#Creepypasta #Psikopat
Perkenalkan aku Kirana, Kirana Ambara seorang gadis belia berusia 14 tahun. Aku tinggal berdua dengan mamaku di kontrakan kumuh yang sangat menjijikan. Tidak adalagi fasilitas yang biasanya ku dapatkan. Tak adalagi kehedonisan dalam menghamburkan uang, untuk makan sehari-hari saja kami kesusahan.
Siang ini aku menatap meja makan yang hanya ada telur ceplok dan nasi putih sebagai hidangan. Aku mendesah, lagi-lagi makanan seperti ini. Mana aku selera. Aku menatap makanan itu dengan muak, ingin ku lemparkan ke anjing tetangga yang sering menggonggong.
"Kenapa tidak dimakan hemm? katanya kamu lapar" tanya Mama setelah menghabiskan makanannya. Bisa-bisanya mama makan makanan rakyat jelata macam itu. Aku sudah muak maaa! sudah cukup penderitaan ini!
"Maaaa aku mau rujak cingur yang lagi viral itu!" pintaku padanya, sudah sejak 1 minggu lalu aku ingin memakan makanan yang sedang viral itu. Satu porsinya senilai Rp60.000,- bisa untuk makan nasi padang 3 bungkus. Tapi apalah daya, sekarang uang jajanku saja Rp2000,- perharinya.
"Ga bisa sayanggg... uang kita udah habis. Mama dari kemarin juga belom digaji sama Bu Retna" jawab mamaku, ah sial ini gara-gara papa meninggalkan banyak hutang jadi sekarang aku hidup bak gelandangan.
Sudah setahun lamanya sejak kepergian papa aku dan mama hidup dengan penuh sengsara. Papa pergi setelah terkena serangan jantung akibat perusahaannya yang kolaps. Dia bangkrut, benar-benar bangkrut dan meninggalkan banyak hutang. Sehingga mau tidak mau seluruh aset milik Kami disita rentenir juga bank penyedia modal.
"Aku ga mau tau maa! pokoknya besok harus ada rujak cingur di meja ini!" ucapku dengan lantang lalu masuk ke dalam kamarku yang sangat sempit. Arghh kenapa juga mama harus bekerja sebagai buruh cuci? Bukankah dia dulu lulusan dari universitas terbaik di Kota ini? Arghh masa bodolah, aku ingin segera mentas dari kehidupan rakyat jelata ini... dan satu hal lagi, aku akan mogok makan jika besok mama tidak menyediakan rujak cingur itu.
👅
Keesokan harinya tetap saja yang kudapati di meja makan hanya nasi putih dan semangkuk mie kuah di sana. Sepertinya aku harus menahan rasa laparku, sampai mama benar-benar menyediakan rujak cingur itu sebagai hidangan makanan di meja kecil ini. Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya mama harus menghidangkan makanan itu di hadapanku.
"Rannn apa kamu benar-benar tidak ingin makan?" tanya mama sudah jelas bukan jawabanku bagaimana? aku menggeleng dengan tegas lalu melenggang pergi masuk ke dalam kamar kembali. Sepertinya mama juga sudah putus asa untuk membujuk ku, sudahlah aku bisa bertahan untuk tidak makan selama beberapa hari ini.
Ternyata mogok makanku berjalan sampai 2 hari kedepan, dan sekarang sudah hari ketiga aku mendapati kembali makanan yang tidak menggugah selera terhidang di meja makan. Hanya tumis kangkung dan dua potong tempe goreng yang dihidangkan mama. Lagi-lagi aku kembali mendesah. Haruskah aku memakan ini? Perutku sungguh meronta-ronta minta diisi sesuap nasi. Namun, ego tetaplah ego aku menutup tudung saji lalu kembali ke kamar merenung di sana sembari memegangi perutku yang terasa melilit.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunanku. Pastilah mama yang mengetuk pintu, siapa lagi kalau bukan dia? Benar saja setelah aku buka pintu itu ku dapati mama yang berdiri di ambang pintu.
"Apa kamu benar-benar tidak akan makan sebelum makan rujak cingur?" Tanya mama lantas ku anggukan kepala sebagai jawaban. "Baiklah nanti malam mama akan bawakan makanan itu!" Ucap mama lalu pergi meninggalkan ku sendirian di dalam rumah.
Malam harinya aku sudah duduk manis di kursi meja makan, aroma makanan tercium menguar dari balik tudung saji. Aku menunggu kehadiran mama di meja makan. Tak sabar mencicipi makanan yang sedang viral itu. Apakah rasanya benar-benar enak seperti yang dikatakan para food vlogger Atau hanya bualan mereka saja. Tapi tak ada tanda-tanda keberadaan mama sejak tadi. Kubuka tudung saji dan melihat sebuah masakan berupa kangkung, mentimun, tahu, kacang panjang juga tauge yang telah tersiram bumbu kacang, dan dipinggir ku lihat seperti bagian daging di sana. Ah daripada menunggu mama yang tak kunjung kemari lebih baik aku makan terlebih dulu.
Aku menyendokkan makanan itu dan memasukkannya ke dalam mulut. "Hmmm nyummy" ucapku sembari mengunyah makanan itu. Aku menghabiskan makanan itu tanpa sisa. Perutku yang tadinya serasa mati rasa tiba-tiba terasa penuh, bahkan mulutku masih merasakan kenikmatan makanan itu. Mungkin karena kekenyangan aku merasa ngantuk. Aku segera masuk ke dalam kamar tanpa menggosok gigi, biarlah ini menjadi kenangan terindah selama menjalani hidup dalam kemelaratan ini.
"Baiklah ayok kita tidur teddy..." Ucapku pada boneka yang sedari dulu telah menemaniku dari masa kejayaan sampai keterpurukan.
Aku berada di dapur bersama mama sedang mempersiapkan makanan yang membuatku mogok makan kemarin. Tapi di sana hanya ada beberapa bahan saja. "Loh maaaa, cingur sapinya mana?" tanyaku karena tidak menemukan barang itu di meja dapur.
Mama menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Maaf... Mama ga bisa beli cingur sapinya" ucap mama lirih. Tiba-tiba saja aku maju ke arah mama, di tanganku sudah ada pisau tajam yang telah ku asah tadi. Ku todongkan pisau itu tepat di mulut mama. Anehnya mama pasrah lalu mengambil tanganku dan menuntunya untuk mengiris bagian bibirnya.
Mama meringis menahan sakit tentunya, darah segar mengalir deras dari bibir yang sudah koyak karena pisau itu. Dipelupuk matanya ku lihat air mata yang menganak ingin keluar dari sana.
Tapi mama terus mengarahkan pisau itu masuk ke dalam mulutnya. Sejurus kemudian darah juga ikut keluar dari lidah mama yang sudah terpotong dengan pisau yang ada di tanganku. Aku ingin mundur menjauh tapi aku serasa seperti dipaku, tidak bisa bergerak sedikitpun.
Potongan lidah itu jatuh ke lantai. Mama memungutnya dan memberikannya padaku. "P-ak-ai-la g-un-a-kan s-e-ba-ga-i c-in-gur u-nt-uk me-le-ng-ka-pi ru-jak-mu!" Perintah mama padaku, bagai kerbau yang dicocok hidungnya aku menuruti perintah mama yang tidak masuk akal itu. Aku mencuci lidah dan bagian bibir bawah mama. Setelah itu ku potong-potong dan Ku masukkan ke dalam panci yang berisi air mendidih.
Sementara ku lihat mama yang masih menangis dalam diam. Darah masih mengalir dari area mulutnya tapi apalah daya, aku benar-benar tidak bisa bergerak untuk mengikuti kemauanku sesungguhnya.
Setelah lidah dan bibir mama matang aku segera mengangkat dan meniriskannya. Lalu mencapurnya dengan sayur yang sudah ku bumbui dengan bumbu kacang. Aku mencoba makanan yang tersaji di depanku, enak juga. Aku melanjutkannya dan memakannya tanpa sisa.
Setelah makanan itu tandas dan masuk semua ke dalam perutku aku menyunggingkan senyum menyeringai. Tiba-tiba mama berjalan ke arah ku dan menodongkan pisau bekas memotong area mulutnya tadi. Tapi sebelum pisau itu menyentuh tubuhku aku sudah terbangun dari tidurku.
"Arkkkkkkk" teriakku menggema. "Apa-apaan ini? mimpi yang tidak bermutu sama sekali!" ucapku melengking. Tak sengaja aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 11:11 itu artinya belum genap 3 jam aku tidur. Lagipula ini tengah malam, kenapa mama belum juga menunjukkan batang hidungnya ya?
Tok, tok, tok... samar-samar aku mendengar suara pintu kamarku terketuk pelan, sangat pelan. Padahal suara di malam hari bukankah seharusnya lebih terdengar jelas? karena di malam hari suhu lebih dingin, jadi molekul udara makin rapat sehingga suara lebih mudah dihantarkan, selain itu, karena aktivitas yang menimbulkan suara lain berkurang maka pelayangan-pelayangan bunyi akan semakin kecil. Tapi kenapa suaranya terdengar begitu lirih nan kecil? Apakah karena ketukannya tanpa tenaga?
Aku segera beranjak dan membuka pintu kamarku. Tapi tak kudapati seorang pun di sana kecuali aku seorang diri. "Hmmm mungkin aku salah dengar" gumamku lalu kembali masuk. Tapi tunggu, kenapa jam dinding itu seperti berhenti. Bahkan detiknya tak bergerak sedikitpun. Tiba-tiba tubuhku meremang, hawa dingin seperti menusuk-nusuk kulit sampai masuk ke tulang. Padahal baju yang ku pakai cukup tebal. Bulu kuduku pun ikut berdiri, aku merasakan malam yang mencekam.
"Ma-maaaaaa?" panggilku dengan suara sedikit serak. Tapi tidak ada jawaban, kemana mama pergi? Maa aku takuttt...
Praaank, suara benda jatuh dari arah kamar mama membuyarkan lamunanku seketika. Dengan perasaan yang berkecamuk aku memberanikan diri untuk berjalan ke arah kamarnya.
Perlahan ku buka knop pintu itu. Ceklek, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Ku nyalakan lampu dan benar tidak ada seorang pun di sana, mungkin tadi aku juga salah dengar. Tapi kenapa hawa dingin kembali menusuk, ini malah lebih parah daripada hawa di depan kamarku.
Ku edarkan pandangku mencari apa ada kucing yang masuk ke dalam kamar mama. Tapi tidak ada, eh tunggu? Memang benar ada piring yang sudah terpecah berserakan di lantai.
"Huftttt" Aku mengambil nafas dalam-dalam. Lalu segera menuju pecahan piring itu. Betapa terkejutnya aku ketika mendapati seseorang yang tergeletak di lantai dengan lumuran darah di wajahnya. Darah itu terus keluar dari area mulutnya.
"Mamaaaaaa" pekikku tertahan, seketika aku jatuh terduduk lesu. Di lantai ku lihat ada tulisan dari darah "KEMBALIKAN MULUTKU!!!"
"Jadi? Jadiii rujak cingur yang ku makan tadi bukan cingur sapi? Melainkan rujak cingur mulut mama" aku menangis tersedu dengan malam yang semakin mencekam.