Hai nama aku Dara, usia 17 tahun masih duduk dikelas dua SMA. Hobby nyanyi, nulis dan gambar. Selain itu, aku sedang naksir sama satu cowok pendiam namanya Aliando. Aku ingin mencoba meluluhkan hatinya, membakar sedikit hatinya yang beku itu.
...
Seperti biasa aku bangun pukul lima pagi, setelah itu nyiapin sarapan pagi. Berhubung orang tua ku udah pergi, ya aku tinggal hanya dengan kakak ku, yang paling menyebalkan tapi baik si sama adeknya. Menu sarapan pagi ini aku hanya masak nasi goreng, kakak ku juga buru buru mau berangkat ke kantor.
"Kak, kapan si lu merried sepi tahu gue pulang ga ada temen.." Sahut Gue. Kakak gue keselek tiba tiba, dan kayak salting gitu dah. "Ngapain dah lh tanya gitu ke kakak? Suka suka kakak lah mau nikah kapan.. lagi pula kalo lu ga ada temen, main aja sono." Gerutu Rendra, kakak ku.
"Kak, ku pasti punya banyak crush kan? Gimana si, cara lebih dekat sama crush tuh?" Sahut Aku, berhubung aku jatuh cinta sama satu cowok paling pendiam dikelas ku namanya Aliando. "Eh ni anak, sekolah dulu yang bener.. cinta mulu yang dipikir." Kak Rendra. Aku pun memanyunkan bibirku, aku kesal karena mudah gitu kakak ku dapetin hati cewek. Pelit banget dah dia buat bagi resep cara lebih dekat sama crush tuh.
Setelah beberapa saat aku selesai sarapan, lima belas menit lagi aku telat berangkat sekolah. Karena itu, aku minta Kak Rendra untuk lebih cepat, aku tidak suka terlambat. Lebih baik terlambat mencintai lah dari pada terlambat masuk sekolah. "Buruan kak, terlambat ntar gua.." Sontak ku.
Tak selang lama, Kak Rendra keluar aku langsung diantar ke sekolah pakai mobil dia. Tak sampai sepuluh menit akhirnya aku sampai disekolah. Entah kebetulan atau emang waktu yang meng sengaja kan, aku bertemu dengan Aliando. Aku pun langsung masuk begitu saja, sampai lupa pamitan sama kakak ku.
"Ya bocah, gak pamitan.." Kekeh kakakku lalu pergi. Sementara aku, mengejar Aliando. "Aliando! Tunggu!" Panggil ku, akhirnya dia berhenti.
"Lu sibuk ngak hari ini?" Ujar ku.
"Ngak, kenapa emangnya?" Tanya dia.
"Mau temenin gua gak ke toko, gua mau beli baju." Pinta ku dengan harapan besar, Aliando ngak bakal nolak. "Lah, kenapa harus gua lu kan punya bestie tuh, Siska..Ama dia aja sono." Protes nya, dah aku duga dia akan berkomentar. "Ga ada alasan gua milih lu buat temenin gua,mau ya?" Pinta ku, ingin sekali kali ditemenin crush gitu.
"Ya udah lah, ayo masuk dah datang no Pak Guru." Ajaknya, lepas tuh aku dan Aliando buru buru masuk sebelum kena omelan dari Pak guru.
Mapel selanjutnya PJOK aku udah ganti baju. Sungguh ku tiada mood, karena olahraganya bola basket. Aku kalo udah bersangkutan dengan yang namanya 'bola' auto hilang mood ku. Tapi, tetap semangat karena satu tim sama Aliando.
...
Pritttt... Peluit berkumandang, langsung si Aliando melakukan dreebell, lalu ia langsung oper oper. Sementara aku hanya diam memandangi bola yang gerak kesana kemari, karena aku ngak ngerti cara mainnya. Duk!... Seketika aku terjatuh, kepalaku pusing saat bola basket itu membentur ke kepalaku. Entah mengapa Aliando langsung menghampiri ku, "Lu ga papa Ra?" Ujar nya, baru sekali ini ditanyain sama crush dari seorang 'Aliando'.
"Ngak, ngak papa kok... " Jawab ku, meski pun kepala ku agak sedikit pening. "Pak, lebih baik permainan bola basket nya dihentikan dulu, karena Dara habis kena bola. Saya yakin dia pusing pak, saya akan membawanya ke UKS." Ucap Aliando tiba tiba. Jujur, aku ngerasa ada yang aneh, seolah jiwa Aliando ketuker.
Dan aku terkejut saat Aliando tiba tiba mengangkat tubuhku, Menggendongnya. Kedua mataku tak bisa berpaling dari wajahnya. Sesampai di UKS, Aliando langsung mendudukkan ku di martas medis. "Lu beneran ngak papa kan?" Ujar Aliando lagi, aku terdiam dan mengernyit. "Lu baik baik aja kan, lu ga salah minum obat kan?" Ujar ku.
"Apa maksud lu, gua cemas lu malah bercanda.." Dercak Aliando. "Enggak, lu aneh deh.. biasanya lu diem, cuek... Ini lu care sama gue.. suka ya lu sama gue?" Desis ku, sungguh aku kepo. Aliando menghela nafas, "Iya. Gua suka sama lu." Jawabnya langsung. "Hah, ga percaya gue... Ngak mungkin seorang Aliando, suka sama cewek kek gini." Dercak ku.
"Ya, itu artinya lu cewek yang beruntung, dapetin gue." Kekeh Aliando dengan membuang muka ya menahan salting gitu lah. "Idih.. cewek yang beruntung, kagak romantis dah lu." Kekeh ku, aku pun langsung turun dari martas medis dan hendak kembali ke kelas. "Lu mau kemana? Di UKS aja dulu.." Tahan Aliando dengan menggengam tanganku.
...
Hari hari terus berlalu, semenjak jadi pacar Aliando aku tak lagi merasa kesepian. Aku benar benar memiliki kesatria. Malam ini, aku dan Aliando ingin berkencan. Karena itulah, aku mengacak acak lemari ku mencari baju yang cocok. Karena aku sukanya simple, aku cuman pakai dress pendek warna item aja. Tak ada tanda tiba tiba Kak Rendra masuk ke kamar ku. "Ya ilah nih anak, mau kemana lu dandan mulu.. tar kecakepan loh.." Sahut kak Rendra.
"Biasa lah, mau jalan bareng sama Aliando.. emangnya lu, sana sini cuman nge crush mulu gimana tuh para cewek tahu perasaan lu, orang lu aja ngak bilang kalo lu suka.. atau lu cinta." Omel ku, entah menahan aku mengomel. "Eh, nih anak dah berani ngomel ngomel.. " Geram Kak Rendra. Tin!.... "Ye!... dah lah kak gue berangkat dulu, dah di jemput noh." Pamit ku dengan memeluk Kak Rendra.
"Dah!.. "
"Jangan pulang malam malam loh..." Sahut Kak Rendra.
"Ya!" Teriak ku, karena malas untuk kembali ke kamar.
Aku melihat Aliando berdiri disamping motornya, jujur aku kagum padanya. "Cepet banget, pengen jalan sama gue ya?" Sahut Aliando tiba tiba. "Apa sih, dah buruan gih.." Ucap ku tersipu malu. Tiba tiba Aliando melepas jaket nya, "Lah ngapain lu lepas, lu kagak dingin?" Protes ku. "Maafin gue ya, ga bawa mobil.. nih buat nutupin lu.." Ucap Aliando dengan mengikatkan jaketnya ke perut ku.
Aku pun tiba di sebuah taman, duduk berdua diatas kursi putih. Tiba tiba angin berhembus, dingin pun menusuk kulitku. "Duh, malam ini kok dingin banget ya Li.." Sahut ku, sembari menggosokkan tanganku ke kedua lenganku. "Ya udah, lu tunggu bentar sini.." Ucap Aliando.
"Mau kemana?"
"Tunggu, ngak lama kok." Ucap Aliando. Aku melihat Aliando pergi ke abang jual kopi.
"Bang, kopinya satu ya tapi jangan panas panas." Ucap Aliando. Aliando pun termenung, seolah ia memikirkan sesuatu.
Aliando pun kembali dan duduk disamping ku. Lalu ia meniup niup kopi itu, "Nih, lu minum gih biar gak dingin.." Suruh Aliando dengan memberikan kopi itu untukku. Sumpah dia ngak ada romantis nya, cuman ngasih kopi dia pikir dengan kopi aku ngak kedinginan apa!.
"Makasih.." Ucap ku. Aku pun mulai menyeruput nya. Tiba tiba saja Aliando memelukku dari samping. "Boleh ngak aku tanya sesuatu ke lu?" Sahut Aliando.
"Apa?"
"Semisal gue ngilang gak ada kabar, lu bakal nungguin atau pergi?" tanyanya.
"Ngapain lu tanya gitu, emang lu mau pergi ninggalin gue?" Ujar ku dengan serius. Aliando malah tersenyum kepadaku, " Lu bahagia ga sih sama gue?" Tanyanya lagi. Ngak ngerti dah Aliando selalu berubah kek musim aja. "Ali, lu kenapa lagi sih?" Ujar ku.,
"Ngak kenapa napa kok, oh ya gue ada sesuatu buat lu." Jawab Aliando, ia pun menunjukkan sebuah kalung kepadaku. "Wah, bagus banget.. lu mau kasih untuk gue?" Tanyaku. "Iya, tapi inget jangan sampai ilang, ini punya nyokap gue." Kata Aliando.
"Lu kan tahu nyokap gue udah ngak ada, gue ngak mau kalung ini ilang.. jadi gue percaya sama lu." Jelas Aliando. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya, berpindah tempat kebelakang tubuhku. Lalu memasangkan kalung itu di leherku. Aku tersenyum, ternyata Aliando itu cowok romantis yang memiliki cara tersendiri untuk membuatku jatuh hati.
Disisi lain Aliando memejamkan matanya, seperti menahan rasa sakit saat mengaitkan kunci kalung itu di leherku. "Ali, kok diam aja?" Sahut ku. "Hah, ngak kok.. pulang yuk udah malam.." Ajak Aliando.
Aku pun berdiri, "Pulang baru juga sebentar.. " Protes ku, masih ku ingin bersama Aliando. "Gue juga ngerasa baru sebentar, tapi... Udahlah yuk pulang." Pinta Aliando.
...
Sambil ku berpegangan pada perut Aliando, aku merasa Aliando agak berubah akhir akhir ini. Biasanya dia ngajak jalan, nonton film, kemana mana tuh lama..tapi akhir akhir ini rasanya cepet gitu, dia juga hanya sedikit mengeluarkan kata kata. Setiba dirumah aku turun dari motor Aliando, dan menatapnya.
"Ali, are you okay?" Tanya ku.
"Gue baik baik aja kok, besok jangan sampai kesiangan ya bangunnya." Ucap Aliando.
Aku terdiam sambil mikir, aku merasa malam ini malam yang aneh. Semoga hanya perasaanku saja. "Dah ya, tidur gih.. udah ngantuk tuh. Diem aja." Sahut Aliando. Aku pun mengangguk dan berbalik arah hendak masuk, namun tiba tiba Aliando menarikku, 'cuph...'
Seketika aku membulatkan mataku, aku terkejut seolah jantungku berhenti berdetak. Bagaimana tidak, Aliando mengecup keningku pertama kalinya. "Selamat malam.." Ucap Aliando. "Hih, apa an sih lu.. dah lah gue mau masuk." Aku pun langsung masuk kedalam rumah.
"Ya ampun, Ali.. lu kenapa sih?" Gumamku dibalik pintu sembari mengatur nafas.
"Kesambet lu senyum senyum?" Sahut Kak Rendra, lagi lagi dia tuh selalu ngerusak suasana dah. Karena aku malas untuk menanggapi aku langsung masuk kedalam kamar.
...
Keesokkan harinya, aku terbangun setelah mencium bau masakan. "Enak banget siapa yang masak?" Gumamku. Aku segera mengambil handuk dan menuju meja makan, kulihat kakakku sedang menyiapkan piring. "Lah, ku kira kakak yang masak...terus siapa?" Ujarku. Tiba tiba muncul seorang wanita dari dapur membawa menu masakan. Wanita yang cantik, dan tersenyum padaku.
Ia berdiri di samping kakakku. "Kenalin, ini calon istri kakak namanya Rahma." Ucap kakakku. Jujur aku senang banget, akhirnya kakak ku melepas masa jomblonya. "Kenalin kak, Dara." Balas ku. "Oh ya sarapan dulu deh Dara, sebelum mandi." Ucapnya ramah.
"Iya kak, makasih."
Disekolah..
Jam tujuh kurang lima menit, aku sampai di kelas. Saat aku masuk, aku terdiam melihat teman temanku duduk dibangku mereka dengan raut wajah sedih begitu pula sahabat ku, si Siska. "Kalian semua pada kenapa?" Tanya ku bingung. Mereka malah menatapku dengan tatapan sedih. Akhirnya aku duduk disamping Siska.
"Siska, lu kenapa?" Ujarku.
"Ra.. " Tiba tiba Siska menangis, makin membuat aku bertanya-tanya.
"Duh kenapa sih, ngomong dong jangan buat gue bingung!"
"Aliando Ra.." Siska malah menggantungkan kalimatnya.
"Aliando kenapa?"
"Aliando koma Ra...Kita semua sedih, ternyata diam diam Ali itu sakit keras, dia sakit lemah jantung Ra... dan sekarang dirawat di luar negeri." Jelas Siska.
Deg... aku terdiam, masih ngak percaya dengan ucapan Siska. "Lu bohong kan Ka, ngak mungkin Ali koma... Semalam aja jalan sama gue." Bantah ku dengan berkaca kaca.
"Gue ngak bohong Ra, kata Ayahnya kondisi jantung Aliando tinggal lima belas persen. Jadi tipis kesempatan dia buat hidup." Jawab Siska. Air mataku pun berjatuhan di kedua pipiku, benar benar tak ku sangka Aliando...
Aku pun langsung beranjak dari tempat duduk ku untuk pergi ke rumah Aliando. "Dara! Lu mau kemana!" Sontak Siska, aku pun tak peduli aku langsung pergi kerumah Aliando. Namun, beruntung nya aku bertemu dengan Ayahnya hendak masuk kedalam mobil. "Om Arga!" Teriakku.
Om Arga pun menoleh ku dan menutup kembali pintu mobilnya, dia melihat air mataku. "Om.." Ucapku dengan gemetar. "Dara kenapa kamu nangis?" Tanya Om Arga.
"Om kenapa sih Arga ngak pernah cerita sama Dara kalo dia sakit?" Tanyaku tersendu sendu.
Om Arga pun menunduk sedih, sebagai seorang ayah baginya Aliando tuh anak yang kuat, meski kehilangan ibunya. Ia mampu menahan rasa sakitnya,sampai di titik harus terbaring di alam bawah sadarnya."Kata Ali, dia ngak ingin kamu sedih.. terus memikirkannya.. karena ia tahu bahwa usianya tidak lama lagi." Jelas nya.
"Tapi,Ali bakalan sembuh kan om?" Aku terus terisak tangis, Om Arga pun memelukku.
...
Beberapa hari kemudian, aku mendengar bahwa kondisi Aliando semakin memburuk. Aku hanya terbaring sedih diatas ranjang tidur ku, terus memikirkan Aliando semoga Tuhan menyembuhkannya, bukan bermaksud untuk menyiksa tapi aku tidak nafsu makan.
"Ra.. makan lah.... sudah dua hari ngak makan, ntar kamu sakit loh." Sahut Kak Andra, ia begitu mencemaskan kesehatan ku. Kak Rahma pun duduk disamping ku dengan mengelus rambutku, "Dara, kakak tahu kamu lagi sedih karena kondisi Ali...kakak juga yakin kalo Ali ngerasain kesedihan kamu, dia pasti akan bangun dari komanya. " Ucap Kak Rahma.
"Ali ngak suka lihat kamu sedih, Ali pengen kamu senyum, sehat agar dia cepat kembali bertemu kamu." Tambahnya. Tiba tiba aku terpikir sesuatu tentang perpisahan, jujur aku tidak ingin Aliando meninggalkanku sendiri. Aku mencintainya, aku menyayanginya, aku ingin terus bersamanya.
"Kamu makan ya?" Ujar Kak Andra. Aku pun mengangguk perlahan.
Kak Rahma pun menyuapi ku dengan penuh kasih sayang. Dan aku mengunyah nya dengan berkaca kaca, aku teringat saat Aliando melakukan hal yang sama.
Kilas balik aku dan Aliando..
"Ali, yang serius dong nyuapin nya ntar belepotan." Omel ku dengan canda tawa.
"Ngak papa belepotan nanti aku juga yang ngelap pakai tanganku. " Kekeh Aliando.
... "Aku hitung sampai tiga, kamu buka mata ya.. Satu.. Dua.. Tiga.. " Aku terkejut melihat halaman rumahku penuh dengan lampu menyerupai hati dengan tulisan 'Dara dan Aliando' di tengahnya. "Gimana suka ngak?" Ujar Aliando. Saking nervous nya aku langsung lompat dan memeluk Aliando dengan erat.
... Malam itu dan aku masing mengingat nya, "Semisal gue ngilang, ngak ada kabar lu masih tetap nungguin gue atau cari cowok lain? "... " Lu bahagia ga sih sama gue?"
Kembali..
Aku pun tidak bisa melanjutkan makan, dan kau ingin sendiri didalam kamar. "Kak, aku pengen sendirian.. Please." Pintaku, Kak Andra pun menggandeng Kak Rahma keluar dari kamarku. Aku pun memejamkan mataku.
Tak kusadari aku tertidur sampai pukul delapan malam, saat aku terbangun aku langsung meraih ponselku. Banyak panggilan masuk dari Om Arga, dan satu pesan. Perasaan ku mulai tidak enak, aku segera membuka dan membaca pesan dari Om Arga. Setelah ku baca, dengan segera aku beranjak dari tempat tidurku.
"lah, Dara! Mau kemana!" Sontak kakakku. Ia pun mengejarku, sementara aku menangis sambil berlari dipinggir jalan. Aku bertemu dengan Siska, tapi aku tak peduli aku terus berlari hendak pergi kerumah Aliando. "Dara!..." Sontak Siska.
"Duh, cepet banget sih larinya tuh bocah!" kekeh Kak Andra terengah-engah.
Hingga akhirnya aku sampai dirumah Aliando, aku melihat banyak orang yang pada takziah ke rumahnya. Tulisan itu, 'Aliando Jae Arga' sungguh aku tidak percaya, Aliando pergi meninggalkan ku. Ku pikir pesan tadi hanya sebuah pesan, namun ternyata kenyataan. "Ali.. " Aku terpaku di pintu gerbang rumah Aliando.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. " Akupun duduk berjongkok dengan menangis, hatiku sakit aku benar benar kehilangan sosok Aliando dalam hidupku. Kak Andra pun datang dan langsung memelukku. "Yang sabar.. Ra.. " Ucapnya. Aku melihat Om Arga datang menghampiri ku, aku pun berdiri.
" Dimana Aliando sekarang Om?"
"Aliando masih dirumah sakit, dalam proses kembali kesini. Ini ada titipan dari Aliando. Maaf Om baru bisa ngasih, karena Aliando yang memintanya." Jelas Om Arga.
Aku mengambil kertas berwarna putih itu dengan tanganku yang ber gemetar. "Ali.." Aku pun membukanya.
Teruntuk Dara..
Dara kalo lu baca surat ini tandanya gua udah ngak ada disamping lu lagi. Ya, gue udah pergi, gue berharap Tuhan ngasih keajaiban ke gue Ra. Jujur, Gue masih pengen jagain lu, nemenin lu, buat lu bahagia.
Gue minta maaf, gue nyembunyiin ini semua karena gue ngak mau lihat lu nangis, kepikiran terus tentang gue, maafin gue jadi cowok yang ngak romantis, ngak peka. Jujur, lu itu cewek special yang Tuhan ciptakan buat gue.
Sekali lagi maafin gue ya Ra, habis baca surat ini gue ngak mau lagi lu nangis, lu sedih, semangat ya Ra...
ALIANDO JAE ARGA
Aku langsung berderai air mata membaca surat dari Arga.
...
Dua tahun berlalu, musim berganti sementara aku masih belum bisa melupakan Aliando. Aku sudah kuliah sekarang, selalu aku berusaha buat tidak melihat masalalu. Tapi jauh dari lubuk hati ku, aku masih mencintai Aliando. Aku berharap Aliando masih ada, karena aku tidak datang ke pemakaman nya hari itu, aku tidak sanggup. Aku yakin, Aliando tuh baik, Tuhan pasti masih sayang sama aku juga dia.
Tibalah pada senja, aku berdiri di bibir pantai menatap mentari yang akan terbenam. "Lu, beneran ngak sih Li ninggalin gue... Lu lihat gue, gue kesepian.. gue kangen sama lu Li." Ucap ku tanpa ada siapapun yang mendengar. Aku pun menyentuh kalung yang dikasih Aliando malam itu. "Tante, apa Ali ketemu tante, Dara pengen Ali kembali tante, ngehibur Dara." Monolog ku dengan senyum sendu.
"Lu nungguin Aliando ya?"
Suara itu tak asing ditelinga ku, aku terpaku, benarkah itu dia. Aku pun berbalik arah, aku melihatnya dengan menggunkan kemeja putih dan tersenyum ke arahku. Aku merasa ini hanya halusinasi ku saja, tapi entah hatiku mengatakan jika pria yang berdiri disana itu Aliando. Aku tersenyum dengan berkaca kaca sembari melangkahkan kakiku, perlahan-lahan menghampiri nya.
"Ali... " Aku berlari dan langsung memeluknya dengan erat, air mataku pun pecah. Sungguh aku merindakan sesosok yang ku peluk ini. "Kangen ya? Maaf ya lama kembalinya.." Kekeh Aliando dengan mengelus punggungku, sembari mengecup kepalaku. Aku pun melepas pelukan ku, dan mendorong tubuh Aliando.
"Ih, kamu kemana aja sih Li.. "
Aliando malah tersenyum dengan tawa kecil, sementara aku kesal. "Kamu pikir ini lucu, enggak Li... kamu keterlaluan!" Omel ku.
"Jangan marah marah lah, kan gue udah balik. Gue minta maaf, gue janji bakal selalu disamping lu." Ucap Aliando, dengan mengusap air mata dipipi ku. "Lu ngak tahu gue nungguin lu buat bangun dari koma, gue terkejut denger kondisi lu makin kritis, dan akhirnya lu dikabarkan meninggal. Gue bener bener, merasa kehilangan Li.. gue.. " Tiba tiba Aliando memeluk ku dengan sangat erat. Aku pun semakin merasa tenang.
"Iya gue salah, maafin gue.. maafin gue.. Dara, gue ngak bakal lagi bercanda, gue sayang sama lu Dara." Ucapnya.
Sesaat kemudian aku dan Aliando masih berada di pantai, tidur diatas ribuan butir pasir pantai memandang bulan dan bintang. "Waktu itu, disaat kondisi jantung gue udah kritis banget, dan gue masih dalam kondisi koma. Gue menjalani oprasi, ada cowok mirip persis sama gue yang rela mendonorkan jantungnya buat gue. Gue pun menjalani perawatan karena masih ada gangguan dan pemulihan lagi." Jelas Aliando dengan perlahan.
"Dan lu tahu ngak, Tuhan masih belum berkehendak nyuruh gue ninggalin lu. Lu masih butuh pendampingan karena orangnya ceroboh." Ujar nya.
"Apaan sih, jangan sok romantis dah.. gue bingung kalo sikap lu berubah ubah Li.. "
"Ngak kok, yang terkahir ini adalah sikap aku yang asli dan hanya untuk Dara tersayang." Jawab Aliando.
Aku pun mengangkat tangan Aliando dan mengeluarkan jari kelingking nya, kami pun berjanji untuk selalu bersama selamanya sampai Tuhan berkendak.
SELESAI
Lesta_jk