati.
Entah dari mana datangnya botol yang ia injak, susah-susah ada di sana saja. Padahal tadi tak ada rasanya.
Seketika tubuhnya melemas saat tidak tahu malunya kaki gadis tersebut menginjak botol minuman yang entah dari mana asalnya, dan disusul makian membuat dirinya seketika membalik, tanpa melihat ke belakang.
Prlly yang berhasil membalikan badannya berlari dengan kekuatan yang di milikinya.
Prlly gadis tersebut berlari dengan membabi buta tidak sedikitpun melihat ke arah belakang, dan dia berdoa pemuda tadi tidak mengejarnya, jangan sampai.
Cukup jauh Prlly berlari gadis itu berhenti dengan tubuh menunduk dan tangan menyentuh lutut mengumpulkan tenaganya sebanyak mungkin.
Prlly melihat kebelakang, ternyata pemuda tersebut tidak mengejarnya.
"Syukurlah, dia tidak mengejarku," ucapnya dengan lega masih dengan posisi menunduk ke bawah.
"Hay, mau lari kemana?" perkataan itu mirip cemoohan melihat gadis di depannya.
sapaan itu membuat tubuh gadis bernama Prlly tersebut membeku, inggin kembali berlari namun kalah cepat dengan pemuda tersebut telah memegang pergelangan tangannya sangat kuat.
Dengan terpaksa Prlly gadis itu membalikan tubuhnya untuk menatap dan meminta untuk dilepaskan.
"Aku mohon lepaskan aku, dan aku tidak akan mengadukan kamu ke polisi," permohonan berserta tawaran bukan membuat pemuda itu melepaskan, malah tersenyum, senyum yang menyerupai seringai.
Kalau bukan sedang dalam keadaan berbahaya dan pemuda ini bukan seorang pembunuh dengan senang hati Prlly akan mengajak pemuda tersebut untuk berteman.
Wajahnya yang bak dewa mampu menghipnotis Prlly dan tubuhnya yang kekar namun atletis mirip majalah remaja yang prlly baca, bisa lah Prlly jadikan pemuda tersebut bahan halu nanti malam.
Dan, lagi-lagi kenyataan menampar kuat, pemuda tersebut bukan seorang malaikat melainkan psikopat gila yang haus darah. Langsung menyadarkan Prlly untuk was pada bukan mengaguminya.
"Silakan! Kalau saat itu kau masih bisa bernapas," ucap pemuda tersebut dengan gaya yang mengejek.
"Aku mohon! Aku mohon, lepaskan aku!" permohonan yang kedua kali keluar dari bibir mungil prlly tidak membuat pemuda tersebut kasihan sedikitpun.
Pemuda itu malah menyisirkan rambut Prlly dan melihat gadis itu dari atas sampai bawah, memerhatikan penampilan gadis di depannya yang hendak menangis. Dari mana Ali mengetahuinya? Terlihat dari mata gadis yang telah memerah menahan marah. Iya, pemuda tersebut bernama Ali.
"Kau mengganggu kesenangan ku, dan aku paling benci hal itu. Sebagai gantinya—" Ali menjedah sebentar ucapannya sambil menyisir kan rambut gadis di depannya dengan gaya yang lembut namun bisa di bilang romantis.
"Kau harus menjadi pengganti wanita bodoh itu!" sambung pemuda tersebut sambil menjilat pisau yang entah dia keluarkan dari mana, mengingat wanita yang tadi menjadi mainannya tidak cukup membuat puas dan Ali menginginkan hal lebih. Dan, gadis tersebut datang di waktu yang tepat.
"Aku mohon! Aku mohon Tuan Ali!" ucapnya yang seketika membuat Ali mengalikan matanya dari benda tajam di tangannya menatap gadis di depannya. Ali menaik turunkan Alisnya.
"Kau tahu namaku?" tanya dengan wajah yang berminat dengan gadis di depannya. Prlly menganguk dengan cepat.
"Baiklah, aku akan mengampuni dengan satu syarat. Mau tidak mau kau harus menurutinya atau nyawamu sebagai gantinya!" ucapnya dengan nada mengancam.
"Baik, apa prasyaratnya?"
Syer!
Pemuda yang bernama Ali tersebut melemparkan sesuatu tepat di hadapan Prlly.
"Ambil itu, dan datang ke alamat yang ada di sana. Jangan coba-coba kabur!" setelah mengucapkan hal tersebut pemuda tersebut melangkah pergi.
Prlly yang tersadar setelah melihat pemuda tersebut hilang di kegelapan malam, mengambil dengan cepat sesuatu yang tadi dilemparkan. Lalu berlari dengan cepat untuk pulang. Tidak membutuhkan waktu laman prlly sampai di rumahnya.
Dengan cepat Prlly membereskan pakainya, dia harus pergi sejauh mungkin dari pemuda yang tadi dia temui kalau mau hidupnya berlangsung.
'Aku harus pergi sejauh mungkin, dari pemuda psikopat gila tersebut,' batinnya merasa masih resah, mengemaskan semua pakainya yang akan dia bawah.
'Gadis sialan! Sudah ku kasih hati malah ini balasanmu,' umpatnya dalam hati menatap gadis yang sedang sibuk mengemaskan pakainya dari luar jendela.
Kesempatan yang dia beri telah dibuang sia-sia, mungkin saja kalau gadis itu menuruti Ali dia akan memberi sedikit hati untuk melepaskan kan, dan sekarang Ali tahu apa yang gadis itu pilih. Bukan salah ia lagi kan?
Memang KEPARAT kecil!
"Cih," decihnya dengan bibir yang berserigai.
Spesies seperti perlu dibasmi agar tak berkembang biak, tentu Ali sendiri yang akan membasmi hama tersebut sampai ke akarnya. Tak akan Ali tinggalkan barang sediki.
Dengan langkah yang sangat pelan Ali mulai menjauhi tempat itu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun, mobil hitam miliknya bergerak semakin menjauh, kacamata hitam dia pasangkan di sudut telinga.
Dua kelam akan segera menghampiri gadis itu, tunggu dan lihatlah bagaimana Ali akan membawanya ke dalam kehidupan seorang Alixender, tak ada cela kabur jika sudah memasuki sangkar emas seorang Ali.
Bersambung..