Simbok
25-03-2001
Suasana malam ini cukup sepi, tidak banyak orang berlalu lalang di jalanan.
"Den simbok pulang ya, aden berani kan di rumah" mbok wati yang biasa membantu membersihkan rumah Ardi berpamitan.
"Berani mbok, simbok mau Ardi anter?"
"Nggak usah den, mending aden istirahat aja, tidur, nggak usah kemana-mana" pesan mbok wati.
"Iya mbok, hati-hati di jalan ya" mbok wati hanya mengangguk dan keluar dari gerbang rumah Ardi.
Setelah di rasa mbok wati mulai menjauh dari kawasan komplek nya, Ardi baru menutup gerbang rumahnya.
Hari ini bapak dan ibu nya lembur karna pekerjaan mereka belum selesai, jadilah Ardi sendiri di rumah.
Tapi tak apa pikirnya, lagipula ia tinggal di daerah ramai, jadi ia pikir tidak perlu mencemaskan sesuatu.
Cklekkk...
Suara pintu terbuka memasuki pendengarannya, namun dengan beraninya ia menuju arah suara.
Ingatkan Ardi bahwa di rumah ia sedang sendiri.
"Angin mungkin ya? simbok lupa ngunci pintu pasti" gumamnya dengan enteng.
Namun baru saja ia ingin menutup pintu dapur yang terbuka suara gemercik air dari kamar mandi dapur mengagetkannya.
"Itu air kenapa lagi, bocor deh kayaknya" dengan langkah kesal ia menuju kamar mandi, berniat memeriksa.
Namun, pintu kamar mandi itu terkunci.
Tok..tok..tokk....
Ckelk..cklekk..
Tetap nihil, pintu nya tidak bisa terbuka.
Pikiran negatif mulai memenuhi kepala Ardi saat ini, siapa yg ada di dalam kamar mandi?
Cukup lama ia berdiri mematung di tempatnya sekarang, namun semilir angin dingin yang melewatinya mampu membuatnya terkejut dan langsung keluar dari ruangan dapur.
"Sial, ke rumah mbok wati aja apa gimana ini" pikirnya berkecamuk.
Namun bila di pikir-pikir dengan jalanan sepi dan di selimuti hawa dingin itu ia tak mungkin pergi sendiri.
"Coba telephone bapak"
Tutttt
"Haduh nggak di angkat lagi"
"Ibu deh coba"
Tuttttt
"Arkhhhh sama aja"
Dengan gusar ia hanya berjalan kesana kemari di ruang keluarga, saking sepinya bahkan ia sampai terkejut saat jam di rumahnya berbunyi.
00.00
Sudah tengah malam rupanya.
Dengan pasrah ia duduk di sofa dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal, samar-samar suara ramai terdengar.
"Siapa?" Batinnya bertanya
Suara itu semakin mendekat dan kencang, seperti anak-anak yang bermain dengan riang, tapi ini sudah tengah malam, mana ada anak-anak yang masih di ijinkan bermain di luar.
Dengan suara yang masih samar terdengar bau busuk dan harum yang menyengat perlahan menembus bantal yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
Dengan keringat dingin dan rasa mual yang sudah tak tertahankan pertahanan Ardi goyah, ada apa dengan malam ini? Pikirnya.
Namun tak lama suara pintu terbuka dengan kencang kembali memasuki pendengarannya.
"Siapa lagiii" batinnya menjerit.
Perlahan suara langkah kaki terdengar kian mendekat, seluruh tubuhnya sudah gemetar ketakutan.
"Den"
"Aden"
"Den ini simbok"
Suara itu membuat batin Ardi lega, ia membuka bantalnya dan di sambut wajah datar sang simbok.
"Sim.." belum sempat Ardi berucap mbok wati sudah pergi menuju dapur, tepatnya kamar mandi.
Pintu nya terbuka?
"Simbok lupa matikan air tadi" ucap mbok wati setelah mematikan air yg masih menyala tadi.
Meski sempat terkejut Ardi tetap menjawab "Nggak papa mbok"
"Aden tidur saja sudah malam"
"Tapi mbok"
"Tidur den" kalimat bernada dingin itu mampu membuat Ardi merinding.
"I..iya Ardi tidur"
Mbok wati membuka pintu kamar Ardi dan menyuruh pemuda itu untuk segera masuk dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Masuk den, cepat tidur"
Ardi hanya menurut dan langsung membungkus dirinya dengan selimut, paling tidak ia sudah berada di kamarnya sekarang.
Cklekkk...
Dan karna dasarnya Ardi sedang ketakutan ia berusaha untuk cepat masuk ke alam mimpi meski suara-suara tawa itu masih terdengar.
07:30
"Den ya ampun, aden bangunn sudah siang" dengan usaha penuh mbok wati menguncang tubuh pemuda yang masih bergelung dengan selimutnya itu.
"Si aden sudah siang ini, bapak sama ibu bisa marah kalau aden belum bangun"
"10 menit lagi mbok"
"Bangun atuh den"
"Iya iya mbokk Ardi bangun" dengan mata sembab nya Ardi duduk.
"Maaf ya den, simbok kemarin ngga bisa temenin aden di rumah, tapi jam 10 malem harusnya kan aden sudah tidur jadi simbok berani ninggalin aden, tadi malem aman kan den?"