Dia wanitaku. Iya, dia adalah wanitaku. Wanita yang pertama dan terakhir buatku. Meski aku tahu aku bukanlah yang pertama dan mungkin juga bukan yang terakhir untuknya. Tapi buatku dia adalah, cinta pertamaku dan dia pulalah cinta terakhirku. Ini pengakuanku! Catat ini baik-baik dia adalah cinta terakhirku!
***
Siang yang terik di sebuah halte di depan sekolah Kebangsaan. Seorang jejaka menunggu dengan raut wajah yang gelisah. Sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari-cari. Dan sudah satu setengah jam lebih ia menunggu disitu. Orang-orang pun telah silih berganti hadir di sisi kanan dan kirinya. Tapi ia tak kunjung... Ah, dia menghela nafas lega.
"Ra, tuh..." Tunjuk seseorang ke arah si jejaka, dengan ujung mulutnya. Perkataan itu ia tujukan kepada seseorang dara yang berjalan di sisi kanannya, yang jarak mereka tinggal selemperan batu lagi dengan si jejaka yang berdiri ketika mereka tiba.
"Kan sudah gue bilang gak usah dijemput!" si anak dara mendengus kepada si jejaka, kesal. Si jejaka sontak kikuk.
"Bagus loe dijemput, bukannya terimakasih..." Ucap si kawan seraya tersenyum tipis, menjawil pergelangan tangan si anak dara. "Udah lama,"si kawan berbasa-basi pada si jejaka. Si jejaka antara mengangguk dan menggeleng. Selang kemudian datang seseorang pengendara motor menginterupsi, menegur. "Ra, jadi nggak,"
Tapi yang menjawab bukan yang ditegur melainkan si kawan, ia menyahut dengan agak ketus. "Pacarnya udah jemput!"
Sekonyong-sekonyong itu omongan diinterupsi, seraya menepuk. "Enak aja loe!"
Si pengendara motor mendelik bingung. "Suruhan Babe gue!" Tegas si anak dara. Si jejaka hanya menghela nafas. Si pengendara motor mengangguk paham. Si kawan hanya bisa manyun.
Si anak dara paham benar arti perubahan lagak dari kawan yang berdiri di sebelahnya itu. "Udah loe jalan dengan Siti aja. Gue..."
"Lah gimana sih loe kan..." Si pengendara motor kebingungan. Sementara si kawan yang bernama Siti langsung meloncat ke boncengan, girang.
"Bukannya gak jadi, tapi gue barengan sama dia aja, gue nyusul di belakang." Ucap Rara. Si pengendara motor mengangguk girang. "Eh, ngomong-ngomong si Seto ntar nyusul ke sana."
Mendengar perkataan tersebut, wajah si anak dara sontak berseri-seri girang. "Nggak papa kan, Ra?" Tanya si pengendara motor. Yang ditanya mengangguk girang.
"Iya udah buruan ntar kita telat lagi," ucap si pengendara motor.
"Emang kita mau kemana sih!?" Tanya Siti yang terlihat kebingungan. Si anak dara buru-buru memberi isyarat dengan telunjuk yang menempel ke bibir. Si pengendara motor sekali lagi mengangguk. Si anak dara lalu menuding ke si jejaka agar segera naik ke motor. Si jejaka mengangguk. Setelah si jejaka naik ke atas motor tak berselang lama si anak dara pun menyusul.
Si pengendara motor berjalan lebih dulu. Si anak dara meminta si jejaka untuk menyusul, menepuk pundak si jejaka. Motor pun melaju meninggalkan halte bus sekolah Kebangsaan.
***
Plak...
Sebuah tamparan tangan mendarat keras dan deras. Sampai kepala yang kena tampar itu seperti terlempar--di sore hari, di sebuah taman kota.
"Aku cuma ingin mengusap bekas bibir lelaki itu dari bibir kamu," ucap yang kena tampar menatap si penampar dengan sorot mata yang tajam. Sekonyong-sekonyong si penampar terhenyak kaget, ternyata kejadian di rest room area itu ada yang melihat, pikirnya peristiwa yang menurutnya indah tersebut hanya milik dia dan...
Balik sadar, si penampar galak mendorong tubuh yang kena tampar. "Iya, tapi enggak pake bibir loe juga!"
Dorongan tersebut hampir membuat yang didorong jatuh terjengkang dari sepeda motor.
"Eh, Ndu, gue kan sudah ngomong ke loe kalau gue itu..." Ucap si penampar seraya menuding galak. Tapi yang dituding itu buru-buru menjauhkan tudingan telunjuk tersebut, dengan cara menempelengnya.
Si penampar sontak mengaduh kesakitan. "Sakit tahu." Buku jemari yang halus dan putih itu jadi terlihat agak kemerahan.
"Ra! Aura! Aku tegasin sama kamu ya! Cukup kamu mempermainkan perasaanku! Cukup, Ra!" Yang kena tampar berucap tegas. Yang ditegesin hanya mendengus geli. "Katanya cinta tapi baru begitu aja udah kayak..."
"Turun kamu! Turun! " Bentak yang kena tampar. Si penampar menuruti perintah tersebut dengan kebingungan.
Yang kena tampar sekonyong-sekonyong meloncat naik ke boncengan.
"Kok..."gumam si penampar masih kebingungan. Sepeda motor disela.
"Oh, Loe mau tinggalin gue, disini, sendiri, ah..." Ujar Si penampar rusuh seraya menggenggam tangan yang kena tampar. "Kamu panggil saja pacar kamu si Seto itu!" Dengus yang kena tampar seraya menyela motor tak kunjung menyala itu.
"Yang jadi pacar gue itu loe, bukan dia!" Seru si penampar. "Prett..." Yang kena tampar balas menyeru dan bersamaan dengan itu.
"Gue serius, Ndu!" Ucap si penampar hendak menghadang laju sepeda motor tersebut. "Aku minta kamu minggir."
"Masak loe tinggalin gue.. Gimana kalau..." Si penampar ketakutan, entah itu cuma lagak hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Sekarang aku sadar kalau kita itu memang gak mungkin bersama. Kamu itu masih ingin bermain-main dengan semua masa muda itu sementara aku..." Yang kena tampar terdiam beberapa jenak. "Bahkan kamu lupa kalau kemarin aku telah genap berusia tiga puluh tahun."
Si penampar kaget, tanpa sadar bergerak agak menjauh, tak pelak hal tersebut langsung dimanfaatkan betul. Karuan sepeda motor tancap gas. Si penampar sontak berteriak memanggil. "Randu..."
Gubrak...
Terdengar bunyi dua benda yang saling berbenturan, keras. Orang-orang berteriak histeris. "Ada yang tabrakan! Ada yang tabrakan!"